
"Dari mana saja kamu baru pulang selarut ini?"
Chloe terhenyak lantaran ia tidak menyangka kalau suaminya itu telah tiba di rumah lebih dahulu dan menungguinya di depan pintu utama.
"Kau mau membuatku mati berdiri, Axelle?" protes Chloe, mengusap-usap dada yang berdebar kencang. Ia tidak mengacuhkan sang suami yang menyorot tajam, bersikap sesantai mungkin seolah tidak habis melakukan perbuatan dosa besar.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Chloe!" Axelle menahan lengan istrinya, mencengkeram kuat hingga wanita itu mengaduh kesakitan.
"Ah... sakit..." keluh Chloe karena cekalan tangan Axelle, meremas begitu kuat. Ia berusaha melepaskan diri. Namun, suaminya itu malah semakin menjadi.
"Jawab dulu pertanyaanku, baru kau kulepaskan!" tekan Axelle.
"Kalau aku tidak mau?" ledek Chloe, sengaja memancing emosi suami.
"Ikut aku!!" Axelle naik pitam. Ia menyeret Chloe, menaiki beberapa anak tangga menuju lantai dua. Sekuat apa pun amarahnya sekarang ini pada sang istri tercinta, ia tidak ingin memperlihatkannya di depan semua orang.
"Lepas! Kau menyakitiku, Axell!" sentak Chloe, meliuk-liukkan lengannya.
__ADS_1
Axelle tidak memedulikan rengekan serta teriakan yang berasal dari mulut sang istri. Ia membawa wanita itu ke dalam kamar dan langsung saja melemparnya ke atas ranjang yang mana telah ditaburi oleh kelopak bunga mawar merah.
"Aku tanya sekali lagi, dari mana saja kamu seharian ini?" Axelle menindih tubuh Chloe, bak serigala ingin memakan mangsanya.
"Itu bukan urusanmu, Axelle!!" ketus Chloe, menantang.
"Tentu saja itu urusanku, Chloe. Segala hal yang berkaitan denganmu akan menjadi urusanku karena hingga detik ini, kamu adalah istri sahku...!!" berang Axelle.
"Istrimu?" Chloe cengengesan. "Mimpi...!!!" sambungnya, tanpa perasaan.
Pagutan semakin lama semakin mendalam. Berawal dari kecupan lembut berubah menjadi cumbuan liar. Axelle menikmati setiap inci bibir ranum sang belahan hati. Bibir yang selalu ia idam-idamkan. Bibir yang tidak hanya dinikmati olehnya saja.
"Balas ciumanku, Chloe..." rajuk Axelle, berkabut gairah. Nahas, bukan kecupan yang ia dapatkan, melainkan sebuah hinaan karena sang istri meludahi wajahnya.
"Aku tidak sudi kamu sentuh. Aku jijik dengan pria mandul sepertimu! Kalau kamu mau tahu, barangmu itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan milik kekasihku!!" hina Chloe, menusuk relung jiwa.
Antara pilu dan kebencian, Axelle ingin melampiaskan segala yang membuat sesak di dada dan menurutnya malam inilah waktu yang tepat untuk ia menyudahi kegersangan batin.
__ADS_1
Wajah Axelle menelusup ke atas tengkuk sang istri. Ia ingin memuaskan hasrat yang terpendam, tak peduli apakah istrinya itu menikmati permainannya ataupun tidak. Namun, nafsuu yang sudah sampai ubun-ubun, meredup seketika. Sebab, indra penglihatannya menangkap sebuah tanda merah pekat menghiasi leher jenjang nan mulus.
"Kamu masih berhubungan dengan si bajingan itu, Chloe??!! geram Axelle, mengepalkan tangan.
"Kalau iya, kamu mau apa?" tantang Chloe, kepalang basah.
"Aku tidak segan-segan buat menghabisi nyawa kekasih gelapmu itu...!" Axelle merobek dress yang dikenakan sang istri. Dan nampaklah tanda-tanda cinta berlumur nafsuu, di area sensitif tubuh istrinya. Amarah, dendam, kekecewaan, bersatu padu menyerang akal sehat dan memporak porandakkan rasa cinta yang selama ini tak pernah pudar.
"Kenapa, Chloe. Kenapa...?" Axelle mengerang seraya menjambak rambutnya sendiri. Cinta yang begitu besar, pada akhirnya menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Ia terpuruk, ia kini terjatuh dan terluka begitu dalam oleh pengkhianatan sang istri yang bertubi-tubi.
Erangan panjang, disusul tangisan kepedihan. Axelle menjauh dari tubuh sang istri dan melangsur di atas lantai. Pundaknya bergetar hebat, sehebat kekecewaan yang menyerang sanubari. Tetes demi tetes, menitik dari matanya yang jernih. Siapa pun yang melihatnya pasti akan turut merasakan kepedihan. Tetapi, tidak dengan Chloe. Wanita itu malah tertawa dan terus menyerang kelemahan sang suami.
"Dasar lelaki lemah. Hanya karena cinta, menangis tersedu sedan seperti anak kecil? Cih!!"
"Sudah lemah syahwat, lemah juga perasaanmu! Mana ada perempuan yang sudi menjadi istri dari pria sepertimu!" Chloe terus menghujani Axelle dengan hinaan juga makian. Ia semakin berani karena menurutnya ini adalah kesempatan yamg tepat. Ia pun tahu, bahwa sang suami tidak akan berani untuk menyakitinya. Ia memanfaatkan kebodohan Axelle lantaran rasa cinta yang penuh obsesi.
...*****...
__ADS_1