Terjerat Pesona Sang Sekretaris

Terjerat Pesona Sang Sekretaris
Part 5 - Panggilan Interview Kerja


__ADS_3

Semburat berwarna merah mulai terpancar dari ufuk timur sana. Cuaca cukup bagus hari ini, kemungkinan akan sangat cerah. Sersi yang sedari tadi sudah bangun, dan menyibukkan diri dengan bersih - bersih apartemen memutuskan akan pergi berkeliling di sekitar kota London. Pikiran dan hatinya berkata


'I am need healing'. Dia jenuh menunggu kabar dari para perusahaan yang tak kunjung membawa kabar baik baginya, jadi Sersi butuh hiburan.


Selesai semuanya, Sersi langsung mandi pagi dan memilih mengenakan outfit santai. Memakai baju kaos panjang oversize, celana jeans biru, dan sepatu kats.


Sersi berkeliling menikmati pemandangan kota London yang indah, hati dan pikirannya serasa melayang karena bisa tinggal di kota impiannya dan jauh dari orang - orang yang selalu membuat moodnya rusak. Disini pikirannya lebih tenang dan lebih nyaman.


Sersi pergi ke beberapa tempat wisata yang terindah di London, yaitu pergi ke Westminster Abbey, dan British Museum. Banyak orang dari luar negara Inggris juga yang berkunjung kesana. Ketika sedang berada di British Museum, ponselnya berbunyi.


Sersi pun segera mengambil ponsel yang ada didalam tas slingbagnya dan langsung mengangkat telepon dari Cindy.


[Ya, hallo Cin?] ~ ucap Sersi pertama kali ketika sambungan telepon berhasil tersambung.


[Ya hallo, bagaimana kabarmu sekarang Sersi? Sudah seminggu ini kamu tak menelpon atau mengirimiku pesan?] ~ Cindy.


[Kabarku baik, dan ya sorry. Aku setiap hari di apartemen hanya makan, tidur, writing seperti itu saja siklusnya. Aku sampai saat ini belum bekerja, aku belum menerima kabar apapun disurelku.] ~ jawab Sersi


[Ya ampun, yang sabar ya. Aku kira kamu sudah mendapatkan kabar bagus tentang pekerjaanmu, tapi gapapa mungkin hari ini kamu akan mendapat kabar baik. Aku yakin kamu pasti dapat kerjaan yang lebih baik daripada disini.] ~ kata Cindy.


[Ya aku harap begitu, semoga saja. Aku juga berharap seperti itu, rasanya sangat putus asa jika diam ditempat baru tanpa memiliki pekerjaan. Tabunganku juga sudah mulai menipis] ~ jawab Sersi menghembuskan nafas berat.


[Ya doa yang terbaik untuk kamu, jangan putus asa dong. Harus tetep semangat, kamu kan suka nulis di platform kan? Nah itu aja fokusin dulu, lumayan kan disana juga dibayar?] ~ kata Cindy memberikan semangat pada sahabatnya yang mulai merasa lesu dan putus asa karena tak kunjung mendapatkan kabar baik dari perusahaan yang dia lamar.


[Iya terimakasih ya cin. Iya sih, gajih dari sana lumayan untuk menutup kebutuhanku setiap bulan. Ya tapi tetap saja pas pasan, karena kan bayarannya tidak sebesar gajih kantor.] ~ ucapnya lagi.


[Hemm, berusaha lagi Ser. Aku yakin hari ini hoki, ya udah ya jangan sedih - sedih lagi.] ~ ucap Cindy.


[Hemm, ya. Tidak kok.] ~ jawab Sersi.


[Oke, ya sudah. Aku tutup dulu ya, kalo kamu sedang bermain diluar. Maaf mengganggu waktu bermain kamu ya, oke have fun. Bye, aku mau berangkat kuliah nih.] ~ kata Cindy.


[Iya, terimakasih Cin. Oke hati - hati. Bye] ~ jawabnya.


[Ya, Bye.] dan sambungan telepon pun terputus.


Sersi pun lekas menyimpan kembali ponselnya kembali ke dalam tas, dan berniat akan keluar dari museum dan mencari restoran terdekat untuk makan siang. Tidak terasa, waktu sudah hampir menjelang siang karena Sersi terlalu asyik dengan pikiran dan dunianya sendiri.


Sersi pun sesudah diluar gedung museum, menghentikan taksi dan menyuruh supir untuk pergi ke restoran terdekat. Dan 'Bengal Village' jadi tujuan Sersi, hanya itu restoran yang autentik dan terdekat dari museum. Dia tidak bisa memilih tempat yang lebih jauh, perutnya telah meronta minta diisi.


"Terimakasih pak, ini biaya taksinya kembaliannya ambil saja!", ucap Sersi pada driver taksi.


"Iya Nona, saya juga terimakasih!", ucap sang driver sopan.


Sersi hanya tersenyum, dan setelah itu Sersi langsung memasuki Bengal Village. Duduk di dekat jendela, dan memanggil pelayan lalu memesan beberapa makanan lumayan banyak dan satu kali hal yang wajib jika dia makan harus selalu ada 'hot chocolate'. Alias coklat panas.


*******


Sepulang Sersi dari acara healingnya, dia langsung pergi mandi karena merasa badannya yang sudah lengket. Selesai makan siang di Bengal Village, dia langsung pulang dan berniat akan membuat naskah novel yang harus dia update malam ini.


Setengah jam kemudian, Sersi selesai mandi dan sudah memakai pakaian santainya. Hanya kaus dan celana pendek, membuat tubuhnya terlihat seksi. Karena kaos dan celananya yang ketat. Sersi pun setelah selesai semuanya, mengambil leptop diatas meja dan membawanya ke atas kasur tempat tidurnya. Sersi akan melanjutkan naskah nya siang ini, lebih cepat lebih baik pikirnya.


Sebelum menulis naskah novelnya, seperti biasa Sersi pasti akan membuka dahulu sosial medianya, dan memeriksa e-mailnya. Untuk mengetahui perkembangan dirinya, diterima apa tidaknya kerja di perusahaan negara London.


Tetapi..


"Wah, ini ada e-mail masuk pagi tadi jam 10, dari AR Group!!", ucapnya sendiri kaget.


Sersi sedikit terbelalak, ketika melihat di kotak masuk e-mailnya ada e-mail yang berasal dari AR Group. Sersi penasaran apa isinya, dia diterima atau ditolak lagi kali ini. Tapi dia belum berani membukanya. Namun didalam hatinya, Sersi berharap semoga ini kabar baik untuknya.


Dengan memberanikan diri, Sersi mengklik tombol ENTER dan pesan e-mail pun terlihat. Sersi membacanya dengan serius dari atas sampai ke bawah, sampai dia merasa terharu akan e-mail yang baru saja dia baca barusan.

__ADS_1


"Mimpi apa aku semalam??", memasang wajah polosnya tidak percaya akan apa yang telah dia baca.


"Wah, akhirnya. Dewi keberuntungan berpihak kepadaku, AR Group kasih aku kesempatan untuk berkarir disana.. Aku harus layihan buat interview besok! Yeah harus!!", ucapnya sendiri menyemangati diri sendiri dan berusaha menepis grogi yang berlebih.


***


Keesokan harinya...


Suara alarm yang nyaring bergema diseluruh ruangan kamar Sersi. Dia pun akhirnya terbangun, dan segera mengambil ponselnya yang berada diatas nakas.


'WAKTUNYA INTERVIEW DI AR GROUP'


Pengingat itu terletak di layar ponsel Sersi, setelah alarm itu berbunyi. Sersi pun, dengan wajah ceria dan penuh harapan semoga interview hari ini lancar dan dia bisa keterima. Sersi pun bangun dari tempat tidur, dan langsung pergi mandi. Pagi ini dia mandi dengan air hangat, karena cuaca terasa dingin baginya.


Aroma strawberry menguar diseluruh ruangan kamar mandi, ketika Sersi menggosokkannya ke seluruh badan. Aroma strawberry ini berasal dari sabun mandi favorit Sersi yang sering dia pakai, begitu juga aroma shampoonya.


Setengah jam berlalu, Sersi selesai mandi. Dia pun membuka lemari dan mencari cari baju yang dia kira cocok untuk interview hari ini, Sersi ingin terlihat lebih menarik, dan cantik tetapi tetap mengedapankan kesopanan. Akhirnya dia pun memilih kemeja putih polos dibalut blazer hitam, dan rok span hitam selutut juga tidak lupa high heels merah menyala. Baru kali ini dia melihat dirinya seperti ini dipantulan kaca lemarinya, ternyata tidak begitu buruk penampilannya terlihat seperti perempuan lainnya. Baru kali ini Sersi memakai baju setelan kantor yang menurutnya feminim, biasanya dia hanya memakai baju kaos dan setelan jeans saja. Karena dulu waktu di sicily, dia hanya bekerja di sebuah toko saja sambil kerja di tempat hiburan malam sebagai pelayan sebagai sampingan. Hidupnya kurang mulus disana, walaupun hidup bersama dengan 'keluarga'. Tapi bagi Sersi, kata 'keluarga' itu tidak lagi seindah dulu.


Selesai semua dengan pakaian, tatanan rambut, juga polesan makeup natural diwajahnya sudah rampung dan barang yang akan dia bawa pagi ini ke kantor AR Group. Sersi pun pergi ke arah dapur untuk sarapan terlebih dahulu, dan dia membuka kulkasnya melihat akan masak apa dia pagi ini untuk sarapan.


Sersi pun hanya mengambil spaghetti instan dan menyeduh coklat panas sebagai menu sarapannya pagi ini. Lebih menghemat waktu pikirnya.


Tidak butuh waktu lama sekitar 15 menit, sarapannya sudah jadi dan dia pun melahap sarapannya dengan perasaan membuncah. Tetapi tegang juga, Sersi mengira - ngira nanti interview akan seperti apa dan dengan siapa dia di interview.


Karena Sersi pun tahu tentang perusahaan AR Group ini dari laman internet yang ia baca, bukan tidak mungkin Sersi tidak mengetahui. Mengingat AR Group perusahaan terbesar ketiga di London ini. Menurut artikel yang dia baca di internet tempo lalu, pemilik sekaligus CEO AR Group ini dikatakan masih sangat muda dan tampan. Jujur, itu membuat Sersi penasaran. Setampan bagaimana sih orangnya, sampai netizen memuji dia dan bahkan media pun sama. Karena tidak disertai dengan foto sang CEO, membuat Sersi penasaran juga.


Tak terasa Sersi hampir selesai menghabiskan sarapannya, tinggal coklat panasnya saja yang belum dia tenggak habis. Sersi pun menenggak coklat panasnya sampai tandas, lalu mengambil ponselnya dari tas untuk memesan taksi online. Dia tidak mau terlambat dihari dimana dia akan di interview, dia tidak ingin merusak image awalnya. Dia harus taat aturan dinegara orang ini, mungkin ke depannya dia juga akan beradaptasi dengan hal lainnya.


*******


Sersi turun dari taksi dan segera membayar ongkos sesuai nominal yang tertera di argo. Dengan langkah percaya diri dia pun berjalan memasuki gedung kantor AR Group itu. Setelah di lobby kantor, dia menghampiri resepsionis yang waktu pertama kali Sersi titipkan lamaran pekerjaan.


"Emm, itu saya kesini karena menerima e-mail. Saya disuruh datang jam 9 pagi untuk di interview mba.", kata Sersi menjelaskan kedatangannya kesini.


"Oh baik, Nona bisa pergi ke lantai paling atas. Yaitu lantai 9, Nona temui saja pak Samuel Harris. Untuk lebih jelasnya, nanti Nona akan diberitahu oleh beliau",


"Baik mba, terimakasih!", jawab Sersi sopan. Dan langsung berjalan menuju lift, dan memencet tombol panah bawah.


Tidak lama kemudian, pintu lift pun terbuka. Sersi pun masuk ke dalam lift dan memencet tombol angka 9 disana. Sesampainya di sana, Sersi berjalan menyusuri lorong yang mengarah ke ruangan CEO. Disepanjang perjalanan menuju ruangan Pak Samuel Harris, Sersi melihat ke sekeliling kantor dan merasa takjub.


'Tempat kerjanya aja bagus banget begini, apalagi gajinya ya?", Batin Sersi bersuara.


15 menit dia berjalan menyusuri lorong, terlihat di depan ada juga orang - orang yang sedang berkumpul. Sersi pikir, mungkin mereka juga dipanggil untuk di interview. Kebanyakan perempuan yang berada disana, dan penampilannya pun seksi juga cantik. Membuat Sersi agak minder melihat mereka, Sersi pun mempercepat langkahnya dan ikut bergabung disana bersama yang lain.


"Maaf kak, kakak juga mau interview ya? Harus disini nunggunya?", tanya Sersi pada wanita berambut blonde yang sedang fokus pada ponselnya.


Wanita itu pun mendongak dan tersenyum ramah.


"Iya, kamu tunggu disini juga. Kita menunggu sampai Pak Samuel keluar dari ruangan CEO, mereka sedang ada kepentingan dulu. Duduklah disini!", ucap wanita itu pada Sersi.


"Oh iya kak, terima kasih!", Sersi pun duduk disebelah wanita itu. Dan kini dirinya merasa tegang dan gugup secara tiba - tiba, ternyata saingannya banyak sekali. Dia takut harapannya lolos lagi.


"Emm, kenalkan namaku Selly", sambil menjulurkan tangannya ke Sersi.


"Aku Sersi", jawab Sersi sambil membalas jabatan tangan wanita berambut blonde itu yang ternyata bernama Selly.


Mereka pun melepaskan jabatan tangannya, dan kembali mengobrol ringan sambil menunggu Samuel keluar dari ruangan sang CEO. Sampai pada akhirnya mereka larut dalam obrolannya, Sersi pun agak merasa rileks karena mendapat teman pertamanya disini setelah hampir setengah bulan di London. Hingga..


Pintu ruangan CEO terbuka, dan Samuel keluar dari sana sambil membawa beberapa berkas ditangannya. Melihat Samuel pertama kali, sungguh membuat siapa saja terpukau. Sekretaris sekaligus orang kepercayaan Alexander ini memang tampan, dengan tubuhnya yang tinggi besar dan menebarkan aura ketegasan.


"Oke, kalian semua persiapkan diri kalian. Saya Samuel Harris, yang akan menginterview kalian hari ini, nanti sekretaris saya yang akan memanggil kalian satu persatu ke ruangan saya", ujarnya lalu langsung memasuki ruangannya.

__ADS_1


Setelah Samuel berhasil berhasil masuk ke ruangannya, Selly menyikut Sersi sambil tersenyum senyum. Membuat Sersi bingung, apa maksudnya. Melihat - lihat ke arah ruangan Pak Samuel.


"Ser, kamu lihatkan. Itu Samuel Harris kaki tangan perusahaan AR Group ini, wajahnya tampan sekali bukan. Laki laki yang berkerja disini selalu tidak pernah gagal, pasti selalu rupawan semuanya.. ", kata Selly.


"Apa kamu tahu rumor bahwa katanya CEO AR Group ini masih muda, lajang lagi? Kamu sudah tahu bagaimana dan siapa dia?", cerocos Selly pada Sersi dengan nada rendah. Selly tak ingin obrolannya diketahui orang lain.


"Emm, iya. Aku pernah baca di salah satu berita, CEO AR Group bernama Alexander Rudwig. Tapi aku belum tahu orangnya yang mana, karena di media tidak menampilkan berita beserta fotonya!?", jawab Sersi sambil mengedikkan bahu.


"Woah,, ternyata namanya Alexander. Sepertinya, CEO kita lebih tampan dari Pak Samuel ya kan. Aku jadi ingin melihat, semoga aja aku bisa lolos interview hari ini. Dan bisa kerja, biar bisa lihat bos besar secara langsung. Media hanya menutupi, karena CEO kita itu katanya tertutup orangnya", cerocos Selly kembali.


Sersi hanya ber 'oh' ria saja menanggapi setiap omongan dan omongan dari Selly. Melihat Selly yang cerewet dan terobsesi dengan cowok tampan, mengingatkannya ke Cindy. Sahabatnya pun memiliki kepribadian yang sama seperti Selly. Selalu 'kepo' alias ingin tahu dan cerewet badai.


"SELLY ANASTASIA", terdengar suara panggilan dari sekretaris pak Samuel.


Selly pun melihat ke arah ruangan pak Samuel, dan ketika melihat ada orang keluar darisana. Ia pun langsung berdiri dari duduknya, dan menepuk pundak Sersi.


"Aku pergi dulu ya, aku dipanggil giliran interview. Semoga berhasil kamu ya! Semoga kita bisa bekerja disini sama sama bye.. ", kata Selly terus berjalan masuk ke ruangannya Pak Samuel.


Sersi hanya menjawab dengan anggukan. Sersi pun selepas Selly pergi, mengambil ponselnya yang berada didalam tas slingbagnya. Dia mengirimkan pesan ke Cindy, dia lupa memberikan kabar baik pada sahabat lamanya ini.


To : Cindy


From : Sersi


[Cin, pagi ini aku lagi di AR Group. Mau interview kerja, kemarin aku dapet email. Doain ya semoga berhasil! Benar kata kamu, hari itu saat aku pulang ketika mengecek email ternyata aku mendapatkan kabar baik. Kamu peramal yang baik]


From : Cindy


To : Sersi


[Wah congratulations ya ser! Iya aku doain kamu semoga lolos, sama bisa keterima kerja disana. Wah gak nyangka aku, kamu bakalan kerja di kantor?!]


From : Sersi


To : Cindy


[Iya makasih ya, Cin. Aku juga gak nyangka, dari pelayan toko jadi pegawai kantoran begini. Ya semoga saja aku enjoy disini, semuanya memang harus dirubah kan!]


From : Cindy


To : Sersi


[Iya sih. Hmm, memang kamu harus bisa berubah demi masa depan kamu juga Ser. Buktikan bahwa kamu bisa hidup mandiri sendiri, sukses, dan wanita yang memiliki karir cemerlang. Semangat sayang]


From : Sersi


To : Cindy


[Sekali lagi makasih ya Cin supportnya!]


Chattingan pun berakhir sampai disitu, karena terlihat Cindy off dari keterangan status terakhir dilihatnya. Sersi pun menyimpan kembali ponselnya, dan kembali menunggu gilirannya untuk diinterview kerja. Sampai akhirnya.


"SERSI VILHAUC", Sersi mendengar namanya dipanggil.


Segera berdiri dari duduknya, dan menghampiri pintu ruangan Samuel. Dengan hati yang kembali tegang, dan gugup membuat wajahnya sedikit agak lesu. Tetapi, dengan percaya dirinya dia memutar knop pintu dan alhasil pintunya pun terbuka. Sersi pun perlahan mulai memasuki ruangan ini dengan perasaan yang tegang. Dia berjalan ke arah meja Pak Samuel.


"Silahkan duduk, Nona! Kita akan mulai interview, mana dokumen yang saya butuhkan?", ucapnya.


Sersi pun menyerahkan dokumennya, dan Samuel pun membacanya dengan seksama. Sampai pada akhirnya sesi interview itu pun dimulai.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2