
Rafael segera naik di atas motornya. Dia mencoba memakaikan helm pada Ayana. Sayangnya, Ayana menghindar.
Helm tersebut disambar dengan kasarnya oleh Ayana. Dia menolak dipakaikan helmnya oleh Rafael. Bukan karena dia tidak suka, hanya saja dia tidak ingin jika hatinya kembali goyah oleh perlakuan manis Rafael padanya.
Rafael menatap kecewa pada istrinya yang tidak lagi menurut padanya. Ayana gadis lugu dan penurut kini seolah sudah berganti menjadi gadis tangguh yang sulit untuk diraihnya.
Setelah memakai helmnya, Ayana naik pada boncengan motor Rafael. Dia bahkan menjaga jarak antara punggung Rafael dengan dirinya sekitar satu telapak tangannya.
Rafael melihat dari kaca spionnya. Dan dia menghela nafasnya di balik helm full face nya itu.
"Ay, pegangan yang kuat. Aku tidak mau kamu terjatuh di jalan," ucap Rafael seraya menarik paksa tangan Ayana untuk melingkar di pinggangnya.
Tentu saja tenaga Ayana kalah dengan tenaga Rafael. Kini, kedua tangannya sudah melingkar dengan eratnya pada pinggang Rafael.
Tentu saja tubuh Ayana ikut tertarik ketika tangannya ditarik paksa oleh Rafael. Kini, bagian depan tubuh Ayana menempel pada punggung Rafael dengan sangat erat, hingga Rafael bisa merasakan gundukan kembar milik Ayana yang terasa sangat empuk di punggungnya.
Seringaian Rafael tertutup oleh helm full face yang dipakainya sehingga Ayana tidak bisa melihat ekspresi wajah Rafael yang bahagia karena bisa kembali menaklukkannya.
Untuk sekarang cukup seperti ini dulu. Kita lihat saja nanti bagaimana aku bisa membuatmu kembali menurut padaku, Rafael berkata dalam hatinya.
Ayana mencoba memberi jarak pada tubuh mereka. Sayangnya, gerakan tubuh Ayana dapat dirasakan oleh Rafael.
Sontak saja Rafael menyendat laju motornya dan itu membuat dada Ayana kembali menempel pada punggung Rafael.
Ternyata Rafael tidak mengajak Ayana pulang ke rumahnya. Dia membawa Ayana berhenti sejenak di sebuah danau.
"Tempat ini sangat tenang dan damai," ucap Ayana sambil memejamkan matanya ketika berdiri di tepian danau.
"Duduk sini Ay," ucap Rafael sambil menarik tangan Ayana.
Tubuh Ayana pun ikut tertarik. Dia duduk di sebelah Rafael dan memandang lurus ke depan.
Danau yang ada di hadapan mereka itu sangat damai dan tenang. Suasana di sana pun membuat pikiran menjadi lebih tenang.
Rafael menoleh ke samping, di mana Ayana sedang duduk di sebelahnya. Tangannya memegang kedua pipi Ayana agar menghadap ke arahnya. Kemudian dia berkata,
"Ay, aku mau mengakui sesuatu padamu."
Masih dalam posisi yang sama, Ayana mengernyitkan dahinya seolah mengatakan jika dia tidak mengerti apa yang akan dikatakan oleh Rafael.
__ADS_1
Rafael mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian dia berkata,
"Ay, sebenarnya aku adalah anak kandung Mama dan Papa."
Sontak saja mata Ayana terbelalak. Dia terkejut mendengar pengakuan dari suaminya.
Tangan Rafael kini memegang erat kedua tangan Ayana dan dia menatap intens manik mata istrinya seraya berkata,
"Maafkan aku Ay, aku tidak bermaksud membohongimu. Saat itu aku hanya bingung dengan kejadian yang tiba-tiba membuat kita menjadi suami istri. Dan sekarang aku sadar jika itu cara Tuhan membuat kita bersatu."
Ayana tidak bisa berkata-kata. Dia mencerna semua perkataan Rafael dan dia tidak bisa menyalahkannya.
Semua yang dikatakan oleh Rafael memang benar adanya. Ayana pun merasakan hal yang sama waktu itu.
Mungkin benar, ini cara Tuhan mempersatukan kami. Dan itu berarti, suamiku bukan orang biasa. Ternyata suamiku luar biasa, Ayana berkata dalam hatinya.
"Ay, kamu mau memaafkan aku kan?" tanya Rafael dengan wajah mengiba.
Tanpa sadar Ayana menganggukkan kepalanya. Jujur saja jika dia tidak bisa menolak pesona Rafael, apalagi dengan wajah mengibanya itu dia seolah terhipnotis untuk memaafkannya.
"Dan untuk Ruby, aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Kamu jangan khawatirkan itu lagi. Lebih baik kita pikirkan tentang pernikahan kita," tutur Rafael sambil tersenyum manis pada Ayana.
"Ay, aku minta maaf. Percayalah aku tidak akan lagi bersama dengannya. Dan aku harap kamu juga tidak akan dekat dengan laki-laki lain," ucap Rafael mengiba pada Ayana.
Ayana beranjak dari duduknya seraya berkata,
"Sudahlah Raf, sebaiknya kita pulang saja."
Rafael pun berdiri dari duduknya. Dengan gerakan cepatnya, Rafael menarik tangan Ayana sehingga tubuh Ayana ikut tertarik dan membentur dada Rafael.
Secepat kilat Rafael memeluk dengan erat tubuh Ayana seolah dia tidak ingin kehilangannya.
"Ay, aku mohon. Ini semua demi hubungan kita," tutur Rafael yang terdengar sangat putus asa.
Ayana hanya bisa membisu. Dia seolah menjadi patung yang diam saja dipeluk oleh Rafael.
Di rumah Rafael, kini Rania bersama Antonio sedang kedatangan tamu. Mereka saling berhadapan dan memperkenalkan dirinya masing-masing.
Sepasang suami istri itu mengatakan maksud kedatangannya ke rumah tersebut. Mereka mengetahui alamat Rafael dari KTP yang digunakan untuk mengurus dokumen pernikahan mereka.
__ADS_1
Mereka adalah orang tua dari Ayana yang datang dari desa untuk menjenguk Ayana sekaligus untuk bertemu dengan kedua orang tua Rafael.
Kedua orang tua Ayana menceritakan semua yang terjadi pada Antonio dan juga Rania. Mereka merasa lega karena sambutan dari kedua orang tua Rafael sangat baik dan tidak menyalahkan mereka.
"Begini Pak, Bu, kami akan mengadakan pesta pernikahan mereka. Apa Bapak dan Ibu bersedia untuk tinggal di sini hingga pada hari pesta pernikahan mereka dilaksanakan?" tanya Rania mewakili suaminya.
Bapak dan ibu Ayana saling memandang, seolah mereka saling bertanya melalui tatapan mata mereka. Kemudian ibu Ayana berkata,
"Maaf Bu, sebaiknya kami pulang terlebih dahulu. Jika sudah saatnya saja kami akan datang kembali ke sini."
"Kami titip Ayana di sini Pak, Bu. Ayana perempuan yang mandiri. Dia tidak akan menyusahkan orang lain," imbuh bapak Ayana untuk menambahi perkataan istrinya.
Antonio dan Rania tersenyum mendengar perkataan dari sepasang suami istri yang ada di hadapannya. Melihat mereka berdua mengingatkan akan sikap sopan dan rendah hati Ayana.
"Ayana sudah kami anggap seperti anak kami sendiri Bu. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir karena semua orang di rumah ini sangat menyayangi Ayana," tutur Rania sambil tersenyum pada kedua orang tua Ayana.
Antonio hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan istrinya. Dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Bapak, Ibu."
Terdengar suara Ayana dari arah pintu masuk.
Kedua orang tua Ayana dan Rafael menoleh ke arah pintu. Mereka tersenyum pada Ayana yang berdiri mematung dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke arah mereka.
"Ayana, sini Nak. Bapak dan Ibu kangen sekali sama kamu," ucap ibu Ayana yang sedang melambaikan tangannya pada Ayana.
Dengan sedikit berlari, Ayana berhambur memeluk ibu dan bapaknya seraya berkata,
"Ibu, Bapak, Ayana kangen."
Ibu dan bapak Ayana bergantian memeluk Ayana dan mengatakan bahwa mereka sangat merindukannya.
"Kenapa Bapak dan Ibu tidak mengabari Ayana terlebih dahulu ketika datang kemari?" tanya Ayana setelah lepas dari pelukan bapak dan ibunya.
Bapak dan Ibu Ayana kembali terkekeh melihat sikap putrinya yang masih sama seperti biasanya. Bapak Ayana pun berkata,
"Kami sengaja datang kemari untuk memberikan buku nikah kalian yang sudah jadi beberapa hari yang lalu."
Seketika Rafael membelalakkan matanya dan menoleh ke arah mama dan papanya yang tersenyum geli padanya.
__ADS_1