
"Sersi akhir - akhir ini kamu susah sekali dihubungi? Sedang sibuk ya?" tanya Amelia pada Sersi.
Kini mereka sedang berada di Bridge Restaurant menikmati jus alpukat dan strawberry juga hidangan makan siang.
"Iya tepatnya begitu sih. Maaf ya, aku jadi tidak bisa membantu banyak persiapan pernikahan kamu. Soalnya aku juga sedang prepare pernikahan juga" tutur Sersi berniat akan memberi tahu sahabatnya itu tentang hubungan dia dan Alex.
"Iya tidak apa apa, aku mengerti kok. Mark juga sekarang lebih berpartisipasi sama persiapan pernikahan, jadi aku tidak terlalu repot." timpal Amelia.
"Oh ya, baguslah kalau begitu. Kalian bisa bertukar pikiran tentang segala hal untuk pernikahan kalian."
"Hmm iya.. eh tapi ngomong - ngomong kamu bilang tadi kamu juga sibuk siapin prepare pernikahan juga? Pernikahan siapa?" celetuk Amelia menanyakan alasan Sersi tadi, dia belum tahu tentang sahabatnya ini.
"Ehm itu.. aku juga 1 hari lagi menikah. Lusa jangan lupa datang ya ke hotel Corinthia London." ucap Sersi memberitahu Amelia bahwa diapun akan menikah dalam waktu dekat ini. Dan mengundang sahabatnya itu.
"Oh my god! Really?" reaksi Amelia kaget mendengar pernyataan sahabatnya itu.
Karena sahabatnya ini tidak pernah mengatakan bahwa dia memiliki pacar. Dan mendadak tiba tiba mau menikah, membuat Amelia melotot tidak percaya. Bahkan pernikahannya pun lebih dulu Sersi, dibanding dia. Mengapa dia bisa mempersiapkan semuanya secara singkat seperti ini. Amelia tidak habis pikir.
"Iya.. aku serius" jawab Sersi seadanya. Kemudian memakan makananannya kembali.
"What!? Tapi kamu tidak pernah bilang padaku bahwa kamu punya kekasih, atau apapun itu. Dan sekarang tiba - tiba kamu kasih tahu aku kamu mau menikah 1 hari lagi, malah lebih dulu kamu ketimbang aku. Mendadak sekali, membuatku tak habis pikir" omel Amelia sambil mengipas - ngipas tangannya ke udara masih tidak percaya dengan apa yang Sersi katakan.
"Ya memang, tapi ceritanya panjang. Aku gak yakin kamu bakal mengerti keadaanku, tapi yang pasti aku melakukan ini karena suatu hal yang mengharuskan aku memiliki uang untuk pengobatan keluargaku Mel. Datang ya nanti, ajak Mark juga ya." ucap Sersi mengalihkan topik pembicaraan.
Dia mengurungkan niatnya untuk menceritakan perihal dia dengan Alex melakukan pernikahan kontrak. Biar saja dia tidak memberitahu siapapun, karena Sersi harus memikirkan segala kemungkinan yang ada.
"Hmm, tapi sama siapa kamu menikah Ser? Apa sesama karyawan di perusahaan tempat kita bekerja? Atau orang luar? Ayolah kau membuatku penasaran Ser, ini semua terlalu mendadak sekali bagiku." ucap Amelia lagi.
"Uhmm.. kalo itu bisa iya sih. Tapi... Pokoknya kamu datang saja nanti ya, karena dia bilang akan mengada pesta pernikahan besar. Jadi nanti kamu juga tahu siapa dia?" jawab Sersi sambil tersenyum kaku. Kemudian kembali melahap makanannya.
"Oke oke.. nanti aku datang. Lain waktu mungkin kamu harus cerita sama aku, otakku terlalu kaget mendengar kabar darimu. Tapi aku berharap semoga pernikahanmu bahagia ya." doa Amelia pada sahabatnya ini.
"Semoga saja, terimakasih ya Mel."
'sayangnya ini bukan pernikahan murni yang seperti kamu kira Mel, aku pun tak tahu nasibku kedepannya bakal bahagia atau tidak. Tapi semoga doamu menjadi nyata ya untuk aku' batin Sersi berbicara pada dirinya sendiri dan berharap bahwa semua ini akan ada akhir yang baik.
Amelia hanya mengangguk dan meminum jus strawberrynya. Sehabis menghabiskan makan siang mereka, Amelia dan Sersi berkeliling kota London dan melakukan perawatan diri sendiri yang sering disebut oleh mereka 'me time'.
Amelia mengajak Sersi untuk spa, medicure and pedicure, dan yang terakhir ke salon. Mengganti warna rambut mereka dan melakukan perawatan rambut lainnya, pokoknya yang membuat mereka mempercantik diri dan paling utama membuat mereka senang dengan hal hal yang ingin dia lakukan. Amelia mengubah rambutnya menjadi warna abu abu, sedangkan Sersi mengubah rambutnya menjadi coklat keemasan. Menambah kesan cantik karena kontras dengan kulitnya yang putih bak susu.
Hingga tak terasa waktu sudah mulai beranjak malam, mereka berpisah ketika waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sersi pulang kembali ke apartemen Alex dengan memesan taksi online.
__ADS_1
Saat sampai diapartemen, waktu sudah menunjukan pukul 8.15pm. Ketika membuka pintu, terlihat pria itu sudah ada disana sedang duduk melihat televisi.
'tumben dia sudah pulang, biasanya dia pulang malam dan pergi sebelum aku bangun' batin Sersi bergumam dan berjalan ke arah kamarnya berniat untuk pergi mandi.
Alex yang mendengar pintu apartemennya terbuka, menoleh ke arah Sersi tanpa bicara apapun lalu kembali menatap televisi kembali. Berusaha tidak peduli dengan keberadaan perempuan itu, namun sesuatu menggelitiknya hingga pada saat Sersi melewati sofa yang didudukinya Alex bertanya pada Sersi tentang dengan siapa dia pergi.
"Kamu habis darimana? Jam segini baru pulang? Kamu lupa dengan aturanku?" ucap Alexander masih tetap memandang ke arah televisi.
Sersi yang ditanya, hanya memutar bola matanya malas. Lagi lagi dia membahas aturan - aturan yang harus dia patuhi selama tinggal disini, sungguh ribet sekali orang ini menurut Sersi.
"Aku hanya berjalan jalan dengan temanku, aku tidak lupa. Makanya aku pulang sebelum jam 10, sesuai apa yang kamu perintahkan 4 hari yang lalu setelah aku pindah kesini." jawab Sersi enteng. Mengingatkan bahwa dia masih ingat betul dengan apa saja aturan-aturan yang diberlakukan pria itu.
Alex yang dijawab seperti itu, terdiam. Memang benar, dia tidak melanggar peraturannya. Tapi kepergian Sersi dari apartemennya tanpa memberi kabar apapun padanya, membuat kekhawatiran tersendiri bagi Alex. Hingga beberapa jam kebelakang dia bertanya - tanya apakah Sersi pergi dengan pria itu yang ditemuinya di Caffeshop. Membuat Alex cemburu tak beralasan.
"Kenapa kamu tidak mengabariku? Setidaknya jika kamu pergi dari sini, beritahu aku kamu akan kemana dan dengan siapa?" jawab Alex kini menoleh ke arah Sersi dan memandangnya tajam.
Sersi yang ditatap seperti itu tidak takut, malah menatap balik manik mata itu.
"Aku juga butuh kebebasan. Lagipula aku tidak akan kabur dan tidak menepati janjiku, aku tidak akan kemana mana. Untuk apa juga kamu mengetahui segala urusanku? Memang ada hubungannya denganmu?" jawab Sersi acuh tak acuh dan melanjutkan langkahnya ke kamar. Dia ingin pergi mandi sekarang juga, malas berdebat dengan pria keras kepala itu.
"Setidaknyaa aku waspada jika kamu memiliki niat untuk kabur dariku!!" teriak Alex ketika Sersi sudah melenggang ke dalam kamar.
Sersi yang mendengar suara Alex dari ruang televisi, hanya memutar bola matanya. Dia pun bergegas pergi ke kamar mandi, dan beberapa menit kemudian terdengar suara shower yang dinyalakan. Sersi sudah memulai ritual mandinya.
"Kamu kapan masuk?" tanya Sersi pada Alex yang sudah berada diatas tempat tidur.
"Ini kan kamarku, aku bebas masuk kapanpun." jawab Alex sekenanya. Membuat Sersi kesal dan dongkol dengan jawabannya.
Sersi tidak menimpali lagi, dia berjalan cepat menuju lemari dan mengambil baju piyamanya. Dan masuk kembali ke kamar mandi untuk memakai bajunya. Masa iya dia harus memakai baju dihadapan pria itu, oh sungguh tidak. Kucing dikasih daging ya pasti dimakan.
******
Aroma wangi omelet yang sedang dimasak tercium sampai ke kamar, dan membangunkan Sersi dari tidurnya. Menimbulkan bunyi kruyuk kruyuk diperut ratanya yang kini tiba - tiba merasa lapar.
Sersi membuka matanya dan melihat waktu sudah pukul 9 pagi. Dia pun bangkit dari kasur, dan menuju kamar mandi untuk mandi pagi saja hari ini. Selesai mandi Sersi pun langsung keluar kamar, dan menuju dapur. Ingin melihat apa yang dimasak oleh bibi Merry.
Tapi ketika Sersi berhasil mencapai dapur, ternyata yang memasak bukanlah bibi Merry melainkan pria itu. Ya calon suami kontraknya.
'Dia tidak bekerja? Jam segini masih ada dirumah?' batin Sersi bersuara.
Sersi menghampiri Alex dan berdiri disampingnya sambil menggigit apel, yang dia bawa dari meja makan.
__ADS_1
"Kamu tidak masuk kerja hari ini?" tanya Sersi berbasa basi.
"Tidak, aku libur sampai dua bulan ke depan. Kita akan menikah, jadi aku harus libur dan kita juga perlu bulan madu bukan?" ucap Alex dengan santainya tersenyum ke arah Sersi sambil menaikkan satu alisnya.
"Apa!? Bulan madu katamu?" jerit Sersi menganga.
"Ya bulan madu, memangnya kenapa? Orang lain pun sama, setelah menikah mereka melakukan bulan madu jugakan. Jadi apanya yang salah denganku?" jawab Alex lagi datar.
"Ya jelas salah. Kita hanya menikah secara kontrak, dan kamu juga berjanji tidak menuntutku untuk melayani hasrat sexualmu. Kamu bilang, kamu tidak akan menyentuhku. Jadi buat apa bulan madu, tidak akan ada yang terjadi." tutur Sersi menjelaskan alasannya.
"Hmm.. itu,".
"Apaa!?" timpal Sersi geram karena tidak menyelesaikan ucapannya.
"Aku juga pria normal, secara garis besarnya itu. Sudahlah, mari kita sarapan dulu." ucap Alex membawa 2 piring omelet ke meja makan.
Sersi yang memang sedang lapar, hanya mengekor dan menurut. Tapi didalam pikirannya Sersi menyusun berbagai rencana agar dia bisa menghindari Alex jika benar dia akan benar - benar mengajaknya bulan madu. Dia harus menemukan alasan untuk tidak sampai melakukan itu pikirnya.
"Ayolah makan, jangan menyusun rencana apapun untuk menghindar dariku!" Celetuk Alex tiba - tiba pada Sersi yang sedang berdiam diri melamun.
"Hah!? Sok tahu kamu," jawab Sersi ketus.
_________
"Sofia, apa kamu yakin dengan keputusanmu? Aku hanya takut, kakakmu tidak bisa menerima keluargaku." jawab Ben pada kekasih hatinya itu yakni Sofia.
"Tapi aku yakin Alden dan Papah tidak akan memandang ekonomi kamu Ben. Lagipula, kita bisa berjuang bersama. Kita bisa sama - sama kerja untuk mewujudkan impian yang kamu mau." ucap Sofia meyakinkan Ben kekasihnya untuk menemui kakaknya yakni menemui Alexander.
"Tapi ini berbeda, mungkin jika perempuan iya. Karena laki - laki yang sudah mapan bisa menghidupi istrinya tanpa kekurangan, sedangkan aku laki laki yang akan menanggung tanggungjawab nantinya."
"Aku hanya takut, kamu tidak bahagia jika hidup denganku." tutur Ben akhirnya dengan raut wajah sedih dan menangis. Tak kuasa menahan kesedihan hatinya, yang merasa lebih rendah derajatnya dari sang kekasih.
"Ben, percaya kepadaku. Keluargaku tidak seperti itu, kamu coba saja dulu. Kak Alexander tidak akan meremehkan kamu atau merendahkan kamu hanya karena harta. Itu bukan prinsip kami." jelas Sofia pada Ben.
Ben pun terdiam, memikirkan keputusan mana yang akan dia ambil saat ini. Memikirkan resiko dan konsekuensi juga kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi jika dia sampai nekat menyampaikan maksudnya, pada orang yang paling kaya di negara Inggris ini. Yang tak lain adalah kakak dari sang kekasihnya.
Jujur ini membuatnya dilema, disatu sisi Ben sangat mencintai Sofia dengan tulus. Namun disatu sisi dia ingat percakapan dengan ibunya tempo hari. Ia takut kondisi ekonominya menjadi penghalang bagi hubungan mereka berdua.
Mereka Ben dan Sofia sedang berada di hamparan taman bunga, menikmati indahnya pemandangan siang hari yang terlihat sangat indah. Bunga - bunga banyak bermekaran disini, namun tidak dengan hatinya.
Dia masih menunggu apa yang akan dilakukan Ben untuk memperjuangkan cinta mereka?
__ADS_1
Sofia memeluk erat Ben, memberikan bukti bahwa diapun sangat mencintai laki laki ini. Laki - laki yang bisa membuatnya berubah dari hal buruk ke hal benar, melupakan rasa sepi dan kesedihan, dan serasa memiliki mate yang bisa mengerti dirinya dikala Sofia sedang gundah.
Kini dua insan manusia yang saling kasmaran itu, berciuman diantara indahnya hamparan bunga mawar dibawah terik sinar matahari. Menyalurkan rasa cinta mereka melalui kecupan di bibir, yang membuat mereka serasa melayang. Saling meluapkan emosi mereka masing - masing, dengan saling berciuman dan memeluk lembut. Di atas tanah yang menjadi saksi cinta sejati mereka.