Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 38 Aku menginginkanmu


__ADS_3

Rania yang melihat anak dan menantunya sedang berbisik-bisik dengan memandang ke suatu arah, dia merasa heran dan mengikuti arah pandangnya.


"Loh, bukannya dia wanita matre yang suka minta beliin barang mewah itu ya?" tanya Rania pada Rafael yang sedang mendengarkan bisikan dari Ayana.


Rafael kaget mendengar pertanyaan dari mamanya. Seketika dia menoleh ke arah mamanya dan berkata lirih,


"Iya Ma, itu dia."


Antonio pun menoleh ke arah yang istrinya lihat. Dia tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya melihat Ruby bersama dengan pria yang terlihat lebih dewasa daripada usia Ruby dan juga Rafael.


"Sudahlah, lebih baik kita makan di sini saja sekalian jika obrolan kita sudah selesai," ucap Antonio untuk mengalihkan perhatian semua orang yang sedang memperhatikan Ruby.


"Baiklah, saya rasa obrolan kita sampai di sini dulu saja. Akan saya persiapkan sesuai apa yang tadi kita bicarakan. Jika nantinya ada yang mau ditambahkan, bisa langsung hubungi saya saja. Saya tinggal dulu, silahkan semuanya menikmati makanannya," tutur si pemilik hotel yang kebetulan adalah teman Rania.


"Loh, kamu tidak mau makan bersama dengan kita terlebih dahulu?" tanya Rania untuk menghentikan temannya meninggalkan mereka.


"Terima kasih atas tawarannya. Kalian saja sekeluarga yang menikmati makan malamnya bersama. Saya akan meneruskan pekerjaan saya sekarang. Permisi," jawab si pemilik hotel dengan senyum yang mengiringi perkataannya.


Rania dan Antonio pun menganggukkan kepalanya mengiringi kepergian teman mereka itu. Setelah itu mereka berpindah menuju restoran hotel tersebut untuk makan malam bersama.


"Raf, Papa ingin bertanya padamu. Tapi kamu harus menjawab dengan jujur di hadapan kami semua," tutur Antonio dengan tegas pada Rafael.


Rafael menghentikan makannya. Dia meletakkan sendok dan garpunya di atas piringnya dan menelan makanannya. Kemudian dia berkata,


"Silahkan Pa. Rafael akan jawab dengan jujur."


Ayana merasakan atmosfer di sana berubah menjadi tegang dan serius. Dia merasa sedikit takut dengan apa yang akan ditanyakan oleh papa mertuanya.


"Rafa, apa kamu pernah pergi ke hotel bersama dengan Ruby?" tanya Antonio dengan menatap intens manik mata putranya.


Rafael menghela nafasnya. Dia sudah menduga jika ada rasa tidak percaya dari kedua orang tuanya, bahkan mungkin saja Ayana juga masih meragukannya.


"Rafael tidak pernah masuk ke hotel dengan Ruby. Rafa berani bersumpah Ma, Pa," tegas Rafael tanpa ragu menatap mama dan papanya secara bergantian.

__ADS_1


"Papa hanya tidak mau jika nantinya kamu akan ikut terseret saat ada sesuatu yang terjadi dengannya," tegas Antonio.


Rafael kembali menghela nafasnya. Dia tahu jika mereka semua tidak akan dengan mudahnya percaya begitu saja dengannya. Kemudian dia berkata dengan tegas dan bersungguh-sungguh,


"Rafa berani bersumpah apa pun jika memang kalian menginginkannya."


Ayana kaget mendengar perkataan suaminya yang terlihat sangat bersungguh-sungguh. Hatinya terenyuh dengan kesungguhan suaminya.


"Semua itu terserah pada Ayana. Dia istrimu, jadi kamu harus bisa meyakinkannya," tutur Antonio dengan tegas.


Riana hanya diam memperhatikan kesungguhan putranya. Dia ingin melihat bagaimana putranya itu meyakinkan istrinya dan bagaimana Ayana menanggapi kesungguhan suaminya.


"Ay, kamu mau aku melakukan sumpah apa?" tanya Rafael yang menatap istrinya dengan sungguh-sungguh.


Ayana menggelengkan kepalanya seraya menatap suaminya dengan tatapan intens dan berkata,


"Tidak Raf, aku percaya padamu. Aku tidak ingin kamu melakukan sumpah apa pun untuk membuktikannya. Asalkan ke depannya kamu bisa menjaga janji kamu untuk tidak mengkhianati pernikahan kita."


Rafael meraih kedua tangan istrinya dan mencium punggung tangannya serta telapak tangannya secara bergantian. Kemudian dia tersenyum seraya berkata,


Entah mengapa, mata Ayana berkaca-kaca hanya mendengar janji yang dikatakan oleh suaminya. 


Riana tersenyum lega melihat putra dan menantunya yang terlihat saling mencintai. Kemudian dia berbisik di telinga suaminya,


"Sepertinya kita tidak salah pilih menantu Pa. Dan juga sepertinya usaha Mama sudah berhasil. Lihat saja, mereka sangat dekat dan sudah tidak malu-malu lagi sekarang."


Antonio tersenyum melihat putra dan menantunya yang memang seperti dikatakan oleh istrinya. Dalam hatinya dia berjanji akan selalu menjaga putra dan menantunya agar tidak akan terpisah.


Setelah makan malam mereka selesai, Riana menyarankan agar Rafael dan Ayana menginap di hotel tersebut untuk malam ini. Antonio pun mendukung ide istrinya itu. 


"Mau ya Ay… besok kan masih hari minggu. Kita masih libur. Sekarang kita menginap saja di sini," pinta Rafael dengan tatapan mengiba pada istrinya.


Melihat suaminya seperti itu, Ayana tidak tega untuk menolaknya. Ayana pun menganggukkan kepalanya dengan malu-malu menuruti keinginan suaminya.

__ADS_1


Riana dan Antonio terkekeh melihat pasangan muda yang hampir mirip seperti mereka pada waktu dulu. 


"Mama dan Papa pulang dulu ya. Kalian nikmati saja waktu kalian berdua di sini. Pulang besok malam juga tidak ada yang melarang," tutur Riana sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Rafael dan Ayana.


"Beres Ma. Rafa tau jika Mama dan Papa sudah menginginkan cucu. Doakan kami supaya bisa cepat memberikan cucu pada Mama dan Papa," sahut Rafael dengan senyum lebarnya.


Ayana semakin tertunduk malu mendengar ucapan dari suaminya. Bahkan untuk menatap kedua mertuanya pun dia merasa malu.


"Ya sudah, kalian cepat check in sana. Mama sama Papa pulang sekarang," ucap Riana sambil beranjak dari duduknya dan menarik tangan suaminya.


Setelah kepergian mama dan papanya dari tempat itu, Rafael menggandeng tangan Ayana dan mengajaknya menuju resepsionis.


Setelah proses check in mereka selesai, dengan sangat antusias sekali Rafael menarik tangan Ayana agar masuk ke dalam kamar mereka.


Pandangan mata Ayana mengelilingi ruangan itu. Dia menatap kagum pada setiap inci dari bagian kamar tersebut.


Tiba-tiba tangan Rafael melingkar pada pinggang istrinya. Dia memeluk Ayana dari belakang dan mengecup pipi, telinga dan leher istrinya dan berbisik,


"Ay, aku menginginkanmu."


Mata Ayana terpejam menikmati kecupan dari suaminya hingga nafas Rafael mampu membuat bulu kuduk Ayana meremang. Dan dengan refleknya dia menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan suaminya yang meminta ijin untuk menginginkannya malam ini.


Tanpa membuang waktu, Rafael mengangkat tubuh istrinya ala bridal style dan membawanya menuju ranjang panas mereka untuk malam ini.


"Ay, aku mencintaimu, istriku," bisik Rafael seraya melakukan sentuhan-sentuhan lembutnya pada bagian tubuh istrinya.


Mendengar bisikan pernyataan cinta dari suaminya membuat hati Ayana berbunga-bunga. Apa lagi dia mendapatkan perlakuan yang mampu membuatnya mabuk kepayang dengan sentuhan-sentuhan tangan dari suaminya.


Ayana menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan dan lenguhan yang keluar dari mulutnya. Hanya desisan yang keluar dari mulutnya saat ini.


"Aaakh… Raf… aku… sudah… tidak tahan…," ucap Ayana seraya melepaskan apa yang sudah ditahannya sejak tadi.


Hal itu membuat Rafael semakin bersemangat dan saat itu juga dia semakin mempercepat gerakan penyatuan mereka sehingga mereka mengeluarkannya secara bersamaan.

__ADS_1


Dengan nafas yang masih terengah-engah Rafael berbisik di telinga Ayana,


"Terima kasih Ay. Terima kasih istriku. Aku sangat mencintaimu. Semoga kita cepat memiliki keturunan."


__ADS_2