Terjerat Pesona Sang Sekretaris

Terjerat Pesona Sang Sekretaris
Part 2 - Kota London


__ADS_3

Apakah aku bersalah atas kejadian itu?


Mengapa mereka begitu membenciku dan aku harus mati?


Entahlah aku pusing memikirkan semuanya, aku akan pergi dari kehidupan kalian dan memulai hidup sendiri untuk diriku sendiri.


***


Keesokan harinya..


Mentari pagi bersinar cerah di atas sana, menerpa wajah sersi dari kaca jendela yang membuatnya bangun dari tidur lelapnya. Sungguh pemandangan yang mengagumkan, kulit seputih susu yang mulus itu ketika bangun tidur dan terkena cahaya mentari pagi.


Sersi membuka matanya perlahan, dan mengerjap beberapa kali ketika silau mentari masuk ke dalam matanya. Kemudian dia bangun, dan duduk ditepian ranjang untuk menghilangkan rasa kantuknya. Lalu, mengambil ponselnya diatas nakas.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sersi mengusap wajahnya lalu menyimpan kembali ponselnya. Sersi bergegas pergi mandi, karena hari ini dia sudah bertekad akan pergi dari rumah ini dan hidup mandiri saja diluar sana. Toh ketika sersi pergi, orangtuanya pun tak akan memperdulikannya.


20 menit sudah sersi melakukan ritual mandinya, dia langsung berpakaian sesantai mungkin dan mengambil tas punggung besarnya untuk membawa pakaian dan barang barang lain miliknya.


Tliiing...


Ketika sersi sedang membereskan barang barangnya, sebuah notifikasi pesan masuk terdengar olehnya. Sersi pun mengambil ponselnya , dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. Ternyata pesan itu dari Cindy. Ia pun langsung membuka pesan itu.


[Sersi, gimana jadi gak?] ~ Cindy


[Iya jadi cindy. Aku sudah fix akan berangkat ke London hari ini. Aku sudah membeli tiket penerbangan ke London semalam, 2 jam lagi aku akan terbang.] ~ Sersi


[Oke, aku jalan sekarang ya. Nanti aku tunggu didepan gerbang rumah kamu] ~ Cindy


[Ya cin, thanks ya] ~ Sersi


[Oke, aku otw] ~ Cindy


Setelah percakapan berakhir, sersi kembali membereskan barang-barangnya yang menurut dia penting dan harus dibawa. Setengah jam kemudian, packing selesai sersi lalu keluar dari kamar dan bergegas pergi menuju bandara.


Ketika sersi menuruni tangga, terlihat ayah, ibu, dan kakaknya sedang sarapan pagi bersama. Sersi melihat itu, dan menghampiri kakaknya terlebih dahulu untuk berpamitan. Karena bagaimanapun adryan, tetap baik padanya dan sersi pun begitu selalu berlaku baik pada adryan kakaknya. Hanya kedua orangtuanya yang seperti membencinya sejak kejadian nahas itu.


"Mau kemana sersi?", tanya adryan yang sedang menikmati bubur.


"Aku mau kerja kak. Mungkin ke luar negeri, supaya bisa mandiri biar gak nyusahin orangtua. Kakak baik baik ya dirumah, aku pergi dulu kak",


"Syukurlah kalau kamu sadar, lebih baik pergi. Kamu anak yang gak tahu diri!!", jawab ketus john tanpa memandang ke arah sersi yang masih bersimpuh dihadapan kakaknya yaitu adryan.


Adryan tak berkata apa pun, hanya menatap nanar pada sersi adik tersayang satu satunya yang dia punya. Akan segera pergi, dan meninggalkan dirinya. Sersi ketika mendengar penuturan ayahnya John langsung mendelik, kemudian bangkit berdiri.


"Terserah kalian anggap aku apa!!", ucap sersi langsung bergegas pergi dari sana.


"Ayah dan mamah ingin aku pergi! Ya aku pergi sekarang!! Dan tak akan kembali." ucap Sersi menekankan setiap ucapannya. Dia terbawa emosi juga akhirnya.


Dengan langkah besar sambil menggusur koper besarnya, sersi ingin segera enyah saja dari sini. Pergi segera dari rumah yang seperti neraka ini, dia ingin melupakan segala kenangan yang pernah dia dapatkan selama 22 tahun hidup di sicily.


*******

__ADS_1


DI BANDARA


"Hati hati ya sersi, pasti aku bakalan rindu sama kamu. Sering kasih kabar ke aku ya!", ucap cindy.


"Ya! Nanti aku kasih tahu kamu setelah aku sampai di London. Kamu tetep jadi sahabat aku yang terbaik, titip salamku kepada ibumu ya!", timpal sersi.


"Oke, nanti aku sampein. Semoga sukses ya!",


"Hmmm, thanks ya. Aku berangkat dulu, 15 menit lagi pesawat yang kunaiki akan terbang. Aku berangkat sekarang ya, jaga diri baik-baik ya Cin." ucap Sersi.


Kedua perempuan beda karakter itu saling berpelukan, dan sedetik kemudian sersi meninggalkan cindy dan akan segera menuju pesawat.


Sersi dan cindy sahabat yang sangat akrab. Sedari mereka kecil, mereka selalu saling menguatkan karena mereka sama - sama kurang beruntung dalam masalah keluarga. Itulah kenyataannya, sersi yang dikucilkan dan tak dianggap dikeluarganya, dan cindy yang tak punya ayah sedari bayi membuat mereka merasa memiliki nasib yang sama namun dalam cerita yang berbeda.


Sersi duduk disebelah jendela, setelah pengumuman keberangkatan pesawat akan take on dalam 10 menit lagi. Sersi mengubah mode ponselnya jadi mode pesawat, karena pesawat sebentar lagi akan terbang.


Selama perjalanan sersi banyak diam, dan tidak terlalu perduli pada sekitar. Karena sersi terlalu sibuk, bermain ponsel memainkan game kesukaannya candy crush yang sudah beribu - ribu levelnya sembari memakai headset di kepalanya.


Perjalanan ke London memakan waktu berjam - jam. Setelah 8 jam kemudian, tibalah sersi di London Inggris. Tepat sore hari ketika sersi sampai disana. Keluar dari bandara dia mencari seseorang yang sudah dihubunginya sebelum kesini. Sersi keluar dari bandara, terus melihat ke sekeliling celingak celinguk mencari seseorang tersebut. Dan..


"Nona Sersi Vilhauc, benar?",


"Eh, iya pak. Ini Pak Devgan kan, yang saya hubungi kemarin malam?", tanya sersi memastikan.


"Benar, saya Devgan. Mari saya antar ke apartemen.",


"Oke terimakasih!",


Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Sersi melihat ke luar jendela dan memperhatikan suasana yang asing tapi nyaman baginya di London ini. Sersi mungkin akan mulai dari nol lagi disini, mencari pekerjaan baru teman baru dan suasana baru.


"Pak, sebelum ke apartemen. Pergi ke supermarket dulu ya!", ucap Sersi pada Pak Devgan yang merupakan orang dari biro jasa aplikasi yang Sersi pakai.


"Baik, Nona!", jawab Pak Devgan disertai anggukan.


Setelah percakapan mereke selesai, akhirnya Sersi pun kembali memandang keluar jendela menikmati indahnya suasana kota London Inggris yang dia kagumkan sejak dulu.


1 jam kemudian, Pak Devgan berhenti di sebuah supermarket yang lumayan besar tempatnya. Mungkin lengkap, karena dekat dengan pusat perbelanjaan kota.


"Silahkan Nona!",


"Iya pak, saya beli sesuatu dulu. Gak lama kok!", kata Sersi pada supir Pak Devgan, sambil membenahi isi tas dan tatanan rambutnya.


"Baik. Saya tunggu disini, Nona", timpal Devgan sembari menyunggingkan senyum simpul.


Sersi pun hanya mengangguk sebagai jawaban, sejurus kemudian dia keluar dari mobil dan berjalan memasuki kawasan supermaket. Sersi mengambil troli besar yang berada disamping pintu masuk supermarket ketika dia melewatinya, mulai mengambil bahan makanan untuk persediaan seminggu dalam perkiraannya.


Sersi terus berjalan, mengelilingi semua area supermarket dan mengambil beberapa barang kebutuhan lainnya untuk di apartemen nanti. Baru saja Sersi akan mendorong trolinya, ponselnya berdering. Sersi pun merogoh ponselnya di saku jaket dan melihat id callernya. Dan ternyata Cindy yang menelepon, dia pun menjawab telepon.


[Ser, gimana perjalanannya udah sampe? Gak jatoh kan pesawat yang kamu naikin??]


[Iya Cindy, aku dah di London. Enggaklah, kemana aja kalo ngomong. Kalo pesawatnya jatoh, aku gak bisa jawab telepon karena dah mati aissh..!!?]

__ADS_1


[Hehehe . Iya iya, bercanda aku. Udah di apartemen??]


"Aduh..", belum sempat menjawab pertanyaan dari Cindy. Sersi menabrak seseorang di depannya, karena dia mendorong trolinya sambil menelepon dan sampai lupa dengan sekitar.


Orang yang ditabrak itu, tidak bersuara sedikit pun. Tapi hanya membalikkan badan, dan melihat ke manik mata Sersi. Sersi terpaku ditempatnya, melihat lelaki tinggi, putih, rahang yang kokoh, bermata biru, dan bertubuh atletis. Terlihat dari kaos ketat hitamnya yang membentuk sempurna, tubuh lelaki itu. Seketika Sersi pun terpana.


Dan sedetik kemudian, tersadar dari lamunannya ketika Cindy bersuara diseberang sana.


[Hei, Ser. Loh gak jawab, ada apa tadi aku denger kamu ngomong aduh??]


Sersi pun menurunkan ponselnya dari telinga, dan berusaha mengatur napas dan detak jantungnya yang gak karuan. Terlalu mengagumi mahluk ciptaan tuhan yang sempurna ini.


"Eh, maaf. Aku tadi gak lihat kamu, aku lagi nelepon tadi. Gak merhatiin sekitar!"


"Hmm, iya. Lain kali hati - hati", jawab lelaki itu datar, lalu pergi dari sana sambil membawa dua kaleng minuman soda.


"Iya kak, maaf!", timpal Sersi lagi.


Lelaki itu pun pergi, ke arah berlawanan dengan Sersi. Maka Sersi pun, berjalan kembali melanjutkan aktivitas belanjanya yang belum selesai. Dia butuh beberapa camilan untuk di apartemen nanti, apalagi gara - gara kejadian ini Sersi gugup berat tanpa alasan ketika tadi tak sengaja menabrak orang. Jadi dia lebih banyak butuh asupan makanan, untuk menetralkan kegugupan ini.


***


"Silahkan Nona, sudah sampai.", ucap Pak Devgan setelah memarkirkan mobilnya di depan gedung apartemen kelas menengah.


"Oh iya pak, makasih ya pak!", Sersi mengangkat pandangannya dari ponsel kemudian turun dari mobil.


"Iya Nona, sama sama. Saya antar Nona ke atas, biar barang - barang saya yang bawakan.",


"Oh iya pak!".


Pak Devgan pun membuka bagasi dan mengeluarkan beberapa kantung besar barang belanjaan Sersi dari supermarket tadi, lalu menentengnya membawanya masuk ke dalam gedung apartemen sekaligus mengantarkan ke apartemen yang sudah Sersi pesan kemarin.


Sersi berjalan duluan memasuki lobby gedung, lalu berjalan menuju lift disusul Pak Devgan dibelakang. 5 menit setelah sampai di depan pintu lift, pintu lift pun terbuka. Sersi dan Pak Devgan pun masuk.


"Pak, apartemen saya dilantai berapa?", tanya Sersi


"Di lantai 3 Nona , pintu apartemen Nona nomor 654", jawab Pak Devgan.


Sersi pun memencet angkat 3 di lift, dan lift pun bergerak sesuai lantai yang dituju.


Triiiing...


Sersi dan Pak Devgan sampai dilantai 3,lalu menelusuri lorong dan mencari pintu nomor 654. Setelah berjalan sekitar 10 menit, pintu nomor 654 pun ketemu dan Sersi mengucapkan terima kasih.


"Ini pak, apartemen saya makasih ya pak. Barangnya biar saja yang bawa ke dalam. Ini untuk bapa, terima kasih ya!", ucap Sersi memberikan uang tip dan mengambil barang belanjaannya dari Pak Devgan.


"Iya Nona, terima kasih kembali. Ini card akses untuk buka pintu apartemennya, semoga pelayanan saya dan di apartemen ini memuaskan bagi Nona. Saya pergi dulu," jawab Pak Devgan.


"Iya pak, sekali lagi terimakasih!", ucap Sersi sambil tersenyum.


Pak Devgan pun membungkukkan badan, dan langsung pergi dari sana. Sepeninggal Pak Devgan, Sersi pun masuk ke dalam apartemennya sembari membawa barang belanjaannya ke dalam. Sersi sudah lelah hari ini, dia saat ini hanya ingin segera membaringkan badannya diatas kasur dan ingin segera pergi tidur. Mengistirahatkan badan, pikiran dan segalanya. Esok hari pasti akan lebih berat, karena Sersi akan mencari pekerjaan baru di London ini. Negara yang menyimpan sejuta keindahan, siap menanti Sersi. Esok, lusa, dan hari hari berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2