
Cuplikan Kemarin ...
"Sersi, bangun berpakaian dan tidurlah dikasur jangan disini." kata Alex.
Sontak membuat Sersi menoleh, dan reflek menutup dadanya dan..
"Aaaaahhhhk!" Jerit Sersi, sambil menutupi dadanya dengan tangan.
"Kenapa kamu ada disini!!" teriak Sersi.
Alex dengan wajah datarnya, menjawab Sersi dengan santai. Walaupun, sebenarnya dia sedang menahan sesuatu yang membuat badannya panas dingin akibat pemandangan didepannya.
"Aku disini membangunkanmu, tadi kau tertidur disini. Bukan aku yang sengaja pergi kesini untuk melihatmu, jangan percaya diri dulu. Segera selesaikan mandimu, lalu makan dan pergi tidur. Jangan tidur dikamar mandi." ucap Alex lalu langsung pergi dari sana. Meninggalkan Sersi yang masih kaget dan terheran.
Dirinya tertidur?
Aissh, apa iya. Kalau benar dia tertidur, sangat memalukan sekali.
"Aduh! Kenapa sih harus ketiduran disini!" ucapnya sendiri merasa malu atas kejadian tadi.
_________
Sersi mengakhiri waktu berendamnya, dia cepat - cepat membersihkan badannya mandi di shower dengan memakai sabun aroma strawberry yang lembut dan manis. Perasaannya masih diliputi rasa malu, akibat tadi ketahuan Alex dia tertidur di kamar mandi.
Mana dia masuk lagi, pas dia lagi berendam.
Padahal tadikan dia naked, waktu mau berendam dia benar - benar tidak pakai apa pun.
Alex tadi melihatnya gak yah?
Tapi gak mungkin juga kan banyak buih sabun, yang menutupi?
Ah, bodolah. Jangan sampai aku ketiduran lagi di bathtub kedepannya. Memalukan!
Sersi menyelesaikan mandinya dengan cepat, dan segera meraih handuk. Kemudian berpakaian, dia mengeringkan rambutnya yang masih basah setelah memakai baju setelan pendek rumahan. Sersi berniat akan melanjutkan kembali tidurnya.
Jujur, dia masih merasa lelah juga ngantuk. Mungkin akibat penculikan itu, Sersi menjadi seperti ini.
Dia masih terbayang - bayang rasa sakit bagaimana disiksa tanpa belas kasihan.
Sersi kini sedang duduk, di meja riasnya. Memandang wajahnya yang cantik alami, dan berbentuk oval menambah pesona kecantikannya. Dia akan memakai perawatan rutinnya, yakni memakai serangkaian skincare setelah habis mandi dan akan pergi tidur. Agar menjaga kulit nya tetap sehat, kenyal, bersih dan glow and glow....
Namun, dari luar kamar terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan ke arah kamar yang sekarang Sersi berada. Dan ternyata sang pemilik kamar ini yang masuk, dia Alex.
Sersi kembali melanjutkan aktivitasnya, memakai pelembab ke wajahnya dan memakai bodylotion beraroma buah berry ke seluruh tubuhnya.
"Gak disambung tidurnya?" tanya Alex ketika dia duduk dipinggiran ranjang.
__ADS_1
"Tidak, ngantuknya hilang." jawab singkat Sersi.
"Baiklah, kamu makan dulu biar kamu tidak lemah dan lesu. Kamu belum makan, ayo makanlah. Mumpung buburnya masih hangat, dan lasagna sapi nya juga.." kata Alex sambil melonggarkan dasinya dan membuka kancing kemejanya.
"Kamu, gak ikut makan?" tanya Sersi ketika melihat ke arah nampan hanya ada semangkok bubur, sepiring lasagna dan air putih.
"Aku mau mandi dulu," jawabnya kemudian memasuki kamar mandi.
Sersi pun naik ke atas kasur, dan mengambil remote tv. Dia menyalakannya dan mencari channel yang menayangkan siaran yang menarik. Hingga dia menemukan sebuah channel yang menayangkan film romantis Turki, dia pun menontonnya sambil memakan hidangan makanan yang dibawakan Alex.
Terdengar suara air shower dari kamar mandi, yang menandakan bahwa Alex sudah memulai ritual mandinya.
"Ehmm, ini enak banget. Dagingnya banyak banget, jadi inget sama Kak Adryan. Dulu aku juga makan ini berdua sama kakak," ucap Sersi tiba - tiba jadi mellow teringat sang kakak yang kondisinya belum dia ketahui lagi karena jarang bertukar kabar.
Sersi pun teringat dengan Cindy, dia berniat akan mengirim pesan kepada temannya itu. Sudah lama juga dia tidak bertukar kabar apapun, selama 10 bulan ini. Tidak terasa, dirinya sudah hampir mau setahun tinggal di London. Dan tidak menyangka jadi istri seorang CEO kaya, ya walaupun cuma kontrak tapi seenggaknya fasilitas ini Sersi ikut merasakan.
"Ponselku dimana ya?" ucap Sersi sendiri sedang mencari ponselnya. Dia mengobrak abrik tasnya, dan akhirnya ketemu. Ponselnya terselip diantara kumpulan koleksi bedak Sersi.
Sersi menyalakan ponselnya, tak lupa sambil memakan bubur dan lasagna. Karena jujur dia sekarang merasa selalu lapar, entah kenapa. Dia membuka aplikasi LINE yang biasa dipakai untuk chatting dengan Cindy dan kakaknya di Sicilia.
To : Cindy
[Cindy, kamu lagi sibuk? Maaf ya aku kemarin tidak sempat membalas satu pun pesanmu. Kenapa kamu hanya membaca pesanku? Bagaimana keadaan Kak Adryan? Apa dia masih membutuhkan biaya yang lainnya?]
Pesan pun terkirim ketika Sersi menekan ikon enter di keyboard ponselnya. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya, menonton televisi acara kesayangannya hingga membuat dia serius dalam menonton.
Contohnya sekarang, Sersi yang sedang makan pun reflek menoleh ke Alex sedetik setelah keluar dari kamar mandi. Selama 5 menit, Sersi pun terpesona akan kegagahan tubuh bosnya ini.
'pasti hangat kalau tidur disana,' pikirannya membayangkannya jika dirinya bersender disana. Namun...
'ehh.. ehh.. apa apaan aku, mikir apa aku? Sersi sadar sadar, jangan liat! Jangan liat!' dalam batinnya berteriak - teriak.
Sersi menggeleng gelengkan kepalanya kuat, dan gelagat itu dilihat oleh Alex.
'dia kenapa geleng geleng sendiri? Aneh' ujar Alex dalam batinnya.
"Kau suka melihat tubuhku yang gagah ini ya?" tanya Alex membuat membuyarkan semua lamunannya.
"Siapa bilang? Kegeeran sekali, aku menoleh karena reflek saja! Huh." jawab Sersi. Berusaha tidak mengakuinya. Padahal ya tadi dia sempat terpesona, dan membayangkan kehangatan dari dada bidang dari seorang ALEXANDER.
"Hmm, bilang saja kalau suka. Tidak usah pura - pura, malu malu kucing. Kita kan sudah menikah, kamu mencobanya?" Alex menggoda Sersi yang sekarang wajahnya semerah tomat.
Entah itu kesal?
Atau malah menahan malu karena ya ingin merasakan?
"Mimpi!!" jawab Sersi
__ADS_1
"Hahaha.. " Alex tertawa renyah, dan diapun segera berpakaian.
Skip
"Kita mau kemana Alex?" tanya Sersi di dalam mobil.
Mereka sedang ada di dalam perjalanan singkat menuju pusat perbelanjaan, dengan didampingi oleh Samuel. Alex dan istrinya pergi ke Bicester Village untuk berbelanja.
Yang pasti Alex akan membuat Sersi terkagum kagum, karena dia pikir semua wanita pasti suka berlian. Yup. Alex akan membelikan satu set berlian cantik untuk istrinya itu Sersi, karena kini hati dan dirinya sudah mengakui bahwa dia mencintai Sersi. Alex selalu ingin membahagiakan Sersi dalam setiap waktu, walaupun Sersi belum mengetahui tentang ini.
Alex sengaja tidak mengatakan bahwa dia sekarang mencintai Sersi sepenuh hati, dan mendapat pengakuan cinta dari hatinya. Namun, dia menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan segalanya.
"Apa kamu suka perawatan Ser?" tanya Alex yang sedang memilih milih celana kerja.
"Perawatan apa?" tanya balik.
"Ya wanita biasanya selalu ingin melakukan perawatan rutin satu bulan sekali. Apapun itu medipedi, nyalon, atau facial. Kau mau?" tanya Alex.
"Engga, aku gak tertarik. Aku bisa perawatan sendiri, kan semuanya tinggal beli praktis pake sendiri lebih hemat." jawab Sersi pada Alex.
'hmm dia ini!' ucap Alex dalam batin.
Tak lama setelah mengitari mall, ketemu juga toko yang menjual berlian dan emas. Alex pun segera mengajak Sersi kesana, menggandeng tangannya mesra. Sersi pun mengikuti langkah Alex untuk masuk ke dalam toko.
"Selamat datang di toko kami Tuan," kata pengawai toko itu ramah. Alex menganggukan kepalanya.
"Ayo kita ke dalam, lihat - lihat perhiasan untukmu" kata Alex sambil tersenyum.
Kali ini senyumnya terlihat sangat tulus. Membuat Sersi pun merasakan perubahan dan perbedaan.
'kenapa aku merasa dia sangat tulus menatapku dengan penuh cinta. Ah tapi, jangan! Bisa saja dia begini karena sedang diluar!' batin Sersi berucap.
"Mba, ada perhiasan model terbaru bulan ini?" tanya Alex pada seseorang karyawan di toko berlian ini.
"Ada tuan, ini berlian terbaru di toko kami. Satu set berlian, yang terdapat batu ruby berwarna biru tua laut di bandul kalung dan cincinnya. Ini cocok untuk Nona, pasti akan terlihat cantik dan elegan." kata perempuan itu menyerahkan sekotak perhiasan itu.
"Humm, Sersi. Bagaimana kamu suka? Mau yang ini?" tanya Alex menoleh ke arah Sersi.
Tapi Sersi malah merasa aneh diperlakukan seperti ini, tidak biasanya dan karena apa jika Alex benar benar berubah?
"Perhiasan?" tanya polos Sersi.
"Iya, kamu tidak suka?",
"Bukan, aku suka. Tapi perhiasan ini untukku? Apa tidak terlalu mahal, jika membelikan ini untukku?" kata Sersi.
"Iya, perhiasan untukmu. Ya walau kita sudah menikah, tapi aku merasa aku harus memenuhi tanggung jawabku. Aku belum pernah membelikanmu perhiasan, ayo lihatlah mana yang kamu suka?" kata Alex tersenyum.
__ADS_1