Terjerat Pesona Sang Sekretaris

Terjerat Pesona Sang Sekretaris
Bab 21 (Menerima Tawaran Kawin Kontrak)


__ADS_3

Akankah semuanya bisa berjalan sesuai dengan kemauannya?


Entah, dia hanya berharap bisa memenuhi permintaan ayahnya yang terakhir. Dan tidak menyakiti pihak lain, jujur hatinya kini mulai goyah antara masih berharap pada Ellea atau mulai mencintai sekretarisnya itu. Jujur dia pun mulai memiliki rasa yang tak biasa pada Sersi.


******


Alex telah sampai di mansionnya ketika hari sudah menjelang malam, dia turun dari mobilnya dengan lesu berjalan masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan yang lainnya. Samuel pun dia tinggal begitu saja, Alex butuh sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya.


Ketika melewati ruang televisi, ada Sofia yang sudah duduk disana dengan berbagai camilan yang dia taruh diatas meja untuk menemaninya menonton drama korea yang setengah jam lagi akan tayang.


Sofia ketika melihat kakaknya datang, lantas memanggulnya namun tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Hanya memanggil kakaknya dari ruang tv.


"Kak Alex..!" Panggil Sofia pada kakaknya sambil memakan keripik singkong yang dipegangnya.


Alex hanya menoleh dan tidak memperdulikan panggilan adiknya, Alex terlalu malas berbicara dengan adiknya yang cerewet itu. Dia hanya butuh ketenangan saat ini, dia akan pergi ke kamar saja. Dirinya sedang tidak mood apa apa sekarang. Tidak mood minum, makan ataupun lainnya.


"Isssh, dia itu kenapa sih. Kak Alex aneh, kaya yang lagi patah hati aja. Pacar juga gak punya, pake acara galau galauan." Gerutu Sofia pada kakaknya.


Padahal niat Sofia memanggil kakaknya, Sofia ingin menanyakan tempat tinggal Sersi dimana. Dia ingin datang berkunjung dan belajar banyak hal, karena Sofia merasa jika mereka sangat cocok dan bisa berteman sangat akrab mengingat usianya dan usia Sersi tidak terpaut jauh. Hanya beda 1 tahun.


Alex melangkah lebar menuju kamarnya, sesampainya di kamarnya dia lantas menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Alex langsung menuju kamar mandinya, saat ini dia merasa badannya lelah dan lengket. Alex berniat akan berendam air hangat saja malam ini, supaya pikiran dan tubuhnya sedikit rileks.


Alex membuka seluruh bajunya dan menyalakan air keran dingin dan air keran panas secara bersamaan, sampai bathtobe itu penuh dan Alex pun masuk ke dalam bathtobe setelah air itu penuh dan sudah dicampur dengan sabun juga aromaterapi.


Rasa hangat mulai menjalari seluruh tubuhnya, Alex merasa nyaman dengan ketenangan dan kesunyian ini. Pikirannya mulai rileks, tidak segelisah tadi. Hingga membuat Alex terpejam saking nyamannya suasana ini. Namun me timenya terganggu dengan dering ponsel yang terdengar dari ponselnya.


Kening Alex mengkerut, memikirkan siapa yang meneleponnya pada saat jam jam segini. Tapi Alex pun bergeming dari posisi nyamannya, dan mengambil ponsel yang berada di dalam saku celananya.


Alex melihat id caller dan nomor asing yang tertera. Namun Alex tetap mengangkatnya demi memenuhi rasa penasarannya.


"Hallo, selamat malam tuan!" suara perempuan yang terdengar dari seberang sana.


"Hmm, siapa?" jawab Alex cuek datar malas menanggapi.


"Sa.. saya Sersi Tuan. Maaf mengganggu waktu istirahat anda. Ehmm sa.. saya mau mi..".


"Sersi? Kamu tahu nomorku darimana?" Kening Alex mengkerut melihat nomor yang berada dilayar ponselnya. Sekretarisnya menelepon duluan, ada apa? Dan tahu darimana dia?


"Ehmm.. a.. anu Tuan. Ma.. maaf tuan saya lancang menelepon tuan. Saya meminta nomor anda dari pak Samuel. Saya ingin membicarakan lagi tentang tawaran tuan waktu itu." tutur Sersi sedikit lirih dari seberang sana.


"Baiklah kita bertemu di Starlight nanti pukul 9. Aku tunggu kamu disana" jawab Alex akhirnya, agak kaget memang tiba - tiba Sersi akan membicarakan ajakannya waktu itu yang berarti tentang tawaran kawin kontrak itukan.


"Iya Tuan, terimakasih". Klik telepon pun terputus.


Alex pun menyudahi acara berendamnya, dan bergegas pergi mandi dibawah shower membersihkan tubuhnya dengan sabun aroma kayu manis yang cool ke seluruh tubuhnya. Alex berharap semoga sekretarisnya itu membuat suasananya membaik malam ini, otaknya sudah mumet memikirkan permintaan ayahnya dan kondisi kesehatan ayah yang tak bisa diprediksi bisa sembuh kembali.

__ADS_1


******


"Baiklah kita bertemu di Starlight nanti pukul 9. Aku tunggu kamu disana" jawab Tuan Alex dari seberang sana.


"Iya Tuan, terimakasih!". Klik sambungan telepon pun terputus, panggilan diputus oleh Alex duluan.


Sesudah sambungan telepon terputus, Sersi luruh duduk diatas lantai apartemennya menangis sedih sesenggukan memikirkan kakaknya yang sekarang terbaring parah di IGD rumah sakit di Sicilia. Sersi terkejut ketika mendengar kabar ini dari Cindy, kakaknya butuh biaya yang sangat besar untuk melalukan operasi kakaknya.


Seketika dunia Sersi hancur, baru kemarin ini dia bertelepon ria dengan kakaknya Adryan. Sersi tak menyangka, bahwa sekarang kakaknya mengalami kondisi buruk. Sersi ingin membantu kakaknya, tapi biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Dia bingung dengan masalah ini, jumlah saldo tabungannya pun tidak cukup jika digunakan semuanya. Hingga Sersi terpaksa akan menerima tawaran bosnya tempo lalu, untuk melakukan pernikahan kontrak demi bisa membiayai kakaknya sampai selesai.


Sersi menumpahkan kesedihannya dengan menangis tersedu sedu sendiri dikamarnya, sambil meratapi keadaan kakaknya. Dia tidak ingin kehilangan keluarga satu - satunya di dunia ini, sebenarnya Sersi sedih mendengar kabar kedua orangtuanya meninggal dirumah karena tidak sempat menyelematkan diri dari kebakaran itu. Tetap saja, walaupun dia diperlakukan tidak baik oleh kedua orangtuanya. Namun Sersi tetap mengharapkan mereka bisa berubah seperti dulu.


Namun Sersi bersyukur kakaknya bisa sempat diselamatkan oleh tetangganya dari tragedi kebakaran itu. Kini kenangan manis dan pahit dirumah itu pupus sudah, hancur berkeping - keping habis terbakar oleh api. Dunianya hancur, Sersi merasa tidak ada lagi tempat pulang baginya di Sicilia. Keluarga satu - satunya hanyalah Kak Adryan. Sersi tidak ingin sampai kakaknya telat mendapatkan pertolongan.


Satu jam berlalu, tangisan Sersi mulai mereda berhenti sesenggukan karena air matanya mulai habis dan kering akibat terlalu lama menangis. Matanya pun membengkak dan merah akibat tangisnya yang berterus - terusan. Sersi teringat bahwa dia meminta tuannya untuk bertemu, dan ketika melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


Sersi pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, dia akan mandi dengan air dingin malam ini berharap akan membantu menenangkan pikirannya dan menyamarkan matanya yang bengkak.


_______


Bar Starlight..


Hingar bingar musik terdengar sangat memekakkan telinga, dan aroma rokok tercium dimana mana. Itulah yang Sersi rasakan pertama kali saat memasuki bar ini.


Telinganya sedikit berdenging, mendengar dentuman musik yang berdendang keras diseluruh ruangan. Dan kerlap kerlip lampu warna-warni yang menyilaukan mata. Sersi merasa tidak nyaman, berada disini. Dia baru kali ini memasuki hiburan malam seperti ini.


Sersi terus berjalan melewati orang orang yang berjoget ria mengikuti nada alunan musik. Sersi mencari tempat yang tuannya katakan di chat tadi sebelum dia masuk ke bar ini, dia berjalan menuju ruang private yang berada di ujung. Tepatnya di lorong paling belakang.


Sersi membuka pintu yang berwarna hitam itu dengan ragu - ragu, tangannya mengambang di udara. Namun Sersi memantapkan hatinya.


'Demi kak Adryan, lagipula dia berjanji tidak akan menyentuhku kan?' batin Sersi menyemangati dirinya bahwa dia melakukan ini bukan merendahkan dirinya tapi demi kesembuhan kakaknya dia harus melakukan ini.


Akhirnya tangannya menyentuh knop pintu dan membukanya perlahan, terlihat pria itu sedang terduduk di sofa panjang sedang menghisap sebatang rokok ditangannya.


Lelaki itu menoleh kepadanya, membuat Sersi merasa takut dan keraguan mulai menghigapi dirinya. Dia merasa rendah diri tapi dia lagi lagi mengingatkan dirinya, bahwa kakaknya sekarang sedang membutuhkan biaya.


"Kenapa kau berdiri di depan pintu, cepat masuklah!" ucap Alex padanya.


Sersi pun sedikit tersentak, dia pun akhirnya menuruti perkataan bosnya masuk ke dalam ruangan itu lalu menutup pintunya. Terlihat nuansa serba hitam didalam sini, lampu yang redup dan sebuah sofa panjang yang melingkar juga beberapa botol minuman yang berjejer diatas meja.


Sersi berpikir bahwa pria itu mabuk, akankah dia akan benar - benar mengerti dengan perkataan Sersi nanti. Sersi pun terus berjalan mendekati pria itu yang tak lain adalah bosnya, Sersi duduk tepat di samping Alex dengan jarak aga jauh.


"Kau bilang akan membicarakan sesuatu, bicaralah!" ucap Alexander lalu menghabiskan segelas wine dalam sekali teguk.


Sersi mulai merasakan tubuhnya panas dingin, tidak sanggup melakukan ini semua. Tidak nyaman dengan tempat yang terkenal dengan pergaulan bebas, dan merasa rendah diri karena telah memakan omongannya sendiri. Tapi, dia terpaksa demi kakaknya Sersi harus melakukan ini. Jalan tercepat satu satunya mendapatkan uang untuk pengobatan kakaknya yang sedang kritis.

__ADS_1


"Kenapa kau malah diam?" suara Alex lagi, kini suaranya mulai agak berubah sepertinya pengaruh alkohol mulai merasuki tubuhnya.


"Ehm.. Tu.. tuan saya berubah pikiran tentang tawaran pernikahan kontrak yang tuan tawarkan waktu itu. Apakah masih bisa saya e..?" Ucap Sersi terbata - bata bingung harus bilang apa. Masih bisa dia terima atau tidak.


"Hmm, kamu sungguh menerima kerjasama yang kutawarkan waktu itu. Apa yang membuatmu berubah?" Tanya Alexander menyelidik alasan mengapa wanita itu sampai berubah pikiran.


Karena dia ingat terakhir kali, perempuan itu marah dan menolak tawaran itu. Ini sungguh diluar dugaan Alex, tapi hal ini membuat pikiran Alex sedikit lega jika iya perempuan itu menerima perjanjiannya maka salah satu beban pikirannya selesai sudah.


"Tuan saya butuh biaya untuk kakak saya di Sicilia, dia mengalami luka parah disekujur tubuhnya akibat kebakaran rumah kami. Jika saya menerima tawaran kawin kontrak itu, bolehkah saya meminta uang terlebih dahulu untuk biaya kakak saya. Kakak saya harus segera dioperasi secepatnya tuan." tutur Sersi dengan sedih, mengharapkan bahwa pria ini bisa memenuhi permintaannya dan masih memiliki hati nurani.


'kebakaran? Keluarga dia terkena musibah?' batin Alex bertanya dalam diam.


"Hmm boleh saja, berapa biaya yang kau butuhkan untuk operasi kakakmu?" tanya Alex sambil menyesap kembali wine yang beraroma anggur itu.


"Sekitar 200jutaan dengan biaya rawat inapnya Tuan, selama satu bulan ke depan Tuan" ucap Sersi lalu menunduk.


"Oke aku akan transfer sekarang ke rekeningmu, besok bersiaplah akan ku kenalkan langsung dengan ayahku. Dan seminggu lagi kita menikah." ucapan Alex.


"Tapi perlu kamu ingat, kau harus bisa bersandiwara seperti tidak terjadi apa apa. Dan menunjukkan bahwa kita sepasang kekasih yang nyata, jangan terlihat keraguan sedikit pun".


"Baik tuan, saya berusaha untuk itu". Jawab Sersi akhirnya.


"Mana nomor rekeningmu aku kirimkan sekarang" kata Alex yang setengah mabuk, tapi masih bisa menyeimbangkan diri.


"Ini Tuan!"! Sersi menyerahkan ponselnya dan menampilkan beberapa deret angka nomor rekening akun banknya.


"Terimakasih pak sebelumnya." ucap Sersi rela karena diterima bisa bekerja disini dan memperbolehkan meminta uang dalam jumlah besar untuk mengobati kakaknya.


Secercah harapan mulai muncul.


"Hmmm, aku sudah transfer ke rekeningmu, besok jangan lupa. Pakai baju yang sopan ya" kata Alex pada sekretarisnya itu.


Berbarengan dengan akun mbanking yang muncul di ponsel Sersi, memberitahukan bahwa ada uang yang masuk ke dalam rekeningnya dan Sersi pun mengeceknya.


Ternyata 300juta yang sudah dikirimkan Alex.


"Tuan ini kebanyakan saya hanya butuh 200juta aja" jawab Sersi merasa tidak enak dengan pria menyebalkan ini.


"Tidak apa apa, sengaja aku lebihkan jikalau ada keperluan mendadak kamu ada tabungan" tutur Alex pada Sersi.


"Oh iya besok Samuel akan memberikan surat perjanjian kita untuk pernikahan kontrak


satu tahun ke depan oke. Persiapkan dirimu" ucap Alex lalu menyalakan lagi rokoknya.


"I.. iya Tuan!" Jawab Sersi akhirnya.

__ADS_1


Sersi sekarang pasrah dengan keadaannya sekarang, tak apa dirinya berkorban demi kakaknya saat ini. Hanya Adryan keluarga satu satunya kini, Sersi tak sampai hati jika tidak mengusahakan ini semua. Sersi pun sudah siap menerima segala resiko dan konsekuensi atas tindakannya ini. Dia hanya perlu menjalankan ini semua seperti air mengalir, mengikut jalur dan arus yang telah tuhan berikan padanya.


__ADS_2