
Tiga hari kemudian...
Sersi terbangun dari tidur lelapnya karena mendengar suara alarm dari ponselnya yang telah berbunyi nyaring. Sersi dengan malas bangun dan mengucek matanya beberapa kali, dan mengambil ponsel disamping ranjangnya yang tergeletak diatas nakas.
Waktu baru menunjukkan pukul 5 pagi, tapi Sersi pagi ini harus bangun lebih awal karena hari ini hari yang akan paling berat dia jalani. Selain mencari pekerjaan baru, dia pun harus memikirkan bagaimana bertahan hidup disini jikalau pekerjaan kurang beruntung dipihaknya. Mengingat tabungannya sudah terkuras cukup banyak, untuk membayar sewa apartemen, mengurus passport, dan lainnya. Sersi harus lebih bekerja keras lagi untuk mengisi saldo rekeningnya yang mulai menipis. Ya walaupun tabungannya tidak sampai dia habiskan, tapi tetap saja dia harus berjaga - jaga mencari pekerjaan dari sekarang. Karena dia hidup ditempat baru, pasti banyak kebutuhan yang harus dia beli, dia bayar, dan lainnya. Karena dia seorang diri disini, jika dia tidak bekerja bagaimana mendapatkan uang untuk memenuhi biaya hidupnya disini.
Dengan langkah gontai Sersi pergi ke kamar mandi untuk mandi pagi dengan air hangat, diluar hawanya terasa dingin ketika dia menyibakkan selimut dan ketika menginjakkan kaki ke lantai. Ditambah dari hawa dingin AC yang Sersi nyalakan waktu malam hari sebelum akhirnya dia pergi tidur.
Setengah jam berlalu, Sersi telah selesai mandi. Tercium aroma strawberry menguar dari tubuh Sersi yang masih terlilit handuk diatas lutut, dan rambut yang masih basah beraroma marsmellow. Humm, manis. Semanis wajahnya. Kemudian berpakaian, sesopan mungkin karena Sersi akan melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan yang ada di London. Walaupun dia tidak yakin akan mudah diterima, takut mempermasalahkan pendidikannya yang hanya tamatan S1 Manajemen Business.
Sersi sempat merasa pesimis karena hal itu, tapi selagi belum dicoba kenapa harus menyerah sebelum mencoba bukan?
Drrrt.... Drrrrt....
Dering ponsel terdengar, ketika Sersi baru saja selesai merapikan tempat tidurnya. Dan segera meraih ponselnya, lalu melihat id callernya tertera nama 'Cindy' disitu dan Sersi langsung menggeser icon hijau.
[Ser, kamu kenapa kemaren langsung matiin telepon sepihak sih?? Udah lupa nih sama aku, gak mau ngomong sama aku lagi. Udah punya teman baru ya!] ~ omel cindy.
[Eh, aku gak sengaja cin?! Ehmm.. kemarin aku gak sengaja nabrak orang disupermarket. Ketabrak troli belanjaan. Aku matiin telepon kamu dulu, aku gugup tatapannya tajam ke aku] ~ jawab Sersi.
[Iya terus!? Kamu jadi kaya patung gitu, diem melongo dihadapannya. Kan bisa teleponnya gak usah diputus, dan kamu bicara denganku lagi kalau kamu sudah minta maaf sama pria itu]~ kata Cindy.
[Yah, jadi aku langsung nyimpen ponsel ke saku. Lupa gak nutup telepon dulu, mungkin ke gesek jadi kepencet hehe.. maaf ya!? Gak sengaja?? Keputus sendiri kayaknya] ~ jawab Sersi cengengesan.
[Hmm, ya udah deh. Tapi aku sebagai sahabat, khawatir sama kamu Ser. Lagi nelepon, tiba - tiba ngilang gitu aja. Gak jelas kenapa kenapanya coba, abis itu susah banget dihubungin] ~ omel Cindy.
[Iya deh maaf. Tapi orangnya ganteng loh cin, nanti aku ceritain deh. Tapi sayang kayaknya pendiem, cuekan gitu. Sekarang udahan dulu ya teleponannya, aku mau sarapan dulu. Terus hari ini aku mau mulai cari kerjaan disini.] ~ kata Sersi.
[Wah, hebat. Baru aja sampai ditempat baru, udah dapat yang ganteng aja. Dean mau dikemanain nanti? Hahaha. Eh, mau cari kerjaan ya hari ini? Semoga sukses ya, lancar cari pekerjaannya.] ~ canda Cindy
[Ya ganteng juga bukan pacar kali, gak sengaja ketemu itu juga. Dean cuman temen doang, dia bukan siapa-siapa aku kali Cindy. Dasar kamu, dia buaya gitu mana mau aku.] ~ ucapnya.
[Ya udah aku tutup ya. Thanks ya cin. Gue mau cari kerjaan diperusahaan, sekalian cari CEO ganteng. Semoga aja dinikahin iyakan, biar cepat kaya. Gak perlu cape cape kerja deh hahaha. Bye] ~ kata Sersi
Klik. Telepon diputus secara sepihak oleh Sersi. Sambil cekikikan, padahal dari ucapan itulah dia akan mendapat sebuah kejadian yang dia anggap hanya guyonan menjadi kenyataan setelahnya.
*****
Terik matahari mulai membuat Sersi merasa haus dan kepanasan. Waktu sudah menjelang siang hari, tetapi dirinya masih terus berjalan untuk memasukkan lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan yang Sersi anggap memiliki potensi membuat dirinya mendapatkan posisi yang lebih baik dan menaikkan financialnya.
Karena gajinya yang cukup besar menurutnya. Dia sudah melihatnya di laman internet yang sebelum sudah dia searching.
Siang ini, Sersi masih tidak mau menyerah dengan keadaan. Dia masih terus berjalan mencari gedung - gedung perusahaan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Terlihat di depan sana, gedung yang hampir semuanya kaca dan menjulang tinggi dengan kemegahan yang hakiki. Terpampang jelas pula logo perusahaan yang bernama "AR Group".
Tanpa menyia - nyiakan kesempatan, Sersi pun berjalan ke arah gedung AR Group tersebut dan berniat melamar pekerjaan disana.
Karena Sersi tahu, sebelum pergi ke sini. Sersi mencari informasi tentang perusahaan - perusahaan terbaik di London yang memiliki gajih besar dan pamor yang bagus. AR Group salah satu perusahaan yang paling terbaik nomor 3 di London, yang memiliki CEO paling muda dan paling kaya diantara yang lainnya. Menurut artikel yang dibaca Sersi, CEO dari AR Group ini katanya masih single dan muda baru berumur 27 tahun dan memiliki ketampanan yang luar biasa. Dan istimewanya AR Group ini, mencakup bisnis yang sangat luas. Bergerak di bidang produk obat herbal, produk minuman, property, dan pusat perbelanjaan.
__ADS_1
"Selamat siang mba!", ucap Sersi ketika sampai di meja resepsionis kantor AR Group.
"Selamat siang nona. Ada yang bisa saya bantu? Atau nona memiliki janji temu dengan seseorang disini?", jawab salah seorang resepsionis itu dengan ramah.
"Tidak mba, saya tidak memiliki janji temu. Saya mau melamar pekerjaan di perusahaan ini, apakah masih ada lowongan pekerjaan disini mba?", tanya Sersi penuh harap.
Sang resepsionis pun, tidak langsung menjawab. Resepsionis mengutak - atik komputer di hadapannya sebentar, lalu mendongakkan kembali wajahnya ke Sersi.
"Ada nona. Nona boleh menyimpan syarat lamaran kerja melalui saya. Nanti jika lamaran Nona diterima atau tidaknya, pihak perusahaan akan mengirim ke alamat surel Nona" jawab sang resepsionis dengan ramah.
"Oh great! Terimakasih mba, ini syarat lamaran nya" jawab Sersi antusias, lalu menyerahkan amplop coklat besar berisi syarat untuk melamar pekerjaan.
"Baik Nona, nanti kami mengabari anda. Tetap pantau email anda Nona, terimakasih!", timpal resepsionis tersebut tersenyum ramah lalu menyimpan dokumen lamaran Sersi ditumpukan dokumen lainnya.
Selesai sudah Sersi berhasil mengirimkan lamaran pekerjaan ke perusahaan yang paling baik ini, Sersi keluar dari gedung AR Group dengan perasaan cerah ceria. Dia berharap semoga dewi keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Sersi pun berniat untuk mencari restoran untuk mengisi perutnya yang sudah lapar ini, sebelum pulang kembali ke apartemennya.
"Wah, Chinese food. I love it!" teriak Sersi. Ketika melihat ternyata diseberang kantor ini ada restoran Chinese food, dia pun segera pergi kesana. Untuk segera makan siang dengan menu andalan favoritnya. Olahan bebek yang sangat memanjakan lidahnya yummy.
***
"Samuel apakah bisnis underground ku berjalan lancar? Tyler mengabari apa saja bulan ini?!!", tanya Tuan Muda AR Group yaitu Alexander Rudwig.
"Bisnis underground lancar Tuan, semua aman terkendali. Omset meningkat selama 3 bulan ini Tuan, Tyler mengabari semua aman terkendali" jawab Samuel orang kepercayaan Alex diperusahaan AR Group ini. Juga sebagai pengelola utama bisnis underground milik Alexander.
"Good. Pastikan semuanya selalu terkendali, jangan kecewakan aku Samuel!", timpal Alexander.
"Siap Tuan, saya pastikan semua selalu aman dan omset selalu bertambah", jawab Samuel kepada Alexander.
Tersisalah Alexander seorang diri di ruangannya, terlihat pria itu kembali berkutat dengan dokumen dokumen yang harus dia pahami dan kerjakan.
Sungguh pemandangan yang indah bagi perempuan yang menjadi pasangannya, Tuan Muda yang memiliki paras tampan sempurna mulus tanpa cacat. Pemilik rambut hitam, hidung mancung, dan mata berwarna biru teduh membuat siapa saja jatuh hati ketika melihatnya. Ditambah memiliki rahang yang kokoh, menambah pesona dan ketampanannya.
Kesuksesan Alexander diraih sejak dia masih muda. Saat itu dia masih berumur 23 tahun, lulus kuliah business dengan cumclaude tertinggi di universitas terbaik di London. Yakni di Imperial College London.
Setelah berhasil mendapatkan gelar sarjana, Alex memulai bisnis pertamanya di sektor pangan. Makanan dan minuman adalah bisnis awal yang dia rintis, dengan modal yang dia pinjam dari ayahnya.
Tak disangka, strategi bisnis Alex sangat bagus hingga dia bisa mengepakkan sayapnya lebar - lebar dan bisa mendirikan perusahaan sendiri yang dia berinama AR Group. Dalam waktu 4 tahun saja, Alex berhasil memperluas bisnisnya ke berbagai sektor dan berhasil menggaet para investor.
Bayangkan seorang Alexander dengan usia muda, memiliki perusahaan hak paten sendiri tanpa ada campur tangan keluarga atau saudara. Rekening yang saldonya mungkin tidak terbatas, wow sungguh beruntung wanita yang bisa mendapatkan diri Alexander. Wanita tersebut akan bahagia, dan segala sesuatunya pasti terjamin dengan baik.
Tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba - tiba ponsel Alex berdering. Alex pun mengangkat kepala dan beralih meraih ponsel yang terletak di sebelah telepon kantor, melihat siapa yang menelepon.
Dan tertera id caller disana 'Portland Hospital'.
Tanpa berpikir panjang, Alex pun mengangkat telepon tersebut.
"Hallo!?", kata Alex pertama kali.
__ADS_1
"Maaf Tuan Alex, Tuan Alden Rudwig kondisinya makin melemah. Tuan Alden, terus menanyakan anda tuan meminta anda datang untuk menemuinya!?!", suara suster dari seberang sana.
"Oke, saya segera kesana!", klik telepon pun diputus sepihak oleh Alex.
Dia pun langsung bangkit berdiri, meninggalkan sejenak pekerjaannya untuk menemui ayahandanya di rumah sakit. Dengan langkah lebar Alex keluar dari ruangannya, dan meminta Samuel untuk menghandle beberapa dokumen yang dia baca tadi.
Sampai di lantai dasar gedung AR Group, Alex lantas keluar dari lift dan langsung keluar dari loby dan berjalan menuju mobilnya yang sedang terparkir. Alex menaiki mobil Bentley Flying Spurs Sedan hitamnya, dan langsung melajukan mobilnya menuju Portland Hospital.
Satu jam berlalu, Alex pun telah sampai dipelataran Portland Hospital. Setelahnya dia pun turun dari mobil Bentleynya dan bergegas masuk ke dalam gedung rumah sakit itu. Alex pergi ke lantai 2 dimana ruangan ayahnya dirawat.
Dentingan lift terdengar, dan pintu lift pun terbuka. Alex langsung keluar dari lift dan berjalan menelusuri lorong rumah sakit, menuju ruangan dimana ayahnya dirawat. Dan ketika sampai di ruangan VVIP itu, Alex langsung masuk ke dalam ruangan ayahnya.
Pemandangan yang terlihat sungguh membuat sisi rapuhnya muncul, seketika aura mencekam, arogan dan dinginnya hilang. Tergantikan dengan rasa kesedihan yang begitu dalam. Sebelum menemui ayahnya, Alex menormalkan raut wajahnya agar ayahnya tak melihat raut kesedihannya.
"Papah..." panggil Alexander pada Alden. Ayahnya yang sedang terbaring diranjang rumah sakit dengan kondisi yang makin melemah.
Alden yang sedang memejamkan matanya pun, perlahan membuka matanya dan mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan cahaya lampu yang serasa menusuk matanya.
"Alex.. akhirnya kau datang juga, papah kira kamu akan telat datang seperti biasanya", ucap Alden.
"Tidak Pah, Alex mencemaskan papah. Walaupun urusan perusahaan masih banyak, tapi Alex serahkan semuanya ke Samuel. Dia bisa handle semuanya. Papah paling penting buatku!",
"Aku minta maaf, kemarin kemarin selalu telat menengok papah." ucap Alex sembari duduk disisi ranjang dekat ayahnya.
Alden hanya tersenyum. Sebenarnya dia tidak mempermasalahkan hal itu, hanya saja Alden ayahnya Alex merasa dirinya tidak akan lama lagi. Jadi dia harus memberitahukan keinginan terakhirnya pada anak sulungnya itu, sebelum kondisi dirinya kian memburuk. Sebelum masa - masa kritisnya dia ingin melihat Alex menunaikan keinginannya.
"Ya its oke Alex. Papah paham, AR Group perusahaan pribadi kamu. Kamu hebat bisa mendirikan perusahaan sendiri, tanpa campur tangan papah maupun oranglain. Tapi papah ingin membicarakan suatu hal penting yang harus kamu penuhi." kata Alden Alfarez Rudwig dengan serius.
"Hal penting?", ucap Alex sambil menautkan alisnya merasa heran, dan bingung. Hal penting apa, yang akan dibicarakan ayahnya.
"Iya Alex. Kamu tahu, kondisi papah semakin buruk dari hari ke hari. Terapi dan operasi tidak dapat menyembuhkan penyakit kanker selaput otak papah. Papah rasa, waktu hidup papah tidak banyak. Sebelum papah meninggal, papah ingin kamu memenuhi satu hal keinginan yang sangat papah harapkan kamu bisa memenuhinya ka.. ", belum sempat meneruskan ucapannya. Ucapan Alden dipotong oleh Alex.
"No Pah. Papah akan sembuh, percayalah. Hanya perlu waktu saja papah akan sembuh. Jangan bicara begitu pah, Alex dan Sofia masih butuh papah!", timpal Alex mulai resah akan omongan ayahnya, yang seperti akan menyerah dengan perjuangan hidupnya.
"Alex, Papah hanya manusia biasa. Tuhan yang membuat papah bisa hidup sampai sekarang, dan tuhan juga yang mengambil papah pulang. Dan papah tidak tahu itu kapan?
Tapi, Papah sudah tidak ada lagi harapan sembuh Alex. Penyakitku sudah akut, mungkin aku akan mati besok, lusa atau kapanpun. Jadi aku harus memulai persiapan untukmu dan adikmu sebelum aku pergi dari dunia ini!", jawab Alden sambil menatap nanar ke langit - langit ruangan kamar inapnya.
Alex tidak menjawab. Dia hanya menatap ayahnya lekat, kini di dalam pandangannya. Ayahnya semakin kurus, dan sedikit berantakan. Rambut yang sudah tidak ada akibat efek samping dari terapi yang dilakukan untuk pengobatan ayahnya, dan warna wajah yang makin pucat seperti vampir. Membuat Alex, mengkhawatirkan kesehatan sang ayah.
"Alex...", panggil Alden, karena melihat sang anak melamun kosong dihadapannya.
"Ya Pah...", jawabnya lembut.
"Alex papah percayakan perusahaan A2 Corporation kepada kamu, dan tolong jaga Sofia. Papah sudah mewasiatkannya ke Mark jika papah meninggal nanti. Kamu yang akan langsung jadi pemilik perusahaan A2 Corporation. Dan ada satu hal lagi, yang papah inginkan dari kamu Alex", kata Alden menatap wajah anak laki - laki satu satunya, dengan lekat dan penuh harap.
"Sebelum papah meninggal, aku ingin melihat kamu menikah Alex. Usiamu sudah 27 tahun, usiamu sudah matang untuk menikah. Papah ingin memiliki menantu terlebih dahulu.." ucap Alden serius dan tegas. Penuh harap, agar Alex sanggup mewujudkan harapan terakhirnya.
__ADS_1
Dan Alex yang mendengar perkataan ayahnya, seketika terdiam tidak menjawab maupun melakukan isyarat tubuh lainnya. Hanya raut wajah yang sulit untuk diartikan, seperti sedang berbicara dengan batin sendiri. Ini sebuah permintaan, yang agak berat Alex wujudkan. Mengingat dia tidak pernah bermain wanita, dan sulit untuk jatuh cinta.
'married? With who?' batin Alex bermonolog.