Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 34 Memilikimu seutuhnya


__ADS_3

Rafael merasa takut jika kedua orang tuanya marah padanya karena merahasiakan pernikahannya dan mengatakan pada mereka jika Ayana adalah pembantu baru mereka.


Hal yang paling ditakutkannya adalah alasan dia dan Ayana dinikahkan paksa pada saat itu. 


Ternyata semua ketakutan Rafael tidak terbukti. Rania dan Antonio tidak menyalahkannya. Bahkan mereka menyambut hangat kedua orang tua Ayana.


Tadinya kedua orang tua Ayana tidak akan menginap, hanya saja Rania dan Ayana memaksa mereka, sehingga mereka memutuskan untuk menginap malam ini.


"Ayana, biarkan kedua orang tua kamu beristirahat di kamarmu saja," tutur Rania pada Ayana setelah mereka makan malam bersama.


"Emmm tapi Bu-"


"Loh Ayana punya kamar sendiri Bu? Bukannya Ayana tidur bersama Rafael?" tanya ibu Ayana yang merasa kaget mendengar perkataan Rania.


Seketika Ayana dan Rafael menutup rapat mulutnya. Mereka saling memandang seolah saling meminta bantuan untuk menjawabnya.


Rania dan Antonio menahan senyumnya. Mereka sangat terhibur melihat ekspresi wajah Rafael saat ini. Tanpa diketahui Rafael, inilah hukuman yang diberikan oleh Rania dan Antonio padanya.


"Mereka memang tidur sekamar Bu, hanya saja mereka mempunyai kamar sendiri untuk barang-barang mereka. Kamar mereka saat ini masih sempit, jadi tidak muat jika barang mereka berdua ada dalam satu kamar yang sama," tutur Rania menjelaskan seraya tersenyum pada kedua orang tua Ayana.


"Sebentar lagi rumah mereka sudah selesai. Mereka akan memiliki kamar bersama di rumah mereka yang baru," sambung Antonio dengan bijaknya.


Kedua orang tua Ayana hanya menganggukkan kepalanya mencoba mengerti dan memahami apa yang dikatakan oleh kedua orang tua Rafael.


Namun, tetap saja mereka berpikiran bahwa sekecil apa pun kamar mereka, Rafael dan Ayana harus menempati kamar yang sama.


"Lalu, setiap harinya kalian berdua tidur di kamar siapa?" tanya ibu Ayana dengan rasa ingin tahunya.


Ayana dan Rafael kembali saling memandang. Mata mereka seolah saling berbicara. 


"Setiap hari kami tidur bersama di kamar kami. Maksudnya bergantian. Kadang di kamar saya, kadang juga di kamar Ayana. Jadi suasananya berbeda," jawab Rafael dengan gugup dan tersenyum kaku pada mertuanya.


"Oh begitu. Apa tidak sebaiknya kami tidur di kamar pembantu atau kamar tamu saja?" tanya ibu Ayana yang terlihat sungkan pada kedua orang tua Rafael.


"Tidak Bu. Kenapa Bapak dan Ibu tidur di kamar lain jika kamar Ayana tidak Ayana pakai malam ini? Ayana akan tidur di kamar Rafael saja Bu," sahut Ayana dengan pandangan matanya yang mengiba pada kedua orang tuanya.


Ucapan dari Ayana itu membuat Rafael bersorak dalam hatinya. Terlihat jelas dari wajah Rafael saat ini yang sangat bahagia.

__ADS_1


Semua itu tidak luput dari pengamatan Rania dan Antonio. Mereka berdua saling menatap dan tersenyum tipis.


"Ya sudah. Lebih baik kamu antarkan kedua orang tua kamu ke kamar," tutur Rania yang memandang Ayana sambil tersenyum.


Ayana pun menuruti perintah Rania. Dia beranjak dari duduknya dan membawakan tas milik ibunya. Dia juga menggandeng lengan ibunya ketika menaiki tangga seraya berkata,


"Hati-hati Bu."


Setelah melihat Ayana dan kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar Ayana, Rania dan Antonio menatap penuh tanya pada Rafael.


Seketika nyali Rafael jadi menciut. Jujur saja jika dia tidak pernah membantah kedua orang tuanya. Dia selalu menjadi putra yang baik untuk mereka. Kecuali tentang Ruby.


Sejak pertemuan pertama Rania dengan Ruby, dia tidak pernah menyetujui hubungan Rafael dan Ruby. Bahkan tak bosan-bosannya Rania selalu mengingatkan Rafael agar segera memutuskan Ruby. Sayangya, Rafael tidak bisa melakukannya. Dia merasa tidak tega pada Ruby yang selalu manja padanya.


"Maaf Ma, Pa. Saat itu Rafael tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Mama dan Papa. Dan pada saat itu Rafael juga tidak bisa menerima keputusan warga sekitar yang memaksa kami menikah hanya karena mereka salah sangka. Jadi… Rafael berbohong pada kalian," ucap Rafael sambil menundukkan kepalanya.


"Apa hubunganmu dengan wanita tidak tau diri itu sudah berakhir?" tanya Rania dengan tegas dan tatapan matanya yang menakutkan bagi Rafael.


"Sudah Ma. Rafael juga sudah mengaku pada Ayana jika Rafael anak kandung Mama dan Papa. Maafkan Rafael Ma, Pa. Mama benar, wanita itu hanya menginginkan uang Rafael saja," jawab Rafael dengan memperlihatkan wajah mengibanya.


"Baiklah. Jangan sampai kamu menemui wanita licik itu. Bagi kami, Ayana perempuan yang sangat tepat untuk menjadi istri kamu. Lihatlah bagaimana dia memperlakukan ibunya dan Mamamu ini. Dia anak yang berbakti pada orang tua. Paoa harap kamu tidak akan menyia-nyiakan Ayana yang sudah menjadi istri kamu," tutur Antonio dengan bijaknya.


"Rafael janji Pa. Rafael sudah sadar dan sudah tau apa yang diinginkan oleh hati Rafael."


"Berjanjilah untuk menjaga keutuhan rumah tanggamu Rafael. Maa tidak mau jika nantinya kalian berpisah," ucap Rania mengingatkan Rafael yang sudah berdiri dari duduknya.


Rafael kembali menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Rafael janji Ma."


Setelah itu dia meninggalkan tempat tersebut untuk menyusul istrinya yang kemungkinan besar sudah ada di kamarnya.


Perlahan Rafael membuka pintu kamarnya. Dia tersenyum manis melihat istrinya sudah berada di dalam kamar tersebut.


"Ay, kamu sedang apa?" tanya Rafael yang melihat Ayana sedang sibuk dengan laptopnya.


Ayana menoleh ke arah Rafael berada. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Raf, sepertinya laptopku rusak lagi deh."


"Sini, coba aku lihat," ucap Rafael sambil meraih laptop dari hadapan Ayana.


Beberapa saat Rafael mengutak-atik laptop tersebut. Kemudian dia menutup laptop itu seraya berkata,


"Aku belikan yang baru saja ya Ay. Sepertinya laptop ini sudah rusak."


Ayana menghela nafasnya. Tampak sekali dia sedang sedih saat ini. 


"Pakai saja laptopku dulu Ay, jika memang kamu membutuhkannya sekarang," sambung Rafael kembali.


"Bukan masalah itu Raf. Aku sayang banget sama laptop itu. Kamu tau sendiri kan, laptop itu hasil kerja kerasku selama beberapa bulan" ucap Ayana dengan wajah sedihnya menatap laptop miliknya.


"Ya sudah. Besok kita ke tempat untuk memperbaiki laptopmu. Tapi sebaiknya kamu tidak menolak jika besok aku membelikanmu laptop yang baru," tukas Rafael sambil mengusap lembut rambut istrinya.


Ayana merasa canggung saat ini. Dengan susah payah dia mengacuhkan Rafael hingga menjauhi Rafael, tapi saat ini dengan gampangnya dia kembali merasakan jantungnya yang berdegup dengan sangat kencang.


"Emmm… Raf, aku-"


Tiba-tiba bibir Ayana sudah dibekap oleh bibir Rafael. Gerakan cepat Rafael itu membuat Ayana kaget dan tidak menyangka jika suaminya akan menciumnya saat ini.


Ayana hanya terdiam. Dia tidak bisa mengimbangi ciuman Rafael. Perlahan Rafael mengigit bibir bawah istrinya agar sedikit terbuka dan memberinya akses masuk yang lebih baginya.


Perlahan Ayana mulak terhanyut oleh ciuman Rafael. Matanya terpejam dan dia mulai mengikuti apa yang dilakukan oleh Rafael.


Sedikit demi sedikit Ayana mulai bisa mengikuti ciuman Rafael. Hingga lama kelamaan ciuman mereka saling menuntut.


Tanpa sadar tangan Rafael membuka sehelai demi sehelai kain yang menutupi tubuh istrinya. Ayana pun tanpa sadar mengikuti apa yang Rafael lakukan padanya. Dia pun membuka satu demi satu kain yang menempel pada tubuh suaminya.


Naluri mereka sebagai pasangan suami istri membuat mereka menginginkan satu sama lain. Dan malam ini juga, mereka telah bersatu dalam melakukan hubungan badan yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri.


"Aku mencintaimu Ay," ucap Rafael setelah mengecup dahi istrinya.


"Aku juga Raf. Aku harap kamu tidak akan meninggalkanku setelah semua ini," sahut Ayana dengan nafasnya yang terengah-engah setelah melakukan ritual mereka.


Rafael membawa tubuh Ayana dalam pelukannya seraya berkata,

__ADS_1


"Aku berjanji Ay, aku tidak akan membuatmu kecewa. Percayalah."


Setelah Ayana menganggukkan kepalanya, mereka berdua memejamkan matanya dengan harapan hari esok mereka akan lebih indah dan bahagia.


__ADS_2