Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 27 Tempat Baru


__ADS_3

Pagi ini adalah hari pertama Louisa memulai pekerjaan barunya. Di tempat asing dengan segala perbedaan yang mencolok. Orang-orang yang tidak ia kenali. Tempat yang belum pernah ia singgahi. Kebiasaan-kebiasaan yang sedikit berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya.


Gadis itu nampak bersemangat sekali. Berkali-kali, ia mengecek penampilannya dari pantulan cermin yang terpasang di atas lantai. Senyuman merekah tak luput menghiasi wajah, dengan sapuan warna merah jambu di kedua tulang pipinya.


"Perfect!!" pujinya pada diri sendiri. Ia sedikit berputar-putar di depan cermin dengan binar mata yang teramat jernih. "Ups... sudah jam setengah tujuh rupanya," ucap Louisa seraya melihat jam yang melingkar di atas tangan kiri.


Dara berusia dua puluh tiga tahun itu pun lekas beranjak. Ia menautkan tas selempang ke atas bahu lantas menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh. Ia menghirup dalam-dalam aroma manis yang menguar. Sejumput senyuman pun terukir indah di antara bibir tipisnya.


"Lets go, Louis!! Fighting!!" teriak Louisa, mengacungkan tangan yang terkepal ke udara.


Sedikit berlari, ia pun meninggalkan rumah sederhana yang jaraknya tidak begitu jauh dengan tempat di mana ia bekerja. Gadis itu menatap cakrawala lalu memejamkan mata dan merasai udara pagi yang mengalir ke setiap denyut nadi.


Sepasang mata birunya terbuka perlahan, ia kembali melanjutkan langkah. Menapaki setiap inci jalanan yang akan membawanya menuju gerbang masa depan.


Sesekali ia berjalan, sesekali berlari-lari kecil. Ia pun berputar-putar bak seorang Cinderella. Bibirnya turut andil, tak ingin diam. Bersiul-siul, terkadang bergumam. Ia tidak peduli penilaian orang lain terhadap dirinya saat ini. Gadis itu hanya ingin mengekspresikan segala perasaan yang terpatri di dalam hati.

__ADS_1


Sepuluh menit sudah dilewati. Kini dara manis yang mengenakan setelan blazer berwarna hitam legam, berdiri terpaku di depan sebuah bangunan. Yang mana bangunan itu tidak kalah megah dibandingkan tempat kerjanya yang dahulu. Kelopak mata mengerjap-ngerjap cepat, rasa gugup tiba-tiba merasuki diri.


"In-hale, ex-hale..." gumam Louisa, menarik napas lalu menghembuskan dengan perlahan. Ia pun mulai membawa kakinya untuk masuk ke dalam bangunan megah tersebut.


Saat ini, suasana kantor masih sangatlah sepi. Louisa mengitarkan pandangan ke setiap sisi yang dihiasi oleh interior mewah didomanasi warna hitam juga kuning keemasan. Nampak olehnya, berlalu lalang beberapa orang Cleaning Service yang tengah membersihkan setiap sudut ruangan.


"Selamat pagi, Nona," sapa seseorang yang mengenakan seragam khas seorang Cleaning Service.


"Pagi," jawab Louisa ramah.


"Ah... kebetulan sekali. Saya pegawai baru di sini. Nama saya Louisa," jawabnya dengan memperlihatkan name tag yang tersemat di atas dada.


Cleaning Service manggut-manggut. "Oh... Nona sudah ditunggu tuan Frans di ruangannya sejak tadi."


"Tuan Frans? Siapa itu tuan Frans?" tanya Louisa, mengingat ia belum pernah sekali pun bertemu dengan pimpinan tempatnya bekerja kini.

__ADS_1


"Tuan Frans ... CEO perusahaan ini, Nona," balas Cleaning service lagi.


Kini, giliran Louisa yang mengangguk-angguk. "Oh... oke-oke. Di mana ruangan beliau?"


"Ruang tuan Frans ada di lantai empat. Nona bisa menaiki lift yang berada di ujung gedung sebelah kanan," tunjuk Cleaning Service ke arah sebuah pintu besi yang tertutup tanpa celah.


Louisa menarik bibirnya simetris, kemudian menatap ke arah papan nama yang terpasang di atas kemeja berwarna biru muda. "Terima kasih banyak Rafael, untuk informasinya."


"Sama-sama Nona," sahut Rafael. Ia tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putihnya.


"Panggil saja, Louisa," pinta Gadis bernetra biru pada pemuda di hadapannya.


Penuh raut semangat dan percaya diri, Louisa lekas-lekas pergi menuju lantai empat. Ia akan menemui sang pimpinan perusahaan, seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya. Selaian itu, ia pun ingin mengucapkan terima kasih pada orang baik yang telah menerimanya bekerja, tanpa melalui sederetan wawancara.


Sementara di dalam ruangan mewah nan luas, telah menanti pria gagah yang mengenakan setelan jas rapi di tubuhnya. Ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu, dengan sang gadis pemilik netra biru.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2