
Tingneng.. Tingneng...
Suara bel dipencet oleh seseorang diluar sana, membuat Sersi yang sedang memakai heelsnya terburu - buru berjalan ke pintu apartemennya.
"Selamat pagi Miss, apa Miss sudah siap? Tuan Alexander sudah menunggu anda dibawah?" ucap Clark didepan pintu apartemen Sersi.
"Aduh tunggu 10 menit, aku akan turun. Oke, aku belum menyelesaikan tatanan rambutku!" ucap Sersi gelisah dan bergegas pergi ke kamarnya lagi.
Clark yang belum sempat berbicara, hanya diam di depan pintu menunggui nonanya selesai.
Sersi merapihkan rambutnya terlebih dahulu, mencatoknya sebentar agar rambut lurusnya lebih terlihat rapih dan mengkilap. Tak lupa juga memulas makeup tipis diwajahnya, agar terlihat lebih segar dan cantik.
Dirasa semuanya sudah siap, Sersi membawa tas slingbag hitamnya. Sersi memasukkan dompet, ponsel, parfum, bedak, dan lipstik. Jaga jaga makeup-nya luntur dia bisa mentouch upnya. Selesai semua, dia pun segera keluar dari kamar dan bergegas akan turun menemui sang CEO tampan tapi menyebalkan.
Sungguh dirinya dag dig dug sekarang, merasa akan disidang saja.
"Kamu daritadi disini Clark?" tanya Sersi ketika keluar dari apartemen dan langsung mengunci pintu apartemen.
"Iya, saya diperintahkan tuan untuk menjemput anda. Jadi saya menunggu sampai Miss selesai."
"Ya sudah kita turun sekarang, aku tidak mau Alex marah - marah karena terlalu lama menunggu." kata Sersi mengajak Clark agar segera turun ke bawah menemui Alex.
Dengan terburu - buru Sersi melangkahkan kaki menuju lift diikuti Clark dibelakangnya, dia merasa dipacu oleh waktu saja. Sersi sebenarnya takut sekarang, takut dia terlihat berbohong ketika tidak bisa bersikap apa yang Alex mau.
*******
Alexander yang sedang berdiri disamping mobil sambil memainkan ponsel, seketika melihat ke arah apartemen. Dia melihat Sersi berjalan keluar dari sana, dan apa yang Alex lihat?
'Cantik' gumam Alex ketika melihat kecantikan Sersi.
Perempuan itu sedang berjalan ke arahnya, bersamaan dengan Clark dibelakangnya. Alex pun menyudahi acara bermain ponsel, dia simpan ponselnya dan melihat ke arah Sersi ketika perempuan itu mulai mendekat.
"Bagaimana kau sudah menghafal semuanya?" Tanya Alex pada Sersi tanpa basa basi ketika perempuan itu berhasil sampai ke hadapan alex.
"Sudah, aku berusaha menghafalnya semalam" jawab Sersi.
"Bagus, jangan kecewakan aku. Bersikaplah seperti benar benar kita adalah sepasang kekasih. Ingat KEKASIH!".
"Iya aku mengerti".
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang.".
Clark pun masuk ke bilik kemudi, karena Alex membuka pintu mobilnya sendiri dia masuk duluan disusul dengan Sersi. Setelah Alex dan Sersi masuk ke dalam mobil, Clark pun melajukan mobilnya menuju Portland Hospital. Dimana Tuan Besar Alden Alfaraz Rudwig dirawat.
"Oh ya kamu kan sudah sering bertemu dengan papah. Apa yang kamu lakukan jika berkunjung dengan Sofia ke rumah sakit?" tanya penasaran Alex dia baru ingat bahwa Sersi sudah sering bertemu dengan ayahnya. Waktu dia pergi berperang di Jepang.
"Emm, aku dan Nona Sofia berkunjung setiap sore ke Tuan Alden untuk membawakan makanan dan mengobrol saja. Sesekali aku ikut bergabung."
"Oke berarti kamu tidak akan canggung jika nanti bersikap seperti manja kepadaku, bersikaplah seperti apa yang aku bilang tadi. Papahku mungkin akan segera akrab denganmu mengingat kamu sudah beberapa kali bertemu dengannya." tutur Alex sambil menatap Sersi tajam.
__ADS_1
"Iya aku ingat harus bagaimana " jawab Sersi. Kemudian mengalihkan pandangannya jadi ke jendela mobil, dan melihat jalanan yang terlewati.
Keheningan mengisi perjalanan mereka menuju rumah sakit, tidak ada lagi obrolan tentang pernikahan kontrak kini mereka hanya membicarakan tentang bisnis di perusahaan AR Group. Sebagai orang yang profesional dalam segala hal, Sersi masih bisa menempatkan dirinya sesuai situasi.
Walaupun agak berat karena akhirnya terpaksa melakukan kawin kontrak, namun jika bekerja dia akan totalitas. Makanya ketika membicarakannya tentang bisnis, Sersi menjelaskannya secara terperinci kepada Alex.
1 jam kemudian sampai juga di Portland.
Portland Hospital yang mewah ini adalah rumah sakit yang termahal di Inggris, Sersi selalu membayangkan bagaimana Alex membayar itu semua dengan hanya sebuah kartu eksklusif.
Apalagi dirawat di ruang VIP pasti biayanya fantastis, namun Sersi tidak ingin mengira ngira budget angka nominal yang akan ditanggung si bosnya itu. Memikirkan angka nol yang banyak, membuat kepalanya pusing.
"Selamat pagi! Tuan Alexander, saya dokter Jason yang kini menangani Tuan Alden. Saya ingin memberikan kabar seputar keadaan fisik pasien." ucap seorang dokter tampan yang baru saja keluar dari ruangan ayahnya.
"Bagaimana keadaan papah saya dokter?" tanya Alex sedikit khawatir.
"Bisa Tuan ikut dengan saya ke ruangan saya, saya akan menjelaskan beberapa hal mengenai keadaan Pak Alden." ucap dokter tersenyum ramah.
"Baik dokter. Sersi kamu masuklah duluan temui papah, aku ada urusan sebentar dengan dokter Jason." pepatah Alex.
Sersi pun mengangguk. Dan memandangi Alex yang berjalan menjauh dari tempatnya saat ini, mengikuti kemana arah Jason berjalan.
Sersi pun masuk ke dalam ruangan Tuan Besarnya itu, tercium aroma obat - obatan ketika pintu berhasil dibuka. Dan Sersi pun masuk ke dalam ruangan Alden, terlihat Alden sedang menonton acara televisi sambil memakan buah pisang ditangannya.
"Selamat pagi Tuan" sapa Sersi pertama kali, ketika dia berhasil masuk dan mendekati sang Tuan Besar Alden.
"Hmm saya kesini bersama Tu.."
"Dia datang bersamaku pah" suara Alex menggelegar, memotong ucapan Sersi.
Entah sejak kapan, Alex sudah datang dan tiba - tiba berjalan masuk ke dalam ruangan ayahnya itu.
'humm beruntung aku' batin Sersi bergumam.
"Bersama kamu Alex? Memangnya ada apa? Tumben sepagi ini kamu kesini, dan membawa sekretarismu?".
Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Alden.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada papah, jadi kami kesini sepagi ini untuk mengunjungi papah juga ada hal penting yang akan kita bahas pah." jawab Alex pada papahnya.
Alden memicingkan matanya, dan bertanya tanya hal penting apa yang harus dia bahas dan itu membuat Alden mengerutkan alisnya.
"Oke, kamu akan membahas apa dengan papah?".
"Ini menyangkut urusan pribadiku pah, aku harap papah tidak marah denganku setelah aku memberitahu papah." ucap Alex mengulas senyum pada ayahnya itu.
Membuat Alden semakin penasaran sekaligus kesal.
"Aku akan menikahi Sersi pah? Apa papah marah, maafkan aku yang tidak berterus terang pada papah."
__ADS_1
"Menikah... Alex kau yang benar saja. Sersi apa yang dikatakan oleh Alex betul. Sejak kapan kalian berpacaran dan berhubungan, kenapa kalian tidak memberitahuku?" tutur Alden.
"Ya hmm tuan Alden, yang diucapkan Alex betul. Aku dan anak anda baru tiga bulan berpacaran." jawab Sersi berbohong.
'maafkan aku tuhan, aku sudah membohongi orangtua' batin Sersi bergumam.
"Serius kalian, jangan bermain main Alex. Papah tidak ingin kalian hanya menghiburku." ucap Alden pada Alex dan Sersi. Dia berpikir dengan keadaannya yang sudah begini, Alden takut bahwa Alex menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kami serius pah, aku sengaja merahasiakan hubunganku dengan Sersi pah. Mungkin ini terlalu mendadak bagi papah, tapi Alex ingin segera memiliki Sersi. Aku mencintainya pah." kata Alex berbohong juga.
'hmm mencintaiku? Sungguh berdusta, dasar pria diktator' batin Sersi menggerutu mendengar semua kebohongan yang dikatan Alex pada ayahnya.
"Apakah papah merestui hubungan kami, walaupun Sersi bukan seperti kita dan status sosialnya bukan siapa - siapa pah?" Tanya Alex meminta restu pada ayahnya.
"Papah tidak pernah mempermasalahkan starata sosial. Pada dasarnya semua manusia itu sama, papah akan selalu memberikan restu kepadamu Alex. Hanya saja ini terlalu mengejutkan papah."
"Terimakasih pah, maafkan aku pah. Aku hanya tidak ingin mengecewakan papah, papah mengerti maksud Alex kan pah?" Ucap anak sulungnya itu.
"Iya, papah tahu. Kapan kalian akan menikah, apa kamu sudah siap dengan status barumu yang akan kau sandang Sersi?" jawab Alden, lalu langsung menanyai Sersi yang ternyata kekasih anaknya Alex.
"Aku siap pak" jawab Sersi dengan menunduk hormat.
"Panggil papah saja, aku tidak menyangka kamu direkrut jadi sekretaris nya ternyata memiliki alasan lain. Aku juga tidak menyangka, bahwa kau adalah menantuku." senyum merekah diwajah Alden yang kurus dan pias.
"Iya pah, terima kasih!" ucap Sersi pada ayahnya Alex.
"Oh ya, Sersi apa kamu masih memiliki keluarga? Ibu ayah atau saudara yang lainnya?" Alden bertanya pada Sersi, karena siapa tahu Alden kenal dengan orangtuanya.
"Ehm.. itu. Aku sudah yatim piatu pah, hanya tinggal kakak saja yang aku punya sekarang. Aku sudah tidak memiliki orangtua pah." jawaban Sersi pada Alden menunduk dalam menyiratkan kesedihan yang sangat dalam.
"Maafkan papah, papah tidak tahu."
"Tidak apa apa pah" ucap Sersi tersenyum lembut.
"Siapa nama ayahmu?" tanya Alden sekali lagi.
"Nama ayahku John Vilhauc Wad.." belum juga Sersi selesai bicata Alex memotong ucapan Sersi.
Menurut Alex bahaya jika sampai memberi tahu siapa nama ayahnya, pasti papahnya akan marah dan merubah pikirannya. Kalau papah sampai tahu bahwa Sersi merupakan anggota keluarga angkat dari Alfonso, Alex takut ayahnya akan mengusir pacarnya dan menyuruhnya pergi seperti waktu itu.
"Pah jangan membuat Sersi sedih, dia baru saja berduka. Jangan dulu ditanya tanya ya pah, kasihan dia. Biarkan dia menenangkan dirinya ya pah." ucap Alex mencegah Sersi berbicara lebih banyak tentang keluarganya.
"Baik, maafkan papah Sersi. Aku hanya ingin tahu."
"Iya tidak apa apa pah." Sersi mengangguk kembali melemparkan senyum lembutnya.
Setelah percakapan yang membahas bahwa Alex mengakui memiliki hubungan spesial dengan sekretarisnya, terus akan menikahi Sersi. Alden merasa ini terlihat janggal, dan terasa mendadak sekali. Alden merasa, Alex menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Entah apa itu.
Yang jelas, anaknya seperti menutupi sesuatu. Membuatnya merasa heran dengan ini semua.
__ADS_1