
Tiga hari telah berlalu. Akan tetapi, Louisa tetap saja terbungkam. Ia masih tak sanggup untuk berbagi cerita kepada kedua sahabatnya mengenai tragedi malam itu. Kini, ia lebih senang menyendiri dan memilih menghabiskan waktu bersama kesunyian. Ternyata, memberi keyakinan pada diri sendiri itu lebih sulit dibandingkan dengan memberi keyakinan dan kekuatan kepada orang lain.
Demikian halnya juga Axelle. Semenjak malam itu, ia berubah menjadi pribadi yang lebih dingin serta pendiam. Rasa bersalah terus menerus menghantui hari-harinya.
Bayangan akan wajah gadis yang hampir saja ia nodai, berkelibat di alam bawah sadarnya. Ketika gadis itu memohon belas kasihan, menangis ketakutan dan meminta untuk dilepaskan. Ia merasa bagaikan seekor binatang buas tak berperasaan yang mengikuti hawa nafsuu semata.
Bagaimana pun juga, Axelle bukanlah pria tak bermoral yang senang mencicipi tubuh wanita hanya untuk sekedar mencari kepuasan. Ia adalah laki-laki setia yang tengah dikecewakan oleh rasa cinta juga pengkhianatan. Dan kala itu, ia dalam kondisi terpuruk. Ia tengah khilaf. Permasalahan tak kunjung habisnya dengan sang istri, merubah dirinya bak monster tak berhati.
"Woy!! Melamun jorok ya?" Samuel menggebrag meja, mengejutkan seorang pria yang tengah tenggelam dalam lamunan. Ia menghempaskan badan ke atas sofa lantas mengambil buah apel dan langsung memakannya begitu saja tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Sam...!!" teriak Axelle pada pemuda yang tiba-tiba masuk ke kantornya tanpa permisi.
"Tidak usah teriak-teriak! Aku tidak tuli." Samuel mengorek-ngorek kupingnya menggunakan jari telunjuk.
"Mau apa ke sini? Apa mom yang menyuruhmu?" tanya Axelle, kesal.
__ADS_1
Samuel geleng-geleng kepala seraya menikmati apel merah ditangannya. "Tidak! Kebetulan saja aku lewat kantormu. Dan kupikir, tidak ada salahnya mengunjungi sepupuku yang makin tua ini."
Axelle memutar bola matanya malas. Saat ini, ia tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Termasuk oleh sepupunya, Samuel. "Kalau tidak ada hal penting, lebih baik kau pulang saja. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu dan semua orang."
Samuel menilik paras sepupunya yang terlihat bermuram durja. Jelas sekali guratan kebimbangan terukir halus di wajah tampannya. Selama ini, meski berbagai masalah datang bertubi-tubi. Tidak pernah sekali pun Axelle memperlihatkan raut keputus asaan. Namun, tidak dengan kali ini.
"Kau kenapa, Axelle?" tanya Samuel penasaran.
Axelle hanya mendengus perlahan lantas menarik tubuhnya ke sandaran kursi. Ia menyugar pucuk rambut seraya mengatup mata. Napasnya terdengar berat, seberat beban moral yang tengah ia pikul di pundaknya.
Axelle merasa jengah karena Samuel terus saja memberondongnya dengan pertanyaan. Refleks, ia pun melempar vas bunga dari atas meja ke arah pemuda itu. Beruntung, lemparannya meleset dan benda tersebut terjatuh ke atas lantai. "Kau malah membuatku makin pusing, Sam!!"
"Kau hampir saja membunuhku, Axelle!!" balas Samuel tidak ingin kalah. "Aku masih muda dan belum menikah. Apa kau tega melihatku mati muda dengan status perjaka?"
Akhirnya Axelle terkekeh karena selorohan Samuel. Sepupunya itu memang pandai sekali mencairkan suasana. Maka tidak heran, kalau banyak wanita yang tergila-gila kepadanya dan dengan suka rela menjajakan tubuh, meski sekadar cinta satu malam.
__ADS_1
"Sorry, Sam! Tapi omong-omong soal status. Kapan kau akan melepas masa lajang? Bukankah kekasihmu itu sedang hamil tiga bulan??" Axelle mengalihkan pembicaraan dengan mengulik masalah pribadi sepupunya.
Kini, giliran Samuel yang merengut. Hal paling sensitif untuknya adalah bila ditanya mengenai pernikahan. Sulit baginya menerima keputusan kedua orang tua untuk melamar sang kekasih dan menikahinya dalam waktu dekat. "Hm... ntahlah. Kamu tahu sendiri, 'kan, kalau aku tidak mencintainya. Begitu pun juga dengan dia?"
"Iya, aku tahu. Tapi, anak yang dia kandung adalah darah dagingmu, Sam! Jangan lupakan itu!" kata Axelle.
Samuel mendesah," Lalu aku harus bagaimana?"
Axelle beringsut, menghampiri Samuel lantas duduk di samping pemuda itu. Ia menepuk-nepuk bahu sepupunya. Menghela napas sesaat dan memberi pengertian layaknya seorang kakak kepada sang adik. "Jadilah laki-laki bertanggung jawab, Sam. Jangan menjadi seorang pengecut sepertiku!"
Samuel sontak menoleh ke arah Axelle dan menatap dalam. Di pikirannya muncul berbagai pertanyaan karena ia yakin, di balik nasehat Axelle untuknya barusan terselip rahasia besar yang dipendam sangat rapat. "Ya, kamu benar, Axelle. Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab. Jadi, aku akan menerima perjodohan itu. Demi nama baik papa juga demi bisnis yang saat ini sedang berkembang pesat."
Axelle kembali menepuk pundak Samuel. "Terkadang ... kita memang harus sedikit mengorbankan perasaan. Untuk menjaga martabat keluarga dan demi kebahagiaan kedua orang tua kita...."
Samuel mengangguk-anggukkan kepala. Meski berat untuknya, tetapi apa yang disampaikan Axelle tadi benar adanya. Ia tidak boleh lari dari tanggung jawab. Biarlah perasaan untuk Louisa, ia kubur sedalam-dalamnya. Karena ia pun tahu, hal mustahil untuk mendapatkan hati gadis itu.
__ADS_1
...*****...