
Sudah beberapa hari ini Ayana menghindari Rafael. Bahkan dia berangkat terlebih dahulu untuk pergi ke kampusnya.
Dia melewatkan sarapan demi menghindari Rafael. Dan dia selalu membawa bekal untuk dimakan di kampusnya.
Sudah beberapa hari juga Rafael mendapat omelan dari mamanya karena sikap Ayana yang juga menjauh dari Rania apabila ada Rafael di sekitarnya.
Tentu saja aturan untuk uang sakunya masih sama seperti waktu itu. Dia harus meminta pada Ayana setiap membutuhkan uang.
Setiap Rafael mendatangi Ayana untuk meminta uang, Ayana hanya memberikannya tanpa berkata apa pun. Hal itu benar-benar membuat Rafael menjadi frustasi.
Seperti saat ini, dia mencari Ayana yang selalu menghindarinya.
"Ke mana dia? Sulit sekali menemukannya. Kenapa aku jadi seperti depkolektor yang selalu mencarinya untuk meminta uang padanya?" ucap Rafael yang frustasi mencari keberadaan Ayana.
Dia berdiri di koridor dengan matanya yang mengawasi sekitarnya untuk mencari keberadaan Ayana.
Seketika matanya berbinar tatkala mendapati sosok perempuan yang telah memenuhi pikiran, serta menyita waktu dan tenaganya selama beberapa hari ini.
"Ay! Ayana! Tunggu!" teriak Rafael yang berlari ke arah Ayana.
Ayana tidak lagi bisa menghindar. Tangan Rafael sudah memegang lengannya untuk menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Ayana dengan malas.
"Uang Ay," jawab Rafael lirih.
Jujur saja, dia sangat malu selalu meminta uang pada Ayana setiap kali dia membutuhkan uang. Dan itu terjadi setiap hari ketika mereka sedang berada di kampus.
Tanpa mengatakan apa pun, Ayana mengambilkan selembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya. Setelah itu dia beranjak meninggalkan Rafael tanpa menunggu Rafael mengatakan sesuatu padanya.
Tiba-tiba tangan Ayana ditarik oleh seseorang. Dia menoleh ke arah orang yang memegang tangannya.
Helaan nafasnya menandakan betapa tidak inginnya dia melihat orang tersebut.
Rafael menghentikan langkah Ayana dengan mencekal tangannya seraya berkata,
"Tunggu Ay, sepertinya sudah saatnya kita bicara."
"Sayang!"
Terdengar teriakan seorang perempuan dari jauh.
Ayana tersenyum sinis pada Rafael dan berkata,
"See, kamu tidak akan bisa lepas dari rubah betina itu."
__ADS_1
Tangan Rafael dihempaskan oleh Ayana. Tapi Rafael kembali meraih tangan Ayana untuk kembali menghentikannya.
"Kita bicara dulu Ay. Kamu tidak bisa selamanya menghindar dariku," ucap Rafael yang terlihat frustasi.
Ayana kembali tersenyum sinis pada Rafael. Dia pun kembali menghempaskan tangan Rafael dan berkata,
"Aku tidak menghindar darimu. Aku hanya tidak mau disebut sebagai pelakor, perebut laki orang."
Setelah mengatakan itu, Ayana segera berjalan cepat meninggalkan Rafael yang masih menatapnya.
Rafael menghela nafasnya berat seraya memandang punggung istrinya yang sedang menghindarinya.
"Sayang, kamu itu ke mana saja sih? Bukannya kamu janji menemaniku makan siang? Yuk, aku sudah sangat lapar," ucap Ruby yang sudah berada di dekat Rafael.
Tangan Ruby bergelayut pada lengan Rafael dengan manja dan berkata,
"Kita mau makan di mana Sayang? Restoran Jepang? Restoran China? Restoran Italy? Atau Restoran Eropa yang biasanya?"
Rafael menghela nafasnya mendengar permintaan dari pacarnya itu. Kemudian dia berkata,
"Ruby, aku kan sudah pernah bilang sama kamu. Mama tidak mengembalikan semua kartu-kartuku. Dan aku hanya dijatah uang untuk membeli bensin saja setiap hari."
Seketika Ruby melepaskan tangannya dari lengan Rafael. Dia bersikap anggun dan berkata,
"Ehemmm… Sepertinya aku ada janji dengan temanku. Aku pergi dulu."
Rafael tersenyum geli melihat sikap Ruby yang sangat terlihat jelas hanya menyukai uangnya.
Kini dia bertambah yakin atas apa yang dikatakan mamanya tentang Ruby. Tapi dia belum yakin atas perasaannya pada Ayana yang sudah menjadi istrinya.
Rafael memutuskan untuk menunggu Ayana dan mengajaknya pulang bersama dengan dirinya.
Sayangnya, kini Ayana selalu bersama dengan Satria. Dia selalu mengantar jemput Ayana sejak Ayana menghindari Rafael.
Kedua tangan Rafael mengepal, dia menggertakkan giginya, serta rahangnya mengeras melihat Ayana yang sedang tertawa lepas berjalan bersama dengan Satria.
Dengan amarah yang menggebu-gebu, Rafael mendatangi Ayana dan Satria yang sedang asik bercanda sambil berjalan beriringan.
Grep!
Tangan Ayana dipegang erat oleh Rafael. Sontak saja Ayana kaget dan menoleh ke arah tangan yang memegangnya.
Mata Ayana terbelalak melihat orang yang memegangnya adalah Rafael. Seketika dia menghempaskan tangan Rafael yang sedang memegang tangannya.
Namun, pegangan tangan Rafael begitu kuat sehingga Ayana gagal menghempaskan tangan Rafael dari tangannya.
__ADS_1
Ayana menatap tajam pada suaminya itu. Tapi Rafael tidak gentar sedikit pun. Dia memegang tangan Ayana semakin erat dan tatapan mereka saling beradu.
"Lepaskan Raf!" seru Satria yang mencoba melepaskan tangan Rafael dari tangan Ayana.
Rafael semakin erat mencengkram tangan Ayana hingga Ayana meringis merasakan sakitnya.
Rafael kini beralih menatap tajam pada Satria. Tatapannya itu seolah menghunusnya.
"Lebih baik kamu tidak usah ikut campur. Dia milikku. Aku bebas membawanya kapan saja," ucap Rafael dengan mengeratkan giginya dan menekankan semua kata-katanya.
Satria tersenyum sinis mendengar perkataan Rafael. Kemudian dia berkata,
"Milikmu? Dia bukan barang. Dan dia bukan milik siapa-siapa. Meskipun dia sepupu kamu, bukan berarti dia milikmu. Jadi, jangan mimpi kamu Raf!"
Rafael menyeringai seolah merendahkan Satria. Dan dia berkata,
"Asal kamu tau, dia itu is–"
"Ayo kita pulang!" sahut Ayana dengan cepat untuk menyela ucapan Rafael yang ingin mengatakan status perkawinan mereka.
"Ayana, bagaimana dengan rencana kita tadi?" tanya Satria yang tidak rela jika Ayana pulang bersama dengan Rafael.
Ayana yang sudah menarik Rafael untuk berjalan dengannya, kini dia berhenti dan menoleh ke arah Satria. Kemudian dia berkata,
"Maaf Satria, sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu sekarang. Mungkin lain waktu aku bisa ikut denganmu."
"Tidak ada lain waktu! Kamu harus ijin padaku jika akan pergi ke mana pun," sahut Rafael dengan tegas seolah memberitahukan pada Ayana dan Satria bahwa mereka tidak akan kembali bisa pergi bersama.
Satria menatap Rafael dengan tatapan penuh dengan permusuhan. Tapi dia tidak menanggapi perkataan Rafael karena dia merasa percuma berdebat dengan Rafael yang sedang emosi dan bukan siapa-siapa dari Ayana.
Dia hanya menatap getir punggung perempuan yang dicintainya sejak pertama kali pertemuan mereka.
Helaan nafas Satria itu terdengar sangat sedih di telinga orang yang mendengarnya.
Kebetulan sekali Candra, Raka dan Farrel sedang ada di tempat itu. Mereka hanya mendengarkan tanpa mendekati Ayana, Satria dan Rafael yang sedang berdebat.
Tiba-tiba Satria merasakan ada yang memegang pundaknya. Sontak saja dia menoleh ke arah belakang.
"Kalian?" celetuk Satria ketika melihat Raka yang sedang memegang pundaknya dan di samping Raka terdapat Candra dan juga Farrel.
"Satria, kita bertiga cuma ingin menasehati kamu saja. Lebih baik jauhi Ayana. Lupakan perasaanmu padanya. Karena itu tidak akan mungkin terjadi," tutur Raka dengan raut wajah seriusnya.
Satria menghela nafasnya mendengar penuturan Raka yang terkesan memihak pada Rafael. Kemudian dia berkata,
"Memangnya kalian siapa? Berani-beraninya kalian menyuruhku menjauhi Ayana."
__ADS_1
Satria menghempaskan tangan Raka yang bertengger di pundaknya. Dengan langkah cepatnya itu dia meninggalkan Raka, Candra dan Farrel yang masih berdiri di tempat itu.