
Seminggu Kemudian...
Sersi sedang bermalas - malasan di kamarnya siang ini, dari pagi hingga sekarang dia merasa tidak bersemangat. Ditambah dia tidak bisa melakukan apa - apa sekarang, Sersi merasa dia tidak pantas menjadi wanita baik - baik. Karena dia telah bersedia untuk menjalankan pernikahan kontrak dengan atasannya itu.
Dia sekarang merasa malu karena sudah mengingkari prinsip dan ucapannya, juga merasa menyesal dengan apa yang telah dia lakukan. Dia takut, banyak pihak yang dia bohongi Tuan Alden, Nona Sofia, dan banyak lagi.
"Arrrgh.. kenapa aku dihadapkan dengan situasi ini. Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Yang penting aku harus punya uang untuk membiayai Kak Adryan! Sersi kamu harus kuat, oke diri kamu tetap bersih karena dia berjanji aku tidak perlu melayani hasrat seksualnya. Oke, kamu harus kuat. Harus!!" ucapnya sendiri menepuk nepuk dadanya menepis pikiran - pikiran yang akan membuatnya stress berat.
Hingga deringan ponsel, membuat Sersi mengalihkan pandangannya melihat ke arah ponsel untuk melihat id caller. Dan disana tertera nama rekan kerjanya 'Amelia'.
[Hallo, Sersi? Apa kamu sakit?] suara khas Amelia ketika meneleponnya. Tidak ada basa basi langsung ke pokok.
[Tidak, aku tidak sedang sakit kok mel!] jawab Sersi singkat.
[Aku rasa kamu sudah beberapa hari ini tidak masuk kantor, aku tidak pernah melihatmu ke kantin ataupun pulang dari kantor. Aku kira kamu sakit]
[Enggak Mel. Aku gak sakit kok tenang aja, i am always health!]
[Oh syukurlah, jadi kenapa kamu tidak masuk kantor lagi. Apa kamu pindah bekerja ke perusahaan lain?]
'Aduh gimana ngomongnya ya, masa iya harus jujur' batin Sersi bermonolog.
[Hmm kalo itu, aku butuh istirahat aja Mel. Hampir 3 bulan berturut-turut aku selalu bekerja full, tidak pernah mengambil libur bulanan. Ya jadi aku pakai saja sekarang, hitung - hitung refreshing]
[Hmm, tapi kamu sudah janji kepadaku akan membantu mempersiapkan pernikahanku bulan depan. Bagaimana dong?]
'oh iya ampir aja lupa' batin Sersi bersuara seraya sambil menepuk jidatnya.
[Aku tidak lupa Mel, tenanglah aku akan tetap membantumu.]
[Oke, sore nanti kite ketemuan di coffeshop biasa ya. Kita pilih desain undangan nanti, kamu pilihkan yang bagus untukku yah!?"]
[Siap, sampai ketemu nanti sore ya mel!]
[Iya, thanks miss my luvv]
[Lebay!!]
[Hehehe, ya udah nanti aku tunggu ya jangan telat! Bye!]
Klik. Telepon pun diputus oleh Amelia. Sersi pun kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur, dan memainkan ponselnya. Melihat timeline berita terbaru, dan sekedar menonton random video video yang lewat diberanda youtubenya.
Sersi teringat akan kondisi kakaknya sekarang, dia belum mengetahui kabar terbaru kakaknya dirumah sakit. Karena Cindy belum juga memberikan kabar, maka dia berinisiatif akan menelepon sahabatnya itu untuk menanyai kabar kakaknya dan menanyai uang itu cukup apa tidak. Karena uang yang Sersi dapatkan dari Alex, dititipkan kepada Cindy. Sersi meminta tolong kepada sahabatnya itu untuk membantu mengurusi kakaknya di Sicilia karena dia masih belum bisa pulang.
Sersi pun menekan dial panggilan, menelpon Cindy untuk memastikan bahwa kakaknya masih hidup dan masih bisa tertolong.
"Hallo, iya Sersi. Maaf aku belum ada waktu untuk meneleponmu, aku sedang mengawasi dan mengurusi kakakmu" ucap temannya yang tak lain adalah Cindy.
"Iya gak papa, tapi Cin. Bagaimana dengan kondisinya, apa Kak Adryan memiliki luka bakar yang banyak?" tanya Sersi penasaran sekaligus khawatir.
"Kak Adryan sekarang masih kritis. Luka bakarnya tidak terlalu berbahaya, hanya luka dibagian kaki yang masih belum sepenuhnya hilang."
"Apa Kak Adryan kritis! bagaimana ceritanya rumah sakit tidak memberikan pelayanan yang baik pada kostumernya?" ucap Sersi pada Cindy.
"Ya kakakmu kritis karena terlalu banyak menghirup asap kotor ketika kebakaran, membuat paru parunya ya begitulah.." jawab Cindy.
"Oke Sersi, sudah dulu ya. Aku harus urus urus dirumah sakit!" ucapan Cindy pada sahabatnya.
"Oke, beritahu aku jika ada apa apa ya".
"Oke, bye".
"Bye".
Sersi pun bangkit dari rebahan santainya, dan berjalan menuju dapur. Untuk membuat makanan siang untuknya karena perutnya sudah mulai berbunyi kruyuk kruyuk.
__ADS_1
*******
Waktu tidak terasa sudah menjelang sore. Alex berjalan keluar dari kantornya sore ini, hari harinya tanpa sekretaris pribadinya itu terasa ada yang kurang. Alex yang terbiasa akan kehadiran Sersi, merasa hampa tidak melihat dia ataupun bersamanya.
'Sepi tidak ada wanita itu' hati Alex berbicara.
Alex pun yang sudah sampai dilantai dasar gedung AR Group, bergegas menuju mobil Limousine yang telah tersedia didepan begitu juga dengan Clark sudah ada disana. Hari ini sungguh sangat melelahkan bagi Alex, namun mengingat dia masih saja belum melamar Sersi sudah seminggu berlalu semenjak kontrak pernikahan sandiwara itu ditanda tangani.
Clark melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju mansion keluarga Rudwig.
*******
Sore sudah tiba, Sersi kini sedang duduk manis di coffeshop biasa yang sering dia dan Amelia kunjungi atau hanya sekedar nongkrong saja.
Sersi datang lebih awal dari jam biasanya, karena tidak ingin membuat Amelia menunggunya. Lebih baik Sersi yang menunggu dari pada dia yang ditunggu.
Tak lama kemudian, suara gemerincing bel pintu coffeshop bersuara menandakan ada yang masuk ke caffe ini.
"Hai Ser, sudah lama disini kamu menunggu?" tanya sahabatnya Sersi yakni Amelia."
"Tidak, hanya beberapa menit saja." Jawab Sersi. Kemudian tersenyum ke arah Amelia.
"Maaf, tadi aku ditelepon pacarku Mark. Sungguh dia ini sangat protektif dan posesif, aku sering ditelpon sama dia menanyakan hal ini dan itu" kata Amelia pada Sersi menerangkan kekesalannya.
"Iya iya.. sudah jangan mengoceh. Dia posesif karena kamu suka dekat dengan teman pria, jadi Mark mungkin hanya terlalu takut kamu tidak setia padanya mel." terang Sersi.
"Hmm iya mungkin begitu, ya sudahlah".
Amelia kemudian menempati kursi kosong yang berada di depan Sersi. Kini mereka saling berhadapan, dan Amelia mulai melambaikan tangan memanggil pelayan untuk memesan makanan terlebih dahulu. Karena dia merasa lapar sekali sore ini.
"Ser, kamu mau pesan apa?" tanya Amelia ketika pelayan itu sudah sampai dihadapan mereka.
"Hmm, aku mau ramen sapi, sushi, sama es lemon tea ya mba." kata Sersi pada pelayan itu.
"Baik Nona" jawab pelayan sambil mencatat pesanan.
"Baik Nona nona, mohon tunggu sebentar ya. Terimakasih!" ucap sang pelayan lalu pergi menjauh dari meja mereka, berlari ke arah kitchen untuk memberikan catatan pesanan.
"Ser, perasaan kamu tiap pesen makanan Jepang terus. Pasti selalu makan ramen, emangnya gak bosen kamu tiap kesini ramen lagi ramen lagi?" tanya Amelia mempertanyakan kenapa temannya itu suka dengan mie itu.
"Ya aku memang suka segala jenis dan macam aneka makanan yang berbau mie. Dan ya aku suka makanan japan, karena i felt is good taste. Aku gak bosen tuh walaupun makan tiap hari." jawab Sersi tersenyum lebar.
"Ya sih, ya udah. Sambil kita nunggu makanan datang, tolong pilihkan aku desain undangan yang mendekati dengan warna baju pengantinku. Bisa tidak ya???." ucap Amelia mengeluarkan buku sample desain undangan di dalam tasnya.
Amelia pun mulai membuka dan membolak balikan lembar demi lembar kertas buku itu, menunjukkan beberapa desain undangan yang bisa dipesan sesuka hati.
"Hmm gimana ya bisa saja sih, tapi apa gak sebaiknya kamu aja yang milih sendiri. Kalau aku yang memilih takutnya kamu tidak suka dengan desain yang kupilih" ucap Sersi sambil menunjukkan ke buku sample desain.
"Hmmm, iya deh. Tapi aku nanti minta pendapatmu, bagus atau tidaknya gambar yang aku pilih ya." suara Sersi sambil memasang wajah memelas.
"Oke nah gitu aja".
Tak berapa lama kemudian, makanan pesanan Sersi dan Amelia datang. Para pelayan pun mulai menyusun makanan ke atas meja, dan pergi setelah selesai. Sersi dan Amelia pun mulai bersiap akan menikmati makanan mereka.
"Hmm, Ser kita makan dulu aja kali ya. Aku laper, tadi dikantor makan sedikit aku. Abis ini kita bahas lagi desain undangan." ucap Amelia mengaduk ngaduk saladnya.
"Iya, up to you aja" jawab Sersi.
*****
Alex terdiam di dalam mobilnya, berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Antara merasa benar dan salah dia akan melakukan pernikahan kontrak itu. Dia mendalami hatinya memastikan dia ini merasakan getaran cinta atau hanya obsesi belaka.
Jujur dirinya sangat hampa, sunyi, dan tidak bergairah jika tidak ada wanita itu disampingnya. Atau sehari saja dia tidak melihatnya dirinya merasa kehilangan. Tapi sebagaimana keras Alex berusaha memperdalam ke lubuk hatinya, dia masih saja enggan dan ragu untuk mengakui bahwa dia sudah menyukai sekretaris seksinya itu.
Karena Alex merasa masih dipenuhi luka yang ditorehkan Ellea, namun tidak dipungkiri Ellea tak bisa begitu saja hilang dari hati dan pikirannya. Dia tidak ingin sampai melukai hati wanita karena dia sembarang menjalan hubungan, padahal dia masih terbawa bayang masa lalu? Apa itu tidak terlalu kejam berarti dia sedang mencari pelariankan?
__ADS_1
Alih alih memikirkan hal itu semua, entah kenapa hati Alex merasa dia ingin menoleh ke sebelah kiri. Dan benar saja sekilas, terlihat sang perempuan itu Sersi sedang berada di Coffeshop sedang makan dengan perempuan lainnya. Membuat Alex tiba tiba menyuruh Clark untuk menghentikannya laju mobil.
"Clark berhenti di coffeshop itu sebentar" titah Alex.
"Baik Tuan". Jawab Clark singkat.
Clark pun menepikan mobil Limousine mewah itu di depan gedung kacamata, yang bangunannya berdampingan dengan coffeshop. Alex turun dari mobil ketika mobil berhasil berhenti sempurna, dan apa yang terjadi?
Semua mata memandang, terutama perempuan perempuan yang berada disana beralih menatap Alex yang baru saja keluar dari mobil dengan masih mengenakan setelan jas hitamnya yang mewah dan elegan. Membuat kharisma dan aura bos yang sangat kentara, membuat ciwi ciwi kepincut.
Masih muda, kaya, baik, royal dan tentunya tampan siapa sih yang enggak mau lelaki seperti itu?
Alex yang sadar dirinya jadi pusat perhatian, bersikap biasa saja tidak peduli karena sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini dan malah melenggang begitu saja berjalan menuju coffeshop dimana sekretaris cantiknya itu berada.
"Bagaimana kalau yang ini Ser? Menurutmu bagus tidak, aku ingin yang ini karena aku rasa desainnya bagus dan tidak terlalu ramai penghias. Sederhana tapi berkelas menurutku, kamu gimana?" tanya Amelia menyerahkan sample desain book invitation alias desain undangan ke Sersi.
Sersi menerima buku itu dan melihat desain yang Amelia inginkan.
"Ya tuh kamu lebih pandai memilihkan, ini bagus desainnya. Sederhana tidak terlalu ramai hiasannya cantik pu.." belum sempat Sersi menyelesaikan ucapannya.
Tiba tiba lonceng pintu coffeshop berbunyi, ada pengunjung yang masuk. Namun dari sekian banyak pengunjung yang masuk, Sersi terbelalak ketika melihat pengunjung yang masuk itu adalah ALEXANDER RUDWIG. Sekelas CEO besar perusahaan AR Group, ada apa datang kesini.
Alex dan Sersi saling bertemu pandang, Sersi yang melotot karena kaget sedangkan Alex tidak memasang wajah apapun hanya datar namun berjalan menghampiri meja makan yang sedang ditempati Sersi.
'Jangan bilang dia sedang gila, ngapain sih si pria diktator ini kesini. Mana mau kesini lagi haduh!' batin Sersi menggerutu.
"Ser kenapa kok gak dilanju.."
"Kamu sekarang ikut saya, kita ada urusan penting!" tanpa basa basi Alex pas sampai situ langsung berbicara begitu saja.
Amelia yang mengetahui siapa pemilik suara itu, segera menolehkan kepalanya dan benar saja ini atasannya pak Alexander. Mau apa bosnya ketempat seperti ini pikir Amelia.
"Eh, Tuan. Selamat sore." ucap Amelia menunduk hormat.
"Iya, sore juga untuk kamu. Kamu selesai berbicara dengan dia, dia ada urusan dengan saya." ucap Alex pada pegawainya Amelia.
Amelia menatap Sersi, tanda ada apa ini sebenarnya? Amel merasa heran, ada hubungan apa antara Sersi dan atasannya ini. Bukankah Sersi bilang dia sedang menikmati masa liburannya, tapi kenapa?
Sersi yang ditatap malah terlihat seperti meminta tolong, agar dia tidak dibawa oleh pria diktator itu.
"Hei, saya nanya sama kamu. Diam saja?" suara Alex membuyarkan pikiran Amelia.
"Ehmm eh.. ma.. maaf Tuan Alex. Emm i.. iya saya sudah selesai dengan Miss Sersi." jawab Amelia gelagapan kaget mendengar suara Alex tadi.
'aduh kenapa sih harus ketemu dia? Nambah badmood aku aja' batin Sersi bersuara. Namun pasrah karena keadaan, jikalau dia disini pun dirinya akan cape menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Amelia.
"Ayo kamu ikut saya Sersi, ini penting" kata Alex sekali lagi langsung memutar badan dan keluar dari sana.
Sepeninggal Alex, Amelia melotot ke arah sahabatnya itu. Dan menuntut penjelasan.
"Kamu pacar Tuan Alex?" tanya Amelia penasaran.
Sersi bingung untuk menjawab, karena posisinya tidak jelas sekarang. Pacar bukan, istri juga bukan, tidak tahu jadi siapa dia.
"Hmm aku nanti nanti ya aku jelasin, aku pergi dulu duluan. Sepertinya dia menungguku diluar takut kelamaan, please ya! Nanti ya Mel!?" melas Sersi pads Amelia.
"Iya, deh aku tunggu telepon dari kamu loh Ser!".
"Iya iya, dadah aku duluan" kata Sersi kemudian berjalan sedikit berlari, agar segera keluar dari sini dan menghampiri calon suami kontraknya itu.
Pas setelah sampai di depan mobil Limousine itu, terlihat Alex masih menunggu berdiri disamping mobil sambil memasukkan tanganya ke saku celana. Gayanya sangat cool, keren dan wah.
Ketika Alex melihat perempuan itu sudah keluar dari coffeshop itu, Alex menatapnya tajam. Dan menyuruh masuk Sersi ketika perempuan itu berhasil berada ke hadapannya.
"Masuk sekarang ke mobil!" ucap Alex.
__ADS_1
Sersi pun mengangguk pasrah, kemudian masuk ke dalam mobil diikuti oleh Alexander.