Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 26 Hukuman yang sama


__ADS_3

Ayana dan Rafael berusaha secepat mungkin untuk menyelesaikan mandinya. Mereka tidak mau dimarahi lagi oleh mamanya.


Tanpa janjian, mereka keluar kamar secara bersamaan. Mereka berdua sama-sama salah tingkah dan gugup ketika berjalan beriringan.


Rania dan Antonio berusaha menahan tawanya melihat Ayana dan Rafael yang sedang menuruni tangga dengan kikuk dan saling melirik. Terlihat jelas sekali jika mereka salah tingkah saat ini.


Sesuai arahan Rania, Antonio harus bisa menjaga wibawanya sehingga tidak terlihat wajah bahagianya.


Suasana ruang makan terasa dingin. Wajah Rania dan Antonio yang tidak bersahabat membuat Rafael dan Ayana seperti sedang disidang oleh mama dan papanya.


Mereka berdua tetap diam dan menundukkan kepalanya. Hingga Rania mulai dengan mengambilkan makanan untuk suaminya.


Ayana pun mulai bergerak. Dia mengambil piring Rafael dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauknya.


Rania dan Antonio hanya melirik saja. Mereka tidak mau terlihat memperhatikan mereka.


Suasana ruang makan tetap mencekam. Tidak seperti biasanya yang terasa sangat hidup dengan candaan dan obrolan mereka. Sekarang ini hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring mereka masing-masing.


"Kalian berdua segera ke ruang tengah setelah selesai makan," ucap Antonio setelah meneguk air minumnya.


Ayana dan Rafael saling memandang. Mereka ingin saling mencari tahu apa yang akan mereka katakan nanti. Sayangnya tidak ada kesempatan bagi mereka untuk berbicara berdua.


Kini mereka berdua duduk di depan Rania dan Antonio. Mereka berdua layaknya dua orang yang akan didakwa.


"Rafael. Katakan apa yang terjadi semalam di kamar Ayana," tukas Antonio dengan tegas.


Rafael menghela nafasnya. Firasatnya mengatakan jika dirinya akan dihukum oleh kedua orang tuanya.


Rafael segera menceritakan kejadian semalam di kamar Ayana. Dia menceritakan bagaimana tiba-tiba lampu kamar Ayana padam dan dia tidak bisa meninggalkan Ayana begitu saja yang sedang ketakutan.


"Lalu, bagaimana dengan yang dilihat oleh Mamamu tadi pagi? Kalian berdua tidur dengan saling berpelukan erat. Ah iya, Mama tadi bilang Ayana memakai lingerie dan dia bilang basah di bagian bawahnya. Dan itu di lehernya, kenapa banyak sekali bercak-bercak merah?" tanya Antonio dengan tegas dan menahan tawanya.


Rania menahan sekuat tenaganya untuk tidak tertawa ketika melihat wajah malu dari Rafael. Hingga akhirnya dia menghadap ke belakang untuk sedikit tertawa. Setelah itu dia kembali menghadap pada Ayana dan Rafael.


Begitu pula dengan Ayana. Dia merasa sangat malu mendengar Antonio yang sedang mengatakan keadaannya tadi pagi ketika Rania memergokinya bersama dengan Rafael.


Semua tidak bisa dipungkirinya lagi. Percuma saja mengatakan jika dia tidak melakukan apa pun. Rafael kini mirip seperti seorang maling yang sudah tertangkap basah.


"Tuh kan Pa. Dia diam saja berarti kan beneran. Lalu bagaimana Pa?" tanya Rania pada suaminya.

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi Ma. Kita harus nikahkan mereka agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," jawab Antonio dengan tegas sambil menatap Rafael dan Ayana secara bergantian.


"Nikah? Lagi?" 


Rafael dan Ayana bersamaan mengatakannya. Mereka benar-benar terkejut mendengar hukuman dari Antonio.


Kenapa hidupku seperti ini? Kenapa aku bisa dua kali dihukum dengan hukuman yang sama? Harus menikah secara terpaksa. Dengan orang yang sama pula. Malu-maluin aja sih kamu Ayana, dalam hati Ayana merutuki kebodohannya.


Kenapa hukumannya bisa sama? Apa memang sudah nasib kami berdua jika harus bersama dan menikah dengan cara seperti ini? Lalu bagaimana dengan Ruby? Ah iya benar, kenapa aku baru teringat akan Ruby. Semalam aku tidak ingat dengannya sama sekali. Apa itu karena aku sedang bersama dengan Ayana ya? Rafael berkata dalam hatinya sambil melirik Ayana yang wajahnya sedang merona karena malu.


"Kita akan persiapkan semuanya. Kalian cuma mempersiapkan diri kalian saja nanti," tukas Rania dengan tegas.


Sontak saja Ayana dan Rafael saling menatap. Dari mata mereka yang saling menatap itu seolah saling bertanya,


Apa ini semua benar?


"Rafael, mulai sekarang kamu harus berangkat dan pulang dari kampus bersama dengan Ayana. Kamu tidak boleh meninggalkan sendiri. Dan jika kamu butuh uang, pinjamlah pada Ayana. Dan tidak  boleh lebih dari seratus ribu. Mengerti Rafael? Jangan sampai Mama tau jika kamu meminta uang lebih pada Ayana dengan cara memaksanya atau mengancamnya," tutur Rania dengan tegas seolah tidak ingin dibantah.


Kemudian Rania menghadap ke Ayana dan berkata,


"Ayana, kamu jangan mau memberikan uang lebih dari seratus ribu pada Rafael. Tegaslah padanya meskipun dia suamimu. Mengerti Ayana?" 


"I-iya Bu," jawab Ayana ragu dan takut pada Rania.


"Iya Bu, hanya sebentar," jawab Rania yang heran dengan sikap Rania yang tiba-tiba senyum seperti tanpa masalah padanya.


"Ya sudah, kalian bersiap-siap. Ingat ya Rafa, jaga menantu Mama," ucap Rania seraya menatap Rafael dan Ayana secara bergantian.


Rafael hanya menghela nafasnya tanpa bisa memprotes perintah mamanya. Dia beranjak dari duduknya diikuti oleh Ayana yang berjalan di belakangnya.


Ayana tidak berkata apa pun. Sesaat dia memang bingung dengan keadaan mereka, tapi kebingungan itu segera ditepis oleh Ayana. Dalam hatinya dia berkata,


Menikah dengan cara apa pun akan sama saja. Aku sudah menjadi istri Rafael. Dan jika aku akan dinikahkan lagi dengannya, itu tidak masalah, karena dia memang suamiku. Jika kami mengalami dua kali kejadian yang mengharuskan kami untuk dinikahkan, apa kami memang berjodoh?


Di dalam kamar mereka masing-masing, mereka sama-sama memikirkan bagaimana caranya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Rania dan Antonio. Memang mereka berdua tidak berani mengatakannya. Mereka takut jika Rania dan Antonio tidak percaya dengan apa yang mereka katakan.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu kamar Ayana terbuka. Masuklah orang tersebut ke dalam kamar Ayana sambil berkata,

__ADS_1


"Yuk Ay kita berangkat."


Ayana menoleh ke arah pintu dan tersenyum manis hingga memperlihatkan kedua lesung pipinya pada Rafael.


"Sebentar Rafa, aku bingung mau nutupi ini pakai apa. Kenapa Bu Rania dan Pak Antonio membesar-besarkan ini? Padahal bisa saja bercak ini ada karena semalam aku menggaruknya ketika gatal. Semalam kan listriknya padam, jadi bisa saja karena gerah jadinya gatal dan tanpa sengaja aku menggaruknya hingga merah-merah seperti ini," ucap Ayana sambil mencoba menutupi bercak-bercak merah di lehernya menggunakan bedak.


Rafael berjalan mendekati Ayana yang berdiri di depan cermin. Dia berdiri di belakang Ayana dan menatap istrinya itu melalui cermin besar yang ada di hadapan mereka. 


Tangan Rafael melingkar pada pinggang Ayana dan kepalanya diletakkan pada leher Ayana. Dia menatap lurus ke depan dan melihat bayangan mereka pada cermin besar tersebut sambil berkata,


"Biarkan saja mereka tau jika kamu milikku."


Seketika jantung Ayana berdegup sangat kencang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Rafael. Dalam hatinya dia berkata,


Rafael kenapa sih, tumben banget. Dia seperti bukan Rafael yang biasanya.


Namun, dahi Ayana mengernyit ketika dia mendengar apa yang diucapkan oleh Rafael. Kemudian dia berkata,


"Maksud kamu apa Raf? Aku sedang membicarakan tentang bercak kemerahan ini, kenapa kamu mengatakan agar mereka tau jika aku milikmu? Apa hubungannya dengan ini?"


Rafael pun tersenyum mendengar perkataan Ayana yang sangat lugu. Bahkan dia merasa gemas pada istrinya itu.


Cuuup!


Dengan cepatnya Rafael mencium pipi Ayana dan berkata,


"Cepat selesaikan agar kita bisa cepat berangkat."


Seketika rona malu tersirat pada wajah Ayana. Baru kali ini dia merasakan dicium oleh laki-laki. Hingga jantungnya memacu dengan cepat layaknya menaiki roller coaster.


Kemudian Rafael duduk di sofa yang ada dalam ruangan tersebut. Matanya tertuju pada laptop milik Ayana yang tergeletak di meja belajarnya. Kemudian dia berkata,


"Ay, laptop kamu sudah bisa kan?"


Ayana menoleh ke arah Rafael dan berkata,


"Belum aku coba gunakan lagi Raf. Oh iya itu laptop kamu ada di sana. Belum aku kembalikan. Lupa. Maaf ya…."


Rafael tersenyum melihat senyum lebar istrinya yang begitu menggemaskan baginya. Dia berdiri dan menghampiri istrinya itu sambil menyentuh bagian lehernya untuk memeriksanya.

__ADS_1


"Sudah tidak terlihat lagi. Ayo kita berangkat," ucap Rafael sambil menggandeng tangan Ayana.


Dengan malu-malu Ayana pun mengangguk dan menyambar tas miliknya yang ada di meja belajarnya. Mereka berdua keluar dari kamar Ayana dengan bergandengan tangan untuk berangkat kuliah bersama.


__ADS_2