
Setelah menghabiskan dua jam perjalanan, akhirnya Louisa telah sampai di depan sebuah rumah mewah. Rumah yang tidak ingin ia pijak seumur hidupnya. Namun nyatanya, kini ia berdiri tegak menatap bangunan yang memancarkan keangkuhan tersebut.
Kakinya terasa berat untuk melangkah lebih jauh. Ia hanya bergeming, dengan segala rasa serta pergulatan batin. Sepuluh tahun, bukanlah waktu yang sebentar untuknya menerima jua memahami lika-liku kehidupan. Di mana kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah dan mengkhianati janji suci yang terucap atas nama Tuhan.
Cukup lama, gadis itu berdiam diri di bawah sengatan teriknya sang surya. Keringat pun telah bercucuran membasahi tubuh.
William yang baru menyadari akan kedatangan putrinya, bersigera menghampiri seorang dara yang berdiri mematung di depan kediamannya. Manik mata berkilatkan cahaya. Melihat sosok gadis cantik yang selama ini dirindukan tak sekadar khayalan. "Louisa... kau, 'kah, itu?"
"Pa..." lirih Louisa, menyimpulkan senyuman. Walau di dalam hati masih menyimpan luka, tetapi ayah tetaplah ayah. Figur yang harus ia hormati.
"Kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, Nak." William berjalan selangkah demi selangkah. Ia ingin sekali memeluk erat sang putri tercinta. Akan tetapi, ia cukup tahu diri.
Louisa mengangguk. Senyuman manis terus terukir di parasnya yang ayu. "Apa kabar, Pa?"
"Seperti yang kamu lihat, Nak. Papa tidak seperti dulu. Papa sudah tak lagi muda. Di wajah Papa, banyak sekali kerutan." William terkekeh, kendati tidak ada hal yang menggelitik. Hanya saja, ia ingin memecah kecanggungan di antara dirinya dengan Louisa.
Louisa tertawa kecil. "Papa di mataku masih seperti yang dulu. Tampan nan gagah."
William terbahak. Namun, netra mata berkaca-kaca. Hal yang diimpikan selama ini, ternyata menjadi nyata. Ia bisa bersenda gurau dengan sang buah hati layaknya seorang ayah dan putri kecilnya. "Ah... Papa sampai lupa. Pasti kamu lelah. Pasti perutmu lapar. Mommy-mu sudah menyiapkan makanan yang sangat... lezat."
"Wah... aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya," jawab Louisa dengan mata berbinar.
William meraih barang-barang dari tangan Louisa, mengajak putrinya itu untuk masuk ke dalam rumah. Sudah lama ia tidak tersenyum lebar seperti ini. Dan itu berkat kehadiran Louisa di tengah-tengah kehampaan jiwa.
"Oh... jadi ini Tuan putri yang kamu tunggu sejak tadi, Will?" Natalie tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan tangan bersidekap di depan dada. Dari raut wajahnya, jelas sekali bahwa wanita paruh baya itu tidak senang akan kedatangan anak dari istri pertama suaminya.
__ADS_1
"Ha-hai, Tante Natalie..." sapa Louisa, berusaha ramah pada wanita yang telah merenggut kebahagiaan sang ibu juga menghancurkan masa remajanya.
Natalie menatap sinis anak tirinya itu. Memindai dari atas hingga ujung kaki seraya memainkan ujung-ujung kuku. "Cantik juga, kamu! Tapi lebih cantikan anakku! Secara, ibunya juga cantik, tidak seperti ibumu. Makanya William lebih memilih aku, ketimbang nenek-nenek peot itu. Ups!"
"Natalie!!" hardik William. Ia tak habis pikir mengapa istrinya bisa berbicara setega itu pada Louisa.
Louisa menepuk lembut pundak William. "Tidak apa-apa, Pa. Aku bisa memahami bagaimana perasaan Tante Natalie saat ini. Pasti tidak mudah baginya menerima aku di sini. Dan itu hal yang wajar."
William mendesah, "Maafkan perkataan mommy-mu itu, ya. Jangan dimasukkan ke hati."
"Iya, Pa. Tenang saja... aku anggap ucapan tante Natalie hanya sekadar angin lalu." Louisa mengepalkan sebelah tangannya dan menyorot tajam wajah sang ibu tiri.
William mengeret koper milik Louisa seraya menuntun gadis itu ke dalam rumah. Ia memperlihatkan ruangan yang telah dihias seindah mungkin untuk menyambut kedatangan putrinya.
Louisa nampak takjub dengan apa yang ia lihat sekarang. Bibirnya tiada henti melukis senyuman berseri. Kepala bergulir ke kiri dan ke kanan, menatap ke setiap sudut ruangan. Ia pun terharu sebab sang ayah masih mengingat warna kesukaannya.
William mengangguk dan menarik bibirnya tipis. "Iya, Nak. Ini semua Papa yang menghiasnya dibantu sm mommy-mu."
Louisa manggut-manggut. Meski dalam hati, ia pun tahu jika ayahnya itu telah berdusta. Mana mungkin Natalie turut andil dalam mempersiapkan semua untuk menyambutnya. Bahkan, wanita itu melihatnya pun tak sudi.
"Terima kasih banyak, Pa... terima kasih juga, Tante Natalie..." ucap Louisa, melirik ke arah sang ibu tiri yang sedari tadi menatapnya tidak suka.
William mengangguk. "Sama-sama, Nak. Sekarang... coba kamu cicipi masakan mommy-mu. Nanti kalau keburu dingin, kurang sedap...."
"Iya, Pa." Louisa berjalan mengikuti William di belakang, menuju arah ruang makan. Dan nampaklah beberapa makanan yang sudah dihidangkan di atas meja.
__ADS_1
Louisa beserta ayah dan ibu tirinya, duduk bersama menikmati hidangan makan siang. Tidak ada satu orang pun yang membuka suara, yang terdengar hanya suara dentingan sendok juga garpu di atas piring.
...***...
"Ke mana temanmu pergi? Ke mana dia pindah? Jawab!!" Axelle menginterogasi Karen.
Karen geleng-geleng kepala. "Saya tidak tahu, Tuan Axelle. Louisa tidak memberitahu ke kota mana dia pergi."
"Jangan bohong kamu!!" Axelle menggebrak meja. "Mau saya pecat, hah...?" ancam Axelle.
Karen memelas. "Saya benar-benar tidak tahu, Tuan. Kalaupun saya harus dipecat, tidak mengapa."
"Ada keributan apa lagi di kantorku?" Roberto yang mendengar kegaduhan dari ruang sebelah, lekas-lekas mencari tahu apa yang tengah terjadi. Ia pun dibuat geram lantaran menyaksikan Axelle tengah menekan bawahannya.
"Apa-apaan kamu Axelle?" sentak Roberto, tidak suka kalau putranya membentak pegawai, terlebih pegawai itu adalah seorang wanita. "Kenapa kamu bertingkah memalukan seperti tadi? Ingat Axelle, tempat ini adalah perusahaan Daddy. Bukan perusahaanmu! Jadi, Daddy minta berhenti bersikap arogan!!"
"Iya, Dad," jawab Axelle datar.
Perhatian Roberto teralihkan pada Karen yang menunduk lesu. "Kamu kembali ke ruangan. Lain kali, kalau putraku bersikap tidak sopan lagi, jangan segan-segan untuk melaporkannya pada saya."
Karen mengangguk cepat. "Baik, Tuan Roberto. Permisi...."
Roberto menarik kepalanya ke bawah sekilas lanjut melihat murka ke arah Axelle. "Urusan kita belum selesai. Ikut Daddy ke ruangan. Ada yang ingin Daddy bicarakan!"
Axelle bak kerbau dicucuk hidungnya, ia mengekori William di belakang. Sekeras-kerasnya watak seorang Axelle, bila sudah berhadapan dengan pria berstatuskan ayah. Ia sama saja seperti yang lain, hanyalah seorang anak kecil.
__ADS_1
...*****...