
Beberapa hari kemudian...
Akhir pekan pun tiba, sore ini Alexander pulang dari kantor karena akan mengecheck bisnis di LexBlack yang dia bicarakan tempo lalu.
"Samuel, aku akan pulang dulu ke mansion. Kau siapkan helikopter, malam ini kita akan ke Italia. Hubungi Pierro, beritahu aku akan ke sana malam ini!", titah Alexander pada Samuel.
"Iya Tuan, saya nanti telepon dia. Tuan akan berangkat dari mana malam ini?", tanya sang sekretaris sekaligus bodyguardnya.
"Kita berangkat dari apartemenku, aku pulang ke mansion hanya untuk menemui adikku setelah itu berangkat kita ke LexBlack!",
"Siap, baik Tuan!".
Alexander pun, menaiki mobil sportnya ferrari biru tua yang mengkilap nan gagah yang sebentar lagi akan membelah jalanan. Sungguh fashionable. Selain memiliki mobil sejenis pajero, limousine, roll royce dan lainnya Alexander pun suka sekali dengan mobil sejenis ferrari. Dia melaju di jalanan yang cukup lengang dengan diiringi musik yang menemani kesendiriannya di mobil ini.
Setengah jam kemudian, Alexander sudah sampai di mansion keluarga Rudwig. Rumah yang mewah bak istana ini sungguh memanjakan mata siapa saja yang melihatnya, rumah yang besar nan megah menandakan betapa terhormatnya keluarga Rudwig. Hanya saja, rumah yang besar ini terasa dingin tidak ada kehangatan keluarga disana. Hanya kekosongan, kehampaan, dan keheningan tanpa adanya kehangatan seorang ibu disana. Hanya ada banyak pelayan dan pekerja yang ikut meramaikan mansion itu, terlebih lagi Tuan besar yaitu Alden sedang sakit dan berada dibawah pengawasan dokter. Membuat rumah megah ini semakin sepi.
"Selamat sore Tuan Muda", sapa sang penjaga rumah setia keluarganya.
"Selamat sore juga Marcus, tolong kau simpankan mobilku!", titah Alexander pada Marcus pria yang sudah menginjak usia 50tahunan itu.
"Baik Tuan Muda", angguk Marcus dengan menerima kunci mobil yang disodorkan oleh Alexander.
Alexander pun langsung melenggang masuk ke dalam rumah sesudah menyerahkan kunci mobilnya, dan dia langsung menaiki tangga menuju lantai 2 dimana kamarnya berada.
Alex pun langsung masuk ke dalam kamarnya, dan duduk di pinggiran tepi kasur. Memilih duduk sejenak untuk melepas penat. Dia menunduk sambil memegangi kepala, dan memikirkan setiap kata yang dikeluarkan oleh ayahnya.
'Sebelum papah meninggal, aku ingin melihat kamu menikah Alex. Usiamu sudah 27 tahun, usiamu sudah matang untuk menikah. Papah ingin memiliki menantu terlebih dahulu..'
'Ya semoga saja, aku juga tidak mau mati cepat - cepat sebelum melihatmu menikah Alex. Kau sudah sangat tua, usiamu sudah akan masuk 30 tahun 3 tahun lagi'
Kata kata Alden yang terdengar oleh Alexander serasa terus berputar di dalam kepalanya, merasa terus terngiang - ngiang dengan perkataan ayahnya yang mengharuskan dirinya segera menikah. Dia merasa bimbang, dilain sisi dia tak ingin buru buru menikahi seorang wanita karena berbagai alasan..
Akankah wanita itu mau menerima dirinya yang ternyata adalah mafia yang selama ini berada dibalik layar, bagaimana kalau pasangannya tahu bahwa dia memiliki bisnis gelap dunia hitam dan mengetahui bisnis AR Group hanya kedok untuk menutupinya agar semua berjalan mulus. Banyak yang Alex takutkan, tapi dia lebih takut tidak bisa memenuhi keinginan ayahnya yang terakhir.
Sudah cukup dia tidak bisa memenuhi keinginan ibunya, yang menginginkan dia menjadi laki laki yang baik dan berada selalu dijalan yang benar. Karena nyatanya dia sudah melanggar janji pada ibunya, karena Alex terlanjut tercebur ke dunia hitam yang tidak bisa dia tinggalkan begitu saja. Dia tidak ingin mematahkan keinginan ayahnya. Tetapi untuk saat ini, dia sangat sulit untuk menyukai wanita. Ellea masih ada dalam bayang bayang Alexander, namun hanya menyisakan kepedihan yang membuatnya merana.
Kecuali, satu lagi yang menambah beban pikirannya saat ini. Dia selalu tergelitik akan kehadiran seorang wanita yang selalu bersamanya ditempat kerja setiap hari yaitu Sersi Vilhauc. Ya wanita itu. Alex merasa asing juga apa yang terjadi dengan dirinya, kehadiran Sersi yang menjadi sekretaris nya cukup membuatnya lebih baik. Wanita itu sedikit menyita pikirannya, dia seperti magnet yang menarik mata Alexander agar selalu melihat kecantikan wajah polos Sersi.
Sersi sungguh menarik dimatanya, tetapi Alex masih ragu dengan perasaannya. Akankah ini hanya mengagumi atau menyukai?
Ia masih menyangkal bahwa dia menyukai Sersi, Alex hanya takut bukan sudah bisa membuka hati. Namun hanya takut jika Sersi hanyalah rasa suka palsu yang dia rasakan untuk sekedar pelampiasan rasa sakitnya terhadap Ellea.
Alex tidak ingin jika sampai melukai hati wanita yang tidak bersalah atas apa yang dia rasakan. Dia butuh waktu untuk memastikan hatinya. Tapi untuk saat ini dia harus mengesampingkan dulu tentang permintaan ayahnya, karena malam ini dia akan mengurus bisnisnya di Italia.
Akhirnya Alex pun memutuskan untuk pergi mandi, dan bersiap siap. Guyuran air dingin dari shower membuat kepalanya dingin, sejenak terasa ringan dimanjakan oleh kenyamanan air. Dan lelah tergantikan oleh rasa segar diseluruh badan.
20 menit sudah berlalu, Alex selesai mandi dan keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk putih yang menutupinya dari pusar sampai lutut saja. Tetesan air dari rambutnya yang masih basah, turun ke dada, sampai ke perut sispeknya yang menampilkan otot liat kotak kotak 6 biji diperutnya yang kekar. Sungguh pemandangan yang indah dan membuat wanita ingin merasakan kehangatan tubuh sang empu pemilik.
Alexander segera berpakaian. Dan setelah urusannya selesai, Alex akan menemui adiknya Sofia yang pasti sedang menonton tv dibawah. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, biasanya jam jam seperti ini. Adiknya selalu sudah siap di depan tv untuk menonton drakor alias 'drama korea' kesukaannya sambil memakan camilan keripik kentang yang dia sukai sejak kecil. Alex pun keluar dari kamar, dan bergegas turun ke bawah pergi ke ruang bersantai.
Dan benar saja, disana sudah ada Sofia yang sedang duduk di sofa panjang sambil memegang sekotak es krim vanilla ditangannya dan setoples keripik disampingnya. Ahh, Alex berpikir indahnya jika dia bisa memiliki istri. Wanita tambatan hatinya. Pasti Sofia akan sangat senang karena memiliki teman mengobrol, nyalon, dan lainnya. Pasti pemandangan yang sangat indah bagi Alex, namun itu semua Alex hanya bisa menghayalkan saja untuk saat ini.
"Sofia..", panggil Alex ikut duduk di samping adiknya.
Sofia pun menoleh, dan melihat kakaknya yang tampan ini sudah berpenampilan rapih.
"Iya kak, kakak mau kemana rapih banget begini?", tanya Sofia heran dan menelisik setiap inci penampilan kakaknya. Seperti setelan akan pergi ke kantor.
__ADS_1
"Kakak ada urusan dulu, malam ini kakak akan pergi. Mungkin besok siang baru pulang, kamu jangan tidur malam malam. Sudahi drakormu itu, besok kuliah!",
"Malam malam begini masih ada urusan kantor? Apa tidak bisa besok saja kak?",
"Ini urusan penting diluar urusan kantor Sofia, kakak tidak akan lama ya. Kamu baik baik dirumah, jangan begadang. Besok kuliah, selesai kuliah langsung pulang jangan kemana mana. Mengerti!",
Sofia jengah, dan memutar bola matanya. Pasti saja kakaknya selalu saja memerintah dan tak ingin dibantah.
"Hmmm, ya kak. Mengerti aku!", jawab Sofia langsung menyuapkan sesendok besar es krim vanilla.
Alex pun setelah mendengar jawaban adiknya, langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Sofia. Dia akan menuju apartemennya yang berada di London kota, untuk pergi ke rooftop apartemen karena disitulah heli menunggu.
Tanpa memilih milih malam ini akan menaiki kendaraan apa, Alex memilih membawa mobil sport lamborghininya yang merah menyala untuk membelah jalanan malam ini. Warna yang sangat cerah, dan berani. Membuat siapa saja terpukau dengan kemewahan mobil milik Alexander ini, ditambah yang punyanya pun sangat tampan.
Tak lama kemudian, Alex sudah melaju membelah jalanan malam untuk menuju ke apartemennya dan segera pergi ke Italia.
Terdengar suara gemuruh yang lumayan nyaring dari atas rooftop hotel. Menandakan heli sudah menunggunya. Sesampainya dipelataran apartemen, Alexander keluar dari mobil dan disambut dengan hangat oleh Samuel beserta anak buahnya yang lain.
"Selamat Malam Tuan Alex, semua sudah dipersiapkan" ucap Samuel pada bosnya.
"Oke kita berangkat sekarang, aku tidak akan lama di Italia. Setelah urusan bisnis selesai, aku akan kembali London!", tutur Alex.
Samuel pun mengiyakan, sejurus kemudian Alex menaiki helikopter yang sudah siap terbang tersebut. Diikuti Samuel dan beberapa anak buah lainnya di belakang Alexander, dan akhirnya malam itu pun Alex meluncur ke Italia untuk mengecheck bisnis hitamnya yang ia namai 'LexBlack'.
Sedikit kilasan tentang bisnis Alexander di Italia, LexBlack berbisnis diseputar lingkungan dunia ilegal yang gelap dan hitam. Bergerak di penyebaran senjata yang tidak terendus pemerintah sipil, biasanya senjata yang dia dapatkan dari supplier akan diedar ke berbagai negara untuk dijual ke para mafia dan orang orang tertentu. Selain itu LexBlack Corp yang berpusat di Italia ini, dikelola oleh Pierro.
Orang yang memiliki badan besar, wajah yang sangar dan mantan pembunuh bayaran yang telah menghabisi beberapa puluh nyawa ditangannya. Alexander hanya bergerak dibalik layar, namun tetap turun lapangan jika keadaan tidak memungkinkan atau mendesak. Bisnis ini jadi merambah kian besar seiring dia mempercayakannya pada Pierro, LexBlack ini adalah perusahaan terbesar di dunia gelap diseluruh antero Italia.
Menguasai perdagangan senjata, jasa keamanan, dan menerima jasa pembunuhan juga mata mata. Nama Alexander Rudwig begitu disegani disini, hanya saja mereka atau dengan kata lain orang - orang diseluruh negara Italia tidak mengetahui siapa wajah asli sang ketua mafia ini. Karena Alex tidak pernah menunjukkan dirinya di khalayak umum, selalu saja Pierro dan Samuel yang menjadi perwakilan. Dirinya dianggap misterius dan ditakuti disana.
Dan ketika Alexander turun, sudah berjejer dengan rapi anak buah yang bekerja di bawah naungan perusahaan LexBlack untuk menyambut kedatangan bos besar mereka yang dipimpin oleh Pierro. Lelaki itu berada dibarisan paling depan dan menyambut Tuan Besarnya.
"Selamat malam Tuan Alexander, selamat datang di Italia kembali", ucap Pierro memberi hormat.
Alexander pun hanya mengangguk, kemudian berjalan dengan wajah penuh wibawanya dan aura kejam mulai menyebar dari dirinya. Mengintimidasi seluruh anak buahnya, bahwa dialah sang raja.
"Pierro barang-barang senjata kita yang baru apakah sudah datang, apa kau sudah memeriksanya sedetail mungkin? Aku tidak mau kau sampai lalai?", kata Alexander ketika sekarang mereka berada di ruangan khusus di gedung basecamp LexBlack ini.
"Sudah Tuan, saya sudah memeriksanya semua. Dan semuanya lengkap, aman. Tidak ada yang mengikuti ataupun hal aneh pada saat pengiriman. Barang lengkap dan asli. Orang sipil tidak mengetahui senjata ilegal masuk melalui pelabuhan", jawab Pierro.
"Bagus. Pastikan semuanya selalu rapih dan aman, kita harus selalu menjaga relasi dengan kepolisian disini untuk tetap lancar dengan bisnis kita. Aku sudah melihat laporanmu dari Samuel semuanya bagus. Namun tetap waspada, jangan sampai terlena. Tetap saja ada musuhku yang ingin menghancurkan bisnis ini, semuanya tetap waspada", titah Alexander serius dan dingin.
"Siap Tuan!", Jawab serempak Pierro dan Samuel.
"Samuel, kapan orang Jepang itu akan datang?",
"Setengah jam lagi Tuan, Kaze sekretarisnya sudah memberitahu saya lewat pesan tadi. Mereka sedang dalam perjalanan",
******
Di lain negara yakni di London, Sersi sedang menikmati indahnya malam London Inggris ini. Entah mengapa malam ini dia tidak mengantuk sama sekali, setelah selesai dengan menulis naskah novelnya dia ingin berjalan - jalan dan menikmati indahnya malam di London ini.
Sersi berganti pakaian dengan menggunakan baju kaos tebal dan jaket, celana jeans, dan sepatu Adidasnya. Ia berniat akan berkeliling sebentar, hanya seputaran dekat apartemen saja. Karena ini sudah pukul 9 malam juga, dia tidak berani jauh jauh .
Karena Sersi tinggal di Stanley Bridge's Apartement London, pada saat turun ke bawah dan melihat lihat keadaan sekitar membuat perasaannya sedikit tenang dan bahagia. Kebetulan apartemennya berada dipusat kota, jadi Sersi tidak merasa takut karena disini selalu ramai.
Akhirnya karena Sersi pun merasa hari semakin malam, dia memutuskan akan kembali ke apartemen saja. Namun tidak dengan perutnya, perutnya terasa lapar sekarang. Dia pun berjalan ke seberang dan berniat akan mampir dulu ke restoran yang dekat dengan apartemennya. Karena jam segini biasanya masih buka.
__ADS_1
Dan right..
Blaze Restauran & Cafe masih buka dan pengunjung lumayan banyak, Sersi pun tidak menunggu lama langsung berjalan ke sana dan memasuki restoran itu dan mengambil posisi meja di dekat jendela yang menampilkan jalanan kota ini yang masih saja ramai.
Tidak lama setelah itu, seorang waiters menghampiri dan menanyakan menu apa yang akan dipesan oleh Sersi.
"Selamat malam Nona! Silahkan ini buku menunya, Nona akan memesan apa, saya rekomendasikan menu ayam",
"Iya selamat malam, terimakasih saran rekomendasinya. Aku ingin coklat panas, satu gelas es krim vanilla latte dan ayam spicy juga spaghetti saus jamur putih ya", kata Sersi sambil membolak balik buku menu.
"Baik, ada lagi yang ingin Nona pesan?", tanya sang waiters setelah selesai mencatat semua pesanan Sersi.
"Hmm tidak, cukup itu saja", kata Sersi ramah lalu menyerahkan kembali buku menu itu.
"Baik Nona, mohon tunggu sebentar. Makanan akan secepatnya kami siapkan", ucap ramah waiters itu.
Sersi pun hanya mengangguk dan tersenyum menjawab waiters itu. Seperginya pelayan itu, Sersi mengambil ponsel yang berada ditasnya dan membuka aplikasi chattingnya. Sudah dari siang dia tidak mengecek nya, dia matikan hpnya dari siang karena dia tertidur pulas selesai bersih bersih apartemennya sendiri. Berhubung akhir pekan, dan libur kerja jadi Sersi menyibukkan dirinya dengan menata ulang kembali barang barang di apartemennya sendiri juga membersihkannya.
Sersi mengecheck aplikasi chatting, dan ternyata tidak ada pesan apa pun disana. Mungkin karena Cindy sedang sibuk saat ini, Sersi ingat tempo lalu pada saat bertelepon dengan Cindy sahabatnya bilang dia sedang membuat skripsi.
Dan ketika sedang asyik dengan ponselnya, tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya. Dan itu adalah...
"Hai Sersi, masih ingat aku?", tanya wanita itu ketika berhasil membuat Sersi melihat ke arahnya.
"Hai juga, ya aku ingat. Kak Selly kan, yang waktu itu sama sama mau interview di AR Group!?", jawabnya membalas senyuman Selly.
"Oh God, ya. Sedang apa kamu malam malam sendirian, apa kamu juga sedang bosan?", tanya Selly dan tanpa disuruh langsung duduk dikursi kosong tepat dihadapan Sersi.
"Ya aku hanya berkeliling saja, mencari udara segar. Ya dan sedikit mengusir rasa bosan kak, aku mampir kesini untuk makan dulu sebelum pulang",
"Oh ya aku pun sama, aku merasa bosan dirumah. Jadi aku juga keluar untuk cari angin, tidak menyangka akan bertemu denganmu? Bagaimana kamu sekarang, aku sudah lama tidak melihatmu setelah interview itu? Apa kamu diterima disana di AR Group?", tanya Selly pada Sersi.
"Ya aku diterima kak, puji tuhan sih", jawab Sersi.
Dan tak lama kemudian para pelayan datang membawakan makanan Sersi yang telah dia pesan tadi, Sersi pun menawari Selly sedikit makanannya karena dia merasa tidak enak jika langsung makan sendiri tanpa menawarkannya terlebih dahulu.
"Makananku sudah datang kak, kakak boleh ikut makan kok. Aku pesen banyak hehe", basa basi Sersi sambil mengambil sendok dan garpu yang berada diatas nampan.
"Sure, terimakasih. Aku mencicipinya sedikit saja aku juga akan pesan!",
Selly pun berkata pada pelayan yang masih menata makanan ke atas meja Sersi, sebelum pelayan berhasil pergi.
"Mba, saya mau jus alpukat dan lasagna saja ya. Terimakasih!", ucap Selly sopan.
"Baik Nona", timpal pelayan tadi kemudian pergi.
Malam itu akhirnya Sersi makan ditemani Selly wanita yang ia kenal pada saat akan interview di AR Group. Kepribadiannya yang cerewet, membuat Sersi tidak canggung dalam mengobrol. Selly seperti Cindy pikirnya banyak bicara dan cepat akrab. Puji tuhan, selama berhari hari ini dia di London. Akhirnya dia memiliki teman juga disini, malam yang agak dingin itu mereka nikmati akhirnya berdua. Menghabiskan malam ini dengan makan bersama, dan mengobrol banyak hal membuat mereka terlihat seperti orang yang sudah berteman sejak lama.
"Kak Selly, aku pulang dulu ya. Ini sudah malam, aku mau pulang ke apartemen. Besok aku harus kerja", pamit Sersi memotong pembicaraan mereka ketika dia melihat jam ponselnya.
"Oh oke, baiklah. Lain waktu kita bisa mengobrol lagi bukan, senang mengenalmu Sersi. Maafkan aku yang mengganggu me time mu ya!",
"Tidak apa apa kak, aku merasa tidak terganggu kok. Oke aku duluan ya, bye!",
"Jangan panggil aku kakak, panggil Selly saja usia kita hanya selisih 2 tahun saja. Oke, dah selamat istirahat!", ucap Selly dan melambaikan tangan.
"Iya Selly, kamu juga ya", ucap Sersi kemudian langsung pergi dari sana dan meninggalkan restoran setelah membayar semua makanannya termasuk makanan yang dipesan Selly.
__ADS_1