
"Minggir semuanya!!" Axelle yang baru saja tiba, menerobos beberapa orang pria berpakaian serba biru. Sepasang matanya langsung terfokus pada kondisi lift tak berfungsi serta kedua pintu besi yang masih tertutup rapat. "Dasar tidak becus!! Sudah lebih dari satu jam, tapi kalian tidak melakukan apa-apa?" geram Axelle, antara murka dengan rasa khawatir membuncah.
"Maaf Tuan Axelle, kami sudah berusaha keras sejak tadi, tapi kerusakan sulit diperbaiki," ujar salah seorang teknisi tanpa berani melihat ke arah Axelle yang berdiri memunggungi.
"Siapa yang menyuruhmu bicara?" Axelle memicingkan mata, tidak suka bila ada orang yang menyela ucapannya. Ia mengitarkan badan, memindai satu per satu pria di hadapannya sangat tajam.
"Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Axelle," pinta si teknisi dengan kepala tertunduk dan jari jemari bertautan.
Beruntung, saat ini pikiran Axelle lebih tertuju pada gadis yang terjebak di dalam lift mati. Jika tidak, maka ketiga teknisi yang telah bekerja untuknya selama lima tahun itu, pasti sudah dibuat babak belur olehnya.
Pria yang mengenakan kaos berwarna hitam, melupakan kekesalan pada ketiga pegawainya karena keselamatan jiwa Louisa adalah prioritas utama saat ini. Ia nampak melihat sesuatu sebab kedua netra tengah menyorot ke arah perkakas panjang yang ujungnya tajam. Tergeletak tidak jauh di belakang para teknisi.
Axelle bergegas mengambil benda yang terbuat dari besi tersebut dan memperlihatkannya pada semua orang. "Kenapa kalian tidak memakai linggis ini buat membobol pintu lift?"
"Maaf Tuan Axelle. Tapi Tuan Frans yang melarang kami menggunakan linggis karena katanya akan merusak pintu lift," jelas teknisi. Namun, dengan orang yang berbeda.
__ADS_1
Axelle langsung melotot ke arah sahabatnya. "Frans...!!!"
Frans yang masih saja berjalan mondar-mandir, sontak terdiam mendengar namanya disebut dengan suara menggelegar. Ia melongo, terlihat seperti kebingungan.
"Ya? Kenapa? Kau memanggilku, Axelle?" sahut Frans, tak berdosa. "Maaf, maksudnya Tuan Axelle," ulang Frans yang mengira kalau ekspresi menyeramkan Axelle padanya lantaran ia lupa memanggil sebutan tuan.
Axelle mengerang, lalu membuang napas panjang. Ia geleng-geleng kepala. Tidak mengerti jalan pikiran sahabat sekaligus kaki tangannya itu, padahal kondisi sekarang ini sangatlah genting.
"Percuma, bicara dengan orang bego sepertimu!" tukas Axelle, berkabutkan amarah.
Kelopak mata Frans berkedip-kedip mendengar kalimat kasar yang meluncur dari bibir sang sahabat. Lidahnya kelu untuk sekadar berujar ataupun bertanya lebih lanjut. Terlebih saat ini, Axelle hengkang dari sisinya dan berjalan menjauh ke arah lift, membawa sebuah benda tajam.
Sekuat tenaga, Axelle merenggangkan pintu yang tertutup tersebut. Keringat terlihat menetes dari balik pelipis. Kedua lengannya pun tak kalah basah. Dua menit, tiga menit, lima menit, waktu terus berputar seirama dengan rasa bimbang. Dan atas pertolongan Tuhan, akhirnya lift pun bisa terbuka. Namun, hanya sebatas kaki saja yang bisa masuk ke dalamnya.
"Apa yang kalian lihat?" sentak Axelle karena orang-orang sekadar menontonnya tanpa melakukan apa pun. "Bantu saya, cepat!!!" tambahnya, geregetan dengan tingkah planga-plongo ke empat bawahannya.
__ADS_1
"I-iya," jawab semua orang serentak, termasuk Frans.
Axelle dibantu Frans juga ketiga orang teknisi, mendorong dan menyeret pintu elevator agar bisa terbuka lebih lebar. Dan setelah beberapa waktu berlalu, mereka berhasil menyibakkan pintu besi tersebut.
Kelopak mata terbelalak, mendapati Louisa terkapar dengan wajah sangat pucat. Namun, masih berada dalam kondisi sadar.
Axelle segera mendekati Louisa dan mengangkat tubuh gadis itu, lalu membawanya ke luar lift. Ia nampak panik sebab suara napas Louisa terdengar begitu lemah.
Sedangkan Louisa, merasa tengah dipangku seseorang. Membuka perlahan kelopak mata yang terkulai. Ia pun terkejut bukan kepalang karena menyadari siapa laki-laki yang sedang merangkulnya itu.
"K-kau??" Louisa terkesiap, kemudian tidak sadarkan diri setelah melihat wajah lelaki yang kini bersamanya.
Ketegangan semakin tak terkendali. Axelle menurunkan tubuh Louisa di atas meja, lantas menepuk-nepuk kedua pipi gadis itu. "Heh gadis lugu, bangun!! Ayo bangun!!!"
Axelle menengok ke belakang. "Kenapa kalian malah diam saja? Cepat panggilkan ambulan...!!"
__ADS_1
"I-iya," sahut Frans yang langsung merogoh ponsel dari dalam saku celananya.
...*****...