
Setelah Alex selesai dengan mandi dan berpakaian, dia mencari keberadaan istrinya Sersi yang masih belum terlihat dikamarnya. Mungkin wanita itu sedang mandi dikamar satunya pikirnya, Alex pun yang sudah berpakaian rapih lantas keluar dari kamar dan menuju kulkas untuk mengambil beberapa minuman dingin.
"Pasti dia akan sangat malu malu, nanti jika bertemu paman." ucapnya setelah menenggak bir kaleng dingin itu.
Alex mendudukkan dirinya di sofa panjang ruang tengah, menunggu istrinya selesai bersiap - siap. Dan Alex baru tahu jika perempuan membutuhkan waktu lebih lama untuk bersiap dan berdandan hanya untuk mendatangi perjamuan makan malam.
"Makhluk wanita memang ya." ucap Alex sendiri menggelengkan kepalanya.
********
Sersi Vilhauc POV
"Iyaaaa." jawabku pada Alex.
Dia menanyakanku sudah siap atau tidaknya. Aku malah belum siap, aku baru mau memoleskan makeup diwajahku yang masih polos ini. Aku merasa dikejar waktu tidak tenang, semuanya aku harus lakukan dengan cepat agar dia tak lama menungguku.
Terkadang aku juga bingung, styleku itu polosan saja sudah cukup kalo dulu. Tapi sekarang menjadi wanita feminim benar benar merepotkan, harus inilah itulah apalagi baju bajunya yang kadang membuatku tak nyaman. Tapi karena tuntutan dan keharusan yang memaksaku untuk terbiasa.
Ah kenapa hidupku menjadi serasa diatur ya.
"Selesai, tinggal ganti kostum aja. Aku ke kamar Alex dulu, mungkin dia sudah selesai."
ucapku lalu langsung keluar dari kamar ini.
"Kau sudah siap?" Suara bariton itu terdengar ketika aku berhasil keluar dari kamar dengan masih memakai baju santai rumahan. Tapi wajah sudah bak artis yang penuh dengan polesan makeup natural.
"E.. emm a.. aku sudah siap. Tunggu hanya tinggal mengganti pakaian, aku selesai." jawabku padanya.
"Baiklah, cepat Sersi." kata dia menekankan aku harus mempercepat waktuku untuk bersiap siap.
Dia tidak tahu saja aku sekarang merasa tak karuan, karena aku pasti merasa malu jika nanti bertemu dengan Pak Chang Dodo. Karena pertemuan awal aku menyangkal..
"Masa bodo lah" ucapku sambil menatap cermin.
Aku cepat cepat menyambar dress yang sudah tergeletak dimeja rias di kamar Alex, dan segera memakainya. Setelah berhasil ku pakai, aku berjalan menuju cermin untuk melihat keseluruhan tubuhku bagus atau tidak dibalut dress yang mewah elegan namun sederhana ini.
"Ini tidak begitu buruk bukan? Aku masih bisa terlihat seperti wanita kalangan ataskan. Cocok tidak ya?."
"Sersi? Apa kau belum selesai juga?" suara Alex terdengar lagi dari luar sana. Ini membuatku gugup dan gelisah. Tapi ya sudahlah ya, aku begini saja. Aku berusaha percaya diri saja.
"Iya.. iyaa aku sudah selesai. Aku akan keluar!" jawabku padanya lalu memulaskan bedak ke wajahku lagi untuk memastikan makeup ini menempel sempurna diwajahku.
Sebagai sentuhan terakhir, aku semprotkan parfum dior yang wanginya feninim sekali ke tubuhku. Aroma wangi mulai menguar dan membuat tubuhku menjadi wangi.
"Oke, Sersi. Kamu cantik, kamu harus percaya diri. Siap." ucap ku sebelum keluar dari kamar ini. Aku menyambar tasku dan berjalan ke arah pintu untuk keluar dari kamar ini.
"Kau menungguku lama ya?" ucapku pada Alex yang memandangku seperti itu. Aku jadi bertanya tanya, apa aku terlihat aneh.
"Ya sedikit lama, tapi sudahlah. Kamu sudah siap, ayo kita berangkat sekarang. Samuel sudah menunggu dibawah." ucapnya menaruh kaleng minuman bir dan bangkit berdiri menggandeng tanganku untuk mengikutinya.
Aku pun hanya diam dan menuruti apa mau dia, mengekorinya dari belakang. Apa dia tidak salah, tanganku digandeng olehnya. Bukannya dia tidak mau menyentuhku, bahkan dia tidak mengharapkan aku melayani itu. Tapi..
'Sersi otakmu rusak, mengapa kau ingin dia memintamu untuk itu. Aissh' batinku berusaha mengenyahkan pikiranku yang kemana saja. Sepertinya aku memang harus lebih mengabaikannya, agar pikiran dan keinginan aneh itu tidak muncul.
Tapi apa iya dia tidak pernah meniduri wanita? Jangan jangan dia homo, atau impoten ya?
"Kamu sedang memikirkan apa, sampai kamu tidak sadar ini sudah diloby. Ayo keluar dari lift," Tiba tiba suara bariton dari Alex menyadarkan aku dari pikiranku sendiri.
"E.. eh i.. iya." aku pun berjalan keluar mengikutinya. Mensejajarkan langkahku dengan langkahnya.
"Pegang tanganku Sersi." ucapnya sambil memberi ruang lengannya agar aku memeluk sebelah lengannya.
"Pe.. pegang?! Un.. untuk a.. apa?" ucapku. Sialnya aku malah seperti orang gagap. Bicara pun serasa susah.
"Aissh untuk membiasakan diri lah, kita harus totalitas dalam bersandiwara. Apa kata orang nanti jika mereka melihatmu yang kaku terhadap suami sendiri. Berusahalah bersikap mesra denganku, ketika berada diluar." ucapnya.
'What? Apa itu harus, aku tidak bisa. Aku takut jika dia benar benar memiliki kelainan nanti aku tertular bagaimana?' batinku menjerit.
"Sepertinya itu ti.. tidak perlu A.. Alex." ucapku berusaha setenang mungkin. Dan menampilkan senyuman polosku. Toh tidak harus berpura pura mesra didepan umum, mereka semua sudah tahu jika aku istrinya Alexander Rudwig kan.
"Perlu, dan kamu harus. Kita harus terlihat mesra, sebagaimana layaknya suami istri ketika diluar. Masa suami istri jalan berjauhan begini. Ayo pegang tanganku." titah dia lagi.
Aku sudah mati kutu, aku tidak lagi bisa menjawab atau menyangkalnya. Memang terdengar masuk akal, tapi aku sungguh berat.
"Ayo jangan diam saja, kita harus segera berangkat ke Verge. Paman mungkin sudah menunggu!" ucap dia lagi.
"I.. iya." jawabku.
__ADS_1
Aku pun melangkahkan mendekatinya, dan memberanikan diri untuk menyentuhnya. Tangannya yang sudah terbuka, aku memasukkan lengan kananku dan ku peluk lengan kiri Alex. Posisiku sangat menempel dengannya, jika dilihat sekilas kami seperti suami istri yang mesra dan sungguhan.
Tapi tidak dengan kenyataan dengan hati?
Sungguh menyakitkan bukan?
"Bagus. Ayo aku tidak ingin membuat paman mengomel karena terlalu lama menunggu." kata dia lalu berjalan. Aku juga berjalan beriringan dengannya.
Sersi Villhauc POV End..
******
Setengah jam berlalu menempuh perjalanan dari apartemen Alex menuju restoran mewah Verge. Sersi dan Alex turun dari mobil Maybach Hitam itu. Kini mereka sudah di depan restoran Verge, untuk itu mereka mulai berjalan memasuki restoran tersebut.
Dan tidak lupa dengan sandiwara mereka, bersikap mesra di khalayak umum. Sersi yang bergelayut manja di lengan Alex dan memasang senyum imut menambah kesan seperti mereka sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta dan saling memuja satu sama lain. Bagaikan bunga yang sedang bermekaran, seakan aura cinta menguar. Tapi sayangnya..
"Jangan terlalu mendalami peran, this is akting Sersi." bisik Alex pelan pada istrinya.
"Aku tahu!" Sersi menyahut pelan juga tetapi ketus.
Alex dan Sersi pun terus berjalan menelusuri restoran, hingga meja yang besar dan private terlihat. Disana terlihat juga paman Chang Dodo dan beberapa orang yang tidak Sersi kenal. Hanya segelintir rekan rekan bisnis Alex.
"Selamat Malam, Paman, Bibi. Maaf baru aku datang." ucap Alexander ketika sampai di hadapan Chang Dodo.
"Ya Malam juga Alex. Tidak apa apa, aku juga belum lama disini. Ayo duduk." jawab paman Chang.
"Iya, ayolah duduk." jawab istri paman Chang.
Alex pun berjalan ke samping kiri dan memperhatikan kursi, dia melepas lengan yang sedang dipegang Sersi. Dan bergerak menarik kursi, untuk istrinya Sersi.
"Ayo, kamu dulu duduk sayang." ucap Alex pada Sersi.
Sersi yang melihat ini merasa iuh, sebegini harus totalkah sandiwara ini. Sejak kapan dia memanggilku sayang. Hmm, dasar orang orang yang sangat menjaga reputasi.
'sayang sayang, apa aku harus melakukan hal yang sama. Issh, sungguh menyebalkan.' batin Sersi menggerutu.
Namun, Sersi tetap menurut dan tidak banyak bicara. Dia pun maju dua langkah dan langsung menduduki kursi yang telah ditarik Alex. Setelahnya Alex pun menyusul duduk disamping Sersi.
"Alex, aku tidak percaya bahwa omonganmu yang waktu itu benar. Aku kira kau hanya bergurau.. haha" ucap paman Chang.
"Ya ya aku tahu. Bagaimana kabar ayahmu?
Aku sudah lama tidak mendengar lagi kabarnya?"
"Papah, masih di rumah sakit paman. Tapi keadaannya semakin baik, puji tuhan penyakitnya semakin berkurang dan bisa mendapatkan penanganan khusus."
"Oh iyakah, baguslah. Jika Alden semakin membaik, semoga dia bisa sehat kembali seperti semula. Apa dia yang memintamu untuk menikah dalam waktu dekat ini Alex?!".
"Ya aku harap begitu juga paman. Ya benar, papah yang menyuruhku untuk menikah karena mengingat usiaku yang 3 tahun lagi akan kepala 3. Tapi aku sebenarnya tidak yakin bisa menepati keinginannya, hingga aku bertemu dengan Sersi. Sekretarisku yang cantik ini." ucap Alex sambil melirik ke arah Sersi. Dia mengerlingkan matanya.
Sersi yang daritadi hanya diam dan menyimak, mulai bereaksi ketika namanya disebut. Namun, Sersi merasa malu sekaligus heran ada apa dengan Alex? Apa dia memiliki kepribadian ganda kah?
"Hahaha ya terkadang memang cinta itu tidak terduga Alex. Seperti aku dan istriku ini, kita juga dulu tidak sengaja bertemu di toko roti. Betulkan Melda?" ucap Chang Dodo mengelus lengan istrinya dengan lembut sambil melemparkan senyum tulus penuh cinta.
"Iya, betul sekali. Bahkan bibi pun tidak menyangka, bahwa akan menikahi pelanggan bibi." jawab Melda tersenyum bahagia mengingat kisah cintanya dulu sebelum dipersunting suaminya.
"Ah iya, paman Chang aku turut andil dalam perjalanan cintamu dengan bibi Melda." ucap Alexander menimpali.
"Ya terimakasih telah ikut andil membantuku untuk mendapatkan hati Meldaku, Alex." jawab paman Chang.
Mereka tertawa, menceritakan hal hal yang menyenangkan baik itu dulu masa kini dan sekarang. Mengobrol untuk menambah kehangatan suasana, juga disisipi dengan masalah bisnis yang berkaitan dengan proyek yang akan mereka garap bulan depan. Hingga bibi Melda memulai cakap bertanya kepada Sersi.
"Sersi, apa yang membuatmu memutuskan memilih Alex sebagai pasanganmu? Aku dengar kata Alex kalian tidak lama berpacarankan? Atau kalian sudah?" tanya Melda menggantung ucapannya.
Sersi yang ditanya seperti itu, langsung paham dan menjawab cepat.
"Ah tidak bibi, kami pacaran sehat. Aku hanya merasa Alex adalah lelaki yang baik, dan sangat bertanggung jawab. Jadi aku percaya bahwa pilihanku tepat. Aku juga tidak ingin buru - buru memiliki anak dalam waktu dekat ini bibi." jawab Sersi dengan senyum yang dipaksakan. Percayalah hatinya menggerutu atas kata yang keluar dari mulutnya saat ini.
'aku tidak memilihnya, aku hanya butuh uangnya untuk pengobatan kak Adryan. Laki laki ini sangat aneh, dan tidak ada bagus bagusnya. Bisa bisanya bibi pria ini menyangkaku sudah hamil, melakukan itu saja tidak.' batin Sersi terus bersuara.
"Benarkah. Owh, kamu wanita yang sangat baik dan polos Sersi. Apa kedua orangtuamu mengetahui kalau kamu sudah menikah saat ini?" tanya Melda sekali lagi.
"Terima kasih Bibi. Mungkin mereka juga sudah tahu bibi, tapi.. " ucapan Sersi menggantung. Jujur hatinya merasa sedih, karena kedua orangtuanya telah meninggal belum lama ini.
Walaupun orangtuanya jahat dan tidak memperlakukannya dengan baik, namun Sersi tetap mempunyai simpati pada John dan Savira karena mereka sudah mengurusnya sampai sebesar ini. Tetap saja dia sedih, karena pernah mendapat kasih sayang orangtua sesungguhnya walaupun itu dulu..
Raut wajahnya berubah mendung seketika.
__ADS_1
Alex yang melihat perubahan ini, refleks menjawab pertanyaan bibinya yang tidak mengetahui perihal ini.
"Hmm bibi Melda, orangtua istriku sudah tiada. Mereka menjadi korban kebakaran dirumahnya belum lama ini sebelum acara pernikahan kami dilangsungkan, istriku masih berduka atas kehilangan orangtuanya." jawab Alex menjelaskan.
"Oh benarkah?! Maafkan bibi sayang, bibi tidak tahu." jawab bibi Melda menjadi merasa tidak enak.
"Tidak apa apa bi," Jawab Sersi.
"Ya maafkan istriku y Sersi, kamu bersabarlah. Semoga orangtuamu mendapatkan tempat disisi Tuhan." ucap paman Chang.
"Iya paman Chang terimakasih!" Jawab Sersi menundukkan kepala sedikit.
Setelah percakapan tersebut, akhirnya mereka semua memakan makanan hidangan makan malamnya. Sambil mengobrol ringan, semuanya seperti menikmati suasana dengan ceria. Namun tidak dengan Sersi yang perasaannya campur aduk tidak karuan. Ditambah hatinya yang tidak ingin berhenti menggerutu.
Hari pun semakin malam dan larut, begitu pun mereka larut dalam asyiknya bercengkrama hingga satu jam berlalu. Alex dan Sersi telah selesai menghabiskan makanannya, dan berniat akan pamit pulang duluan.
"Paman aku dan istriku pamit duluan untuk pulang, malam sudah larut. Terimakasih paman sudah memilihku untuk kerjasama, semoga bisnis kita lancar dan memuaskan. Makan malam ini aku dan istriku sangat menikmatinya." kata Alex memuji.
"Ya, sama sama. Aku percaya padamu proyek ini akan segera rampung dan berhasil. Semoga dilain waktu kita bisa makan malam lagi atau perjamuan yang lebih besar lagi haha.." Ucap paman Chang. Ciri khasnya, karena orangnya sangatlah ramah.
"Iya paman, aku akan dengan senang hati jika paman mengundangku untuk makan malam atau lainnya. Aku dan istriku pulang ya paman. Selamat malam!" kata Alex bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Sersi. Untuk membantu berdiri maksudnya.
"Ya selamat malam juga untuk kalian. Berhati hatilah dijalan." ucap bibi Melda istri paman Chang dengan senyum tulusnya yang dia tujukan kepada Sersi.
"Iya kami akan hati - hati, terimakasih. Aku dan suamiku pulang duluan bibi, bye" kata Sersi kikuk.
"Iya nanti kapan kapan kita shopping bareng ya Sersi?" ajak Melda pada Sersi.
"Hmm i.. iya" jawab Sersi gagap.
"Iya bibi Melda, bawa istriku berbelanja. Dia sama sekali tidak pernah memakai uangku, aku bekerja keras sampai saldoku tidak terbendung sayang jika tidak digunakan. Biar dia belajar darimu untuk menggunakan uang dengan baik bibi." kata Alex menjelaskan bahwa istrinya tidak pernah memakai kartu blackcard yang telah diberikannya waktu itu.
"Wah betulkah? Kamu sangat baik sekali, tapi jangan terlalu berhemat. Sekali kali kita harus memanjakan diri sendiri sayang, nanti bibi cari waktu untuk kita shopping dan perawatan ya." Kata Melda bersemangat.
"I.. iya bi. Kabari aku saja" jawab Sersi pasrah.
'apa apaan sih pria ini, apa dia tahu aku tidak pernah memakai uangnya? Apa dia selalu mengecek saldonya setiap saat huh? Nanti aku pakai hutangku semakin banyak' gerutu Sersi di dalam batinnya.
'awas ya kamu bilang aku tidak pandai menggunakan uang! Kita lihat aku akan menghabiskan uangmu, uangmu kan unlimited. Biar tahu rasa!!' gerutu Sersi lagi di dalam batin.
"Oke, aku pulang dulu paman bibi. Bye semuanya." ucap Alex mengakhiri percakapan wanita wanita yang tak akan ada habisnya jika membahas pershoppingan.
"Iya Alex. Bye." ucap paman Chang dan bibi Melda berbarengan.
Mereka berdua pun berjalan menjauhi paman dan bibi, menuju ke arah jalan keluar dari restoran Verge. Masih tetap memasang sandiwara mereka, bersikap mesra dan manja dihadapan umum. Walaupun sekarang suasana hati Sersi, sedang kesal kesalnya pada Alex suaminya ini. Ingin sekali dia rasanya mengetok kepalanya, karena tidak terima dengan perkataannya yang menyebutkan dia tak bisa menggunakan uang dengan baik. Ingin sekali mulutnya berbicara segala macam, namun sayangnya ia hanya bisa menahannya dan menggerutu sendiri di dalam hati.
'sabar. Sabar. Cuman setahun kan, sudah itu beres. Huft!' batin Sersi pasrah.
"Jangan harap, kamu bisa memiliki Alexku secara utuh!! Kamu sungguh tidak sepadan, dan tak punya keistimewaan!! Kita lihat saja, aku akan merebut dia kembali!". Wanita yang berada di mobil sport blue itu memicingkan mata dan memasang tatapan tajam kepada Sersi yang sedang berjalan bersama dengan Alex sambil bergelayut mesra.
Dan setelah Sersi dan Alex sudah tidak terlihat lagi karena sudah masuk ke dalam mobil Maybach, wanita itu langsung tancap gas dan pergi dari sana dengan cepat.
********
Holla malam readers author semua..
Maafkan aku yang kadang kedul update huhuhu,
Sungguh author kemarin sakit dan gak bisa pegang hp sama sekali, karena pusing yang melanda kepala. Jadi belum bisa tulis bab story selanjutnya, dan sekarang mumpung sudah agak baikan aku usahain untuk bikin dan melanjutkan kisah Sersi yang masih menggantung.
Gimana penasaran gak, gimana nanti kisah cinta diantara Alex, Sersi dan si mantan Ellea. Kok jadi cinta segitiga ya haha..
Tapi bukan gitu konsepnya kok, stay tune aia ya.
Maafkan author lagi jika ada bab yang terulang ulang, itu karena website author suka bug dan jadi error.
Salam selamat malam dari xue, ibu anak 1 yang penuh mimpi.
Bye bye...
Follow
Instagram : Xue_ssl
Facebook : Xue
Tiktok : Susi susilawati
__ADS_1