Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 10 Penyesalan Ayana


__ADS_3

Bik Darmi bingung menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Rania. Dia tidak berani berterus terang karena takut jika Rafael marah padanya. Tapi dia juga tidak berani berbohong pada majikannya. Kini 


Bik Darmi dilema, dia bingung akan berterus terang atau tidak mengatakan apa pun yang diketahuinya.


“Bik Darmi sebaiknya katakana saja yang sebenarnya pada saya. Pasti Bibik tau sesuatu kan?” tanya Rania menyelidik.


Bik Darmi gelisah, dia sudah bekerja di rumah itu semenjak Rafael masih bayi, sehingga Rania yang menjadi majikannya itu bisa mengerti hanya dengan memperhatikan Bahasa tubuh Bik Darmi saat ini.


Akhirnya Bik Darmi menceritakan semua yang diketahuinya. Dia menceritakan apa saja yang dikatakan oleh Rafael padanya.


Dia juga mengatakan bagaimana sikap Ayana selama dia berada di rumah itu. Dan dia juga mengatakan bagaimana penilaian Bik Darmi pada Ayana.


Rania mendengarkan dengan seksama semua yang diceritakan oleh Bik Darmi. Kemudian dia berkata,


“Ya sudah Bik terima kasih. Mulai sekarang tolong beritahukan semuanya pada saya tentang apa yang terjadi pada mereka berdua,” ucap Rania setelah meminum orange jus yang dibawakan oleh Bik Darmi.


Bik Darmi pun berpamitan untuk pergi ke dapur melanjutkan pekerjaannya. Ternyata di dapur sudah ada Ayana yang sedang memotong sayuran yang sudah disiapkan sebelumnya oleh Bik Darmi sebelum mengantarkan minuman ke kamar Rania.


“Kok cepat sekali kamu mandinya Ayana?” tanya Bik Darmi yang sudah ada di sebelah Ayana.


“Ayana cuma ganti baju saja Bik. Nanti saja mandinya setelah memasak, biar segar dan tidak gerah lagi,” jawab Ayana sambil tersenyum lebar pada Bik Darmi.


“Kamu tidak mandi juga masih cantik kok,” tukas Bik Darmi sambil terkekeh.


Ayana tersenyum malu mendengar pujian Bik Darmi. Mereka saling mengobrol dan bercanda sambil memasak hingga semua masakan mereka sudah siap untuk disajikan.


Rafael memasuki rumahnya dengan wajah lesunya. Dia langsung menuju ke dapur untuk mengambil minuman dingin di lemari es.


Tangannya meraih minuman isotonic dalam kemasan botol dan matanya berkelana seolah mencari seseorang ketika tangannya sibuk membuka tutup botol minuman tersebut.


Kemana dia? Kenapa dia tidak ada di dapur? Apa dia belum pulang? Rafael bertanya-tanya dalam hatinya sambil meminum minumannya.


Merasa apa yang dicarinya tidak ada, Rafael bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan badannya.


Entah mengapa yang ada dipikirannya hanyalah nama Ayana. Hingga dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun, dia bisa dengan segera menyangkalnya. Rupanya dia mempunyai alasan untuk pertanyaan itu.


“Aku sedang kesal padanya, karena itulah aku selalu memikirkannya,” ucap Rafael meyakinkan dirinya sendiri di depan cermin.


Tok… tok… tok…


Pintu kamar Rafael diketuk oleh seseorang dari luar. Dengan segera Rafael berjalan menuju pintu kamarnya untuk membukanya.


“Ada apa Bik?” tanya Rafael ketika melihat Bik Darmi yang ada di balik pintu kamarnya.


“Tuan Muda sudah ditunggu Tuan dan Nyonya di meja makan,” ucap Bik Darmi dengan sopan.


“Bik Darmi duluan saja. Sebentar lagi saya akan menyusul,” tukas Rafael sambil bergerak masuk ke dalam kamarnya.


Bik Darmi pun segera kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


“Mama sama Papa kapan pulang?” tanya Rafael ketika sudah duduk di meja makan.


“Kami pulang tadi siang. Kamu sendiri ke mana saja jam segini baru pulang?” Rania menjawab dan bertanya kembali pada putranya.


"Ruby? Perempuan yang pernah kamu kenalkan sama Mama waktu itu?" tanya Rania menyelidik.


"Iya Ma," jawab Rafael singkat seraya mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.


"Mama gak suka dengan perempuan itu," ucap Rania sambil menatap tajam pada putranya.


Rafael menghentikan makannya. Kemudian dia memandang mamanya sambil berkata,


"Ma, tapi aku cinta sama Ruby."


Pyaaaaar!


Semua mata tertuju ke arah sumber suara yang tidak jauh dari meja makan. Terlihat di sana Ayana menjatuhkan gelas yang berisi air putih.


"Ma-maaf… saya tidak sengaja," ucap Ayana gugup dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Dengan cepatnya dia menunduk dan memunguti pecahan gelas yang ada di lantai.


Sontak saja Rafael bergerak cepat mendekati Ayana sambil menghentikan tangan Ayana yang sedang memunguti pecahan gelas kaca dan berkata,


"Ay, kamu gapapa?"


Seketika tangan Rafael dihempaskan oleh Ayana. Entah mengapa Ayana dengan refleknya menghempaskan tangan Rafael seolah dia tidak mau dibantu oleh Rafael. Bahkan terlihat seperti tidak mau disentuh olehnya.


Mata Rafael terbelalak mendapatkan penolakan dari Ayana. Dia tidak menyangka jika Ayana bisa melakukan hal itu.


Dia malu diperlakukan seperti itu oleh gadis desa seperti Ayana yang menurut Rafael tidak ada apa-apanya. Menurutnya Ayana hanya gadis biasa yang telah merampas kebebasan dan kebahagiaannya.


Dengan kesalnya Rafael berdiri dan kembali ke tempat duduknya. Dia memakan makanannya dengan cepat karena rasa kesalnya masih merajai hatinya.


Tiba-tiba saja dia tersedak ketika memakan dengan cepat makanan tersebut.


Antonio hanya menjadi pendengar dan penonton saja sedari tadi. Dia hanya menilai setelah memperhatikan kejadian yang ada di sana.


"Pelan-pelan Rafael. Tidak ada yang akan meminta makananmu," ucap Rania sambil memberikan gelas yang berisi air putih pada Rafael.


"Ayana, biarkan saja itu dibereskan oleh Pak Yanto. Sekarang lebih baik kamu makan saja," ucap Rania sambil memanggil Ayana dengan gerakan tangannya.


"Biar saya bersihkan dulu Nyonya, biar tidak terkena kaki," jawab Ayana sambil terus memunguti pecahan gelas kaca tersebut.


Rania tersenyum melihat gadis yang bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Kemudian dia berkata,


"Jika sudah selesai. Bergabunglah bersama dengan kami, kita akan makan bersama," tutur Ratih sambil tersenyum manis pada Ayana.


"Maaf Bu, saya tidak bisa makan bersama dengan kalian, karena sangat tidak sopan sekali jika saya makan satu meja dengan majikan saya," ucap Ayana sambil tersenyum pada Rania.


Rania memandang tajam pada Rafael. Dia tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh putranya itu.


Sedangkan Rafael hanya cuek saja meskipun ditatap seperti itu oleh mamanya.


Setelah selesai memunguti pecahan gelas tadi, Ayana segera masuk ke dalam kamarnya meskipun Bik Darmi memanggilnya.

__ADS_1


"Kenapa hidupku jadi seperti ini? Hidupku seratus persen diubah oleh Rafael. Seandainya saja waktu itu aku tidak berdiri di sana, pasti pernikahan ini tidak akan terjadi. Aku sangat menyesali sikapku waktu itu. Sekarang malah dia terang-terangan mengatakan cintanya pada si Rubah betina itu. Sepertinya aku harus menjauh darinya," ucap Ayana untuk meyakinkan dirinya.


__ADS_2