
"Permisi... apa Anda memanggil saya Tuan Axelle?" tanya seorang pegawai dengan jantung berdegub-degub. Pasalnya, hal sangat langka bila anak pemilik perusahaan memanggil karyawan ke ruangannya.
Jangankan ia, pegawai yang lain pun turut merasa heran. Sebab belum pernah ada dalam sejarah, Axelle meminta pegawai untuk menemuinya kecuali orang kepercayaan sang ayah, tuan Roberto Flynn.
"Ah, kamu. Masuk!!" titah Axelle, tanpa memberikan senyuman ramah.
Karyawan tersebut masuk ke dalam ruangan, berjalan perlahan seperti seekor siput dengan badan sedikit membungkuk. Ia tidak berani untuk mengangkat wajah apalagi melihat ke arah pria yang menatapnya dingin, sedingin es balok.
"Duduk!!" titah Axelle lagi. Ia menopang dagu dan kali ini berusaha bersikap lebih santai.
"Sa-saya berdiri saja," balas si pegawai sungkan. Segala prasangka buruk satu per satu masuk ke dalam pikirannya.
Kenapa aku dipanggil? Apa aku dapat promosi naik jabatan atau malah akan dipecat? Apa aku melakukan kesalahan? Atau jangan-jangan... Tuan Axelle akan menjadikanku wanita simpanan? Serta pikiran-pikiran buruk lainnya, merasuki akal sehat Karen.
"Saya memerintahkanmu untuk duduk, bukan berdiri di situ seperti patung!" sentak Axelle tidak sabar.
"I-iya, Tuan Axelle." Karen terpaksa menuruti perintah atasannya untuk duduk dengan posisi berhadapan. Meski sebenarnya, ia ingin sekali lari dari tempat itu detik ini juga.
"Kamu kenal dengan salah satu pegawai di sini yang bernama Louisa?" tanya Axelle langsung, tanpa berbasa-basi. "Saya dengar, kamu dekat dengan gadis itu. Apa benar?" Axelle menyorongkan badan, mendekatkan wajahnya ke arah Karen.
"Louisa?" Kening Karen mengerut. Detak jantung kian berpacu sebab jarak Axelle dengannya terlalu dekat. "Ke-kenal, Tuan. Kebetulan kami berdua memang satu divisi," jawab Karen seraya bertanya-tanya di dalam hati mengapa Axelle menanyakan perihal Louisa kepadanya.
Axelle terdiam. Ia nampak berpikir sesaat sebelum melanjutkan percakapan. "Lalu ke mana temanmu sekarang? Sudah satu minggu ini, dia tidak masuk kerja. Apa mau saya pecat??"
Karen yang semula menundukkan kepala, spontan mengangkat wajah dan menatap bimbang paras sang atasan. Ia bisa melihat dengan jelas kilatan amarah di sepasang netra cokelat muda. "Ma-maaf Tuan Axelle... teman saya sedang kurang sehat. Besok atau lusa, dia akan kembali bekerja."
"Begitu?" tanya Axelle, sedikit tersenyum lega.
"I-iya," jawab Karen tergagu. Berkali-kali, ia menelan saliva untuk meredakan detak jantung yang melonjak-lonjak.
Axelle tersenyum lebar. Tidak tahu apa maksud dari senyumannya itu, yang jelas ia terlihat tengah memikirkan sesuatu. Di mana, hanya ia serta Tuhan yang tahu. "Baiklah... kalau begitu, kamu boleh kembali bekerja."
"Baik, Tuan Axelle." Karen beringsut dari tempat duduk seraya menghela napas panjang. Ia langsung mengambil langkah seribu karena tak ingin lebih lama berduaan dengan sang atasan yang baginya terkesan mengerikan.
"Tunggu!!" pekik Axelle saat Karen hendak membuka pintu. "Tolong jangan katakan pada temanmu, kalau saya bertanya tentangnya," pinta Axelle tanpa memberikan alasan yang jelas.
__ADS_1
Karen menganggukkan kepala, mengiyakan permintaan sang atasan. Namun, di dalam benak berputar-putar berbagai dugaan. Sebab sangat jelas, masalah kepegawaian di perusahaan Flynn Company bukanlah tanggung jawab Axelle.
"Aku mencium aroma mencurigakan di sini. Sejak kapan tuan Axelle care pada bawahan ayahnya? Apa dia tertarik pada Louisa? Tapi mana mungkin, bukankah dia itu pria beristri?" Karen bermonolog, sembari berjalan menuju meja kerjanya. "Aku harus memberitahu Louisa soal ini, agar dia bisa berhati-hati karena sedang diincar oleh seekor buaya darat!"
...***...
Red Rose Apartment
"Louis... Louisa... Louisa Alexandra...!" Karen menggedor-gedor pintu apartemen sahabatnya. "Louisa, cepat buka! Aku membawa kabar penting buatmu!!" teriak Karen dengan suara sopran.
Sudah lebih dari lima menit gadis itu berteriak-teriak, membuat kegaduhan di saat orang-orang tengah menikmati santapan makan malam. Hingga beberapa penghuni apartemen terpaksa keluar untuk menegurnya lantaran terusik oleh suara yang mengganggu indra pendengaran mereka.
Karen berulang kali mengucapkan kata maaf sembari membungkukkan badan. Ia pun dibuat geram sebab hingga saat ini, Louisa tidak juga membukakan pintu untuknya.
"Astaga... kenapa lagi dengan anak itu?" Karen mencoba menghubungi Louisa. Akan tetapi, gadis itu tidak mengangkat teleponnya.
Beberapa saat kemudian, Louisa muncul dengan wajah polos dari balik punggung sahabatnya. "Karen? Lagi apa di depan kamarku?"
Mendengar suara seseorang yang tak asing di telinga, Karen sontak memutar badannya. "Ya ampun, Louisa... aku pikir, kamu ada di dalam. Pantas saja aku ketuk-ketuk, kamu tidak keluar juga."
"Aku membawa kabar penting buatmu, Louis!" cakap Karen mengekori Louisa yang sudah lebih dahulu masuk.
"Kabar penting? Kabar penting apa?" Louisa berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman ringan dari dalam lemari pendingin.
"Kamu tahu, 'kan, Axelle Flynn? Itu loh, anak kandung tuan Roberto?!" tanya Karen, meraih kaleng minuman yang disodorkan kepadanya.
Mendengar nama Axelle, langsung saja terbayang wajah pria biadab tak bermoral yang membuatnya sangat tertekan. Louisa termangu, mengabaikan Karen yang sedari tadi berkicau tiada henti.
"Hallo, Louis. Hallo...!" Karen mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah sang sahabat. "Kamu mendengarkan kubicara, tidak?" tanya Karen, menyadari kalau Louisa tidak memperhatikannya.
"I-iya, apa?" Louisa gelagapan.
Karen menepuk jidat. "Aku dari tadi bicara panjang lebar, kamu malah melamun!"
Louisa menyeringai. "Maaf... aku sedikit mengantuk."
__ADS_1
Karen mendengus, "Dengarkan baik-baik omonganku. Tadi, tuan Axelle memanggilku ke ruangannya. Dan coba kamu tebak, apa yang dia tanyakan padaku?"
Louisa mengangkat kedua pundaknya. "Tak tahu dan tak mau tahu!!!"
Karen berdecih, "Dia menanyakan soal kamu, Louis!"
"So-soal aku? A-apa yang dia tanyakan?" Louisa sekuat tenaga menyembunyikan ketakutan.
"Dia bertanya soal kamu yang tidak masuk kerja." Karen menenggak minuman yang disuguhkan.
"Hanya itu?" tanya Louisa, memastikan.
"Dia juga bertanya perihal kedekatan kita. Menurutku, tuan Axelle orang yang sangat misterius," sahut Karen. Ia menilik riak wajah Louisa yang langsung berubah, setelah ia menyebutkan nama sang atasan. "Kamu baik-baik saja, Louis?"
"I-iya. Aku baik-baik saja. Kenapa memangnya?" Louisa gemetaran.
"Tidak. Hanya saja, kamu bersikap aneh setelah aku menyebutkan nama tuan Axelle Flynn," jawab Karen.
Wajah gadis berusia dua puluh lima tahun itu menjadi pucat pasi. Ia sudah tidak bisa lagi menutupi ketakutannya. "Jangan sebut-sebut nama bajingan itu di hadapanku, Karen!!"
"Nama bajingan, siapa? Apa maksudmu, tuan Axelle?" terka Karen. "Tapi, kenapa?" Kedua alis saling bertautan.
Louisa menelan saliva lanjut mengangguk cepat. "Karena dia ... adalah pria itu!!"
Butuh waktu beberapa saat untuk Karen memahami arah perkataan Louisa. Ia menyambung-nyambungkan ucapan gadis itu dengan sikap tak lazim Axelle yang membuatnya menaruh curiga.
"Wait-wait! Coba aku simpulkan. Jadi, laki-laki yang bersama kamu di dalam villa, adalah Axelle Flynn?" tukas Karen, sulit untuk percaya.
Louisa mengangguk pasti. Tak ada sedikit pun rona keraguan tersirat di wajahnya. "Iya, laki-laki brengsek itu, Axelle Flynn! Aku ingat betul wajah pria yang hampir menghancurkan masa depanku!"
"Astaga... pantas saja aku merasa ada yang janggal dengan sikap si pengecut itu." Karen geleng-geleng kepala. "Sepertinya dia masih terobsesi denganmu, Louis. Berhati-hatilah..." imbuh Karen, bisa membaca keadaan.
Setelah mendengar penuturan sahabatnya, rasa was-was di hati Louisa semakin menjadi. Selihai apa pun ia menghindar. Axelle Flynn, pasti akan menemukannya juga. Cepat atau lambat.
...*****...
__ADS_1