Terjerat Pesona Sang Sekretaris

Terjerat Pesona Sang Sekretaris
Bab 22 (Peraturan Nikah Kontrak)


__ADS_3

Keesokan harinya...


Sersi memakai dress hitam yang mengekspos sebelah bahu dan pahanya, dan panjangnya hanya lima senti diatas lutut yang membungkus pas tubuhnya.


Dress hitam itu memperlihatkan setiap lekukan tubuh Sersi yang aduhai dan seksi itu, membuat Alex terpana seketika saat ini.


Mereka sekarang sedang berada di restoran Verge untuk membahas peraturan apa saja yang harus dituruti Sersi jika nanti pernikahan kontrak itu terjadi. Dibarengi dengan Samuel yang seperti biasa mengawal Alex kemana pun dia pergi.


"Selamat pagi tuan" sapa Sersi pada atasannya itu.


"Hmmm" jawaban Alex singkat dan segera memerintahkan Samuel untuk memperlihatkan dokumen yang akan disepakati mereka bersama.


"Samuel, berikan dokumen itu."


"Iya, Tuan. Sersi silahkan dibaca dulu semua, disini tertera peraturan yang harus kamu patuhi dan poin poin yang akan kamu dapatkan." ucap Samuel pada Sersi menyodorkan dokumen bermap biru itu.


Sersi menerima dokumen itu, dan melihat ke arah Alex juga Samuel. Kemudian dia mulai membuka dokumen itu, dan membaca isi keseluruhan dokumen itu dengan seksama.


SURAT PERJANJIAN KAWIN KONTRAK


PERATURAN YANG HARUS DIPATUHI :




Tidak boleh melanggar perjanjian pernikahan, pernikahan kontrak ini akan berlangsung selama 1 tahun. Setelah 1 tahun pernikahan pun selesai, jika pihak wanita tiba - tiba mundur atau meminta cerai sebelum satu tahun dikenai biaya denda.




Tidak boleh berkerja




Jangan membantah perintah apapun yang diperintahkan suami




Setiap malam siapkan pakaian untuk tidur suami




Buatkan makanan kesukaan suami buatkan kopi mochachino dan roti selai kacang setiap pagi, dan hidangan makan malam bebas mau menu apa saja. Tanyakan pada pelayan dirumah




Menyiapkan pakaian kerja dan sepatu suami ketika pagi hari




Tidak boleh tidur berdua.




Harus menjaga kerahasiaan perjanjian pernikahan kontrak ini




Jangan menyentuh barang - barang pribadi suami




Jangan banyak menuntut




Jangan memakai perasaan karena pernikahan ini hanya bersifat sementara dan sandiwara


SETELAH MENIKAH AKAN :


__ADS_1



Difasilitasi dari mulai uang bulanan, transportasi dan kebutuhan diri sendiri serta perawatan.




Satu bulan diberikan jatah uang jajan 50 juta




Fasilitas mobil Roll Royce + supir pribadi




Kemana mana akan diantar jemput




Rumah tempat tinggal selama satu tahun ke depan




Nafkah tetap diberikan meski hanya pernikahan kontrak




Dibebaskan dalam segala hal, seperti liburan, belanja, atau hangout sama teman



Tidak perlu melayani urusan seksual, pernikahan ini hanya sebatas menyandang status





Tapi melihat peraturan yang ditulis disana, Sersi agak mengkerutkan kening mengapa dia seperti bukan dijadikan istri tapi pelayan. Tidak boleh bekerja dan ya begitulah.


'dia cari istri atau pelayan sebenarnya sih?' batin Sersi bergumam agak menggerutu ketika membaca dia harus menyiapkan ini itu dan bla bla.


Tapi dia akhirnya mau tidak mau harus mematuhi dan menerima karena uangnya sudah dia kirimkan ke Cindy untuk dipakai berobat kakaknya. Biarlah dia begini, hitung hitung dia membayar uang dari bosnya dengan cara melakukan pernikahan palsu dan tenaga.


"Kenapa kau keberatan dengan semua peraturan yang kuinginkan? Atau kau ingin menambahkan sesuatu yang kau inginkan?" tanya Alex pada Sersi.


Karena melihat reaksi Sersi yang dari awal kurang mengenakkan, terlihat dari alisnya yang mengkerut dan terlihat raut wajah yang seperti menahan kesal.


"Eh.. emm ti.. tidak Tuan. Saya hanya em, walaupun kita menikah kontrak saya tetap dinafkahi? Kenapa saya tidak boleh bekerja?."


"Jangan panggil tuan, terlalu formal. Kamu harus belajar mengakrabkan diri denganku, belajar panggil dengan bahasa kamu atau apa pun. Jika nanti kau terlihat kaku ketika bersamaku, sandiwara kita mudah sekali terbaca" ucap Alex mengingatkan bahwa dia harus terlihat seperti sepasang kekasih yang nyata dan harus terbiasa dengan itu semua agar terlihat natural.


"I.. iya." angguk Sersi.


"Oke, menjawab pertanyaan kamu yang tadi. Aku akan tetap menafkahi kamu sesuai kewajiban yang diemban para suami pada umumnya, karena walaupun kita hanya melakukan sandiwara. Tapi pernikahan yang kita lakukan itu asli, dan akan ku daftarkan ke catatan sipil. Jadi kita menikah secara sah. Jadi kau berhak mendapatkan itu."


"Dan urusan berkerja. Aku melarangmu, karena apa kata orang jika mereka tahu bahws istri dari seorang miliarder harus bekerja keras demi uang. Aku masih sanggup membiayai semua keperluanmu. Paham Sersi?."


"I.. iya. Aku paham." jawabnya.


"Oke, kita makan siang dulu. Mulai dari sekarang besok dan seterusnya kau tidak perlu bekerja ya, oh ya aku akan menyerahkan berkas yang isinya beberapa jawaban jika nanti kau ditanyai oleh papahku ketika nanti aku bawa kamu untuk menemuinya." Kata Alex sambil memotong daging steak yang ada dihadapannya, lalu memakannya.


'apa apaan ini?' batin Sersi bergumam.


Sersi pun tidak menjawab hanya menganggukkan kepala tanda mengerti, dia ingin marah memberontak tapi apa daya. Dia harus melakukan ini, dia pun akhirnya memakan makanan yang sudah terjadi dihadapannya. Sama dengan Alex, Sersi pun mulai memakan daging steaknya dan sepiring spaghetti bolognese yang menggoda selera.


__________


Flashback kejadian kebakaran rumah orangtua Sersi di Sicilia..


"Adryan.." panggil John, ayahnya pulang dari rumah sakit pagi ini.


Adryan yang sedang dikamarnya, lantas keluar dari kamar dan mendatangi sumber suara. Dia pun menggerakkan kursi rodanya menuju ruang tengah rumah.


"Ya aku kesana" jawab Adryan.


Ketika sampai diruang tengah, terlihat ayahnya sedang memapah ibunya Savira. Ternyata ibunya dan ayahnya sudah pulang ke rumah dari rumah sakit. Adryan pun menghampiri ayah dan ibunya yang kini sedang duduk disofa ruang tengah.


"Ibu, syukurlah ibu sudah boleh pulang. Dirumah sepi tidak ada ibu. Aku setiap hari hanya berdiam dirumah menonton tv saja, tidak bisa melakukan apapun." keluh Adryan.

__ADS_1


"Adryan, ibumu belum sembuh total. Ayah membawanya pulang karena biayanya berobatnya sangat mahal. Jadi ayah bawa ibu pulang untuk rawat jalan, setidaknya ibumu sekarang sudah bisa berjalan dan lebih segar dari sebelumnya." jawab John pada anaknya.


"Iya Adryan, ibu tidak apa apa kok sekarang. Sedikit lagi ibu sembuh kok, hanya perlu istirahat banyak. Kasihan ayahmu, harus bekerja keras untuk mencari biaya berobat ibu yang mahal." Ucap Savira sambil tersenyum ke arah Adryan.


"Andaikan kalau aku bisa berjalan, pasti aku membantu ayah bekerja untuk membantu pengobatan ibu" tutur Adryan sedih mengingat dirinya yang tidak bisa melakukan apapun, dan merasa hanya jadi beban orangtuanya saja. Merasa tidak berguna.


"Sudahlah Adryan, tidak apa apa. Kamu sudah melindungi ayah, kamu jangan begitu. Kalo tidak ada kamu pasti ayah sudah mati sekarang oleh anak buah Alfonso waktu itu." John menghibur hati anaknya.


"Tetapi kenapa ayah membenci Sersi. Waktu kami kecil ayah dan ibu selalu memberikan kasih sayang yang sama padaku dan pada Sersi, tapi semenjak peristiwa itu kalian membencinya dan menyebutnya hanya beban orangtua. Bukannya justru aku beban kalian, aku tidak berguna dirumah ini. Jika ayah dan ibu tidak seperti ini,dia tidak akan pergi meninggalkan kita." Adryan menyayangkan sikap kedua orangtuanya pada adiknya Sersi.


"Tapi karena dia kamu jadi melindungi ayah dari tembakan itu, dia yang bersalah atas keadaanmu. Dan dia wanita yang pembang.."


"Ayah jangan menjelekkannya. Dia tidak melakukan apa - apa, mengapa ayah dan ibu sangat membencinya. Dia saudaraku satu satunya, mengapa dia harus disalahkan. Adryan sendiri yang lari ke arah ayah karena takut pria itu membunuh ayah." potong Adryan menggebu.


Merasa marah pada ayahnya yang selalu berkata kasar pada Sersi. Adryan pun dengan memendam sejuta rasa kesal dan kemarahan yang sedang menggebu - gebu, dia memilih untuk meninggalkan orangtuanya dan pergi ke kamar. Adryan frustasi merasa jika dirinya sangat tidak berguna, hanya menyusahkan kedua orangtua dan adiknya. Dia merasa menjadi pria yang tidak berdaya dan lemah.


Sepeninggal Adryan, Savira dan John saling tatap. Memaklumi anak semata wayangnya emosi kepada mereka, karena Adryan tidak mengetahui bahwa selama ini dia sebenarnya tidak memiliki adik. Karena Adryan tidak tahu bahwa Sersi hanyalah anak angkat John dan Savira yang mereka adopsi dari panti diperbatasan dekat desa.


****


Malam mulai mendekati tengah malam, keheningan malam membuat suasana terasa sunyi dan sepi menemani Adryan yang kini belum tertidur juga.


Dia merasa gelisah tidak bisa tidur, karena memikirkan tentang kehidupannya yang terasa berantakan akhir - akhir ini. Dia frustasi dengan ini semua hingga membuatnya merasa sedih sangat. Dan terpuruk putus asa sekali.


Hingga Adryan yang sedang terdiam melamunkan nasib dirinya, tiba - tiba mencium bau benda yang terbakar yang tercium oleh hidungnya. Adryan pun mengerutkan alis heran, bau gosong apa ini. Apa ayah atau ibu sedang memasak di dapur tengah malam begini.


Akhirnya karena penasaran dengan bau gosong yang makin merajalela memasuki indra penciumannya serta muncul kepulan asap dari balik pintu kamarnya, maka Adryan pun berpindah ke kursi roda berniat untuk mengecek berasal darimana bau gosong ini.


Sesudah dia berhasil duduk di kursi rodanya, Adryan pun membuka pintu kamarnya dan apa yang dia lihat membuat dia terkaget dan.


"Ayah ibu, lemari tv terbakar. Gorden terbakar habis, bangun ibu ayah!!" Teriak Adryan panik melihat api yang sudah membesar membakar lemari tv yang tak jauh dari kamarnya. Sudah merambat ke gorden dan barang - barang lainnya.


Terdengar suara grasak-grusuk dan suara bedebum pintu dari arah belakang rumah membuat Adryan terperanjat kaget, dia merasa bahwa ada yang sengaja membakar rumah ini. Tak lama kemudian, John dan Savira keluar menghampiri Adryan yang masih saja terpaku di depan kamarnya duduk dikursi roda karena terkesima.


"Adryan!!" John berteriak menghampiri anaknya itu.


"Syukurlah kamu tidak apa apa" ucap Savira mengelus kepala anaknya.


"Ayo kita harus segera pergi, api sudah menyebar. Sebelum membakar pintu, kita harus keluar. Kalian tunggu disini, ayah akan bawa dulu selimut basah untuk menutupimu Adryan. Savira kamu tunggulah disini."


Savira mengangguk dan memegangi kursi roda Adryan anaknya, sedangkan John masuk ke dalam Adryan untuk membasahi selimut untuk menutupi Adryan melindunginya dari hawa panas api.


John datang kembali kepada Adryan dan Savira lalu langsung menyelimuti Adryan, dan istrinya.


"Ayo bergegas keluar, api sudah besar. Kita ke depan semoga pintu depan." ucap John lalu memberikan instruksi kepada Savira untuk mengikutinya sambil mendorong kursi roda Adryan.


Namun saat sampai di depan pintu, mereka dikejutkan dengan keadaan yang mereka tidak duga. Ternyata di depan pun pintu sudah terbakar, dan beberapa barang lainnya juga sudah terbakar atap juga mulai berjatuhan membuat langkah mereka mundur untuk menghindari benda benda yang berjatuhan dari atap sana.


"Bagaimana ini, kita terjebak. Rumah ini seperti dibakar dengan sengaja John. Aku takut ini ulah pamanmu lagi! Kita harus bisa keluar John aku tidak mau mati sia sia begini!" teriak Savira pada suaminya.


"Entahlah, tapi yang pasti jika benar ini perbuatannya sangat sungguh keterlaluan. Padahal perusahaan sudah kuberikan sepenuhnya, dia masih saja mendendam."


"Ayo John, bawa kita keluar dari sini. Aku sudah sesak, asap dimana mana dan Adryan sudah pingsan. Kita harus bawa dia ke rumah sakit." Ucap Savira sambil menangis bingung bagaimana mereka keluar dari situasi yang membahayakan ini.


"Iya, kita coba jalan belakang sekarang. Ayo cepat!" ucap John mengambil alih mendorong kursi roda Adryan dan melesat menuju dapur diikuti istrinya Savira.


Namun naas ketika baru saja mereka sampai ke dapur, tabung gas mereka meledak hingga membuat John, Savira, dan Adryan yang sudah pingsan kaget. Ledakan itu membuat api semakin besar dan asap semakin banyak, dada mereka berdua sudah sesak kehabisan napas. Savira, yang sudah kehabisan oksigen pingsan sesaat ledakan itu terjadi.


Membuat John sedih dan merengkuh tubuh istrinya yang tergeletak di lantai.


"Savira.. savira.. bangunlah! Savira!!" Teriak John berusaha membangunkan istrinya yang sudah pingsan berat akibat menghirup terlalu banyak asap.


John yang berputus asa tidak bisa keluar dari rumah ini, karena seluruh ruangan dan bagian rumah sudah hampir terbakar sepenuhnya. Memutuskan untuk mendorong Adryan ke kamar mandi di dapur dan membasahi selimut itu, untuk mencegah hawa panas merasuki tubuh putranya.


"Semoga kamu bisa selamat Adryan, selimut basah ini akan menahanmu sebelum terbakar. Jalan sudah tertutup api, maafkan ayah!" Ucap John disela sela tangisnya.


John pun menutup pintu kamar mandi itu, dan menghampiri istrinya berniat untuk membawanya ke depan kamar mandi yang dia gunakan untuk Adryan. Sialnya, sebuah kayu dari atas jatuh dan mengenai John. Dia pun tertindih dan sebagian bajunya terbakar, kesadarannya mulai hilang akibat rasa panas yang menjalar dipunggungnya. Lambat laun pandangannya mulai kabur, dan dia melihat istrinya masih juga belum membuka mata hingga John terpejam sepenuhnya.


Api pun semakin lahap membakar semuanya, hingga pemadam kebakaran berdatangan dan berhasil memadamkan api. Ketika pemadam kebakaran mengecek puing puing rumah, tak sengaja salah satu petugas menemuka Adryan di kamar mandi dapur. Beruntungnya Adryan masih diberi hidup, hanya saja dia dalam keadaan pingsan, beruntung berkat John menyelimutinya dengan selimut basah dia tidak sepenuhnya terbakar. Hanya kursi rodanya yang terbakar sedikit bannya, dan bagian bawah kakinya.


Para petugas pun berlarian membawa Adryan ke mobil ambulance untuk membawanya segera ke ruang UGD Rumah Sakit memberikan pertolongan pertama.


Flashback selesai.


________


"Sersi, aku jemput kamu besok di depan apartemen jam 9 pagi. Besok saja kita temui papah, kita pulang dulu saja sekarang. Aku ingin kau membaca dulu berkas yang harus kamu hafal besok." kata Alex.


"Iya, aku akan menghafalnya tuan" jawab Sersi.


"Apa katamu!?".


"Eh, iya Alex" Sersi lupa dia harus membiasakan diri merubah panggilan dan bahasa mereka.


"Tenangkan dirimu, berlatihlah berakting. Aku ingin papah tidak curiga dengan sikapmu, kita harus benar-benar terlihat seperti kekasih. Jangan sampai papah curiga, bahwa kita hanya sandiwara. Mengerti?".


"Iya Alex, aku mengerti." Sersi menjawab lesu dan pasrah.


"Oke, persiapkan dirimu.".


"Iya..".

__ADS_1


Alex dan Sersi pun keluar dari restoran Verge dan tidak jadi untuk bertemu Alden untuk sekarang ini, Alex pikir ini terlalu cepat dan mendadak. Dia akan membuat drama terlebih dahulu, demi membuat agar terlihat seperti nyata asli dan natural.


Samuel membukakan pintu untuk tuannya Alex dan Miss Sersi. Hari sudah menjelang sore, ketika mereka pulang. Dalam perjalanan menuju apartemen Sersi, hanya diisi dengan keheningan dan diam tidak saling mengobrol. Sersi yang merasa serba salah dan canggung, sedangkan Alex sedang sibuk memikirkan rencana rencana yang akan dia luncurkan setelah ini.


__ADS_2