
"Aku kan mengajaknya bukan sekarang, nanti masa tidak boleh juga? Kakak nih?" sofia merengek ke Alex karena dia tidak boleh mengajak Sersi hangout dan nonton drama korea bersama.
"Ya tapi calon kakak iparmu ini, akan sibuk ke depannya. Jadi jangan diganggu dulu ya, biarkan dia punya waktu me time. Oke!?" ucap Alex pada adiknya itu.
"Sibuk apa sih? Kan kata kak Sersi dia tidam bekerja dilarang kakak, jadi aku ingin menga..."
"Ssst... Ssst.. bawel. Nanti kamu bisa berjalan - jalan dengan Sersi ketika pernikahan sudah selesai. Lagipula kakak akan bulan madu ke New York setelah menikah." potong Alex pada sofia.
"Bulan madu? Aku boleh ikut ke New York. Aku tidak akan ganggu kakak kok," Sofia memasang wajah imut nan memelas kepada kakaknya itu.
Alex menggeleng berkata 'tidak'. Masa bulan madu harus bawa - bawa Sofia, nanti rencananya yang sudah dia susun gagal total lagi. Sofia kan tidak tahu, bahwa Alex sekarang mulai menghangat kepada Sersi dan benih cinta itu mulai tumbuh. Tanpa disadari oleh sang wanita yang menjadi calon istrinya itu.
Sersi yang melihat perdebatan ini malah terdiam membisu, bingung harus apa. Alex dan Sofia malah berantem, cuman gara - gara Sofia tidak diajak ke New York. Tapi Sersi tidak bisa ikut bicara, toh Alex yang akan membawanya bukan dia. Jadi Sersi hanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Tahu ah, kak Alex gak seru!" ucap Sofia cemberut menghadap televisi besar.
Alex tak menggubris, malah melenggang pergi menuju ruang kerja dan menyalakan leptopnya. Entah apa yang dia kerjakan, namun pasti pekerjaan yang sempat tertunda dan penting. Dan Sersi, memilih ikut duduk di samping Sofia menonton acara kartun.
Sofia yang melihat Sersi duduk disebelahnya, bergerak mendekat ke arah kakak iparnya itu lalu membisikkan sesuatu.
"Kak, kakak sama kak Alex sudah pernah itu dulu belum? Kenapa kalian mendadak sekali mengadakan pernikahan?" tanya Sofia pada Sersi.
Membuat Sersi tersedak oleh minuman yang dia minum sekarang. Dia bingung untuk menjawab, tapi jika mengatakan iya itu adalah kebohongannya. Jadi dia harus bagaimana.
"Ehmm belum Sofia, kami pacaran sehat. Tidak mengutamakan *** diantara kita, menurutmu aku sedang hamil begitu?" tanya Sersi pada Sofia.
"Ohmm, ya sih. Tapi aku tidak menyangka, kak Sersi itu pacar kak Alex. Papah juga sama kagetnya seperti aku, karena kakak pernah bertemu kak Sersi beberapa kali kan waktu ke Portland itu."
"Iya memang. Pasti Tuan Besar, akan sangat malu karena aku hanyalah orang kalangan biasa. Tidak sepadan dengan keluarga ini." ucap Sersi sedih menundukkan kepalanya
"Tidak kak, keluarga kami itu tidak memandang kasta kesetaraan. Karena kami menilai, bahwa semua orang itu sama saja. Mamah aku juga dulu bukan dari kalangan orang kaya, papahku yang keturunan bangsawan." Jawab Sofia.
"Benarkah? Terus mamah kalian dimana, aku tidak pernah melihatnya?" tanya Sersi pada Sofia.
"Ehmm, mamah.. mamah sudah meninggal kak."
"Oh ya tuhan. Maafkan aku, aku tidak tahu." ucap Sersi meminta maaf karena dia menanyakan hal itu.
"Tidak apa apa kok, kalo mamah masih ada pasti mamah suka sama kakak. Karena kak Sersi sifatnya sama seperti mamah menurutku."
Sersi pun hanya tersenyum ke arah Sofia, dan melihat ke arah Alex yang berada di ruang kerja. Namun Alex masih tetap fokus pada leptopnya.
'apa keluarga Alex juga tidak sebahagia yang aku kira?' batin Sersi bertanya - tanya.
******
"Pah, bagaimana kabar papah? Merasa lebih baik?" tanya Alexander pada Alden ayahnya.
"Ya aku rasa, badanku sedikit kuat."
__ADS_1
"Syukurlah pah. Alex harap bisa sembuh kembali dan berkumpul lagi bersamaku dan Sofia di rumah." tutur Alex sambil menggenggam tangan Alden.
"Iya pah, Sofia juga berharap papah kaya dulu lagi. Ceria, tegas, bisa kumpul dirumah biar rame. Sekarang dirumah sepi, papah disini kakak juga sering pergi pergi aku sendirian dirumah hufft." keluh Sofia.
"Iya papah juga ingin kumpul lagi, semoga papah bisa sembuh ya. Bisa lihat kakak kamu menikah, menimang cucu dan mengantar kamu wisuda nanti." ucap Alden dengan senyum tulus.
"Iya pah, cepet sembuh ya pah!" ucap Sofia kemudian memeluk Alden dengan sayang.
"Sersi, sini nak. Bagaimana kabarmu? Apa kamu diperlakukan dengan baik oleh Alex?" ucap Alden menanyai Sersi yang daritadi hanya diam saja.
Sersi pun berjalan mendekati Sofia, sehingga kini Sersi berdiri disamping ranjang Alden berdampingan dengan Sofia dan berhadapan dengan Alex diseberang sana.
"Kabarku baik pah. Iya Alex selalu baik padaku pah, apakah papah semakin baik setiap harinya?" tanya Sersi sambil melemparkan senyum manisnya.
"Baguslah, berarti dia sudah menjadi lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Aku semakin baik nak, oh ya ada kabar apa hari ini? Papah yakin kalian bertiga kesini pasti akan ada hal yang pentingkan?" tanya Alden pada Sersi, kemudian melihat ke Sofia dan Alex bergantian.
"Hmm, biar Alex saja yang bilang ke papah." kata Sersi lagi.
Alden pun berganti melihat ke arah Alex sekarang, dan memasang ekspresi. Kabar apa?
"Pah, jadi aku 4 hari lagi akan melangsungkan pernikahan dengan Sersi. Alex rasa, sudah saatnya Alex memegang komitmen sekarang. Apa papah tidak keberatan?".
"Sungguh tidak Alex. Malah papah senang bisa melihat kamu menikah dengan wanita sebaik Sersi ini, plus cantik pula. Papah memberi restu untuk kalian berdua. Semoga kalian segera memberi papah cucu yang lucu." Kata Alden mengulas senyum bahagia dikedua sudut bibirnya. Mengharapkan Sersi dan Alex untuk segera memberinya cucu.
'Hmm bagaimana aku harus memberi cucu. Pernikahan ini hanya kawin kontrak saja, dan kami tidak akan melakukan hubungan itu.' batin Sersi menjawab ucapan Alden. Hanya dihatinya saja, tidak sampai diucapkan.
Sersi bingung melihat ke arah Alex dan ketika dia melihatnya, Alex memasang wajah datar dan sorot mata yang tajam sedikit melotot.
'Aduh dia ini' rutuk Sersi dalam batin.
"Iya pah, aku juga masih ingin menggeluti dunia bisnis pah. Dari dulu impianku ingin menjadi usahawan wanita, aku ingin mewujudkannya pah." jawab Sersi mengikuti alur yang Alex buat.
Membuatnya ingin menjambak rambut pria diktator itu, menyebalkan sekali. Dia tidak suka berbohong seperti ini, tapi apa daya dia memang harus bersandiwara karena dia sudah menyepakati perjanjian.
"Tuhkan pah. Alex bilang, Sersi ini wanita yang pekerja keras pah. Walaupun aku mampu menafkahinya tiap bulan, dia tetap ingin membangun bisnisnya sendiri. Wanitaku ini tangguh dan hebatkan pah?" tanya Alex sambil memasang senyum kali ini pada Alden, setelah sekian lama senyuman itu hilang.
"Iya kamu hebat Sersi, papah tidak akan melarangmu melakukan hal yang ingin kamu wujudkan. Malah papah akan mendukung kamu, sebagai mertua papah bangga memiliki menantu yang mandiri seperti kamu. Papah berdoa semoga impianmu segera terwujud ya. Benar kata Alex, kamu adalah wanita tangguh." ucap Alden bangga kepada calon menantunya.
"Terimakasih pah, aku hanya ingin memperbaiki kualitas diri dan mengembangkan bakatku dibidang bisnis." jawab Sersi.
"Sama sama Sersi. Tetapi papah tetap mengharapkan kalian segera memberi papah cucu," kekeh Alden tetap mengharapkan Alex dan Sersi segera memiliki momongan.
Sersi pun hanya tersenyum tanpa menjawab pernyataan Alden lagi. Malam itu pun Alex, Sersi dan Sofia menemani Alden diruang rawat sampai menjelang waktu tidur. Dengan mengobrol dan memakan buah buahan yang dibeli oleh Alex, membuat suasana kehangatan keluarga kembali hidup. Mereka bercengkrama sangat akrab, sampai Sersi pun terhanyut dalam sandiwaranya.
Hingga dua jam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mereka bertiga pun pamit pulang, karena hari sudah malam dan tidak ingin menganggu waktu istirahat ayah mereka. Alden melambaikan tangan tersenyum menatap kepergian kedua anaknya dan calon menantunya.
'Sepertinya aku tidak asing dengan wajah Sersi, tapi dia anak yang sangat baik. Semoga Sersi menjadi pasangan Alex selamanya sampai maut memisahkan. Semoga kalian berjodoh' batin Alden berdoa. Semenit kemudian, memejamkan mata berniat akan tidur.
____________
__ADS_1
Sersi terbangun dari tidurnya yang nyenyak, semalam sepulang dari Portland Hospital. Dia sangat begitu lelah, hingga langsung bersih - bersih dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Lantas pergi tidur duluan, tanpa menghiraukan Alex.
Dia membuka mata lebar - lebar melihat ke arah jendela, bahwa hari sudah terang dan matahari terlihat sangat cerah. Pagi ini terasa sangat segar baginya, namun Alex sudah tidak ada ditempat tidurnya. Mungkin pria itu sudah pergi ke kantor pikirnya.
Sersi malam itu, tidur berdampingan dengan Alex karena dia disuruh tidur berdua dengan pria diktator plus brengsek itu. Dengan alibi
'Malam ini tidur denganku dikamar, kita tidur seranjang. Kamu harus membiasakan diri tidur denganku, apa kata papah jika dimansion nanti kita tidur terpisah'
ucapan Alex masih terngiang ditelinganya.
Hingga mau tidak mau, dia tidur dikamar Alex dan menempati ranjang yang juga digunakan Alex.
Sersi bangkit dari kasur, dan berjalan menuju kamar mandi untuk mandi. Dia ingin mandi air dingin rasanya, agar kantuknya hilang dan dirinya terasa bugar. Shower dinyalakan dan air mulai membasahi kepala, dan ke seluruh tubuh. Menjalarkan dinginnya air yang membuatnya terasa segar, seperti biasa Sersi selalu memakai shampoo beraroma marsmellow dan sabun wangi strawberry kesukaannya.
Setengah jam berlalu, ritual mandinya selesai dan Sersi memakai pakaian santai ala rumahan. Hanya memakai atasan tanktop terbuka dan celana pendek yang memperlihatkan kedua pahanya yang jenjang dan mulus itu.
Suara lagu dari Charlie Puth yang berjudul We Dont Talk Anymore berdendang. Menandakan ada yang menelpon ke ponselnya, Sersi berjalan ke arah nakas samping tempat tidur dan mengambil ponselnya. Lalu mengangkat panggilan itu.
[Hallo Cindy?]
[Hallo, Ser. Kak Adryan berhasil melewati masa kritis, kata dokter semuanya berangsur membaik. Dan semuanya berjalan lancar dan tubuh Kak Adryan semuanya normal kembali.]
[Betulkah Cindy? Oh, terimakasih ya tuhan kau telah menyelamatkan kakakku. Terus gimana dengan operasi tulang belakang kak Adryan?]
[Oh iya, masalah operasi itu. Belum menemukan hasilnya, karena Kak Adryan belum sadar. Walaupun operasi tulang belakang berhasil diperbaiki dan lancar dilakukan, tapi kata dokter harus menunggu Kak Adryan sadar. Untuk mengetahui dia bisa berjalan kembali atau tidak, karena harus dites terlebih dulu]
[Aku harap Kak Adryan bisa seperti dulu lagi, bisa berjalan. Tolong titip kak Adryan ya Cin, maaf aku merepotkan kamu. Katakan pada Kak Adryan jika nanti sadar, bahwa aku akan pulang ke Sicilia setelah kerjaanku selesai]
[Iya tidak apa apa Sersi, kita kan sahabat. Jangan sungkan padaku ya, Kak Adryan akan aku rawat dengan baik tenang saja. Nanti aku sampaikan padanya jika nanti dia sudah sadar ya]
[Iya Cindy, terimakasih ya.]
[Iya, ya sudah. Aku hanya ingin memberitahu keadaan terbaru kak Adryan takut kamu menunggu kabar dariku. Aku ada tugas kuliah Ser, sudah dulu ya]
[Oh ya,semoga kuliahmu segera rampung ya. Oke, dah kabari aku lagi jika ada apa apa]
[Ya Ser, semoga lancar ya kuliahku dan skripsiku cepat selesai. Oke, nanti aku kabari lagi jika ada kemajuan dari Kak Adryan ya. Dah,]
[Dah Cindy]
Klik. Telepon pun terputus. Sersi melanjutkan niatnya untuk pergi ke dapur membuat sarapan pagi, dan akan melanjutkan naskah novelnya disitus online yang sering Sersi pakai. Lumayan dari sana dia dapat penghasilan, ya cukup untuk dia membeli barang yang diinginkannya.
*******
"Tuan, info penyelidikan terbaru sudah saya dapatkan Tuan. Ini dokumen tentang Miss Sersi." ucap Samuel pada Alex, menyodorkan dokumen itu.
Alex pun menerimanya, dan lekas membuka dan membaca isi dokumen itu. Dan informasi yang Alex dapatkan membuatnya sedikit terkejut juga terpukau secara bersamaan. Dengan begini, dia memiliki bukti dan mengetahui kelemahan sang musuh Alfonso Waddison.
'kau akan menerima karma dari perbuatanmu pada keluargaku' batin Alex bergumam.
__ADS_1