Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 9 Klub Malam


__ADS_3

Selepas pertengkarannya dengan sang istri, Axelle memilih pergi untuk mencari pelampiasan dengan mendatangi sebuah klub malam. Pikirannya tidak dapat lepas dari membayangkan, ketika wanita yang ia cintai lebih memilih menyerahkan tubuh moleknya untuk dinikmati lelaki lain ketimbang olehnya.


Tanda cinta berwarna merah pekat yang ia lihat di beberapa bagian sensitif sang istri, seakan menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Yakni, penuh sayat, penuh luka.


Jiwanya rapuh, hatinya begitu tercabik. Sebab pernikahan sempurna yang selama ini diimpikan, ternyata semakin menjauh dari genggaman. Kekurangan diri tidak mampu memberikan keturunan, menjadi satu-satunya momok yang menjatuhkan kehormatan serta martabat sebagai seorang laki-laki.


"Apa Anda ingin saya temani, Tuan tampan?" goda seorang wanita kupu-kupu malam. Ia berjalan berputar lalu berdiri di belakang Axelle. Jemari-jemari lentik, memijat lembut tengkuk pria matang tersebut tanpa diminta.


"Ah..." desah Axelle, mengangankan sang istrilah yang tengah memijatnya dan bukan wanita lain.


"Kamu menikmatinya, handsome?" Tanpa persetujuan dari Axelle, wanita penghibur itu duduk begitu saja di atas pangkuan lelaki incarannya. Ia meraba-raba dada bidang si pria dingin dengan segudang pesona. Jemari lentik menari-nari, melepas satu per satu kancing kemeja lelaki tersebut.


"Aku sangat suka pada pria dengan dada berbulu tipis. Bagiku sangat menggairahkan." Sang wanita malam semakin berani bergerak lantaran Axelle hanya terdiam, seolah memberinya kesempatan. Kini jemarinya telah sampai di bagian yang paling diidam-idamkan oleh si wanita haus belaian tersebut.


"Berhenti di situ!!" sentak Axelle, kesadarannya pulih.


"Tapi kenapa? Bukankah, kamu ingin aku puaskan?" Sang wanita malam tidak mengindahkan ucapan Axelle. Jemarinya kembali berkelana di atas bagian tubuh yang mengundang hasrat kelelakian.


"Apa kamu masih perawan?" Axelle menatap tajam.


Kupu-kupu malam itu sontak saja tergelak sebab pertanyaan Axelle terdengar bagaikan sebuah lelucon di telinganya. "Ayolah Tuan... tidak ada wanita suci yang memilih menjadi perempuan penghibur. Kalau Anda menginginkan seorang perawan, carilah ke kuil bukan ke klub malam!"


"Dasar wanita murahan!" hina Axelle, menyalang tajam. "Panggil manajer-mu sekarang. Aku ingin menemuinya!"


"Ma-manajer? Ta-tapi untuk apa?" tanya sang wanita malam, terbata-bata.


"Panggil sekarang atau kamu aku adukan agar dipecat dari tempat ini?!" ancam Axelle.

__ADS_1


Si kupu-kupu malam pun terhenyak kemudian segera beringsut untuk menemui manajernya. Di dalam hati menyimpan keresahan, memikirkan kesalahan apa yang telah dia perbuat. Hingga sikap pria incarannya itu berubah seratus delapan puluh derajat.


Sejurus kemudian, seorang pria berbadan tegap dan mengenakan setelan tuxedo hitam menghampiri Axelle dengan wajah tegang. Bukan tanpa alasan, itu karena Axelle adalah salah satu orang yang berpengaruh di kota Jenewa.


"A-anda memanggil saya, Tuan?" tanya manajer, gugup.


"Hm..." sahut Axelle, dingin.


"A-ada yang bisa saya bantu Tuan Axelle?" Sang manajer bertanya kembali. Namun, dengan posisi kepala menunduk sebab ia tidak berani melihat wajah Axelle terlebih menatap matanya.


"Apa kamu punya koleksi perempuan lain yang lebih menggairahkan?" Axelle menyesap sebatang rokok dan mengepulkan asapnya. Ini kali pertama ia menikmati lintingan nikotin tersebut. Orang yang ia cintai merubah dirinya seperti orang lain dalam sekejap mata.


"Pe-perempuan? Tipe perempuan seperti apa yang Anda inginkan?" tanya manajer, mengangkat wajah sesaat kemudian tertunduk kembali.


"Aku menginginkan perempuan yang masih perawan, bukan yang lubangnya sudah melebar karena dimasuki oleh banyak pria jalangg!!" pinta Axelle, tanpa ragu.


"Pe-perawan?" ulang manajer.


Sang manajer berpikir saat. Kepalanya mengangguk pasti beserta senyuman tipis yang tertarik tanpa sadar. "Tentu saja! Saya akan mencarikan Anda wanita seksi, cantik dan yang pasti masih perawan."


"Aku ingin sabtu malam ini, wanita itu sudah kau kirim ke villa. Dan ini, sebagai uang depositnya!" Axelle menaruh beberapa tumpuk uang ke atas telapak tangan si manajer lalu duduk bersandar, santai.


"I-ini untuk saya?" Sang manajer membolak-balikkan gepokan uang kertas tersebut. Ia tidak percaya bahwa Axelle akan membayarnya dengan jumlah fantastis.


"Itu baru uang mukanya saja!" Axelle merapikan kerah kemeja lantas berdiri tegak.


"U-uang mukanya saja?" ulang manajer, terkejut.

__ADS_1


"Apa perkataanku kurang jelas atau telingamu yang bermasalah, Tuan Rudolf?" sinis Axelle.


"Ma-maaf, Tuan Axelle. Saya hanya ingin memastikan karena uang yang saya terima ini pun sudah lebih dari cukup," kata Rudolf.


Axelle tidak ingin menyahuti perkataan si manajer. Dia beranjak begitu saja dan berujar sembari berjalan. "Ingat, sabtu malam! Kalau kau gagal, aku akan menarik uang itu kembali!!"


Rudolf langsung saja memeluk erat tumpukan uang tersebut. "Siap Tuan Axelle! Saya tidak akan mengecewakan Anda!"


Selepas kepergian Axelle dari klub malam miliknya, pria bernama Rudolf menghubungi seseorang. Ia meminta orang tersebut untuk mencarikan gadis polos yang masih perawan.


Rudolf


Carikan saya perempuan muda yang masih perawan dan saya akan membayarmu dua kali lipat dari biasanya!


Xxx


Perempuan yang masih perawan?


Rudolf


Iya, seorang gadis yang masih perawan. Saya ingin sabtu malam ini kamu sudah mendapatkannya.


Xxx


Itu hal yang mudah. Percayakan urusan tersebut pada saya.


Rudolf

__ADS_1


Saya selalu memercayaimu!


...*****...


__ADS_2