Terjerat Hasrat CEO Mandul

Terjerat Hasrat CEO Mandul
Bab 24 Bye


__ADS_3

Seorang gadis berjalan gontai di tengah-tengah keramaian, di antara lalu-lalang orang-orang yang tak pernah ia jumpa sebelumnya. Ia terus berjalan ke depan, tanpa ingin menoleh ke belakang. Hatinya sakit, terlalu sakit. Meninggalkan tempat di mana ia dibesarkan. Tempat yang menjadi saksi, pahit dan manis perjalanan hidupnya.


"Louis..." panggil Samuel yang turut berjalan di samping Louisa. Ia bersikeras ingin mengantarkan sahabatnya itu. Meskipun berulang kali, mendapat penolakan.


"Ya?" Louisa menoleh sepintas dan kembali menatap lurus ke depan.


"Kamu yakin dengan keputusan ini?" Samuel menghentikan langkah dan memutar kedua pundak Louisa agar menghadap ke arahnya. "Tatap mataku, Louis. Apa kamu yakin akan pergi dari kota ini? Apa tidak ada satu pun alasan untuk bisa menahanmu di sini?" tanya Samuel menatap dalam.


Louisa menghirup napas berat, menurunkan pandangan sesaat kemudian melepaskan tangan Samuel dari bahunya. Ia menggenggam jemari pemuda itu, berjalan satu langkah mendekat seraya mengulum senyuman.


"Aku harus pergi, Sam. Aku masih memiliki seorang ayah. Di usianya yang beranjak senja, dia sangat membutuhkan kehadiranku," jawab Louisa menutupi alasan yang sebenarnya. Ia tidak ingin Samuel tahu penyebab utama kepindahannya ke luar kota. Pemuda itu pun belum mengetahui cerita kelam di balik tragedi sabtu malam.


Samuel mendesah, "Baiklah... kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Aku harus mulai terbiasa tidak mendengar ocehan dan suara cemprengmu itu!"


Louisa terkekeh, "Kamu masih bisa mendengar suara emasku ini, Sam. Tinggal pijit nomor yang ada di ponsel. Gampang, 'kan?


Samuel memutar bola matanya ke atas lanjut menjawil gemas kedua pipi Louisa. "Hal-hal seperti ini yang akan membuatku merindukanmu, Louis."


Louisa tersenyum getir. "Me too. Aku pasti akan merindukan Samuel yang cerewet, menyebalkan, jorok. Tapi, hatinya sangat tulus...."


Samuel melipat bibirnya, tidak ingin terlihat menangis di depan Louisa. Ia tertawa hambar, kendati di dalam hati merintih pedih. "Terima kasih atas pujiannya...."


"Sama-sama." Louisa tergelak, pura-pura tertawa.

__ADS_1


"Jangan lupa akan janjimu!" seru Samuel, memperingatkan.


"Aku tidak akan lupa! Kamu tahu, 'kan, kalau aku orang yang selalu menepati janji?" balas Louisa.


Samuel mengangguk. "Aku sangat tahu."


"Jadi tak perlu khawatir. Aku pasti datang di hari pernikahanmu, Sam." Louisa menyunggingkan senyuman.


"Aku pegang janjimu," kata Samuel, tanpa melepas tatapan dalamnya terhadap Louisa.


Cukup lama kedua sahabat itu terdiam seribu bahasa, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga suara panggilan bagi semua penumpang pesawat dengan tujuan kota Bunbury, membuyarkan lamunan mereka.


"Sudah waktunya," lirih Louisa mengambil tas tangan yang dipegang Samuel. "Aku pamit, Sam. Baik-baik ya, meski tanpa aku."


Samuel mengangguk cepat dan langsung saja membalikkan badan, meninggalkan Louisa seorang diri. Ia sudah tak bisa lagi menahan tangis. Akhirnya air mata pun berderai, mengiringi kepergian seorang sahabat yang juga satu-satunya wanita bertahta di dalam hati.


"Aku pergi, Sam. Selamat tinggal semuanya..." Louisa mengeret sebuah koper dan menjinjing tas tangan. Berjalan dengan langkah pasti, menyongsong cerita hidup yang baru, di mana tidak ada ruang untuk masa lalu. Tetapi, benarkah akan seperti itu?


...***...


Kota Bunbury


"Ada apa ini William? Kenapa rumah kita dihias seperti acara ulang tahun anak-anak?" tanya Natalie heran, mendapati rumahnya dipenuhi hiasan dengan warna senada.

__ADS_1


"Ah... kamu sudah pulang, Natalie?" jawab William tanpa menoleh. Ia memasangkan beberapa buah balon besar di salah satu sudut ruangan.


"Seperti yang kamu lihat!" balas Natalie, cingak-cinguk memperhatikan ruang tamu yang sudah dihiasi ornamen-ornamen berwarna merah muda. "Kamu belum menjawab pertanyaanku, Will!" Natalie meminta penjelasan.


William menghampiri sang istri dengan mata berbinar bahagia. "Putriku pulang."


"Apa maksudmu?" Garis tipis muncul di antara alis Natalie.


"Putriku pulang. Dia akan datang menemuiku. Setelah hampir sepuluh tahun, aku meninggalkannya." William terharu.


"Putri? Maksudnya anak dari hasil pernikahanmu yang pertama?" murka Natalie, alisnya tersentak bersama-sama.


William mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, putriku. Louisa...."


"Lalu, anak dari perempuan itu akan tinggal bersama kita di sini?" tanya Natalie yang tidak sudi bila harus satu atap dengan sang anak tiri.


William menggeleng. "Tidak, Natalie. Putriku tidak akan tinggal bersama kita. Dia akan menempati rumah peninggalan kakeknya."


"Oh..." Natalie mangut-mangut. "Baguslah kalau begitu. Jujur saja, aku akan sangat keberatan kalau dia tinggal di sini." Natalie mendelikkan mata.


"Tapi, untuk beberapa hari ke depan dia akan menginap di rumah ini. Aku yang memintanya. Jadi, tolong siapkan kamar yang nyaman untuk putriku," pinta William.


Natalie menghentak lantai karena tidak senang akan kabar mengenai sang anak tiri. Ia pun dibuat kesal oleh William yang bersikap berlebihan dalam menyambut kedatangan putrinya itu. "Dia ke sini itu paling cuma menyusahkan kita saja. So... buat apa kita menyiapkan ini itu? Buat apa merias rumah? Buang-buang tenaga yang ada!"

__ADS_1


"Dari pada kamu mengoceh tidak jelas, lebih baik siapkan makanan untuk putriku sekarang juga. Karena sebentar lagi, dia akan sampai di rumah kita!" William melengos. Ia melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


...*****...


__ADS_2