
Siang ini Alex dan Sersi pergi ke kantor bersama, karena mereka membuat kesepakatan baru. Bahwa Sersi boleh bekerja dengan alibi akan mempelajari bisnis supaya papah mertuanya bangga.
Namun ketika mereka berhasil berada di kantor, dan Sersi tengah memakan makanannya dengan lahap seseorang dari masa lalu Alex muncul dan menampakkan dirinya lagi setelah menghilang dan mengkhianatinya.
Suara dentingan sepatu high heel yang dikenakan perempuan itu membuat suasana hening menjadi sedikit berisik.
Namun ketika wanita itu masuk ke dalam, membuat Alex terdiam dan raut wajahnya sulit ditebak. Seperti menahan amarah dan rindu secara bersamaan, dan Sersi hanya diam karena tidak tahu siapa wanita cantik itu yang sedang berjalan menuju meja suaminya. Alexander.
Alexander terkejut ketika melihat sosok itu, berbagai kepingan mulai melintas di otaknya.
"Ellea." ucap Alexander terkejut.
"Iya ini aku. Bagaimana kabarmu sekarang?" ucap Ellea langsung duduk di kursi depan meja Alexander tanpa disuruh.
Membuat Alex menggeram dalam diam, marah, kesal, dan semuanya campur aduk. Mengapa dia harus ada diantara dirinya dan Sersi, wanita yang sekarang sudah menumbuhkan benih cinta dihatinya walaupun tanpa dia sadari.
"Mau apa kau kesini? Apa kau masih punya muka Ellea, setelah apa yang kau perbuat padaku dulu!" ucap Alexander dingin kini raut wajahnya datar tak memasang ekspresi apa pun.
"Hey c'mon. Aku kesini hanya bertanya kabarmu, karena aku mendengar kamu sudah menikah. Lagipula, aku dulu salah memilih, dia sudah mencampakanku. Apa kita tidak bisa seperti dulu lagi?" jawab Ellea dengan enteng dan angkuh. Bersikap seolah olah dia tidak melakukan kesalahan besar.
"Kabarku sangat baik tanpamu! Dan kamu berharap kita masih bisa menjalin hubungan, tentu saja tidak akan bisa. Aku sudah memiliki istri, tidak sepantasnya kau bertanya itu padaku Ellea. Kau mengkhianatiku dulu, kau lebih memilih pria kaya tua dibanding aku. Karena aku tidak punya uang banyak kan!!" ucap Alex menggebu - gebu sambil menggebrak meja hingga membuat Sersi kaget ditempatnya.
Dia mendengarkan semuanya dari awal, Sersi sekarang tahu bahwa wanita cantik ini adalah mantan kekasih suaminya. Pantas saja, dia tidak menikah menikah mungkin masih cinta dengan gadis itu. Karena ya dari segi manapun wanita itu terlihat sangat cantik menurut Sersi, tapi tingkah lakunya saja yang kurang baik menurutnya.
Tapi Ellea yang mendapat gebrakan keras dimeja itu tidak kaget dan bergeming sedikit pun, malah tersenyum seolah semuanya hanya baik - baik saja.
"Oh iyakah? Apa gara gara aku kamu jadi sosok yang tidak percaya cinta lagi. Tidak pernah berpacaran dengan wanita manapun. Ayolah, let it go Alex. Itu sudah bertahun lalu " Ucap Ellea pada Alexander.
"Itu bukan urusanmu! Pergilah jika tidak ada hal yang harus dibicarakan lagi.!!" Bentakan Alex pada Ellea yang menatapnya tajam.
"Baiklah baiklah, aku pergi. Aku akan pergi, tapi nanti malam datanglah ke restoran bridge. Disana aku akan melakukan perjamuan, pukul 8 ya. Bawa istrimu sekalian." ucap Ellea sambil berjalan menjauhi meja Alex.
Sersi yang melihat itu hanya 'sabar’ saja mendengarkan semua perkataan apa yang mereka katakan. Hatinya sedikit perih, ketika tahu bahwa wanita cantik itu adalah mantan pacar suaminya dimasa lalu, membuatnya merasa cemburu. Namun dia menggelengkan kepala, dan menepis rasa panas yang menjalari hatinya itu.
'buat apa kamu cemburu? Kamu cuma istri palsunya Sersi, sadar! Oke' batin Sersi mengingatkan.
Dia pun tidak melanjutkan acara makannya yang tadi sedang semangat, mendadak moodnya hilang nafsu makannya juga jadi hilang seketika. Walaupun dia merasa tidak pernah mencintai bosnya si pria diktator itu, namun hatinya sedikit perih mengetahui bahwa mantan dari suaminya itu sudah kembali.
"****!" umpat Alexander dari mejanya. Mengacak rambutnya frustasi.
Sersi yang melihat dan mendengar hanya diam, takut juga melihat Alexander sedang marah - marah seperti itu. Seperti singa yang mengaum kelaparan, dia tidak bersuara atau bergerak sedikitpun hanya fokus mengerjakan pekerjaannya dalam diam. Untuk menjaga agar dirinya tetap aman.
*******
Alexander POV
"****!".
Aku frustasi dengan ini semua, setelah sekian lama dan bertahun aku berusaha menyembuhkan luka hatiku. Mencoba melupakan nama 'Ellea' dihatiku, mengapa dia kembali lagi disaat aku sudah beristri.
Dan kenapa hati ini masih saja mengingatnya walaupun secuil. Tapi aku benci melihatnya sekarang, perbuatannya dulu membuatku sakit hati sekaligus meremehkanku. Sekarang aku sudah menjadi orang yang berbeda dan lagipula..
"Sersi.." panggilku kepada istriku yang sedang menyibukkan diri dimeja kerjanya. Ya sekretaris itu adalah istriku yang baru kunikahi kemarin.
"Ya, ada apa?".
"Aku tahu kamu pasti mendengar apa perkataan wanita tadi, bersiaplah nanti malam. Kita akan hadir ke sana." ucapku padanya mengingatkan dia agar nanti malam bersiap untuk menghadiri perjamuan makan malam yang diadakan oleh Ellea yang entah dalam rangka apa.
"Kita?!" ulangnya.
"Iya, pakailah gaun yang bagus. Jam 3 nanti kita pulang. Aku akan temani pilihkan gaun yang bagus untukmu nanti".
"I.. iya. Terserah kamu saja, aku ikut." jawabnya dengan wajah yang apa artinya itu dia enggan.
"Oke. Bekerja lagi saja, masih ada waktu untuk menyelesaikan ini terlebih dahulu." ucapku menyuruhnya untuk segera kembali ke meja kerjanya.
Dia pun hanya mengangguk dan berjalan lagi kesana. Terlihat pantat yang naik turun, ketika dia berjalan. Membuat tubuh seksinya semakin menggoda mata dan imanku, membangkitkan sesuatu yang sudah lama tidak..
'ah sudahlah. Aku tidak bisa untuk sekarang.' batin Alex berucap.
Waktu tidak terasa sangat berlalu dengan cepat, ketika aku mengecek sekarang sudah hampir memasuki pukul 3.
Aku bangkit dari kursi singgasanaku, dan berjalan ke meja kerja sekretaris itu. Istriku. Terlihat bungkusan makanan yang tadi dia pesan masih ada isinya, apa dia tidak jadi memakan itu? Kenapa? Bukannya tadi dia sangat menginginkan ini?
__ADS_1
"Sersi?" Panggilku padanya yang sedang mengetik sesuatu di layar komputer.
"Iya, " jawabnya singkat.
"Kita berangkat sekarang ke butik. Untuk mencari gaun yang akan kamu pakai nanti malam, ayo!" ucap Alexander.
"Iya, sebentar aku merapihkan ini dulu dan membereskan barang barangku." jawabnya.
Aku memperhatikan dia dengan seksama, jika dilihat lihat dia ini sangat cantik juga. Kecantikannya setara dengan artis dan model di film film besar. Aku tidak memungkiri karena dia berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang yang luar biasa, penuh misteri tapi ini sungguh menarik bagiku.
"Aku sudah selesai." ucapnya menyadarkanku dari lamunan indahku.
"Oke, ayo kita turun." kataku kepada dia. Dia pun mengekoriku dibelakang.
Sebenernya aku ingin memegang tangannya dan menariknya pelan ke sampingku, agar kami berjalan berdampingan. Tapi mungkin dia enggan karena merasa pernikahan ini hanyalah kawin kontrak. Terlihat dari tingkah lakunya yang selalu membuat jarak denganku.
Apa aku orangnya sejahat itukah?
******
"Tidak jangan itu, itu terlalu mengekspos punggungnya. Sampai ke batas bokong itu, aku tidak mau. Pilihkan yang lain untuk istriku!" perintahku pada pemilik butik ini langsung padanya.
"Baik Tuan, kami akan menunjukkan gaun yang lebih tertutup. Mari Nona, kita coba lagi yang lain."
"Ada apa denganmu? Seksi sedikit kan tidak apa apa, tubuhku bersih Alex. Aku lelah harus bolak balik ganti baju daritadi!" omel Sersi pada Alex yang sekarang adalah suaminya.
"Tidak boleh, aku tidak ingin kau mempertontonkan tubuhmu ke banyak orang. Sudahlah sana ganti saja." jawab Alex dengan santai.
"Iya, aku ganti SEKARANG!" Dia mengeraskan ucapannya yang terakhir. Mungkin dia tidak terima dengan pendapatku, aku tidak ingin dia memamerkan kemolekan tubuhnya. Tubuhnya yang seksi itu hanya aku saja yang melihatnya.
Tak lama kemudian, dia keluar kembali dari ruang ganti dan telah memakai gaun yang lebih tertutup sekadarang. Namun tetap elegan dan mewah, plus feminim. Tubuhnya dibungkus dengan bagus, oleh gaun ini. Dia terlihat sangat cantik.
"Ya ini lebih bagus dan cocok. Ambil saja yang ini." Ucapku pada mba - mba karyawan butik.
Setelah membayar semua nominal belanjaanku, aku menghampiri wanita itu. Ya wanita itu istriku, aku mungkin harus bersikap lebih seperti suami sungguhan.
"Alex!?" Panggil Sersi wanitaku.
"Ya aku ada disini."
"Keputusanku sudah bulat. Tidak bisa dibantah." potongku segera takut dia ngomong lagi. Membuatku pusing kepala saja.
Dia menarik nafas panjang, seperti pasrah dengan apa yang aku perintahkan. Ternyata aturan yang kubuat untuk pernikahan ini sedikit manjur ya walaupun masih ada raut terpaksa yang dia tunjukkan tapi tetap aku yang menentukan kan?
Kami pun memasuki mobil Limousine Hitam ini, untuk melaju menuju apartemen aku untuk bersiap siap mempersiapkan segala sesuatu untuk perjamuan Ellea nanti malam.
*****
BRIDGE RESTAURANT
Riuh ramai orang yang datang ke perjamuan yang Ellea adakan katanya. Namun dia tidak nampak di seluruh penjuru, ataupun bercengkerama dengan yang lain. Ketika aku dan istriku datang, aku tidak melihatnya sebatang hidung pun.
Semua mata menatapku, terutama perempuan. Ketika aku dan Sersi memasuki restoran ini. Kebanyakan dari mereka mengedipkan mata kepadaku, mencoba merayuku dan menggodaku. Apa yang berada dalam pikirannya? apa wanita itu tidak memikirkan bahwa aku sudah menikah. Bahkan aku sudah mempostingnya ke publik. Tapi..
'eh ada apa denganku?' aku merasa aneh dengan diriku
Terlihat dari kejauhan, Ellea berjalan ke arahku dan istriku dengan masih memasang wajah yang ramah dan bersahabat. Tapi hatinya entah aku tidak tahu.
"Hai Alex, selamat malam akhirnya kamu datang juga memenuhi undanganku."
"Iya. Aku hanya mengantar istriku."
Tetapi wanita itu malah menatap sinis pada Sersi istriku dan tersenyum miring ke arahnya. Aku curiga dengan ini semua, aku takut dia memiliki rencana jahat yang tidak aku duga.
"Ayo, perjamuan ini aku adakan karena kamu tahu toko yang besar disana. nah disana aku akan memulai kembali dari nol bisnisku jualan makanan dan minuman." Ucap Ellea memberitahukan bahwa perjamuan ini sebagai pembukaan pertama bisnis barunya disini.
"Iya, hebat ya kakak. Bisa jadi pengusaha di usia muda." Kata Sersi pada Ellea.
"Aku juga dari kecil sudah bermain dengan bisnis jadi aku sangat paham." Celetuk Alexander pada Sersi.
"Hmm iyaaa aku tahu," jawab istriku sambil memasang raut wajah yang entah.
"Sersi, gaunmu sangat bagus. Seharusnya itu berharga mahal bukan?" Tanya basa basi Ellea pada wanitaku.
__ADS_1
"Hmm iya terimakasih, suamiku yang membelikannya untukku." jawab Sersi pada Ellea. Dia menyebutku dengan sebutan suami.
Entah kenapa, aku merasa senang dia menganggapku sebagai suaminya. Ya maksudku, aku merasa diakui. Walaupun aku sadar ini sandiwara yang aku buat, tapi mendengarnya dia menyebutku sebagai suaminya ada kebahagiaan tersendiri yang aku rasa sepertinya.
"Hmm iya, karena kamu tidak akan mampu membelinya. Aku tidak menyangka, bahwa Alex akan menikahimu yang hanya sekretaris. Kamu sangat beruntung ya!" timpal Ellea pada wanitaku.
Terdengar tidak sahabat nadanya, seperti meremehkan istriku dan merendahkannya. Juga ada nada tidak suka pada wanitaku sepertinya. Aku bisa melihat gelagat yang tidak bagus dari dirinya.
Sersi hanya tersenyum pada akhirnya dia tidak menjawab perkataan Ellea sepatah katapun, mungkin itu lebih bagus karena dia membuat Ellea tak membuka suara lagi.
Alex POV End...
*****
"Hmm iya, karena kamu tidak akan mampu membelinya. Aku tidak menyangka, bahwa Alex akan menikahimu yang hanya sekretaris. Kamu sangat beruntung ya!" kata wanita itu Ellea pada Sersi.
'sialan! Dia sungguh berniat akan mempermalukanku dihadapan Alex! Wanita laknat.' batin Sersi mengumpat merasa kesal dengan tuduhan itu.
Siapa juga yang mau menikah dengan pria diktator ini, dan gaun pun dia sanggup membelinya. Dia bisa berhemat atau apapun, tidak serendah itu dirinya. Namun walaupun dihatinya bergejolak rasa amarah, pikirannya tetap memakai logika. Percuma saja jika dia meledak - ledak disini, dia akan lebih malu nantinya. Lebih baik diam itulah yang paling tepat.
Akhirnya Sersi hanya tersenyum ramah, tak menjawab apapun dari Ellea. Hingga membuat wanita itu mati kutu sendiri dan tak membuka suara apapun lagi. Hingga..
"Nikmatilah makanan dan minumannya ya, aku harus menemui rekan - rekan bisnisku. Kalian cobalah, aku kesana dulu." ucapan Ellea pada Sersi dan Alex.
Kemudian dia langsung pergi dari sana dengan sambil membawa satu gelas wine di tangannya. Sepeninggal dia, tersisa Sersi dan Alex yang masih berdiri mereka saling tatap satu sama lain. Karena mereka bingung harus apa saja yang mereka lakukan disini.
"Kamu mau makan sesuatu Alex? Aku akan kesana mencicipi salah satu makanan disana??" tanya Sersi pada Alex yang masih diam dan terus memandangi kemana Ellea pergi.
"Tidak, aku minum saja. Ayo aku antar kamu kesana, aku tahu kamu tadi tidak menghabiskan makananmu dikantor. Makanlah, ayo kita kesana." ajak Alex pada Sersi.
Sersi pun hanya nyengir dan ikut kemana Alex berjalan membawanya ke tempat meja panjang yang berderet beraneka macam ragam makanan dan minuman yang tersedia. Sersi mengambil beberapa dan memakannya, hummm sangat enak meskipun makanan ini dia tidak tahu makanan apa dan berasal dari mana. Tapi rasanya its so yummy.
Alex yang hanya mengambil minuman anggur, terus memperhatikan wanitanya yang telah menjadi istrinya itu. Memperhatikan ekspresi wajahnya dan semuanya ketika dia sedang makan, Alex pikir terlihat lucu. Ada ada saja, bisa bisanya makan sambil senyam senyum sendiri. Pasti dia terlalu menghayati makanan, pikirnya.
"Apakah menurutmu ini Enak?" Tanya Alex pada Sersi yang sedang melahap kepiting merah.
"Iya, aku suka seafood dan aneka makanan mie. Kalau sudah ketemu begini aku tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menghabiskannya. Apa kau masih memiliki waktu senggang? Jika buru - buru aku tidak akan makan lagi." ucap Sersi masih mengunyah makanan dimulutnya. Sungguh dia merasa bahagia sekarang, makan sepuasnya makanan yang dia suka. Ternyata tidak buruk juga pergi ke perjamuan ini.
"Tak apa, habiskan makananmu dulu. Baru setelah itu kita pulang, sepertinya dia pun tidak terlalu membutuhkan kita." ucap Alexander. Membiarkan Sersi puas dulu memakan makanannya. Dia tidak tega untuk mengajaknya pulang, terlihat sepertinya dia sedang senang hati tidak ingin membuatnya menjadi badmood.
"Terimakasih, hanya makan ini saja kok. Sebentar ya!" jawab Sersi tersenyum tulus pada suaminya yaitu Alexander tanpa sadar.
Alexander yang melihat kepolosan dari wajah Sersi serta senyum tulus yang baru dia lihat sekarang, membuat hatinya terasa tak karuan. Ternyata senyuman tulus yang ditujukan kepada dirinya, membuat dirinya merasa meleleh.
'dia sangat lucu ketika memakan makanan yang dia sukai, aku harus cari tahu apa saja yang dia suka sepertinya' batin Alexander bergumam dan tersenyum jua melihat tingkah laku lucu Sersi.
Selang 15 menit, Sersi selesai menghabiskan makanannya. Dia terlihat seperti mengantuk, karena malam mulai menjelang larut dan perut sudah kekenyangan.
"Sudah selesai acara makanmu? Kita pulang sekarang ya!?" tanya Alexander yang dari tadi setia menunggui istrinya ini.
"Iya aku sudah kenyang sekali, ayo kita pulang. Aku ingin segera tidur." jawab Sersi kemudian bangkit dari duduknya dengan wajah yang sudah mulai layu.
Alexander ikut bangkit dan menyimpan gelasnya, kemudian mengikuti Sersi dari belakang mengejar langkah istrinya itu yang sudah lamban mungkin karena terlalu banyak makan yang membuatnya menjadi mengantuk berat begini.
"Hati - hati disini banyak orang, aku bantu kau berjalan. Kamu terlalu banyak makan, membuatmu menjadi mengantuk." ucap Alex kini berdiri disamping Sersi dan mendampingi jalannya. Karena Sersi berjalannya sudah lemah dan tidak fokus sempoyongan hingga membuat Alex khawatir dan membantunya berjalan.
Sersi tak menjawab apapun, hanya menunduk lemah. Dirinya merasa lemas sehabis makan, ditambah rasa kantuk yang sangat luar biasa. Entah kenapa tubuhnya terasa lelah tanpa sebab?
Padahal dia tadi fine fine saja, sehat, bugar dan fit. Tapi kenapa sekarang dia merasa sangat mengantuk sekali? Ingin segera sampai rumah dan pergi tidur saja rasanya.
Alex membantu Sersi masuk ke dalam mobil dengan hati - hati, setelah berhasil masuk disusul Alex yang naik ke dalam mobil sekarang. Samuel menutup pintu, ketika kedua majikannya telah masuk. Samuel masuk ke bilah kemudi, dan melajukan Limousine mewah itu di kegelapan malam.
Sedangkan Sersi kini matanya terpejam, tak kuat rasanya menahan kantuk ini. Dia memejamkan mata, dan semuanya menjadi gelap. Dia tidak ingat apa apa lagi, hanya kegelapan. Saat Sersi memejamkan mata Alex menarik kepalanya agar bersandar dibahunya, membuatnya merasa nyaman.
Tapi Alex merasa ada kejanggalan disini?
"Samuel, hubungi dokter keluarga. Aku mau Max ke rumah malam ini memeriksa istriku." ucap Alex pada Samuel.
"Baik Tuan, saya nanti akan menghubungi Tuan Max." Jawab Samuel serius.
"Hmm, iya jangan sampai aku menunggu."
"Baik Tuan." jawabnya Samuel.
__ADS_1
'aku tidak akan membuatmu dalam bahaya, wanita itu pasti merencanakan sesuatu ketika mendengar berita pernikahanku. Kita lihat siapa disini yang akan kalah' batin Alex berkata diiringi raut wajah dingin yang terpancar dari wajahnya.