Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 25 Keinginan Rafael


__ADS_3

Malam itu Rafael benar-benar melupakan Ruby. Dia jatuh dalam rencana mamanya. Tanpa disadarinya dia melakukan semua itu tanpa paksaan dari siapa pun. Dan itulah yang diinginkan oleh hatinya.


Kini mereka berdua tidur dengan saling memeluk di tengah gelapnya malam. 


Rafael tidak bisa memikirkan hal lainnya. Pikirannya sedang kacau saat ini. Apalagi posisi badan mereka yang sangat erat ini membuat Rafael menginginkan sesuatu.


Masih jelas tergambar di matanya penampilan Ayana saat ini. Lingerie indah dengan banyak renda yang memperlihatkan dengan jelas keindahan tubuh Ayana itu membuatnya hilang akal.


Begitu juga dengan milik Rafael yang ada di bagian bawah tubuhnya. Miliknya itu seakan memberontak untuk cepat masuk ke dalam sarangnya.


Ayana bergerak mencari tempat ternyaman dalam pelukan Rafael. Hal itu membuat Rafael semakin tersiksa. 


Namun, dia tidak bisa menghindarinya. Ayana terlalu takut untuk ditinggalkan dalam keadaan gelap seperti sekarang ini, sehingga Rafael hanya bisa bertahan sekuat tenaganya.


Semoga aku masih bisa menahannya, Rafael berkata dalam hatinya.


Sayangnya sisi lain dari Rafael berbisik padanya,


Dia istrimu, kenapa kamu tidak bisa melakukan dengannya? Lakukan saja, kalian sudah halal dan diperbolehkan untuk melakukannya.


Dorongan rasa ingin memiliki dan menyentuh semua bagian tubuh Ayana itu dirasakan semakin kuat olehnya.


"Ay, apa kamu sudah tidur?" tanya Rafael lirih dengan suara yang sedikit tertahan.


Tidak ada jawaban dari Ayana. Hanya dengkuran halus dari Ayana yang didengar oleh Rafael.


Merasa Ayana sudah nyenyak dalam tidurnya, tangan Rafael bergerilya pada tubuh Ayana. Bahkan dia memainkan aset tubuh milik Ayana yang sangat berharga.


Ayana hanya melenguh dan bergerak gelisah. Dengan segera Rafael membungkam bibir Ayana menggunakan bibirnya. 


Ciuman Rafael sangat panas hingga Ayana mendesis merasakan sentuhan dan ciuman dari suaminya itu.


Namun mata tetap saja terpejam. Sepertinya dia hanya menikmati semua yang dilakukan oleh Rafael padanya.


Mendengar  lenguhan dari istrinya, Rafael semakin bersemangat. Dia benar-benar tidak bisa menahan hasratnya untuk malam ini.


Rafael yang sudah merasa puas dengan permainannya, kini dia tidur dengan memeluk erat tubuh Ayana. Bahkan dia mencium mesra bibir dan dahi istrinya itu.


"Terima kasih Sayang," ucap Rafael lirih dan dia tersenyum setelah mencium istrinya.


Dalam gelapnya malam dalam kamar tersebut, Rafael merasa puas malam ini sehingga semua pikiran dan keresahannya hilang seketika.


Pagi hari yang indah pun menyapa. Rafael dan Ayana masih saja tidur dengan nyenyaknya. Bahkan mereka seperti sudah tidak tertidur selama beberapa hari.


Kenyamanan yang saling mereka berikan membuat mereka tidak ingin bangun dan melepaskan pelukan mereka.


Tiba-tiba pintu kamar Ayana terbuka. Masuklah orang tersebut ke dalam kamar itu.

__ADS_1


"Sesuai dengan apa yang aku inginkan," ucap Rania lirih dan tersenyum senang melihat Ayana dan Rafael yang tidur dengan saling berpelukan.


Rania tidak membangunkan mereka berdua. Dia malah duduk di sofa dalam kamar tersebut sambil menunggu anak dan menantunya itu terbangun.


Tiba-tiba mata Ayana perlahan terbuka. Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


Sejenak dia tertegun melihat pemandangan yang sangat mengagumkan tersuguh di hadapannya.


Tanpa sadar tangan Ayana bergerak menyentuh alis Rafael. Dia mengikuti garis alis Rafael seolah sedang menggambarnya. Setelah itu dia mengikuti garis hidung Rafael. Dan yang terakhir, dia mengusap lembut bibir Rafael. 


Sungguh pemandangan yang sangat mengagumkan, Ayana berkata dalam hatinya.


Merasa ada yang menyentuhnya, perlahan mata Rafael pun terbuka. Dia menatap takjub pada Ayana yang sangat cantik alami bangun dari tidurnya.


Rafael tersenyum manis pada Ayana sambil berkata,


"Selamat pagi Ay."


Terlihat semburat rona malu pada wajah Ayana. Entah mengapa sapaan Rafael pagi ini membuat jantungnya berdegup kencang dan salah tingkah. Bahkan hembusan nafas Rafael pun terdengar merdu di telinganya.


"Emmm… Rafa, kok sepertinya…."


Ucapan Ayana mengambang di udara, dia tidak bisa menyelesaikan ucapannya itu karena merasa malu pada Rafael.


"Ada apa Ay?" tanya Rafael dengan wajah bingungnya.


"Raf, apa aku ngompol? Kok bagian bawahku basah?"


Seketika mata Rafael terbelalak mendengar perkataan dari Ayana. Dia tidak mengira jika Ayana akan menyadari hal itu.


Dibukalah selimut tebal itu dari tubuh mereka oleh Rafael. Dia pun menunjuk sprei yang mereka tempati sambil berkata,


"Lihatlah Ay, tidak ada yang basah. Mungkin hanya perasaanmu saja."


"Ehemmm…."


Tiba-tiba terdengar deheman dari arah sofa yang ada dalam kamar tersebut.


Sontak saja Rafael dan Ayana menoleh ke arah sofa secara bersamaan. Mata mereka berdua terbelalak mendapati Rania duduk dengan santainya pada sofa tersebut sambil tersenyum pada mereka berdua.


"Mama?!" 


"Bu Rani!"


Rafael dan Ayana berkata secara bersamaan. Mereka berdua sama-sama terkejut hingga mereka berdua lupa akan apa yang dipakai oleh Ayana saat ini.


"Sepertinya kalian berdua tidur bersama ya?" tanya Rania dengan tegas.

__ADS_1


"Emmm… itu Ma, semalam listriknya padam. Ayana takut kegelapan, jadi–"


"Jadi kamu tidur di sini menemaninya?" tanya Rania menyahuti ucapan Rafael.


Rafael menganggukkan kepalanya untuk membenarkan apa yang dikatakan oleh mamanya.


Rania menyeringai dan melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil berkata,


"Wah… wah… kamu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan Rafael."


Rafael dan Ayana sama-sama menunduk, mereka merasa bersalah meskipun tidak ada yang salah dengan mereka. 


Menurut mereka, tidur bersama seranjang merupakan hal yang wajar dilakukan oleh suami istri. Sayangnya tidak ada yang tahu jika mereka sepasang suami istri.


"Kalian semalam berbuat apa saja?" tanya Rania menyelidik.


Rafael menatap mamanya dan berkata,


"Kami tidak berbuat apa-apa Ma. Kami hanya tidur bersama saja."


"Kamu minta Mama percaya melihat Ayana dalam keadaan seperti itu dan tadi dia berkata bagian bawahnya basah?" tanya Rania dengan tegas.


Seketika Ayana memandang tubuhnya dan Rafael pun memandang ke arah Ayana. Sontak saja mereka terkejut dan Ayana segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Mata Ayana berkaca-kaca. Sekarang ini dia dalam keadaan takut. Dia tidak mengira jika akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Rania yang sangat baik padanya.


"Sungguh Ma, kami berdua tidak berbuat apa-apa," ucap Rafael gugup dan mencoba membela dirinya.


"Kamu yakin? Itu kenapa di leher Ayana ada banyak bercak merah-merah? Apa ada nyamuk yang sangat besar menghisap darah di lehernya?" tanya Rania sambil menunjuk leher Ayana.


Seketika mata Rafael kembali terbelalak. Dia lupa jika semalam kekhilafannya membuat dirinya melebihi batas.


Rania beranjak dari duduknya dan berkata,


"Kalian berdua cepat mandi dan kita sarapan bersama. Jangan sampai membuat Papa dan Mama menunggu."


Setelah mengucapkan itu, Rania berjalan keluar dari kamar Ayana. Dia tersenyum puas menuruni tangga lantai tersebut menuju ruang makan.


"Raf, sebenarnya kita semalam ngapain sih? Gak ngapa-ngapain kan?" tanya Ayana sambil mengeratkan selimut yang dipegangnya untuk menutupi tubuhnya.


Rafael beranjak dari ranjang dan berkata,


"Kita cuma tidur bersama saja Ay. Lagian wajar saja, kita kan sudah menikah. Buruan mandi. Jangan sampai Mama marah-marah lagi."


Setelah itu Rafael berjalan menuju pintu kamar Ayana dan keluar dari kamar tersebut untuk kembali ke dalam kamarnya.


Rafael memegang dadanya dan tersenyum sambil berkata,

__ADS_1


"Astaga… apa yang aku lakukan semalam?"


__ADS_2