Terjerat Pesona Sang Sekretaris

Terjerat Pesona Sang Sekretaris
Part 4 - Bingung Harus Bagaimana?


__ADS_3

Alex saat ini sedang berkecamuk dalam pikirannya sendiri. Ia terheran mengapa ayahnya mengajukan permintaan ini secara tiba - tiba, apakah dia harus mewujudkannya. Alex tidak yakin akan bisa menikah dengan seseorang, dalam kondisi hati yang masih terluka. Luka yang belum sembuh total, karena Alex tipikal orang yang susah 'move on'. Entah sampai kapan dia dapat menyembuhkan hatinya itu, dan entah sampai kapan juga dia akan terus seperti ini. Terkadang dia pun bingung sendiri.


'kenapa papah ingin aku menikah dalam waktu dekat, harus nikah sama siapa aku?' batin Alex bersuara.


"Alex!?", panggil Alden pada Alex yang masih saja terdiam tidak menjawab pertanyaannya sejak tadi.


"Ya Pah.." jawab Alex sambil menatap ke manik mata ayahnya.


"Papah ingin melihat kamu menikah Alex, sebelum papah pergi dari dunia ini. Papah ingin memiliki menantu, menantu yang baik yang bisa mendampingimu Alex", ucap Alden pada anaknya berharap putra sulungnya itu bisa mewujudkan keinginannya itu.


Alex menatap lamat - lamat wajah ayahnya, terlihat sangat semakin kurus, keriput yang sudah mulai timbul walaupun sedikit tetapi tidak menghilangkan kesan wibawa sang ayah Alden Alfaraz Rudwig. Karena ketampanan ayahnya masih saja melekat, walaupun wajahnya sudah terlihat pias. Ayah dan anak itu seperti pinang dibelah dua, semuanya sama. Alex mewarisi semua ketampanan dan wibawa sang ayah.


Alex menangkap kesedihan di manik mata ayahnya, dan seperti menunggu akan jawaban dari dirinya. Sepertinya ayahnya bersungguh - sungguh dengan keinginannya yang satu itu, Alex sedikit bingung. Bagaimana caranya ia harus mencari perempuan yang dia mau nikahi, terlebih lagi dalam waktu singkat. Alex tidak mau menikah secara cuma - cuma, tanpa ada dasar perkenalan, asal - usul, apalagi tanpa cinta. Membuat Alex sedikit frustasi dengan hal ini. Tapi Alex tidak menunjukkan perasaannya yang sedang kalut, Alex tetap datar tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Pah, Alex mungkin akan menikah nanti. Tapi tidak sekarang. Alex tidak memiliki kekasih, dan untuk saat ini tidak ada wanita yang sedang dekat denganku pah!", jawab Alex akhirnya. Perkataannya jujur, ya memang sekarang ini dia tidak sedang tertarik dengan siapa siapa lagi, semenjak dirinya disakiti oleh Ellea.


"Cobalah berkenalan dengan wanita diluar sana Alex, papah tidak akan mempermasalahkan kasta atau apapun. Jikalau kamu mendapatkan wanita biasa biasa saja papah tidak akan melarangmu. Yang penting wanita itu baik, dan mencintaimu dengan tulus. Sopan pada orangtua, dan penyayang pada keluarga. Sudah saatnya kamu menikah Alex, usiamu tak lagi muda. Dan papah tak tahu sampai kapan umur papah bisa hidup. Karena dulu mamah kamu pun dari kalangan biasa, tapi dia baik dan setia pada papah. Kebaikan hatinya membuatnya lebih disayang tuhan, dan pergi meninggalkan kita duluan." kata Alden panjag lebar.


"Tidak segampang itu pah." Alex mengusap wajahnya.


"Mencari pasangan hidup itu tidak segampang itu pah, apalagi yang sifatnya seperti mamah. Sepertinya 1 dari 1000 wanita pah, sulit untuk mencari wanita yang benar-benar bisa mencintaiku apa adanya. Papah tahu sendiri, reputasiku sebagai CEO muda malah membuat aku digandrungi wanita karena mereka melihat nominal saldo yang ada direkeningku. Bukan melihat diriku sepenuhnya. She's love money, not me." kata Alex pada Alden ayahnya.


"Memang, wanita yang seperti mamahmu itu istimewa. Selain cantik wajahnya, mamahmu pun hatinya sangat baik dan mulia sekali. Tapi bukan berarti wanita seperti mamahmu, tidak ada bukan? Walaupun kemungkinannya sangat kecil, tapi kamu pasti menemukannya Alex", kata Alden pada Alex penuh keyakinan.


"Papah yakin, kamu akan menemukan wanita baik itu. Kamu harus mencoba berkenalan dengan wanita dibiro jodoh mungkin, atau kamu bisa menikahi Rosalie. Dia juga wanita yang baik, mandiri, dan cantik. Kamu ingatkan Rosalie? Anak teman bisnis papah?" tanya Alden.


"Semoga perkataan papah benar. Semoga aku menemukan wanita yang baik seperti mamah, tapi aku juga tidak bisa janji akan menikah dengan seorang wanita jika aku tak ingin. Aku tak ingin memaksakan diri pah!", kata Alex menekankan bahwa jika dia tidak menemukan wanita yang cocok dengannya. Dia tidak bisa mengabulkan keinginan ayahnya itu.


"Dan Rosalie. Ya aku ingat, tapi aku tidak mengenalnya dan aku tidak menyukainya pah. Dia terlalu hidup glamour, jika pun aku menikah dengannya. Hidup pernikahan ku tidak akan bahagia, karena tidak didasari dengan hati pah. Jangan paksa aku, please. Give me a time oke." ucap Alex memohon. Dia tak ingin dijodohkan.


"Baiklah, papah tidak akan memaksamu jika tak ingin mengenal dan menikah dengan Rosalie. Tapi papah yakin, nanti kamu akan menemukannya. Wanita yang baik, yang benar benar mencintaimu." Kata Alden.


'Semoga doa papah dikabulkan oleh tuhan. Papah ingin kamu bisa melupakan Ellea, dan menemukan wanita yang sesungguhnya. Wanita yang bisa mencintaimu dengan tulus, tanpa memandang harta tapi melihat hatimu. Semoga saja' kata Alden membatin.


Alden berharap Alex tak lagi larut dalam luka hatinya, dan mencoba membuka hatinya untuk yang lain. Karena wanita semacam Ellea, tak patut ditangisi.


***


Malam ini diluar sedang hujan deras disertai angin yang kencang menderu - deru. Membuat Sersi yang sedang berkutat dengan laptopnya, beranjak dari duduknya sebentar untuk menutup jendela kamarnya. Lalu setelah menutup jendela, Sersi pun kembali ke laptopnya untuk melanjutkan tulisannya. Sersi menjadi penulis novel online untuk mengisi waktu luangnya. Lebih tepatnya untuk mengisi ketidak adaan kegiatan karena dia masih menganggur. Tidak ada satu pun e-mail yang masuk dari beberapa perusahaan yang pernah ia lamar pekerjaan.


Dari menulis ini, Sersi lumayan bisa mengusir kejenuhannya dan mengembangkan bakatnya dalam hal tulis menulis. Toh, dia pun dibayar di aplikasi online itu. Lumayan pikir Sersi, sebagai pekerjaan sementara untuk menunjang kebutuhannya. Daripada dia hanya berdiam diri, tanpa menghasilkan apa - apa dan hanya menghabiskan uang saja. Ini lebih baik, menurutnya. Menyalurkan hobby tetapi tetap menghasilkan, sesuatu kebanggaan menurutnya.


Sudah hampir 10 hari berlalu, semenjak Sersi menyebar lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan termasuk ke AR Group. Hampir setiap hari dirinya selalu mengecek emailnya, untuk mengetahui informasi apakah dia diterima disalah satu perusahaan. Tapi, nihil. Belum ada satupun email yang memberitahukan dirinya diterima. Hanya ada beberapa email yang masuk, tetapi menyatakan bahwa dirinya tidak diterima. Membuatnya sedih dan sedikit kecewa.


Malam ini pun Sersi tengah menulis novelnya, yang akan dia upload hari ini. Kebetulan pekerjaan yang digelutinya ini, bertarget. Sersi dituntut untuk terus upload 1 bab setiap hari. Hingga pada saat dia sedang fokus merangkai kata, dan menciptakan adegan demi adegan. Tiba - tiba ponselnya berbunyi, ada yang meneleponnya. Sersi melihat ke dinding dekat lemari dimana jam dinding itu terletak, dan ini sudah pukul 10 malam. Siapa yang meneleponnya malam - malam begini pikirnya.


Sersi mengambil ponsel disamping meja buku, lalu melihat id caller pemanggil. Dan nama Cindy yang tertera disana. Sersi pun segera menggeser ikon hijau.


[Selamat malam Sersi sayang...] ~ kata Cindy ketika telepon baru saja tersambung.


[Ada apa nih tumben? Sayang sayang sama aku, jadi curiga?] ~ jawab Sersi secara gamblang. Sersi tak suka bertele - tele.

__ADS_1


[Issh, suudzon mulu sama temen. Curiga kenapa, aku gak lagi ngelakuin kejahatan.] ~ jawab Cindy ketus, bisa bisanya sahabatnya ini curiga padanya. Belum saja dia bilang apa pun.


[Ya abisnya tumben tumbenan gak biasanya manggil aku kayak begitu. Jadi curiga, pasti ada maunya kan?] ~ ucap Sersi pada Cindy.


[Hehehe...] ~ Cindy tertawa diseberang sana.


[Engga, aku cuman seneng aja gitu. Inget gak, aku dulu pernah bilang. Aku coba kirimin desain baju yang aku buat, ke salah satu butik terkenal. Ingetkan? Yang ngadain lomba itu!] ~ ucap Cindy antuasias dengan semangat.


Sersi terdiam sejenak, mengingat - ngingat perkataan Cindy waktu itu.


[Oh iya, yang kamu kirimin ke Butik Alamanda's itu kan ya? Yang ngadain lomba desain gaun pengantin kalo tidak salah? Terus, memangnya ada apa?] ~ tanya Sersi lagi penasaran. Keningnya sampai mengkerut.


[Nah iya.. bener. Gaun desain aku kepilih jadi juara 2 Ser, aku menang. Dan dalam 3 bulan ke depan, desain gaun aku bakal dijahitkan dan dijual dibutiknya. Dan kabar baiknya, kamu bisa tebak tidak?] ~ katanya bersemangat menceritakan kemenangannya dalam lomba desain gaun.


[Wah bagus dong, congratulations ya Cin! Kalo menang berarti dapet hadiah dong, selamat ya.] ~ kata Sersi mengucap selamat.


[Iya, jadi aku seneng banget. Hadiahnya aku bisa kasih ke ibu buat ajak dia jalan jalan, dan beruntungnya aku bakalan..] ~ Cindy menggantung ucapannya sengaja membuat Sersi menunggu.


[Bakalan apa?] ~ tanya Sersi.


[Dan aku bakalan diterima kerja dibutiknya Alamanda's jadi desainer gaun pengantin. Yeay, aku sekarang dapet kerjaan Ser. Akhirnya aku bisa dapet kerjaan sesuai minat aku, seneng banget rasanya.] ~ kata Cindy dengan bahagia disetiap ucapannya.


[Bagus dong, selamat ya sekarang udah enggak jadi pengangguran lagi. Sukses terus ya Cin, semoga ini peluang kamu buat jadi desainer terkenal. Baik - baik tuh, hoki kamu bagus.] ~ kata Sersi ikut bahagia temannya mendapatkan pekerjaan yang selama ini diinginkannya.


[Iya, makasih ya Sersi. Oh ya, kamu gimana? Udah dapet kerjaan?] ~ tanya Cindy.


Sersi menghembuskan nafas berat.


[Uuh, yang sabar ya. Semangat ya, aku yakin kamu bakal dapat kerjaan yang bagus nanti. Udah dulu ya, disini udah malem banget, aku mau tidur dulu. Kapan kapan sambung ya, bye] ~ ucap Cindy, karena dirinya merasa mengantuk.


[Iya semoga saja ya, makasih ya Cin. Iya kamu cepet istirahat aja udah, aku juga mau nyelesein naskahku dulu. Bye.] ~ jawabnya.


[Eh, tapi sebentar. Aku lupa, nah nanti kalau gaun aku udah jadi. Aku kirimin ke kamu satu ya, cantik banget deh. Nanti aku kirimin fotonya, jangan lupa dipakai ya nanti kalo kamu menikah duluan hihi.] ~ ucap Cindy.


[Hah? Buat apa? Gak usahlah, kamu jual aja. Aku gak usah dikirimin gaun, sayang pasti harganya mahal. Lagipula aku kan belum tahu nikahnya kapan?] ~ jawabnya.


[Gapapa kok, itu hadiah dari aku buat ulangtahun kamu. Gratis, gak usah ngomongin harga. Aku ikhlas kasih gaun itu ke kamu, jangan ditolak ya.] ~ ucap Cindy.


[Tapi Cin.. Kamu tahukan kalau aku itu gak suka pa..]


Klik. Telepon diputus sepihak oleh Cindy. Sersi belum sempat melanjutkan ucapannya, karena Cindy mematikan telepon tanpa dia duga.


"Terserah deh!", kata dia sendiri. Lalu menyimpan ponselnya kembali di atas meja, dan Sersi kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Yakni menulis naskah novel untuk karyanya di salah satu situs penulis.


Satu jam kemudian, dia pun selesai menyelesaikan tulisannya. Waktu hampir tengah malam, Sersi sudah mengantuk rasanya. Ia pun mematikan leptopnya, dan pergi mencharge hpnya. Takut dia kelupaan, karena kehabisan baterai ponsel membuatnya mati kebosanan.


Sehabis mencharge ponsel, Sersi pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Karena malam ini dia menghabiskan secangkir coklat panas agak banyak, selesai itu semua dia pun pergi tidur.


***


"Tuan, ini beberapa berkas dokumen para pelamar pekerjaan yang saya dapatkan dari resepsionis dibawah", ungkap Samuel pada Alex sambil menyodorkan beberapa berkas pagi ini.

__ADS_1


"Oke, kau boleh pergi!", kata Alex pada sekretarisnya itu. Lebih tepatnya Samuel orang kepercayaannya, karena pekerjaan dia double double dengan urusan lainnya juga.


Samuel pun keluar dari ruangan Alexander ketika sudah mendapat perintah, dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Sementara Alex, kembali berkutat dengan dokumen yang sedang dia baca tadi dan menyelesaikan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda. Akibat insiden ayahnya yaitu Alden, meminta dirinya untuk segera menikah. Membuat Alex gusar dan terkadang kepikiran terus menerus, sudah sejak 10 hari berlalu dia dan ayahnya waktu itu berbincang di Portland Hospital. Namun ucapan sang ayah masih saja terngiang.


'Sebelum papah meninggal, aku ingin melihat kamu menikah Alex. Usiamu sudah 27 tahun, usiamu sudah matang untuk menikah. Papah ingin memiliki menantu terlebih dahulu..'


Kata kata itu yang terus terngiang di kepala Alexander setiap hari. Alex bukannya tidak mau menikah, hanya saja dia tidak ingin terluka untuk kedua kalinya. Dan ingin menyembuhkan dulu luka yang ada, untuk saat ini hatinya masih tertutup rapat entah apa sebabnya dia pun tak tahu.


Tetapi tatkala teringat ucapan Alden ayahnya, Alex juga merasa khawatir. Kalo iya ayahnya tidak berumur panjang, dan Alex tidak bisa mengabulkan permintaan terakhir sang ayah. Maka dia akan dibayangi rasa penyesalan.


Selesai dengan dokumen perusahaan, Alex pun beralih untuk membuka dokumen para pelamar pekerjaan yang tadi diberikan oleh Samuel. Satu persatu dokumen itu dilihatnya, dia baca semuanya dengan detail tanpa terlewat satu pun. Ketelitian yang sangat hakiki.


Rata - rata pelamar pekerjaan kebanyakan perempuan, meskipun ada yang laki - laki tapi jumlahnya tak banyak. Alex memilah orang - orang yang dia pilih dengan melihat data - data yang ada, dan kemampuan yang dimilikinya. Ia butuh orang yang berkompeten untuk dipekerjakan diperusahaan. Selesai memilih beberapa orang yang akan dia interview besok, Alex pun menelepon Samuel untuk masuk ke ruangannya.


"Samuel,masuk ke ruangan saya sekarang!", perintah Alex ditelepon kantor.


Tak lama kemudian, Samuel pun masuk ke dalam ruangan Alex. Dan berhenti di depan samping meja Alex, sambil membungkuk hormat.


"Ya Tuan, berkas berkasnya sudah selesai?",


"Iya, ini berkas para pelamar kerja di perusahaan ini. Ada 15 orang yang aku pilih, hubungi ke alamat e-mail mereka. Besok pagi kamu yang interview langsung!", ucapnya.


"Baik Tuan, saya sebar info di e-mailnya masing - masing", jawab Samuel sambil menerima berkas dokumen yang disodorkan Alex.


Alex pun hanya mengangguk, dan mengisyaratkan bahwa dia telah selesai berurusan. Samuel pun mengerti, dan langsung meninggalkan ruangan.


Sepeninggal samuel, Alex memandang kosong ke arah pintu. Alex memutar kembali memori dimana dia masih memiliki keluarga utuh, dimana ayahnya dan ibunya masih bersama. Dia dan adiknya yang mendapat kasih sayang penuh dari kedua orangtuanya, hingga tragedi itu terjadi dan membuat semuanya berubah. Alex pikir hanya kehidupannya yang tidak berpihak kepada dirinya, ketika kenal dengan Ellea 2 tahun lalu.


Dunia Alex serasa melayang, dan semanis gula. Hari - hari yang Alex lewati terasa ringan tanpa beban, dan hidup lebih berwarna. Namun, Alex salah ternyata. Pada akhirnya, dia merasa sakit. Dikhianati dan dicampakkan, oleh seorang wanita yang dia terlanjur cintai membuat hatinya terluka sangat amat pedih. Alex berpikir, kapan dunia ini berpihak kepadanya?


Kapan dia akan berakhir bahagia, seperti kisah - kisah cinta di dongeng.


Hingga, suara dering telepon menyadarkan Alex dari lamunannya. Dia pun segera mengambil ponsel, dan mengangkat telepon tanpa melihat id caller.


"Hallo kak Alex, kakak kapan pulang dari kantor? Sofi mau masak untuk makan malam nanti?", suara Sofi ketika sambungan telepon tersambung. Suara Sofi ciri khas, agak cempreng tapi imut seperti anak kecil.


"Ehm, mungkin sore nanti juga pulang. Tidak terlalu sibuk dikantor hari ini!", jawab Alex.


"Baiklah, Sofi buatkan makanan kesukaan kakak nanti ya! Sekalian Sofi mau bicara sesuatu..",


"Oke, baiklah. Sampai jumpa nanti Sof",


"Iya kak, oke". Klik, telepon pun terputus.


Alex pun menyimpan kembali ponselnya, dan menatap kosong ke layar laptop. Di dalam otaknya terus saja berseliweran ucapan ucapan ayahnya, membuat dirinya bingung, gelisah, dan sakit kepala.


Ia pun mengusap wajahnya kasar.


Dan menghembuskan nafas berat berkali - kali.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2