Terjerat Pesona Sang Sekretaris

Terjerat Pesona Sang Sekretaris
Part 6 - Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Sersi pun duduk di meja sekretaris, yang berada di dalam ruangan Alexander. Jaraknya agak jauh, karena Sersi lebih dekat ke pintu ruangan. Jujur, saat ini jantungnya berdegup kencang karena antara senang dan tidak percaya mendapatkan pekerjaan diposisi yang bagus. Tidak terpikirkan sebelumnya, Sersi akan menjadi sekretaris CEO AR Group.


"Kamu pelajari dokumen yang ada diatas meja ini semua, kamu yang akan mengatur jadwal Tuan Alexander dan hal lainnya sekarang. Jangan sampai ada kesalahan, mengerti!", ucap Samuel pada Sersi sebelum dirinya pergi meninggalkan ruangan Alexander.


"Iya Pak, saya mengerti!", Jawab Sersi juga menganggukkan kepalanya.


"Tuan saya keluar dulu!", ucap Samuel kepada Alexander dengan membungkukkan sebentar, lalu keluar ruangan setelah Alexander mengisyaratkannya menggunakan tangan.


Sersi pun akhirnya larut dalam pekerjaannya, dia kali ini sangat serius sekali. Dia tidak ingin sampai melakukan kesalahan, peluang ini 1 dari 1000 peluang susah untuk digapai. Jadi dia harus ekstra kerja keras demi kehidupannya, ekonominya, dan impiannya.


Tanpa disadari, dari mejanya Alexander mencuri pandang kepada sekretaris barunya itu. Dia melihat wajah Sersi, entah mengapa Alexander merasa tertarik pada perempuan yang telah menjadi sekretaris barunya.


Tetapi, sedetik kemudian dia memalingkan wajahnya dan kembali berkutat dengan dokumen - dokumen dan berusaha menepis gelitikan aneh yang mulai mengganggu pikirannya.


'Ada apa denganku? Mengapa aku ingin terus melihatnya, tapi dia terlihat cantik juga jika dilihat - lihat' batinnya Alexander bersuara.


Alexander pun berusaha menyibukkan diri, agar pandangannya tidak melihat ke arah sekretaris barunya itu. Bahkan dia lupa nama sekretarisnya, hingga pada saat Alexander berusaha menyibukkan diri dan berusaha meredam gejolak kegelisahan yang entah kenapa mengganggu pikirannya tanpa sebab. Sersi bangkit dari duduknya, sambil membawa beberapa dokumen penting yang akan dia beritahukan kepada bosnya itu. Perlahan, berjalan ke arah meja Alexander.


"Pak, eh ehmm..", Sersi terdiam memikirkan bosnya ini dia harus panggil pak atau apa. Karena Sersi takut menyinggung perasaannya, bosnya belum setua itukan. Sersi bingung sendiri.


"Tuan saja",


"Ya Tuan Alexander, saya sudah memeriksa semua dokumen yang tadi. Hari ini anda memiliki jadwal makan siang dengan para petinggi pengusaha property untuk melakukan proyek ke tiga dan petinggi pengusaha makanan kaleng untuk membahas produk baru yang akan dipasarkan Pak, eh Tuan..!?", ucap Sersi agak gugup.


"Oke, nanti kamu ikut makan siang dan simak nanti. Tuliskan hal dan poin poin penting, nanti pada saat pembahasan",


"Baik Tuan, nanti saya siapkan semuanya. Saya sampaikan ke Pak Samuel, untuk membooking tempat di Launceston Place", jawab Sersi.


"Oke, atur semuanya dengan baik", perintah Alexander dan Sersi pun kembali ke mejanya. Kembali berkutat dengan dokumen laporan keuangan selama satu tahun ini.


***


Sedangkan di Sicilia.


"Heyy.... Cin.. Cindy!!!", Panggil seseorang pria yang sedang menaiki motor besarnya itu. Motor besar jebolan pabrik London yaitu Triumph yang bermode 'Petarung Jalanan'.


Cindy pun yang sedang berjalan di trotoar pun menoleh ke sumber suara, dan mendapati Dean ada di sana.


"Dean?", Ucapnya sendiri. Lantas bergumam di dalam hatinya.


'Mau apa ini orang kesini?' batinnya bersuara.


Dean pun memarkirkan motornya di pinggir trotoar. Kemudian turun dari motornya, dan pergi menghampiri Cindy.


"Hai Cin, daritadi aku panggil gak mudeng?!", ucapnya Dean pertama kali membuka topik obrolan, langsung mengomel seperti ibu ibu.

__ADS_1


"Iyaa, maaf! Punya aku error kupingnya kayaknya, jadi gak kedengeran" kilah Cindy.


"Emmh, kamu mau ke kampus? Tumben gak barengan sama Sersi, dia kemana? Sudah lama gak lihat kamu barengan?", jujur Dean heran beberapa minggu ini dia tidak melihat Sersi bareng dengan Cindy.


"Kenapa memang tumben kamu nanyain dia, ketemu juga kamu bikin dia kesel. Mau ngajak ribut hah?", ucap Cindy sarkas karena cowo sejenis Dean ini menyebalkan baginya, wajahnya memang tampan tapi kelakuannya tengil.


"Emmh, ya nanya aja sih. Gak mau ribut juga hehe..", jawab Dean sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


'Aku rindu lihat Sersi sebenernya, aku suka sama sahabat kamu' batin Dean bersuara setelah dia berhenti berbicara.


"Hmm, gak penting banget sih! Udahlah, nanti aku telat!", ucap Cindy kesal lalu langsung meninggalkan Dean begitu saja.


'Kemana wanita penyemangat hidupku ya, sepi gak ada kamu ser' batin Dean bersuara lagi.


*******


"Tuan, setengah jam lagi kita akan berangkat menuju Launceston Place untuk melakukan pembahasan proyek dan pemasaran produk baru tuan."


"Oke, kita berangkat sekarang. Biar kita nanti yang menunggu mereka datang.",


"Baik, Tuan!", Jawab Sersi kemudian kembali ke meja kerjanya dan mempersiapkan dokumen dokumen yang akan dibawa untuk meeting ini dan membawa catatan untuk menuliskan pembahasan yang akan ia dengarkan siang ini.


Setelah selesai mempersiapkan semuanya, Sersi dan Alexander pun pergi menuju restoran terbaik di London. Selain kemewahan yang disuguhkan, juga tersedia fasilitas private yang biasanya digunakan orang seperti Alexander dan yang lainnya untuk berdiskusi dan berbincang seputar bisnis sambil 'lunch time' atau sekedar bersantai ria.


Sersi dan Alexander berjalan sejajar. Itu membuat Alexander sekali lagi, mencuri pandang untuk melihat Sersi dari ekor matanya. Tidak dipungkiri sekretaris barunya ini, memang sangat cantik. Selain wajahnya yang imut seperti wanita asia, yang berkulit putih, juga memiliki bentuk badan yang bagus. Alexander melihatnya sangat seksi, ***** dan bemper belakang yang benar - benar sempurna.


"Silahkan Tuan Alex", Samuel mempersilahkan Alexander untuk masuk ke dalam mobil, dia membukakan pintu untuk atasannya itu.


Melihat Alexander yang sudah masuk mobil, Sersi yang sedari tadi masih berdiri mematung dikagetkan dengan suara Samuel yang berbicara kepadanya.


"Kenapa kamu tidak ikut masuk, kita akan segera berangkat ke Launceston Place?", tanya Samuel yang melihat Sersi masih diam tak bergeming, dengan sambil memeluk dokumen yang dia bawa.


'Mimpi apa aku semalam ya tuhan? Bisa naik mobil semewah ini walaupun hanya sebentar dan sekedar jadi sekretaris. Ditambah punya bos yang ganteng pula, uhh aku mau pingsan' batin Sersi bersuara dengan kegirangan.


"Eh i.. iya pak.", Sersi pun masuk ke dalam mobil.


Setelah Alexander dan Sersi sudah masuk mobil, Samuel menutup pintu lalu ikut masuk ke dalam mobil juga. Dia yang mengemudi siang ini, tugas dia entah berapa lapis dan gajihnya entah berapa. Yang pasti Samuel masih lajang, bekerja bareng Alex sebagai sekretarisnya, manager di bisnis gelapnya, kaki tangan perusahaan, bisa melakukan penyelidikan dengan akurat. Masih merangkap jadi supir sekaligus bodyguard, entah darimana Samuel berasal yang pasti dia selalu misterius asal usulnya.


Meeting pun dimulai, Alexander memilih melakukan meeting diruang private Launceston Place yang telah diatur sedemikian rupa oleh Samuel. Pembahasan terus menjuru ke arah strategi bisnis, tempat yang strategis, keuntungan bisnis, dan hal lainnya. Sersi siang ini melakukan pekerjaannya sebagai sekretarisnya sekaligus pendengar yang baik. Maka dari itu dia menajamkan pendengarannya, dan berusaha menuliskan poin poin penting dalam pembahasan ini semua..


2 Jam Berlalu...


Pembahasan bisnis pun selesai, akhirnya mereka pun makan siang bersama sesusah bisnis mencapai kesepakatan. Meeting berjalan lancar dan sukses, kini mereka semua termasuk Alexander dan Sersi menikmati hidangan menu makan siang yang sudah tertata rapi diatas meja.


Ketika semua orang sedang terlena karena menikmati makanan mereka masing - masing, tiba - tiba Sersi merasakan ingin buang air besar. Sehingga ia pun bangkit berdiri, dan menghentikan aktivitasnya yang memakan spaghetti pedas ini. Dan segera meluncur menuju toilet.

__ADS_1


"Permisi semua, saya mau ke toilet dulu!", ucap Sersi kepada semua orang terus berjalan ke toilet.


'aduh perutku tidak bisa diajak kompromi begini, malu - maluin saja. Aku kira tadi tidak pedas spaghettinya' batin Sersi bersuara seraya dia berjalan cepat menuju toilet.


Sampainya dia di toilet, dia langsung masuk ke balik ruangan toilet menutup dan mengunci pintu. Dan ..


"Ahh.. leganya. Untung aku sampai pada tempat waktu, pasti aku bakal sakit perut nanti malam!", kata Sersi sendiri.


Samuel yang sedang berada di meja lain, namun tidak jauh dari Alexander berada. Samuel menghampiri bosnya itu dengan membawa tablet di tangannya, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan.


"Maaf Tuan! Saya mengganggu sebentar, saya ingin menunjukkan laporan dari Pierro.", ucap Samuel menyerahkan tablet yang dia pegang ke Alexander.


Alexander pun menerimanya, dan membaca semuanya dengan seksama. Ternyata ini laporan dari bisnis underground nya, yakni salah satu bisnis sampingannya yang bergerak di dunia ilegal yang menjurus ke dunia hitam. Alexander menyebarkan senjata yang akhirnya dibeli oleh para mafia diseluruh negeri, negara maupun diberbagai kota. Laporan tersebut menunjukkan keuntungan yang ia peroleh selama 2 tahun terakhir, dia tersenyum puas.


"Oke, bagus. Kalian berhasil menaikkan omset, teruslah begitu. Kinerja yang bagus, katakan pada Pierro bahwa aku akan ke Italia minggu ini!"


"Baik, Tuan! Saya akan sampaikan.", Samuel pun selesai dengan urusannya kembali duduk di mejanya. Dan Alexander melanjutkan memakan makanannya.


Sersi yang selesai dengan urusannya buang air besar dan memoles kembali wajahnya dengan makeup tipis, segera keluar dari toilet. Dia merasa tidak sopan meninggalkan tuannya lama - lama, jadi dia pun keluar darisana dan kembali ke tempatnya melakukan meeting barusan. Sersi pun setelah sampai, langsung duduk kembali dikursinya dan kembali melahap spaghetti nya. Setelah membungkukkan badan dan tersenyum kepada semua orang yang ada disana.


"Terima kasih Alex, atas jamuannya saya sangat puas sekali. Tempatnya nyaman dan makanannya enak, memang anda selalu melakukan yang terbaik ketika berbisnis ya.", ucap Pak James yang merupakan petinggi property yang menjalin bisnis dengan Alexander.


"Sudah sepatutnya saya menjamu semua relasi bisnis saya dengan baik. Saya hanya melakukan yang terbaik untuk membuat Pak James dan Pak Ryan nyaman dalam membahas bisnis yang akan kita garap untuk beberapa bulan ke depan.", jawab Alexander.


"Kamu memang selalu merendah Alex, semoga bisnis kita selalu terjalin dengan baik terus ya. Kinerjamu bagus, perusahaan kita sama - sama mendapatkan keuntungan. Saya menyukai itu!", timpal Pak Ryan Petinggi pengusaha pemilik pabrik terbesar makanan kaleng tersebut.


"Iya Pak James dan Pak Ryan, saya harap juga begitu",


"Baiklah meeting kita sudah selesai, saya harus segera pulang. Istri saya sudah menunggu, siang ini urusan dikantor saya sudah selesai. Saya pamit ya Alex!",


"Silahkan Pak, hati - hati dijalan. Dan sampaikan salam saya kepada Nyonya Meriana.", kata Alexander sambil menjabat tangan Pak James.


"Oke, nanti saya sampaikan.", James pun bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan meja. Begitupun dengan Pak Ryan, setelah mengucapkan pamit pada Alexander Pak Ryan pun juga meninggalkan restoran itu.


Akhirnya karena semua orang sudah pulang, meeting pun sudah selesai. Alexander memanggil Samuel untuk meminta bill tagihan pada pihak restoran, lalu setelah membayarnya. Alexander beserta Sersi dan Samuel kembali ke kantor AR Group.


Waktu tidak terasa sudah semakin sore, matahari mulai akan kembali ke tempat persembunyiannya. Jam kerja pun sudah usai, para karyawan AR Group sebagian sudah akan bersiap pulang dan sebagian masih tetap berkutat dengan pekerjaannya yang mengejar kerja lembur. Karena Sersi sudah sangat merasa sudah mengerjakan semuanya, ia pun bersiap untuk pulang juga seperti yang lainnya. Sersi mulai merapikan meja kerjanya, dan mengemasi barang - barangnya ke tas kecil dan membawa barang lainnya besarta file yang akan dia kerjakan nanti malam agar besok dia tidak terlalu banyak pekerjaan.


Selesai berkemas, Sersi pun berjalan menuju meja Alexander dan merapikannya juga. Karena Alexander sejak siang setelah meeting selesai, tidak kembali ke kantor karena akan menemui ayahnya di rumah sakit. Sehingga Sersi kembali ke kantor sendirian naik taksi, dan mengerjakan semuanya sendiri diruangan ini.


"Akhirnyaa... Kerjaanku selesai juga, hari pertama kerja di kantor begini ternyata melelahkan."


Sersi pun membawa tasnya dan bergegas meninggalkan ruangan CEO. Bekerja menjadi sekretaris pribadi sungguh hal yang mendebarkan, dan tidak disangka. Sungguh keberuntungan pendidikannya yang tak sampai sarjana penyandang cumclaude bisa mendapatkan posisi ini. Sersi merasa lelah, terkuras tenaga dan pikiran. Terpikirkan pekerjaan yang sungguh banyak, dan tenaga untuk menahan debaran jantungnya ketika melihat bosnya yang tampan.


Ahh, Sersi sudah berada di lantai dasar gedung AR Group. Dia mempercepat langkahnya untuk segera keluar dari sini, mencari taksi dan pulang segera ke apartemennya. Sersi ingin segera makan, mandi, tidur dan bermimpi indah dengan CEO ganteng yang tak lain adalah atasannya Alexander.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2