
"Hmm, apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu tentang pria yang tadi bersamamu?" celetuk Alex langsung tanpa babibu.
Sersi yang ditanya langsung seperti itu gugup seketika, dia juga sebenarnya bingung harus menjelaskan yang bagaimana. Kejadian ini kan tidak dia rencanakan. Dean tidak sengaja bertemu dan mengajaknya makan malam, dia kira ini bukan masalah besar baginya bukan.
"Ehmm itu.. eh dia Dean. Dean Altro Robinson, dia teman kerjaku dulu di Sicilia. Kami hanya teman dekat saja, tidak lebih. Hmm dan tadi kami tidak sengaja bertemu di depan halaman apartemen, jadi kami memutuskan untuk makan malam bersama karena ya tujuan kami sama ke caffe yang ada diseberang sana." jelas Sersi. Sambil menautkan kedua tangannya saking gugupnya.
'Hmm aku sudah jujur, mungkin dia tahu marga Dean. Semoga aku selamat dari amukan singa berwujud manusia ini ya tuhan' batin Sersi mengucap doa.
"Robinson? Jadi dia putra bungsu dari Neil Robinson, uhmm cukup menarik. Kau hebat memiliki teman yang berkelas tinggi, apa dia mantanmu?" tanya Alex ingin tahu. Karena Alex yakin bahwa naluri kelaki lakiannya benar, bahwa Dean memiliki rasa yang berbeda pada Sersi. Dari tatapannya saja sudah terlihat. Pas dia tadi mengawasi dari dalam mobil.
"Uhmm mungkin ya, aku tidak tahu silsilah keluarganya. Aku hanya sekedar teman biasa saja, dan dia bukan mantanku." jawab Sersi seadanya. Ya memang Dean bukan siapa siapa baginya.
"Apa dia menyukaimu?" tanya Alex lagi menyelidik, alisnya saling bertautan menunggu jawaban lagi.
"Hah!? Apa katamu, mana mungkin dia menyukaiku. Dia anak orang kaya sedangkan aku bukan apa apa, dia hanya mengasihaniku sebagai teman. Lagipula dia suka mengajakku ribut, kenapa kamu sangat banyak omong. Bukankah diperaturan aku bebas bertemu dengan siapapun hah?!" ucap Sersi. Kini nadanya naik satu oktaf. Karena dia merasa diintrogasi, toh buat apa dia mengurusi hidupnya. Dia juga tidak mengurusi hidup Alex.
"Kau berani meninggikan suaramu. Aku hanya bertanya, walaupun aku mencantumkan kebebasan. Tapi bukan berarti kau bebas keluar dengan pria manapun, kau harus ingat bahwa statusmu adalah istri dari CEO AR Group. Alexander Rudwig. Jangan membuat reputasiku buruk dengan tingkah lakumu." jelas Alex memperdetail alasannya untuk melarang Sersi berdekatan dengan pria.
Sersi pun diam, ya memang ada benarnya. Walaupun dia hanya istri sandiwara dan istri palsu yang dikontrak, tapi statusnya sah dan sudah diketahui publik. Jadi dia harus pintar mengambil tindakan dan perbuatan, reputasi Alex hancur maka dia yang akan kena hukuman.
'oh tidak!! Aku tidak kepikiran kesana, oh my gosh! Bego bego bego!" batin Sersi merutuk.
"Ehm, maaf. Aku lupa jika pernikahan ini kamu publikasikan." ucap Sersi akhirnya mengalah. Dia pendam emosinya yang sedang membara tadi, seketika ciut dengan perkataan Alex.
Mungkin ada benarnya, walaupun diberikan kebebasan tapi dia harus tetap tahu diri. Apalagi disini dia hanyalah bukan apa apa, bagaimana jika pria itu tidak mau memberinya lagi uang untuk biaya Kak Adryan. Bisa celaka nanti.
"Hmm, maaf!? Sepertinya kata maaf tidak cukup bagiku." kata Alex dengan memasang wajah misterius.
Membuat Sersi memasang wajah heran dan waspada, seringaian pria itu membuatnya takut sangat seram pikirnya. Hingga membuat dia dag dig dug kembali.
"Ja.. jadi aku ha.. harus ba.. bagaimana?!" ucap Sersi terbata. Saking takutnya, otaknya sudah membayangkan hal hal yang tidak dia inginkan.
'jangan sampai dia minta yang aneh aneh' batin Sersi berdoa.
"Hmm, apa ya? Sepertinya kau harus memasak makanan untukku makan malam. Aku belum makan, dan kau dengan lancangnya makan malam dengan orang lain tanpa memikirkan aku. Sana cepat siapkan, masaklah!" ucap Alex pada Sersi.
Sersi terdiam.
"Ha.. hanya itu?" tanya Sersi.
"Iyaa, apalagi? Memangnya kamu mau apa, sana masak buatkan aku makanan!" kata Alex menyuruh Sersi untuk segera memasak.
"I.. iya aku masak sekarang." jawab Sersi kemudian bangkit dari duduknya. Lalu menyimpan tasnya terlebih dahulu di meja nakas disamping tempat tidur.
Dengan cepat dia melangkah menuju dapur, untuk segera memasak makanan. Dia akan memasak beberapa macam, sebagai imbalan pria itu tidak meminta yang Sersi tidak inginkan.
"Beruntunglah dia tidak meminta itu dariku, aku sudah takut setengah mati. Aku harus masak apa ya tapi? Makanan apa yang dia suka?" gumam Sersi sendiri di dapur.
Diapun membuka kulkas dan melihat bahan - bahan yang ada. Dia pun mempunya ide, dan kemudian memasaklah dia.
*******
Di Kantor AR Group..
"Bagaimana dengan urusan di LexBlack Underground, apa kau dan Pierro sudah menyelamatkan si Richard itu?" tanya Alex pada Samuel.
"Tuan Richard sudah kami tangkap tuan, dan disekap di ruang bawah tanah LexBlack. Tapi dia tidak buka mulut perihal markas para anak buahnya." tutur Samuel.
"Hmm, berikan dia sedikit 'kesenangan'. Kamu tahukan artinya hmm?!" ucap Alex menyunggingkan senyum seringai.
"Ya Tuan, saya akan menyuruh Pierro nanti."
"Hmm bagus."
"Jadwalku hari ini padat disini?" tanya Alex pada Samuel. Karena Samuel sekarang merangkap lagi sebagai sekretaris pribadi.
"Hari ini ada meeting dengan beberapa kolega, pemantauan pusat perbelanjaan, peninjauan laporan keuangan dari property, dan nanti malam anda diundang ke restoran Verge untuk perayaan kerjasama dengan Chang Dodo tempo lalu Tuan." ucap Samuel sambil menggeser geser tablet.
"Hmmm, nanti sore kita ke apartemen dulu. Aku akan mengajak istriku ke perjamuan.." ucap Alex pada Samuel. Mengingatkan.
"Baik Tuan."
"Tuan, informasi yang diminta Tuan tentang Miss Sersi sudah saya kirimkan ke email anda Tuan." Jelas Samuel lagi.
"Oh ya, oke. Kerja bagus." Kata Alex tersenyum puas.
"Iya Tuan, saya pamit keluar Tuan."
"Iya." jawab Alex singkat.
Karena Alex sedang membuka leptopnya dan ingin segera melihat informasi apa yang didapat tentang istrinya ini. Dia membuka email-nya dan segera mengecek kotak masuk, lalu mengklik membuka pesan yang dikirimkan Samuel padanya.
"Hmm ternyata kamu bagaikan emas permata bagiku istriku sayang". Alexander tersenyum senang.
*******
Alexander POV
"Hmm ternyata kamu bagaikan emas permata bagiku istriku sayang".
Ternyata Sersi bukanlah orang biasa yang aku kira, statusnya dan semuanya terasa mengejutkan. Mungkin inilah alasan dia disembunyikan dan diincar oleh si brengsek Alfonso Waddison.
__ADS_1
Karena Sersi Villhauc istriku itu keturunan bangsawan yang hartanya sangat melimpah, bahkan setara denganku. Xeon Xaviera dan Liliana Moana tak ku sangka mereka sama-sama memusuhi si Alfonso sialan itu.
"Jangan sampai hati kamu sekarang bisa menguasai semua perusahaan dari Xeon dan Liliana. Mereka adalah orangtua dari istriku, dan kamulah yang membuat mereka meninggal dan membuat keluargaku hancur! Tunggu permainan yang akan aku buat bedebah!!" janjiku pada diriku sendiri.
Sudah cukup lelaki tua itu serakah dengan harta yang bukan miliknya, juga merenggut wanita yang menjadi cahaya pelita hidupku. Ibu.
Hari ini jadwalku lumayan sangat padat sekali, tapi aku rasa serasa ada yang hilang dari diriku. Karena seharian ini, aku tidak bisa melihat wajah cantik nan manis dari seorang wanita yang kini telah menjadi istriku. Sersi.
Hari hariku dikantor terasa biasa saja, semenjak dia ku larang bekerja. Biasanya cerah ceria berwarna, sekarang hanya datar saja tidak berkesan. Sekretaris kembali aku serahkan kepada Samuel, karena hanya dia orang kepercayaanku dari dulu.
Aku melirik jam tanganku, dan waktu sudah pukul 11 siang. Waktu serasa lambat sekali berjalan, aku ingin segera sore dan pulang kembali ke apartemen. Seperti semalam, aku berhasil menggodanya membuat wajahnya merah padam menahan malu. Tapi dia tetap menampik apa yang tersuguhkan dari binar matanya. Sungguh lucu.
Membuatku ingin terus menggodanya, wajahnya yang memerah lebih terlihat cantik menurutku. Apalagi jika dia dan aku, kami melakukan itu? Apa dia sesensual yang aku bayangkan tidak ya?
Sungguh aku pun lelaki normal yang memiliki nafsu dan birahi. Apalagi setiap hari aku sekamar dengan wanita bahkan seranjang tidur bersama!
Tapi aku tidak bisa menyentuhnya, itu membuatku sedikit tersiksa.
Bagaimana tidak,
dia selalu memakai celana pendek yang memperlihatkan kedua pahanya yang putih mulus. Kaos ketat yang hanya setengah perut, membuatku berdesir ketika melihatnya. Tapi aku selalu tidak berbuat apa - apa, karena teringat janjiku padanya bahwa aku tidak akan meminta dia untuk melayani kebutuhan seksualku. Kini aku merasa menyesal dengan ucapanku.
Kenapa aku tidak bisa melakukan itu dengannya, padahal aku dan dia sudah menikah resmi dan halal untuk dilakukan bukan?
Tapi aku juga bukan lelaki pengecut yang akan melanggar janjinya sendiri. Aku mulai membayangkan tubuhnya yang seksi itu, bagaimana jika tanpa ada sehelai benang pun ditubuhnya?
Pasti sangat indah.
"Tuan, para kolega sudah datang. Semuanya menunggu anda diruang meeting." suara Samuel terdengar seraya dia membuka pintu.
Membuyarkan lamunanku tentang istriku yang sedang meliuk liuk indah diatas tubuhku. Ah, aku harus mengenyahkan pemikiran pemikiran ini. Sepertinya aku sudah mulai tidak waras.
"Iya, aku kesana sekarang." ucapku lalu langsung bangkit dan menuju ke ruang meeting.
Satu jam berlalu, aku sudah menyelesaikan acara meeting ini. Dan sudah menuai kesepakatan kerjasama dan strategi pemasaran yang akurat dan menghasilkan keuntungan pundi pundi yang menggiurkan.
"Samuel, siapkan mobil untukku pergi ke Socfrache." titah ku pada Samuel.
"Baik Tuan."
Aku pun naik ke dalam mobil roll royce mewahku, untuk memantau perkembangannm Socfrache. Salah satu pusat perbelanjaan toserba yang aku bangun beberapa bulan yang lalu, karena laporan keuangannya selalu meningkat. Aku penasaran dengan cara kerja Socfrache mendatangkan para customer.
*****
Satu jam kemudian..
Aku sampai di Socfrache, mall berlantai 4 yang megah dan besar ini adalah pusat perbelanjaan terlengkap dan kualitas yang bagus. Tidak ada customer yang merasa tidak puas jika berbelanja disini, selain banyak diskon yang diadakan terkadang Socfrache mengadakan beberapa event atau konser yang menarik minat pengunjung.
Aku menuju ruangan Merylin, dan langsung membuka pintu putih itu yang terdapat gambar bunga tulip diukirannya.
Terlihat Merylin sedang sibuk membaca dokumen - dokumen yang ada dihadapannya, dan dia menoleh ketika aku berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Hallo selamat siang Tuan Alexander." sapa dia padaku dengan formal. Hum ingin ku jitak saja kepala dia.
"Alah so soan formal kamu Lin, aku sedang tidak mood untuk bergurau." kataku karena memang aku hanya sedang ingin memantau saja tidak ingin bermain main.
"Hmm, serius nih! Tumben, iya deh aku tidak akan berpura pura formal lagi. Kamu akan memantau Socfrachekan, laporan sudah ku buat di dokumen ini." ucapnya menyodorkan dokumen yang berada di dalam map biru.
"Dan juga disana sudah ku rancang strategi strategi yang akan aku aplikasikan disini, untuk membuat Socfrache lebih melebarkan sayapnya. Aku ingin mall ini memiliki cabang, supaya menambah relasi dan ya pemasukan juga." jelasnya padaku.
"Oke, nanti aku baca dokumenmu. Kerjamu bagus, bawa Socfrache menjadi lebih besar lagi. Aku senang kerjamu bagus, apa kau tidak ingin mengukuhkan hubungan kalian?" tanyaku padanya. Kenapa dia tidak menikah menikah dengan pacarnya.
Merylin merasa kaget, shock, dan tertekan secara bersamaan. Bisa bisanya si Alex ini menanyakan itu padanya. Sungguh, dia tak ingin lagi mengingat nama Jeremy di otaknya lagi. Dia hanya ingin melupakan semuanya.
Karena jika terus dikenang hidupnya terasa hampa dan merasa kosong, karena Merylin tahu bahwa hidup tidak bisa terus berhenti tapi terus maju.
Maka ketika itu dia memejamkan matanya, dan terlihat dadanya kembang kempis. Wajahnya pun merah padam bagaikan tomat masak. Apakah aku mungkin mengajukan pertanyaan yang salah begitu?
"Merylin..!?" panggilku padanya.
"Hmmm, sudahlah aku tidak ingin membahasnya. Bisakah bahas yang lain saja?" kata dia padaku. Merylin seperti terlihat malas membicarakan pacarnya itu.
"Ya ya, ngomong - ngomong nanti sore aku diundang oleh Paman Chang Dodo di restoran Verge. Mungkin kamu ikut gabung, nanti istriku juga akan ikut." ucapku padanya memberitahu.
"Oh ya, memang boleh aku ikut gabung nanti?" tanyanya padaku.
"Boleh saja, kenapa tidak? Kita rayakan kesepakatan proyekku dengan paman, dan merayakan keberhasilanmu mengelola Socfrache ini. C'mon we need happy right?".
"Baiklah, sore nanti aku ikut gabung. Beritahu aku nanti waktunya." kata dia.
"Oke, good job. Aku memang tidak salah memilih kau untuk mengelola Socfrache." kataku memuji dirinya yang memang sangat berbakat dan berkompeten.
"Merylin Anastasia pastinya." ucapnya bangga.
"Yup, jangan lupa nanti sore." kataku mengingatkannya.
"Iya, aku datang nanti!" jawabnya.
"Baiklah, dokumen ini aku bawa. Aku pergi sepertinya sudah selesai,"
"Iya, periksa saja lagi. Semuanya sudah ku lampirkan disana."
__ADS_1
"Iya, aku percaya padamu. Aku pergi dulu." kataku kemudian bangkit dari dudukku.
"Iya, berikan salamku pada istrimu. Jangan cemburu padaku bilang kita cuma sepupu'an haha." katanya sambil melemparkan senyum lepas.
"Huh, buat apa dia cemburu padamu." Aku pun keluar dari ruangannya segera. Masih terdengar tawa renyah Merylin yang menertawakanku.
"Samuel, antarkan aku ke apartemen. Aku ingin menemui istriku, kau saja yang pantau property. Nanti laporannya bawa saja sekalian ke kantor." Titahku padanya sambil memberikan dokumen yang tadi Merylin berikan.
"Baik Tuan."
Alexander POV End..
*******
Sersi sedang duduk santai di sofa sambil membaca majalah fashion terkini. Karena dari pagi Sersi hanya melakukan aktivitas malas - malasannya saja. Dia enggan berbuat yang berat - berat sekarang, terlebih lagi dia tidak sebebas dulu.
Ada Li Xuan yang terus memperhatikannya walaupun tidak seruangan dengannya. Li Xuan ada bersama para pelayan, tapi tetap saja pasti wanita itu memperhatikan gerak geriknya. Membuat Sersi tidak bisa iseng berjalan jalan sekedar untuk mencuci mata, diwilayah sekitaran apartemen.
Takut dia bertemu kembali dengan Dean dan menimbulkan masalah seperti semalam. Dirinya sudah takut setengah mati takut diapa apakan, beruntung saja malam kemarin Alex tidak meminta yang aneh aneh padanya. Kalau sampai iti terjadi..
"Selamat datang Tuan." terdengar suara Li Xuan.
"Iya, dimana Sersi?" suara bariton itu terdengar oleh Sersi.
"Nyonya sedang ada di ruang televisi." jawab Li Xuan.
Sersi pun menoleh ke arah pintu, dan melihat suaminya telah pulang. Li Xuan menyambut kedatangan bos besarnya.
'kapan dia datang? Li Xuan bukannya tadi ada dibelakang, seperti hantu saja tiba tiba ada tiba tiba tidak ada' batin Sersi berbicara.
Terlihat Alex berjalan menghampiri Sersi yang sedang menoleh kepadanya, Sersi terus memandangi suaminya yang berjalan ke arahnya.
"Sersi, kamu bersiap siaplah pakai baju resmi. Kita akan pergi ke Verge sore ini, kamu ikut ya." kata Alex pada Sersi ketika jarak mereka sudah dekat.
"Ke Verge? Untuk apa?" tanya Sersi sembari mengkerutkan keningnya.
"Kamu masih ingat Chang Dodo, kamu pernah melihatnya kan. Dia mengundangku makan malam di Verge sore ini, jadi kamu harus ikut karena paman menyuruhku untuk membawa pasangan. Kamu sudah jadi istriku sekarang, jadi kamu harus ikut." jelasnya pada Sersi.
"Oh, untuk perayaan kerjasama proyek itu ya. Aku harus pake baju apa?" tanya polos Sersi.
Memang dasar perempuan tomboy, dia tidak bisa memilih baju feminim dan mencocokkannya. Terlebih lagi dia tidak tahu kebiasaan orang kaya jika menghadiri undangan makan malam atau perjamuan harus berpakaian seperti apa.
"Panggil saja bibi Esma, untuk membantumu memilihkan baju. Bersiaplah aku akan mandi, kamu pakai kamar satunya." titah Alex kemudian pergi meninggalkan Sersi.
"Hmm dia ini, sudah tahu aku tidak nyaman berpakaian seperti itu. Dasar pemaksaan!" ucap Sersi dengan ketus setelah Alex sudah pergi.
Dengan malas dia bangkit dari sofa, dan berjalan ke belakang untuk menemui bibi Esma. Untuk meminta bantuan padanya memilihkan baju dan membantunya berdandan agak feminim, karena dia tidak ahli memakai makeup ataupun memilih baju yang benar benar wanita sekali.
"Bibi? Bibi Esma sedang tidak sibukkan?" tanya Sersi pada bibi Esma yang sedang menyimpan buah buahan ke kulkas.
"Tidak terlalu nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya bibi Esma.
"Bantu aku pilihkan dress untuk menghadiri makan malam. Aku tidak tahu memilih dress yang cocok untukku." ucap Sersi.
"Baik Nyonya."
Sersi dan Bibi Esma pun berjalan menuju kamar yang satunya untuk memilih baju dress yang cocok dengannya. Membutuhkan waktu setengah jam untuk menemukan dress yang cocok, membuatnya dia mencoba beberapa baju untuk menemukan yang menurutnya srek dihati.
"Bi, bagaimana yang ini? Apa ini bagus di tubuhku?" tanya Sersi sambil melihat lihat kaca memperhatikan dirinya di cermin.
"Bagus nyonya, ini cocok sekali dengan anda. Kalem dan anggun, menampilkan kesan sederhana namun mewah." puji bibi Esma.
"Benarkah bi? Sepertinya ini saja, tolong simpan dimeja riasku ya bi. Aku akan mandi dulu." kata Sersi memberi perintah pada bibi Esma.
"Iya Nyonya." ucap bibi Esma kemudian pergi dari sana dan menyimpan baju itu di kamar utama yaitu kamar Alex. Bibi Esma taruh diatas meja rias Sersi.
Tak berapa lama kemudian setelah menyimpan dress, Alex keluar dari kamar mandi dengan masih memakai handuk dibawah perutnya menutupi bagian bawah sampai lutut.
"Bibi Esma? Mana Sersi apa dia sudah selesai, itu dress yang akan dia pakai?" tanya Alex pada pelayannya yang masih berdiri di meja rias istrinya.
"Iya Tuan, maaf saya lancang. Saya disuruh nyonya untuk menyimpan dress ini disini." ucapan mohon maaf dari bibi Esma yang main masuk saja.
"Tidak apa apa bi, Sersi sedang apa sekarang kenapa belum dipakai bajunya?" tanya Alex lagi.
"Nyonya baru saja masuk kamar mandi untuk mandi." jawab bibi Esma.
"Oh begitu, ya sudah."
"Iya Tuan, saya keluar dulu Tuan." ucapnya kemudian langsung keluar dari kamar tuannya itu. Seumur umur dia baru kali ini memasuki kamar utama selama dirinya bekerja disini.
'untung saja Tuan muda tidak marah' batin Esma merasa lega.
Sepeninggal Bibi Esma, Alex pun memakai pakaiannya. Kali ini dia memakai tuxedo hitam mewah, yang fantastis.
Hitam pekat bersih, mengkilat adalah ciri khas jas mewah nan mahal ini. Alex terlihat sangat tampan ketika sedang memandangi dirinya di cermin. Kalau wanita bersolek, kalau pria apa ya namanya.
"Sersi, apa kamu sudah siap?" kata Alex pada Sersi. Karena dari tadi belum ada datang datang ke kamarnya, masih saja dikamarnya yang tadi.
"Belum, aku sedang memakai makeup dulu. Tunggu 10 menit aku selesai." Teriak Sersi dari dalam kamarnya.
"Oke, jangan lama lama. Aku tidak ingin paman sampai menunggu kita terlalu lama." ucap Alex pada Sersi yang masih berada dalam kamar.
__ADS_1
"Iyaaa." Jawab Sersi dari dalam kamar.