
Sersi POV
Siang ini aku merasa bosan, semenjak aku bangun dari tidur panjangku. Ah lebih tepatnya mungkin pingsan, aku merasa sangat aneh. Tubuhku terasa lemas dan lelah walaupun tidak melakukan hal apapun, dan itu karena apa. Aku merasa kelaparan.
Bayangkan saja dua hari dua malam aku tidak makan apapun dan hanya diinfus vitamin, tidak membuatku kenyang.
"Kau ingin mencoba sup yang kubuat?" tanya Alex padaku yang sedang memakan omelet dalam ukuran besar ini. Sungguh dia membuatnya sangat besar, berapa telur yang dia pecahkan untuk satu omelet ini.
"Mungkin nanti sore saja, omelet ini pun rasanya susah untuk dihabiskan." Jawabku, karena memang benar. Bukan karena rasanya yang tak enak. Malah rasanya sangat enak, tapi ukurannya yang melebihi batas itu yang membuatku serasa susah sekali menghabiskan makanan ini.
"Oke, panaskan saja kembali jika kamu ingin memakannya. Aku akan pergi setelah makan, ada sesuatu yang harus aku urus dulu." katanya sambil melihat ke arahku.
Seketika manik matanya terasa merenggut hatiku, mata biru teduhnya terasa menenangkan hati. Diriku yang hanya istri gadungan karena hanya dikontrak, serasa menjadi suami istri sungguhan yang mendapat tatapan penuh cinta dari suami tersayang. Apalagi seperti sekarang, aku serasa diperhatikan tapi.
'ah sudahlah, kamu jangan berharap lebih. Mungkin dia hanya sekedar menjalankan tanggung jawabnya' batinku mengingatkanku.
"Iya nanti aku panaskan jika aku ingin mencobanya." jawabku akhirnya.
"Oke," jawabnya singkat lalu meminum coklat panasnya.
Kalau dilihat - lihat dengan detail, sebenarnya dia ini sangat tampan. Matanya yang biru terang, kulit putih, dan rahang yang tegas membuatku serasa tak bisa mengalihkan pandangan. Hanya saja, dia buruk dalam hal perilaku.
Dia menyepelekan pernikahan, tidak menghormati wanita dan membohongi keluarganya sendiri. Sungguh itu menjadi pukulan telak bagiku, berbohong adalah sikap yang aku hindari. Tapi sekarang.. aku malah melakukannya. Oh tuhan maafkan aku.
Jika bukan karena aku membutuhkan biaya untuk Kak Adryan, aku tidak akan melakukan ini dan melanggar prinsip yang sudah ku pegang teguh sejak dulu.
Tapi apa daya, sekarang sudah terjadi. Aku hanya menjalankan dan pasrah pada nasib kehidupanku setelah ini dan kedepannya.
"Kamu jangan banyak memikirkan banyak hal, habiskan makananmu ya. Aku pergi dulu, mungkin aku akan pulang larut malam." kata dia kemudian langsung bangkit berdiri menyimpan piring kotor ke wastafel dapur.
"Bukannya kamu sedang libur bekerja?" tanyaku penasaran, bukankah tadi dia bilang tidak akan bekerja hari ini.
"Hmm, ada sesuatu mendadak yang mengharuskanku turun tangan. Tidak masalah hanya sebentar, besok aku akan menemanimu ke rumah sakit." jawabnya sambil berjalan kembali ke arahku dan dia duduk kembali di kursi yang berhadapan denganku.
"Oh begitu. Tapi untuk apa aku besok aku ke rumah sakit? Aku tidak sedang sakit?" tanyaku heran. Kenapa aku harus dibawa ke rumah sakit segala, toh aku sehat tidak sedang sakit dan tak mengalami apapun. Walaupun aku menikah, aku tidak sampai melakukan itu dengannya.
"Aku harus memastikan ditubuhmu tidak ada lagi racun yang bersarang, dan aku harus mengambil hasil uji lab makanan yang kamu makan di perjamuan dua hari lalu.." ucap Alex menjelaskan.
Aku hanya diam dan berohria, apa ia wanita yang bernama Ellea itu melakukan itu padaku. Apa salahku disini?
Kenapa tidak pria diktator ini saja, kan dia masa lalunya dia juga yang menolaknya kenapa harus aku? Hum, dia tidak tahu saja kalau aku hanya istri pura pura berlabel halal.
Menyedihkan.
"Apa sore ini aku boleh keluar sebentar ke depan? Aku ingin membeli sesuatu?" tanyaku padanya. Jujur jika siang sampai malam hanya berdiam diri di apartemen pasti rasanya sangat sangat bosan, aku butuh udara sejuk keluar sejenak. Butuh healing.
"Mau beli apa?" tanya dia menaikkan satu alis kirinya dan menatap ke arahku. Aku serasa diintimidasi olehnya. Mata birunya yang teduh, seolah berubah menjadi mata elang yang tajam.
Ada apa dengan dia ini?
"Aku ingin membeli street food dijalanan dan mungkin pergi ke cafe di depan apartemen. Aku janji tidak akan pergi jauh, hanya sekitaran sini saja!?" tanyaku sekali lagi meyakinkan padanya bahwa aku tidak akan kabur. Sungguh tidak percayaan sekali dia.
"Hmm, boleh. Tapi kamu ditemani Li Xuan ya. Dia akan menemanimu kemana pun kamu pergi," kata dia.
Apa Li Xuan?
Siapa lagi dia, kenapa dia harus menemaniku jika aku pergi keluar.
"Li Xuan? Tapi aku pergi sendiri pun tidak apa apa, dekat kok hanya sekitaran sini. Aku bisa jaga diri." jelasku padanya. Ingin pergi sendiri menikmati waktu sendiri alias me time.
"Ya dia bodyguardmu sekarang. Jangan ada bantahan, kau harus bersamanya. Nanti sore aku akan suruh Samuel mendatangkan dia ke sini untuk menemanimu! Aku harus pergi dulu, baik baiklah disini." ucapnya lalu melengos pergi meninggalkan aku sendiri.
*******
Aku sedang asyik memainkan game kesukaanku diponselku sore ini. Waktu masih menunjukkan pukul setengah tiga, masih ada waktu setengah jam untuk aku bermain sebelum aku mandi dan akan bersiap pergi keluar.
Namun saat aku sedang seru memainkan game sniper ini, tiba - tiba suara bel berbunyi. Hingga membuatku harus mengecek ke depan membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang sore ini.
Aku pun turun dari atas kasur dengan malas, ini sangat tidak seru. Waktu malas malasanku jadi terusik, dan tidak seindah bayanganku. Aku berjalan keluar kamar, dan menuju pintu masuk apartemen.
__ADS_1
Tanpa aku pikir panjang lagi, aku buka pintu dan .....
"Selamat Sore Nyonya Rudwig saya Li Xuan, yang ditugaskan oleh Tuan Alexander untuk menjaga dan menemani anda." ucapan nya terlalu formal sekali padaku.
Aku memandangi wanita ini dari ujung kepala sampai ujung kaki, badannya memang cukup berotot bagi wanita tetapi wajahnya cantik menurutku. Hmmm siapa yang memilih dia untuk menjadi bodyguardku ya.
"Oh oke, masuklah dulu Li Xuan. Aku belum bersiap siap untuk pergi, tidak apa apakan kamu menunggu sebentar. Aku akan pergi mandi dulu.." kataku padanya.
"Iya Nyonya, saya akan menunggu kapan pun." katanya sambil membungkuk hormat padaku. Merasa aneh aku dihormati seperti ini.
"Iya, duduklah disini. Jangan membungkuk seperti itu ya, biasa saja sama saya santai aja. Kamu mau minum atau makanan, panggil aja Mba Esma ya." ucapku padanya kemudian bangkit dari dudukku untuk bersiap pergi mandi dan bersiap siap untuk healing timeee...
"Tidak bisa Nyonya. Nyonya adalah istri dari Tuan Alexander terhormat, putra dari Tuan Besar. Saya harus bersikap sopan." jawabnya menampilkan senyum formalitasnya.
"Baiklah, terserah kamu. Aku bersiap dulu." kataku lalu pergi meninggalkannya.
Sersi POV End.
********
Terdengar suara shower menyala, tanda Sersi sedang melakukan ritual mandinya. Sore ini dia akan berjalan jalan disekitar wilayah dekat apartemen, dan jajan jajanan makanan pinggir jalan atau yang kita sebut street food.
Dari semenjak di Sicilia, Sersi memang suka jajan ditempat tempat seperti itu. Karena selain makanannya beragam, enak dan unik juga harganya yang relatif murah. Dengan harga murah sekaligus dapat makanan banyak membuatnya bisa berhemat namun tetap bisa jajan sepuasnya.
Aroma strawberry menguar memenuhi ruangan, ketika Sersi keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang masih basah hingga meneteskan air ke lantai itu, membuatnya terlihat sangat seksi. Dibalut handuk putih polos hanya sebatas lutut, menampilkan kulit putihnya yang seputih susu dan memperlihatkan lekukan tubuhnya yang cantik bak gitar spanyol.
Dia berjalan menuju lemari untuk memilih pakaian yang akan dia pakai sore ini untuk healing timeee..
"Li Xuan..!!" Panggil Sersi dari dalam kamarnya.
Tak berapa lama kemudian wanita kekar nan cantik itu muncul, dan segera memasuki kamar tuannya takut terjadi sesuatu.
"Iya Nyonya, ada apa nyonya?" tanya Li Xuan segera menghampiri.
"Kamu tolong ambilkan bajuku yang diatas sana, aku tidak bisa mengambilnya. Kamu kan tinggi, ambilkan ya!" ucapnya pada bodyguardnya itu.
Dengan mudahnya, Li Xuan mengambil baju itu tanpa kesulitan. Karena tubuhnya yang tinggi tidak membuatnya harus menjinjit atau menggunakan tangga.
"Ini Nyonya." disodorkannya baju itu.
"Oke terimakasih." kata Sersi.
*******
"Apa benar yang dilaporkan Pierro, bahwa senjata kita ada yang menyabotase Samuel?" tanya Alexander duduk dikursi keberatannya . Di markas rahasianya 'Red Doors'.
"Benar Tuan, membuat senjata yang akan kita terima tidak sampai ke tempat kita. Karena orang tersebut membawa kabur semuanya, satu kapal hilang." tutur Samuel selaku orang utama yang memperhatikan jalannya bisnis gelapnya ini.
"Apa aku memiliki musuh baru? Ada apa denganku, aku tidak membuat kericuhan." ucap Alex mengira ngira siapa yang membawa semua senjata yang akan dia edarkan.
"Tidak Tuan. Saya dan Pierro mencurigai Tuan Richard." kata Samuel pada Alex. Dia mengatakan itu karena sebelumnya dia sudah melakukan penyelidikan.
"Richard? Bukankah dia dipenjara karena kasus membunuh iparnya sendiri. Huh, mau apa dia denganku bedebah!!" amuk Alexander. Merasa kesal dengan manusia satu itu, karena tidak lelah dan menyerah mengganggu dirinya terus.
"Tuan Richard sudah bebas. Masa tahanannya cuman 4 tahun Tuan, jadi sekarang dia sudah bebas." ucap Samuel singkat padat dan jelas.
"****!! Pasti dia berbuat ulah lagi, mengapa dia yang marah padaku. Harusnya dia memarahi orang yang bersalah. Bukan hanya aku aku dan aku saja yang disalahkan." ucap frustasi Alexander. Seketika sekelebat bayangan bayangan itu kembali hadir di pikirannya.
"Mungkin Tuan Richard belum mengetahui bahwa anda adalah.." kata Samuel tapi kemudian dipotong oleh Alexander.
"Sudah jangan membahas itu. Aku tidak ingin membahasnya Samuel," kata Alex air mukanya menjadi terlihat tidak enak.
"Baik Tuan, maafkan saya." kata Samuel.
"Iya tidak apa apa, oh ya kau urus ke Italia masalah sabotase itu dengan Pierro. Aku serahkan kepada kalian berdua, harus bisa diatasi si Richard itu. Baru jika dia tidak mau berhenti membuatku rugi, aku akan turun tangan. Mengerti!!?" tanya Alexander pada Samuel.
"Baik Tuan, nanti saya hubungi pierro untuk menyelesaikan sedikit masalah ini." kata Samuel pada atasannya yang sedang mengisap rokoknya.
"Iya, aku andalkan kalian berdua. Jangan kecewakan aku, bawa prestasi untuk perusahaan Undergroundku." ucap Alexander.
__ADS_1
Samuel pun mengangguk kemudian pergi, kini hanya tinggal Alexander sendiri. Di dalam kesendirian seperti ini biasanya dia akan mengenang sosok sang ibu yang dirindukannya. Namun apa daya dia hanya bisa melihat fotonya sekarang.
'Mah, andaikan mama dulu tidak melakukan itu. Mungkin kita sekarang masih bisa berkumpul, dan papah tidak akan terpuruk. Alex rindu mamah' batin lelaki itu mengutarakan kerinduannya pada sang ibu.
Alex pun mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada istrinya.
[Sersi, ingat pesanku jangan sampai terpisah dengan Li Xuan. Jangan bertindak ceroboh ya, aku akan pulang lebih awal sekarang tidak jadi pulang malam. Kau bersenang - sembahlah jangan melanggar janji!]
Klik. Pesan pun terkirim kepada Sersi. Alex bergegas membereskan barang bawaannya dan segera pergi dari sana.
Meninggalkan Red Doors markas rahasia antara Alex dan Samuel ketika ada hal penting diluar urusan perusahaan AR Group.
*****
"Li Xuan, kamu mau ini enakloh! Mending kamu coba dulu nih, sini sini.." ucap Sersi dengan membawa satu con eskrim berwarna putih.
"Tidak Nyonya, terimakasih!" tolak Li Xuan.
Sersi pun kemudian sibuk kembali dengan makanan ditangannya. Es krim, hamburger, dan kebab ukuran jumbo yang dia beli. Ini sangat membuatnya merasa senang dan wah sekali.
Sudah lama dia tidak jajan jajan seperti ini, hmm dia jadi teringat patner jajannya Cindy. Apa kabar dengan dirinya ya?
Kak Adryan juga, Sersi belum tahu kabar terbarunya.
Ketika Sersi berjalan menuju cafe yang ada diseberang depan apartemen yang ditinggalinya, dia dipanggil oleh seseorang yang sangat familiar..
"Sersi..!" panggil pria itu pada Sersi.
Sersi pun menoleh dan ternyata itu Dean, sahabatnya sekaligus patner berantemnya di Sicilia dulu. Dean berjalan menghampirinya Sersi, dan mereka berbincang akhirnya.
"Kamu mau kemana? Dan siapa perempuan ini?" tanya Dean pada Sersi. Kini dia tidak sedang memakai baju resminya, hanya outfit santai pakaian biasa.
"Aku mau ke caffe diseberang sana untuk makan sore, ini Li Xuan. Bodyguardku Dean." jawabnya Sersi tertunduk.
"Oh, kamu juga mau ke caffe sana ya. Ya sudah ayo kita barengan saja, sambil ngobrol sebentar. Kamu mau?" Dean mengajaknya untuk sama sama pergi ke sana karena kebetulan mereka sama akan berkunjung kesini sore itu.
"I.. iya. Boleh saja," jawab Sersi agak terbata.
Li Xuan yang merupakan bodyguard Nyonya Rudwig, menatap tajam ke arah Dean memperhatikannya. Kemudian dia memasang wajah biasa kembali, menyembunyikan raut wajahnya yang tak mengenakan
******
Malam readers semua..
Hari ini cukup sampai sini dulu ya, besok ada peristiwa unik yang bakal merubah prinsip Alexander dan mengubah janji yang sudah tertulis.
Huhuhu..
Makin seru nantinya deh!!
Makanya staytune trus ya disini, walaupun Author updatenya tidak selalu setiap hari tapi aku nyempetin buat nulis naskah hanya satu dalam sehari itu pun kalau aku merasa waktuku luang.
Karena aku masih punya bayi gaes, jadi riweuh gitu samaa mmong anak. Bagi bagi waktunya buat nulis.
Maafkan author ini yaa..
Oh ya jangan lupa follow
Instagram : @xue_ssl
Facebook : Xue
Disana aku update visual Alexander, Sersi dan Allea. Tokoh lainnya menyusul ya..
Selamat membaca!!
Luvvvvv
Sampai bertemu di bab selanjutnya...
__ADS_1