
Keesokan harinya
Setelah tidak sadarkan diri beberapa jam akibat hipotermia dan mental yang terguncang, akhirnya dara berusia dua puluh lima tahun itu terbangun dari tidur panjang. Perlu usaha yang lebih untuknya membuka mata dan mengumpulkan pundi-pundi kesadaran yang sempat hilang semalam tadi.
"Ah... pusing sekali," keluh Louisa memegangi kepalanya. Ia menatap langit-langit kamar lalu melihat ke sekitar ruangan. Mengingat-ingat apa yang telah menimpanya tadi malam hingga ia bisa terbaring di tempat ini sekarang.
Tangisan kembali berderai. Bukan hanya merasa terhina oleh perbuatan si pria asing. Akan tetapi, hatinya terkoyak oleh pengkhianatan yang dilakukan lelaki tercinta.
Karen yang tengah terlelap di samping Louisa, lantas terbangun lantaran mendengar suara isakan yang membuat pilu. Ia langsung saja memeluk sahabatnya itu, membesarkan hati dan memberi kekuatan. "Jangan takut, ada aku di sini, Louis. Tenang ya...."
"Aku mau dipeluk juga sama kalian..." canda Samuel yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan dan melihat kedua sahabatnya merengkuh satu sama lain.
Mata Karen membola, raut wajahnya terlihat sangat menyeramkan lantaran Samuel bergurau di saat yang tidak tepat. "Sekarang bukan waktunya bertingkah konyol, Sam! Louisa, butuh dukungan kita!!!"
Samuel yang melihat bahu Louisa bergetar, barulah menyadari bahwa gadis itu tengah menangis tersedu-sedan. Senyuman yang melengkung, berubah menguncup. Ia pun kemudian mendekap kedua sahabatnya dan turut berbagi pelukan.
"Kita semua adalah sahabat, akan selalu ada dan saling menguatkan," ujar Samuel tulus pada gadis yang dirangkulnya. "Karena itu, apa pun yang terjadi. Kita tidak akan pernah meninggalkanmu, Louis!" sambungnya membuat perasaan mengharu biru.
__ADS_1
"Terima kasih... kalian memang sahabat terbaikku," balas Louisa trenyuh. Ia meraung-raung sebab perasaannya campur aduk antara pedih, pilu serta bahagia. "Aku beruntung memiliki kalian. I love you all..." Louisa merapatkan dekapannya.
"We love you too..." jawab Samuel dan Karen serentak.
"Kalau kondisimu sudah membaik, jangan merasa sungkan untuk berbagi kesedihanmu dengan kami. Lalu setelah itu, buang jauh-jauh segala sesuatu yang sudah menyakitimu," lanjut Karen menggenggam tangan Louisa.
Louisa mengangguk tipis dan menyunggingkan senyuman. Ia tidak boleh larut dalam keterpurukan lantaran kejadian mengenaskan tadi malam. Namun, sebagai manusia biasa. Sangat wajar kalau ia merasa tersakiti, terkhianati, ternodai karena hal yang menderanya itu. Dan menghilangkan segala kenangan buruk dari ingatan, tak semudah membalikkan telapak tangan.
...***...
"Dari mana saja kamu, Nak? Kenapa baru pulang?" tanya Emily yang menunggu dengan harap-harap cemas sang anak kesayangan. Sejak tadi malam, ia sangat gelisah sebab tidak ada kabar berita dari Axelle. "Lalu kenapa dengan kepalamu? A-apa semalam terjadi kecelakaan? A-atau kamu diserang penjahat?" berondong Emily lantaran begitu mencemaskan putranya.
"Siapa yang kamu maksud mandul itu, Chloe?" tanya Emily terkejut sekaligus prihatin.
"Siapa lagi kalau bukan laki-laki tak berguna ini!" tunjuk Chloe ke arah Axelle menggunakan dagunya. "Memangnya Mom belum tahu kalau Axelle tidak bisa memberi kalian cucu?"
"Jaga bicaramu, Chloe!! Kamu sedang berbicara dengan ibuku!!" murka Axelle. Ia tidak ingin wanita yang begitu dihormatinya itu terluka oleh perkataan sang istri. Kalau pun Emily harus mengetahui fakta memilukan tadi, itu berasal dari mulutnya sendiri dan bukan dari orang lain.
__ADS_1
"Bukankah ini waktu yang tepat untuk kita berterus terang pada Mommy?" lontar Chloe seakan mendapat lampu hijau karena Axelle semalaman tidak pulang ke rumah dan secara kebetulan, Emily berkunjung untuk melihat keadaan putra juga menantunya.
Perempuan muda itu sudah tak sabar untuk melepaskan ikatan pernikahan dengan Axelle. Ia tidak sanggup menahan lagi keinginannya untuk merajut kisah bersama lelaki yang sangat dicintai. Meski sebetulnya, laki-laki itu tidak benar-benar mencintainya.
"Axelle... Chloe... mari kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Mungkin, kamu berkata seperti tadi lantaran kesal Axelle tidak pulang dan memberi kabar," lirih Emily berusaha berpikir positif atas apa yang didengarnya dari lidah sang menantu.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Mom. Chloe hanya terbawa emosi sesaat. Tolong, jangan dimasukkan ke hati ucapan-ucapan istriku tadi." Axelle menepuk-nepuk punggung tangan Emily. Ia harus menenangkan ibunya, sebelum penyakit jantung lebih dahulu datang menyerang.
Emily menelan ludah berkali-kali. Pikirannya saat ini bak bola kusut, ruwet dan kacau balau. Tidak tahu siapa yang harus dia percayai. Putranya atau sang menantu pilihan, Chloe.
"Mom berharap rumah tangga kalian akan langgeng sampai maut memisahkan. Tapi, jika ada masalah di antara kalian berdua. Katakan pada Mom ataupun pada Dad, lalu kita cari solusinya bersama-sama," pesan Emily, bijak.
"Terima kasih banyak, Mom. Karena selalu menjadi ibu yang luar biasa bagi anak-anakmu." Axelle melepaskan tangannya dari genggaman Emily. Ia meraih jemari Chloe dan menuntun sang istri meniti tangga menuju ruang pribadi.
Sementara Emily, menatap punggung pasangan suami istri tersebut dengan ribuan tanya dan perasaan yang teraduk-aduk. Tak terasa, air mata pun menggenang lalu menetes sebagai ungkapan duka.
Ibu mana yang tidak terluka bila mengetahui fakta menyedihkan mengenai buah hatinya. Terlebih saat ini, keharmonisan rumah tangga sang anak tengah berada di tengah-tengah ancaman terberat, yakni sebuah PERCERAIAN.
__ADS_1
...*****...