Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 35 Sebuah janji


__ADS_3

Pada saat sarapan pagi, Rania selalu saja memperhatikan Ayana. Sedari tadi dia menahan senyumnya melihat Ayana dan Rafael yang terlihat malu-malu di meja makan.


Bahkan Rania memperhatikan mereka berdua mulai mereka keluar dari kamar Rafael.


Jalan Ayana yang tidak biasa dan terlihat kurang nyaman membuat Rania yakin jika semalam telah terjadi sesuatu antara anak dan menantunya itu.


Setelah mereka semua selesai sarapan, kedua orang tua Ayana berpamitan pulang. Tentu saja Rania dan Antonio tidak begitu saja membiarkan mereka pulang sendiri.


Mereka memerintahkan pada sopir untuk mengantarkan kedua orang tua Ayana pulang ke rumah. Mereka ingin memastikan jika kedua orang tua Ayana sampai dengan selamat hingga rumahnya.


Dikarena hari ini weekend, Ayana dan Rafael bisa lebih santai di rumah. Sayangnya Ayana masih saja malu-malu jika berada di dekat Rafael ketika berada di rumah.


Rafael, Ayana, Rania dan Antonio mengantarkan kepergian kedua orang tua Ayana di teras rumah mereka. Setelah mobil yang membawa kedua orang tua Ayana tidak terlihat lagi, Rafael menarik tangan Ayana seraya berkata,


"Ay, sini deh."


Rania dan Antonio memperhatikan anak dan menantunya itu. Mereka saling memandang dan tersenyum geli melihat Ayana dan Rafael yang masih malu-malu.


"Sepertinya mereka sudah melakukannya semalam Pa. Siap-siap saja Papa akan punya cucu sebentar lagi," bisik Rania di telinga Antonio.


Antonio tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Memang mereka berdua sangat ingin memiliki cucu untuk penerus keluarga mereka selanjutnya. Dan mereka berdua menginginkannya dari Rafael dan Ayana.


Rafael membawa Ayana menuju kamarnya. Ayana hanya menundukkan kepalanya saja. Jantungnya berdegup sangat kencang, hingga dia tidak mampu untuk memandang wajah suaminya.


"Ay, kamu kenapa?" tanya Rafael sambil menahan senyumnya.


Sekarang ini Rafael merasa gemas pada istrinya. Baru kali ini dia menyadari jika istrinya itu sangat cantik dan menggemaskan.


"Kamu jangan seperti ini Raf, aku malu," jawab Ayana dengan wajah yang merona.


Bagaimana Ayana tidak malu jika posisi mereka saat ini mampu membuat jantung Ayana layaknya sedang menaiki roller coaster.


Kini Rafael mengunci tubuh Ayana yang disandarkannya di tembok. Kedua tangan kekar Rafael berada di samping kanan dan kiri tubuh Ayana, sehingga dia tidak bisa bergerak ke mana pun.

__ADS_1


Rafael bertambah semangat menggoda istrinya itu. Dia semakin mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah istrinya yang sedang malu-malu padanya.


"Ay, kita jadi benerin laptopmu gak?" tanya Rafael yang masih dalam posisi menengadahkan wajahnya tepat di depan wajah Ayana.


Ayana mendongakkan wajahnya seraya berkata,


"Jadi Raf, ayo kita pergi sekarang."


Mereka saling menatap dan tatapan mereka terkunci selama beberapa detik. Mereka saling merasakan perasaan mereka dari tatapan matanya itu.


Cuuup!


Tiba-tiba saja dengan gerakan cepatnya Rafael mendaratkan bibirnya pada bibir Ayana. Sontak saja mata Ayana terbelalak mendapatkan serangan mendadak dari Rafael yang tidak pernah disangka sebelumnya.


Hanya beberapa detik saja bibir Rafael menempel pada bibir Ayana. Rafael hanya memberinya ciuman singkat saja, karena dia tidak ingin jika terpancing kembali seperti malam kemarin.


"Masih pagi, nanti malam saja kita teruskan pagi," bisik Rafael pada telinga kanan Ayana.


Seketika Ayana tersadar. Tanpa disadarinya, telapak tangan Ayana menutupi bibirnya.


"Gak usah malu Ay. Kemarin malam kan kita sudah melakukannya. Aku tau jika kamu belum pernah melakukan ciuman," ucap Rafael sambil tersenyum geli.


Mendengar perkataan suaminya, Ayana merasa kaget. Dengan refleknya tangannya itu terlepas dari bibirnya dan berkata,


"Kok kamu tau?"


Rafael terkekeh melihat ekspresi lucu istrinya. Dia mencubit gemas hidung istrinya itu dan berkata,


"Aku bisa merasakannya Ay."


Seketika wajah Ayana terlihat kesal. Dia menghempaskan dengan kasar tangan kanan Rafael yang menghalanginya. Kemudian dia berjalan seraya berkata,


"Iya tau kalau kamu sudah sangat berpengalaman bersama dengan rubah betina itu."

__ADS_1


Tiba-tiba Ayana menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang sambil memicingkan matanya melihat ke arah Rafael dan berkata,


"Jangan-jangan kamu juga sudah sering melakukan seperti yang semalam itu bersama dengan si rubah betina itu?"


Seketika kekehan Rafael berhenti. Dengan langkah cepatnya dia memegang tangan Ayana dan menatapnya dengan tatapan memohonnya seraya berkata,


"Aku bersumpah jika aku tidak pernah melakukan itu dengan perempuan mana pun. Baru pertama kali aku melakukannya denganmu. Dan itu karena kamu sudah sah menjadi istriku."


"Benarkah? Kenapa kamu tidak melakukannya dengan si rubah betina itu? Dia sangat cantik. Sangat tidak mungkin jika kamu tidak mau melakukannya bersamanya," ucap Ayana yang seolah menuduh Rafael.


Rafael tahu jika sangat tidak mungkin jika Ayana bisa percaya begitu saja dengan alasan yang diberikannya meskipun alasan itu benar adanya.


Seketika Rafael berlutut di hadapan istrinya. Masih dengan kedua tangannya yang memegang kedua tangan istrinya itu, dia berkata,


"Mama dan Papa selalu mengingatkan agar aku bisa menjaga diri dari keinginan seperti itu. Mereka selalu mengatakan jika aku hanya bisa melakukannya bersama dengan istriku saja. Dan aku tidak mengingkari jika memang Ruby cantik, tapi sayangnya dia tidak secantik kamu. Istriku lebih cantik luar dalam. Dan aku sangat beruntung telah memilikimu menjadi istriku. Maafkan aku jika aku baru menyadarinya. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu."


Tatapan mata Rafael yang penuh harap dan mengiba itu membuat hati Ayana trenyuh. Bahkan setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya, Rafael mencium kedua punggung tangan dan telapak tangan Ayana secara bergantian.


Hal itu membuat hati Ayana goyah. Tangan Ayana menuntun Rafael agar berdiri seraya berkata,


"Berdirilah, jangan berlutut di hadapan wanita."


Rafael yang sudah berdiri di depan istrinya, kini dia menatap intens manik mata istrinya itu seraya berkata,


"Hanya ada dua wanita yang bisa membuatku berlutut. Mama dan juga kamu, istriku."


Mata Ayana berkaca-kaca mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia sama sekali tidak pernah mengira jika seorang Rafael begitu luar biasa bijaknya dalam bersikap. Bahkan kini Ayana tidak bisa mengatakan apa pun untuk menanggapi perkataan suaminya itu.


Melihat mata Ayana yang berkaca-kaca, dengan segera Rafael membawa tubuh istrinya itu dalam pelukannya. 


"Menangislah Ay, tapi hanya dalam pelukanku saja. Jangan menangis dalam pelukan laki-laki lain. Dan aku harap, mulai sekarang tangisanmu hanya tangisan bahagia saja. Aku tidak ingin melihatmu menangis karena terluka," tutur Rafael sambil mengusap lembut rambut istrinya.


Setelah dirasa Ayana sudah tenang, Rafael mengurai dengan perlahan pelukannya. Tangannya memegang dagu istrinya agar mata mereka saling beradu. Kemudian dia tersenyum seraya berkata,

__ADS_1


"Ayo kita berangkat sekarang."


__ADS_2