Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 12 Kekesalan Ayana


__ADS_3

Setelah Ayana makan malam di dapur bersama dengan Bik Darmi, dia kembali ke kamarnya untuk belajar. 


Ucapan Tristan tentang perasaannya pada Ruby selalu terngiang di telinga Ayana. Dia benar-benar tidak bisa menerima jika suaminya menyatakan perasaannya pada perempuan lain di hadapannya.


Ceklek!


Seketika Ayana mengalihkan perhatiannya dari laptop yang ada di depannya menuju pintu kamarnya.


"Gak bisa ketuk pintu dulu ya sebelum masuk kamar orang?" tanya Ayana dengan sinisnya.


Rafael menyeringai mendengar omelan istrinya. Dia menutup pintu kamar tersebut dan berjalan mendekati istrinya.


Ayana menatap kesal pada suaminya. Dia mengacuhkannya meskipun Rafael duduk di sebelahnya. Ayana tetap sibuk dengan laptopnya.


"Kamu punya laptop juga ternyata," ucap Rafael sambil mendekat ke arah laptop Ayana.


"Kamu kira orang desa gak punya laptop? Meskipun jelek begini, yang penting masih bisa dipakai. Dan aku bangga memakainya karena aku bekerja keras untuk bisa membeli laptop ini, meskipun hanya laptop bekas," ucap Ayana membanggakan dirinya atas pencapaiannya.


Entah mengapa hati Rafael terasa terenyuh mendengar perkataan Ayana. Sebenarnya dia tidak ada niatan untuk menghina Ayana, dia hanya ingin bertanya tentang hubungan Ayana dengan Satria. 


Tapi dia tidak mungkin menanyakannya begitu saja, dia mencoba untuk bertanya hal lain terlebih dahulu dan kebetulan sekali mata Rafael tertuju pada laptop yang sedang digunakan oleh Ayana.


Sayangnya Ayana mengartikan lain pertanyaan yang diajukan oleh Rafael. Sebenarnya Ayana tidak tersinggung, hanya saja dia sedang kesal dengan suaminya itu. Sehingga semua ucapannya hanya jadi omelan untuk menyalurkan kemarahannya.


"Aku bangga padamu Ay," ucap Rafael sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut panjang Ayana.


Tiba-tiba saja jantung Ayana berdegup dengan kencangnya. Dalam hati dia berkata,


"Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia begitu baik denganku?


"Emmm… Ay, kamu sudah lama kenal dengan Satria?" tanya Rafael dengan hati-hati.


"Baru tadi siang. Dia yang mengantarkanku ke kantor untuk mengumpulkan semua berkas-berkasku. Ada apa memangnya?" tanya Ayana sambil mengernyitkan dahinya.


Rafael menggelengkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Kamu jangan dekat-dekat dengan dia. Kamu harus ingat, tujuanmu datang ke sini untuk apa. Dan kamu juga harus ingat hubungan kita," tutur Rafael pada Ayana sambil melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Ayana menggunakan laptopnya.


Ayana menghentikan pekerjaannya. Dia menatap Rafael dan berkata,

__ADS_1


"Apa kamu juga bisa berhenti menemui si Ruby rubah betina itu? Apa kamu bisa putus dengannya?" tanya Ayana dengan tatapan penuh dengan keraguan pada Rafael.


Sontak saja Rafael membelalakkan matanya. Dia tidak mengira jika Ayana akan mengembalikan larangannya itu padanya. Kemudian dia berkata,


"Jangan sangkut pautkan Ruby dengan permasalahan ini."


Ayana tersenyum sinis pada Rafael. Kemudian dia meneruskan pekerjaannya sambil berkata,


"Kamu bodoh atau pura-pura bodoh? Jika kamu bisa berhubungan dengan perempuan lain, kenapa aku tidak? Aku juga bebas berhubungan dengan laki-laki lain."


Mendengar hal itu, seketika membuat hati Rafael kesal. Dia marah dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. 


"Dengar. Ay, hadaplah ke sini. Dengarkan aku," ucap Rafael dengan tegas dan terdengar sangat kesal.


"Aku sibuk," sahut Ayana tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya.


Seketika tangan Rafael menutup laptop Ayana dengan paksa. Mata Ayana terbelalak dan wajahnya memperlihatkan kekesalannya.


"Kamu-"


Ayana hendak marah pada Rafael, tapi dihentikannya. Dia tidak ingin buang-buang energinya hanya untuk Rafael yang sama sekali tidak mau mengerti dirinya.


Dia melupakan kemarahannya dan membuka kembali laptopnya.


Seketika Rafael kaget mendengar perkataan Ayana. Dengan segera dia menyambar laptop tersebut dan mengutak-atiknya, berusaha untuk menyalakannya.


Namun usahanya sia-sia. Laptop itu tetap tidak mau menyala.


"Kok gak bisa nyala sih? Apa baterainya habis ya?" tanya Rafael sambil berusaha menyalakan laptopnya.


Dengan gerakan cepatnya Ayana mengambil kembali laptop tersebut dari tangan Rafael sambil berkata,


"Ini semua gara-gara kamu. Lagian kamu ngapain sih pakai nutup-nutup laptopku? Baterai habis? Asal tau aja jika baterainya baru saja aku charge penuh."


Rafael merasa bersalah pada Ayana. Baru saja dia membanggakan hasil kerja kerasnya. Dan sekarang laptop dari hasil kerja kerasnya itu rusak karena ulah dirinya.


Tanpa aba-aba Rafael beranjak keluar dari kamar Ayana. Dia tidak berkata apa pun pada Ayana.


Ayana hanya melirik sinis pada Rafael yang berjalan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Huffftttt… cobaan apa lagi ini Tuhan… Kenapa bisa jadi begini? Aku harus sabar. Aku harus bisa menghadapi semua ini," ucap Ayana dengan suara yang bergetar dan tangannya memukul-mukul dadanya, berharap agar sesak di dadanya bisa berkurang meskipun tidak sepenuhnya hilang.


Beberapa saat kemudian, Rafael kembali masuk ke dalam kamar Ayana dengan membawa laptop di tangannya.


"Ay, maaf ya. Aku tidak bermaksud merusaknya. Kamu pakai laptop ini saja dulu. Laptop milikmu biar aku benerin dulu ya," ucap Rafael sambil memberikan laptop miliknya.


Ayana menatap Rafael dan laptop yang dibawanya secara bergantian. Kemudian dia berkata,


"Lalu kamu pakai apa?"


Rafael tersenyum dan duduk di sebelah Ayana sambil berkata,


"Aku masih ada laptop lainnya Ay. Kamu pakai saja yang ini. Dan berikan padaku laptop mu itu, aku akan sebisa mungkin membenarkannya," tukas Rafael sambil tersenyum manis dan menukar laptop milik Ayana dengan laptop miliknya.


Ayana membuka laptop milik Rafael dan mencoba menyalakannya. Sebentar dia mengoperasikannya, kemudian dia tersenyum manis pada Rafael sambil berkata,


"Aku pakai dulu ya sampai laptopku bisa menyala kembali."


Rafael terpana dengan senyuman manis yang diberikan oleh Ayana padanya. Senyuman manis itu memperlihatkan dua lesung pipi yang mampu mengalihkan semua perhatian Rafael padanya.


"Rafa, kamu kenapa?" tanya Ayana sambil menggerak-gerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri, mencoba untuk menyadarkan Rafael yang terlihat sedang melamun.


"Eh, apa? Kamu tadi ngomong apa?" tanya Rafael gugup dan salah tingkah.


Ayana terkekeh melihat Rafael yang terlihat lucu saat sedang gugup seperti sekarang ini.


Dan lagi-lagi Rafael kembali terpana melihat Ayana yang tertawa dengan lepas. Entah mengapa jika dia bersama dengan Ayana, Rafael lupa akan Ruby. Sayangnya Rafael tidak menyadari hal itu.


"Rafa, aku mau mengerjakan ini. Apa kamu sudah selesai?" tanya Ayana dengan wajah seriusnya.


Rafael menghela nafasnya, dia merasa diusir oleh istrinya sendiri. Kemudian dia berkata,


"Apa kamu mengusirku? Ingat, kamu siapanya aku."


"Aku tidak akan lupa. Tapi itu hanya berlaku jika kamu bertindak yang sama dengan laranganmu padaku. Jika kamu masih bersama rubah itu, makan tidak ada alasan bagiku untuk tidak berteman dengan laki-laki lainnya," tukas Ayana dengan tegas dan terlihat sangat serius.


Mendengar perkataan dari Ayana membuat Rafael jadi bimbang dan kesal. Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tanpa sadar menjadi lebih dekat dengan Ayana.


Rafael keluar dari kamar Ayana dengan membawa laptop milik Ayana.

__ADS_1


Bik Darmi melihat Rafael keluar dari kamar Ayana. Dia bersembunyi agar tidak terlihat oleh Rafael.


"Dari mana kamu Raf?" tanya Rania ketika melihat Rafael berjalan melewati ruang tengah.


__ADS_2