Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 22 Halusinasi


__ADS_3

Selepas perbincangannya dengan Karen, batin Louisa kembali gelisah. Ia ingin sekali terlelap dan melupakan segala mimpi buruk yang menghampiri. Namun, sekuat apa pun ia berusaha. Nyatanya kedua mata sangat sulit untuk terpejam.


Pikiran gadis itu terus berkelana. Memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan ia dapatkan, andai kata masih tetap tinggal di kota yang sama dengan laki-laki yang tak ingin ia temui lagi. Bahkan mendengar namanya saja, ia tidak sudi.


"Aku harus resign dan pergi dari kota ini secepatnya," gumam Louisa yakin. Ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah balkon kamar. Ia memandang langit kelam tanpa taburan bintang. Mendesah resah seraya menyandarkan punggungnya pada sebuah pilar. "Aku pasti akan merindukan kota ini dan segala kenangan di dalamnya. Berat memang, tapi keputusan terbaik untukku pergi sejauh mungkin. Bila perlu, ke ujung dunia." Louisa memandang sayu awan kelabu. Seperti gambaran perasaannya saat ini.


Ia menghirup dalam-dalam udara malam yang sejuk. Matanya terkatup sempurna, merasai aliran positif yang ia dapatkan dari alam ciptaan Sang Maha Sempurna.


Cukup lama Louisa berdiri dengan mata tertutup. Akan tetapi, tiba-tiba ia terkesiap dan membuka mata lebar-lebar. Jantungnya berdetak kencang, sama persis ketika ia berada di dekat pria yang sangat dibenci. "Kenapa dengan diriku?"


Louisa melepaskan pandangan. Matanya menelisik ke arah dedaunan yang menggerisik. Ntah apa yang ia cari. Sebab raut wajahnya kini terlihat resah. Ia terus mencari dan mencari sesosok bayangan hitam di antara pepohonan.


Pada akhirnya, kedua mata bertemu dengan sepasang netra yang menyorotnya tajam. Tubuh Louisa membeku sesaat bagaikan terkena sihir. Hanya dada yang bergerak kembang kempis lantaran tarikan napas tak terkendali.


"A-apa itu dia? Di-dia ada di sini?" Louisa gugup, keringat dingin membasahi tubuh. "Dia menemukanku," lirih Louisa yang ingin sekali menghilang dari tempatnya berdiri. Namun, kedua kaki seakan mendadak lumpuh.


Sosok yang menatap Louisa menyunggingkan senyuman. Ia berjalan mendekati tiang lampu jalan, menjadikan parasnya semakin jelas terlihat. Paras yang rupawan, tetapi tampak seperti monster di penglihatan Louisa.

__ADS_1


Louisa geleng-geleng kepala. Ia pun mengatupkan mata. "Tidak, tidak, tidak. Aku pasti bermimpi. Aku sedang berhalusinasi. Ini lantaran ketakutanku yang berlebihan!"


Dara bernetra biru itu perlahan mencelikkan mata. Dan berharap sosok yang ia lihat, sekadar bentuk imajinasinya saja.


"Ah... benar berarti, hanya halusinasiku saja," gumam Louisa saat membuka mata, sosok yang ia takuti sudah tak lagi terlihat. "Huh..." Louisa menghela napas lega. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, kemudian buru-buru masuk kembali ke dalam kamar tidurnya.


Lampu utama kamar dimatikan, Louisa menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia berharap kali ini bisa tertidur, lalu terbangun di hari esok yang lebih baik.


...***...


"Apa kau sudah mengganti vitamin itu dengan obat yang kuberikan?" tanya seorang wanita pada maid-nya.


Chloe mengangguk-anggukkan kepala. "Bagus... teruslah menuruti perintahku, kalau kamu masih tetap ingin bekerja di sini dengan tuan kesayanganmu!"


"Ba-baik, Nyonya..." balas maid singkat.


"Ya sudah, kembali ke dapur. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kamu selesaikan!" suruh Chloe, ketus.

__ADS_1


"Iya, Nyonya. Permisi," pamit maid keluar dari kamar sang majikan.


"Hm..." sahut Chloe. Setelah asisten rumah tangganya pergi, ia merebahkan tubuh ke atas kasur. Bilamana seorang istri akan menyiapkan segala kebutuhan suami yang hendak pergi bekerja. Lain halnya dengan Chloe. Dia menghabiskan waktu paginya dengan berleha-leha atau kembali menyulam mimpi indah.


Chloe menatap langit-langit kamar. Matanya mengerjap-ngerjap. Terlihat, ia tengah memikirkan sesuatu. "Daniel... kamu ke mana? Aku merindukanmu...."


"Kau merindukanku, Sayang?" Axelle yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung naik ke ranjang menghampiri sang istri. Ia mengecup lembut pipi wanita yang ia cintai lanjut membelainya mesra.


Chloe menarik tangan Axelle dari atas wajah dan menghempaskan dengan kasar. "Jangan sentuh-sentuh aku. Jijik!!"


Axelle si pria haus belaian, ia melepas handuk yang menutupi tubuh bawahnya. "Apa milikku ini tak berkesan buatmu, Sayang?"


"Apa sih, menggelikan tahu!!" Chloe melemparkan sebuah bantal ke arah kaki Axelle. "Kelakuanmu, sudah seperti seorang gigolo!" cibirnya dan mencebikkan bibir.


Sudah tak terhitung berapa kali Chloe melayangkan hinaan untuk Axelle. Namun, akan selalu ada kata maaf darinya, untuk sang istri impian. "Di hadapanmu, aku berubah menjadi pria murahan. Tapi sudah seharusnya, bukan? Karena milikku ini adalah milikmu juga."


Chloe berdecak dan membuang muka. "Aku tidak bernafsuu melihatmu. Meski milikmu jauh lebih besar dari kekasihku, aku sama sekali tidak tertarik. Lantaran bukan itu yang kubutuhkan. Melainkan, pria yang benar-benar kucintai segenap jiwa!"

__ADS_1


Axelle sudah terbiasa mendengar kata-kata tajam dari mulut sang istri. Namun, tak sedikit pun menggoyahkan kekerasan hatinya untuk merelakan wanita yang ia cintai bahagia bersama pria lain. Cukup bagi Axelle memiliki Chloe di atas selembar kertas putih bertinta hitam. Ia tidak mengharapkan lebih, tubuh ataupun rasa cinta wanita itu.


...*****...


__ADS_2