
Sersi lebih banyak diam berada di dalam mobil Limousine mewah ini bersama si pria diktator ini. Dirinya merasa malas untuk bertanya apa pun, malas berekspresi dan everything. Memilih diam saja dan menjalani apa yang akan terjadi, toh dia sendiri yang memutuskan.
Namun keterdiaman Sersi yang tidak seperti biasanya, membuat Alex geram. Merasa bertanya - tanya, kenapa dia tidak seperti biasanya. Alex akhirnya membuka suara, mencoba bertanya sesuatu hal yang justru membuat Sersi lebih memburuk moodnya.
"Kau sedang mendapatkan tamu bulanan ya?" celetuk Alex tanpa menolehkan wajahnya.
Sersi yang mendapat pertanyaan itu menganga tidak percaya, pria itu bertanya perihal urusan pribadi wanita. Moodnya makin tidak baik baik saja, malah sekarang menjadi kesal pada calon suami kontraknya itu.
"Aku tidak sedang kedatangan tamu, dan kamu tidak sopan menanyakan itu padaku!" Jawab Sersi ketus dan membalikkan wajah menjadi menghadap ke jendela mobil.
Otomatis jawaban Sersi membuat Alex mengerutkan keningnya, dan di dalam batinnya Alex bersuara mempertanyakan apakah dirinya bersalah hanya menanyakan itu. Menurutnya menanyakan tamu bulanan pada wanita itu soal yang wajarkan, lumrah?
Semua wanita pasti mengalami hal itu, tidak sopan dimananya aku?
'sepertinya Samuel benar, memang perempuan selalu marah jika ditanya hal itu? Tapi bukannya hal wajar?' batin Alex bermonolog dengan dirinya sendiri.
Mereka pun akhirnya saling berdiam diri, tidak saling mengobrol dan tidak saling bertatap. Dua duanya sama sama memalingkan wajah ke jendela mobil, menatap kosong dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
******
Clark menepikan mobil Limousine hitam mewah itu di depan gedung apartemen elit. Membuat Sersi yang kini giliran bertanya - tanya, ada apa dirinya dibawa ke gedung apartemen seperti ini.
"Kamu ikut aku sebentar, ada yang ingin aku bicarakan soal yang waktu itu." kata Alex.
Sersi pun hanya mengiyakan dan ikut keluar dari mobil, juga mengekori Alex kemana saja orang itu menjalankan kakinya. Hingga Sersi kini ada di bagian restauran apartemen yang sepertinya menyediakan menu yang lengkap.
Perutnya mulai gemerisik, menandakan lapar sudah mulai tiba dan meminta ingin segera diisi.
"Kita makan dulu".
"Iya, kak!" jawabnya.
'kakak, sepertinya not bad' batin Alex bersuara ketika mendengar Sersi menyebutnya KAK.
Akhirnya sore itu mereka memesan makanan nuansa menu western, Alex yang memesankan hidangan sendiri. Tanpa bertanya Sersi mau pesan apa, suka atau tidak? Untung saja Sersi wanita yang penyayang, dia tidak suka pilih - pilih makanan. Apa aja yang ada pasti tetep dimakan.
*******
Alex membawa Sersi ke lantai 11 gedung apartemen elit ini, pergi ke apartemen 101 dan mereka pun masuk ke dalam apartemen itu.
Sementara Sersi kini bingung dengan apa yang dilakukan si pria diktator ini, kenapa dia harus dibawa ke apartemen inilah. Sersi mau menolak tidak bisa, karena uang dari Alex sudah dia terima dan dia pakai. Ikut kesini Sersi malah takut diapa - apakan di apartemen ini. Pikirannya memikirkan segala hal, hingga kedatangan Alex yang membawa dua cangkir kopi membuyarkan pikiran dan lamunan Sersi.
"Kamu duduklah dulu, aku akan mandi sebentar. Kau tunggu disini, kita akan bicara serius"
"Iya" jawab Sersi, kemudian duduk di sofa putih panjang yang menghadap televisi besar.
Sepeninggal Alex, Sersi diam memperhatikan semua yang ada disini. Apartemen ini sungguh bagus menurutnya, nuansa hitam putih klasik namun elegan lebih bagus dari apartemen dia. Perabot yang lengkap, interiornya pun wah. Sersi membayangkan berapa harga sewa apartemen ini, pasti sangat mahal ya kan?
'Dia sudah punya rumah bagus, masih beli apartemen seperti ini. Buat apa, tidak dipakai sayang uangnya?' batin Sersi bersuara.
Dua gelas kopi yang masih mengepul membuat Sersi tergoda, dia mengambil kopi itu dan menghirup aromanya. Hmmm wangi kopi arabica masuk ke dalam indra penciuman Sersi, membuatnya tergoda untuk mencicipi kopi ini.
"Hmm kopi orang kaya ternyata beda, lebih enak daripada kopi yang biasa aku buat" kesan pertama ketika dia menyeruput kopi itu.
__ADS_1
Setengah jam berlalu, Alex selesai mandi kini sudah memakai pakaian santai. Memakai kaus dan celana pendek menghampiri Sersi yang masih duduk di sofa ruang televisi tengah asyik memainkan ponselnya.
"Hai, apakah aku lama?" suara bariton berat itu terdengar membuat Sersi menyimpan ponselnya ke tas.
"Tidak kak."
Alex duduk di sebelah Sersi agak jauh, jujur Sersi yang kini terasa kagum dengan penampilan Alex yang lebih santai ini. Tanpa memakai setelan jas atau kemeja, memakai outfit yang lebih santai membuat tampilannya terlihat lebih maskulin dan cool.
Apalagi dari balik baju kaos tipisnya tercetak jelas otot perut kotak yang berjumlah 6 itu membuat semakin uhmm..
'tidak tidak tidak! Dia tetap brengsek, dia diktator! Jangan kagum Sersi! Jangan' batin Sersi menepis kembali rasa kagum itu pada Alex. Sambil menggeleng - gelengkan kepala.
"Sersi, kamu kenapa?" tanya Alex pada Sersi heran dia menggelengkan kepala secara spontan.
"Eh eng.. enggak kok. Ini leher rasanya pegel Tuan. Eh Kak! Leher aku pegel rasanya jadi aku geleng geleng biar berkurang gitu pegelnya" kilah Sersi.
"Ehmm, mulai malam ini kamu pindah ke sini ya. Di apartemenku, kamu tidak usah pulang. Tidur disini saja, kamu bebas melakukan apa pun asal tidak mengangguku. Disini ada dua kamar, kamu bisa pakai kamar yang satunya." tutur Alex langsung mengutarakan maksudnya mengajak Sersi ke apartemen ini.
Sersi yang mendengar itu, merasa tidak terima dia sudah membayar sewa untuk bulan depan. Dan barang - barangnya juga masih ada disana, penuh kenangan dari Sicilia masa iya dia harus pindah kesini. Lagi pula kan dia tidak berpacaran dengan Alex, hal ini membuat Sersi tidak terima.
"Apa? Saya harus pindah ke sini? Tapi Kak Alex, aku juga sudah tinggal di apartemen dan barang - barangku jika ditinggalkan akan hilang dibuang oleh petugas apartemen. Lagipula aku sudah membayar sewanya untuk bulan depan, aku pikir aku tetap di a.."
"Tidak ada bantahan, barang - barangmu akan aman disana, aku sudah membeli apartemen itu atas nama kamu. Jadi itu tidak usah khawatir, ini sertifikat apartemenmu ambillah. Kamu bisa sesekali berkunjung kesana jika ingin.."
Sersi menerima dokumen yang diberikan Alex, dan membacanya. Benar saja apartemen yang ditinggalinya yaitu sudah atas nama dia. Dan itu berarti apartemen itu sudah menjadi miliknya sekarang.
'wah beneran ini, dia beli apartemen yang aku sewa. Habis sampai ratusan juta begini, dia tidak sayang uangnya. Semua orang kaya begini ya ternyata' batin Sersi berucap.
"So, kamu tidak usah pulang. Mulai malam ini kamu tinggal disini bersamaku. Dan oh ya, dikamar itu sudah kusediakan semua keperluanmu makeup, baju, dan yang lainnya kamu lihat saja sendiri. Dan soal itu.." Alex menggantung ucapannya, karena meminum kopinya.
"Pernikahan kita 5 hari lagi, mulai besok kamu akan sibuk dengan Emma. Emma yang akan membantumu memilihkan gaun, dekorasi dan lainnya untuk pesta pernikahan nanti."
"Pesta? Pernikahan?" Kata Sersi apa memastikan dia salah dengar.
"Yes. Pesta pernikahan, apa kamu tidak senang?" tanya Alex pada Sersi.
"Eh.. ehmm bukan. Semua wanita pasti senang jika mereka mengadakan pesta pernikahan yang mewah, tapi maksudku bukankah kita hanya menikah sementara kontrak gitu. Jadi emm kenapa harus mewah, aku pikir ki.."
"Ssst, aku tidak meminta pemikiranmu. Pesta pernikahan umum diadakan, sandiwara yang kita jalankan harus terlihat sempurna. Tugasmu hanya bersikap sebagai istri yang baik didepan keluargaku. Only that. Mengerti Nona Sersi Vilhauc!" Kata Alex menegaskan.
"Baiklah aku mengerti."
"Bagus, sekarang aku harus mengerjakan sesuatu. Kamar kamu disebelah sana ya, istirahatlah. Besok akan menjadi hari yang sibuk bagimu." kata Alex lalu melenggang pergi meninggalkan Sersi yang masih terduduk di sofa panjang.
Sersi pun akhirnya bangkit dari duduknya, dan menuju kamar yang tadi Alex bilang untuk dia. Sersi berniat akan mandi air hangat malam ini, terlalu banyak kejutan tak terduga, mood yang buruk, dan hal hal yang membuat dia merasa tidak mau dia lakukan tapi harus dilakukan. Dia berharap semoga dengan mandi lelah, dan pikiran sirna seketika.
*******
Sersi terbangun dari tidurnya yang terlelap di pinggiran kasur masih memakai pakaian handuk, yang dibaliknya tanpa memakai apapun lagi. Karena semalam sehabis mandi, dia cukup lama berada di kamar mandi mengguyur dirinya dengan air hangat sambil meratapi hidupnya.
Hingga tak terasa dirinya satu jam penuh dikamar mandi, dan ketika selesai mandi matanya sudah tidak kuat lagi untuk terbuka karena sudah lelah mengantuk berat. Maka pas Sersi berniat untuk rebahan sebentar dengan masih memakai baju handuk itu, malah tertidur pulas sampai pagi.
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi, Alex yang sudah siap sudah memakai setelan jas mewah berniat akan pergi ke tempat fitting room gaun untuk pernikahan mereka nanti. Alex menyemprotkan parfum andalannya yang beraroma kayu manis dan vanilla membuat dirinya terlihat maskulin dan manis secara bersamaan.
__ADS_1
Alex pun keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju kamar yang ditempati Sersi. Alex akan mengajaknya untuk menemui Emma pagi ini, Alex pikir Sersi sudah bangun dan sudah bersiap juga. Karena semalam dia sudah berbicara, bahwa hari ini akan sibuk.
Alex sampai di depan pintu kamar Sersi, dan klek..
Knop pintu dibuka, dan pemandangan pertama yang Alex lihat adalah Sersi masih terduduk dipinggiran kasur masih dengan muka bangun tidur, rambut yang sedikit kusut, dan hanya memakai baju handuk yang mengekspos kedua pahanya yang mulus.
Reflek Alex kaget hingga matanya terbuka lebar, penampilan Sersi saat ini sukses membuat Alex menelan air liurnya beberapa kali dan hasrat itu terasa..
'sial! Dia kenapa masih seperti itu, kenapa dia terlihat seksi' batin Alex mengumpat.
Sersi yang ternyata kaget juga dengan kehadiran Alex, dia langsung memegangi bagian dadanya.
"Kamu kenapa tiba tiba membuka pintu kamarku, mengapa tidak mengetuk dulu! Keluar, aku belum memakai pakaian apapun!! Keluar!" teriak Sersi pada Alex karena dirinya merasa malu sekaligus marah dengan kehadiran pria itu secara tiba tiba.
"Aku tidak tertarik dengan tubuhmu, cepatlah! Kita akan pergi sekarang!!" jawab Alex tanpa mengubah raut mukanya.
Alex sungguh pintar menyembunyikannya, apapun yang dia rasa wajahnya selalu bisa memanipulasi. Hanya wajah biasa saja yang dia tampilkan, membuat Sersi menciut seketika. Dan Alex menutup pintu, dan langsung pergi dari sana.
20 menit kemudian..
Sersi selesai bersiap - siap dan menemui Alex yang sedang terduduk di sofa panjang sambil memegang ponselnya. Seperti membaca sesuatu yang sangat penting, karena terlihat serius sekali.
Membuat kedatangan Sersi pun dia tak engeh.
"Alex, aku sudah selesai" kata Sersi membuyarkan fokus Alex.
Alexander menoleh dan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu mereka pergi ke sebuah wedding organizer yang akan membantu mempersiapkan pernikahan mereka. Mereka akan bertemu langsung dengan Emma, sang pemilik wedding organizer termahal di London.
Clark sudah standby dibawah, mereka berdua Alex dan Sersi masuk ke dalam mobil Hummer abu abu itu. Di dalam sudah ada Samuel, berada di bangku depan samping kemudi. Dia memberi hormat pada atasannya Alexander.
"Selamat pagi tuan dan nona!" sapa Samuel ceria kali ini.
"Pagi Samuel, bagaimana dengan keadaan disana? Apa kau berhasil?" Tanya Alex menanyakan kondisi bisnisnya di Italia berhasil atau tidaknya mereka menyelundupkan barang sebanyak itu.
"Semuanya aman Tuan!" Jawab Samuel.
"Oke baiklah, aku percayakan itu semua padamu. Kontrol dengan baik bisnis itu, jangan sampai polisi negara mengetahui kita.
"Baik Tuan. Saya akan menyanggupi semua perintah Tuan."
Sersi dan Alex sudah sampai didepan kantor Emma, mereka pun langsung masuk ke dalam gedung kantor itu dengan sedikit menarik tangan Sersi.
"Hai Nona Sersi betul?"
"Betul mba, kenapa ya."
"Perkenalkan nama saya Emma, terimakasih sudah memilih wedding organizer kami untuk membantu pernikahan anda berdua."
"Ah iya, perkenalkan namaku Sersi Vilhauc. Senang bertemu dengan anda kak Emma" ucap Sersi menjabat uluran tangan ka Emma.
"Semoga kamu menemukan kebahagiaan ya setelah menikah nanti. Kabari aku biar aku bisa datang." Ucap Emma ceplas ceplos.
'kebahagiaan pala lu peang. Boro boro nikahnya aja nikah kontrak.' batin Sersi berargumen.
__ADS_1
"Mari Nona, kita pergi ke ruang ganti untuk memulai fitting baju pengantin" ucap Emma pada suamiku.
Sersi pun mengangguk, dan mengikuti kemana Emma akan membawanya. Pikirnya hari ini dia sibuk dengan segala hal.