
Seorang gadis yang mengenakan gaun merah menyala, tengah duduk seorang diri di kursi penumpang. Ia nampak resah, ekspresi wajahnya pun sedikit menegang. Jari jemari saling bertautan, menahan rasa gugup bercampur keringat dingin. Sesekali kepalanya menoleh ke arah jalan raya, sesekali ke arah tangannya yang basah.
Sopir yang menyadari bahwa wanita bersamanya itu terlihat tidak tenang, ia pun bertanya dengan sangat sopan. "Saya perhatikan sepertinya dari tadi Nona kelihatan gelisah. Apa Nona sakit?"
"Ya?" Louisa terperanjat karena saat ini pikirannya terbang melayang tinggi.
"Saya perhatikan sepertinya dari tadi Nona kelihatan gelisah. Apa Nona sakit?" ulang sopir dengan pertanyaan yang sama.
"Ah... maaf. Tadi saya sedang melamun," jawab Louisa memijat pelan keningnya. "Saya tidak sakit, cuma sedikit gugup," sambung Louisa.
"Oh..." Sopir menggangguk-anggukkan kepala.
"Kalau boleh saya tahu, apa tujuan kita masih jauh?" Louisa bertanya kepada sopir dengan kepala bergulir ke kiri juga ke kanan sebab jalanan yang ia lewati begitu sepi dengan beberapa bangunan klasik tak berpenghuni berjejer rapi.
Sopir menoleh sesaat dan kembali fokus dengan jalanan yang minim pencahayaan. "Kita sudah dekat, Nona. Paling... sekitar lima menit lagi juga sampai."
"Ah... baguslah, tujuan kita berarti tidak jauh dari pusat kota," tandas Louisa merasa lega. Ia khawatir kalau kekasihnya itu akan membawanya ke daerah yang sulit dijangkau.
Sopir pribadi Daniel menanggapi perkataan Louisa hanya dengan satu kali anggukkan. Ia teringat pesan sang majikan untuk tidak banyak berbicara dengan gadis yang ia bawa. Sebetulnya jauh di dalam lubuk hati, ia pun bertanya-tanya mengenai gadis yang tengah bersamanya itu. Sebab yang ia tahu selama ini, kekasih Daniel adalah perempuan yang bernama Barbara Chloe.
Beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpangi Louisa berhenti di depan sebuah villa berukuran kecil. Namun, terlihat sangat mewah. Louisa mengerling, memandangi tempat tersebut dengan segala macam pikiran.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, Nona!" seru sopir karena Louisa masih saja duduk termangu di kursinya.
"Ah... i-iya," balas Louisa tergagap. Ia lekas-lekas keluar dari mobil lantas sedikit menurunkan kepalanya di depan jendela. "Siapa namamu?"
"Nama saya Juan Carlos, Nona..." jawab sang sopir.
"Terima kasih, Carlos. Sudah mengantarkan saya ke tempat ini dengan selamat," kata Louisa.
"Sama-sama, Nona," jawab Carlos. "Semoga malam Anda menyenangkan..." sambungnya.
Louisa tersenyum lebar seraya mengangguk pasti dan sopir pun menyalakan kembali mesin mobilnya. Ia langsung melesat, meninggalkan villa sesuai intruksi yang diberikan oleh sang majikan, Daniel.
Setelah mobil yang meninggalkannya sudah tak terlihat, Louisa membalikkan badan lantas menarik napas dalam-dalam. Jantungnya semakin berdebar-debar. Kedua mata sibuk memperhatikan ke sekeliling villa. Ia pun mulai berjalan, setapak demi setapak. Bibir digigit tipis, sungguh ia tidak bisa menahan rasa gugupnya.
"Di mana, Daniel. Kenapa dia belum terlihat?" Kepala Louisa berputar-putar mencari keberadaan kekasihnya.
Di saat Louisa sibuk mencari pemuda yang dirindukannya itu, tiba-tiba terdengar suara pintu tertutup dan langkah kaki seseorang yang berasal dari arah punggungnya. Ia pun terhenyak dan mengira bahwa sang kekasih tengah berjalan mendekatinya.
Aroma parfum menguar kuat, menusuk hidung, membangkitkan gelora. Aroma memabukkan yang bisa menjerat wanita mana pun dengan sensasinya.
"Pa-parfummu wanginya lain, Daniel. Ta-tapi aku suka." Louisa berusaha sekuat tenaga menghilangkan kegugupannya. Namun, yang terjadi malah menjadi-jadi sebab sebuah sentuhan lembut mendarat di punggung mulus yang tak tertutup kain.
__ADS_1
Darah berdesir, detak jantung semakin tak beraturan. Tubuh meremang, mata mengatup rapat. Karena sentuhan tangan digantikan oleh beberapa kecupan.
Pria yang berdiri di belakang Louisa, terus saja memainkan instingnya sebagai wanita dewasa. Batin gadis itu pun bergejolak. Peperangan antara nafsuu dan akal sehat kian sengit, semakin kuat.
"Kau menyukainya?" tanya pria yang tengah bersama Louisa.
Sontak, Louisa terperanjat karena suara yang ia dengar bukanlah suara sang kekasih. Ia pun membalikkan badan sekaligus. Kedua mata membola sempurna sebab seseorang yang bersamanya saat ini adalah si pria asing yang wajahnya masih melekat diingatan.
"Ka-kamu? Kenapa bisa, kamu ada di sini? Mana kekasihku?" Louisa gelagapan.
Pria tersebut menarik bibirnya ke salah satu sudut dan memandangi tubuh Louisa dengan tatapan melecehkan. "Kita bertemu lagi, Nona manis!"
"Cepat katakan! Kenapa, kamu bisa ada di sini?" geram Louisa.
"Kau memang pintar sekali bermain drama, Nona! Apa yang kukatakan waktu itu berarti benar adanya. Wanita macam kau sengaja mencari perhatian pria berkelas sepertiku. Dan lihat sekarang... secara terang-terangan, kau menyerahkan diri padaku!"
Louisa geleng-geleng kepala dan tertawa hambar. "Jaga bicaramu, Tuan! Lagi pula, sepertinya Anda salah alamat. Sa-saya sedang menunggu kekasih saya dan bukan Anda!!"
"Aku tidak salah alamat. Villa ini milik keluargaku. Jadi, mana mungkin aku salah alamat?!" Pria yang bersama Louisa ternyata adalah Axelle Flynn. Pria yang dihancurkan oleh rasa cinta dan pengkhianatan. Ia memainkan bibirnya seraya melihat inci demi inci tubuh indah Louisa yang menggetarkan jiwa dan membangkitkan hasrat kelelakian.
"Ta-tapi!!" sergah Louisa. Ucapannya terputus lantaran Axelle secara tiba-tiba mencumbu bibir Louisa. Gadis itu memukuli dada bidang pria di hadapannya. Ia ingin sekali berteriak. Namun, lidahnya kelu sebab Axelle begitu kuat menyesap bibirnya.
__ADS_1
"Aku sudah tidak tahan, ingin menikmati tubuh indahmu ini, Nona. Dan aku pun tidak sabar untuk mengetahui, apa kamu benar-benar masih perawan seperti yang dikatakan majikanmu?"
...*****...