
Flashback
Panas matahari sangat menyengat siang itu. Tapi, suara debur ombak membuat disekitar area pantai menjadi segar di tengah teriknya sengatan matahari kala itu.
Empat orang pemuda yang berpenampilan khas layaknya anak muda, sedang menikmati semilir angin yang berhembus di pantai itu. Mereka bermain air layaknya anak kecil yang bermain kejar-kejaran bersama dengan ombak.
“Sssttt… bagaimana jika kita mengadakan permainan. Yang kalah akan mengambil kelapa langsung dari pohonnya,” ucap Candra sambil menunjuk buah kelapa yang ada di pohonnya.
“Gila… tinggi banget itu Bro,” sahut Raka yang memang tidak bisa memanjat karena takut akan ketinggian.
“Cemen Lu…,” sahut Farrel sambil terkekeh melihat raut wajah Raka yang ketakutan ketika melihat pohon kelapa yang ditunjuk oleh Candra.
“Gimana Raf? Berani gak? Eh ingat ya, kita mengajak kamu ke sini karena kami tidak suka melihat kamu galau karena memikirkan si Ruby, pacar kamu yang tidak memberi kabar selama beberapa hari itu,” tukas Candra sambil menepuk pelan pundak Rafael.
“Udah… lupain dulu galaunya. Di sini kita senang-senang aja dulu. Yuk kita mainkan tantangannya sekarang,” sahut Farrel tanpa mempedulikan Raka yang ketakutan melihat pohon kelapa itu.
Akhirnya mereka memainkan tantangan tersebut dengan bermain gunting batu kertas sebagai penentuannya. Raut wajah Raka tegang dan dia merapal doa agar bukan dia yang memanjat pohon kelapa tersebut.
“Yessss….,” Raka bersorak ketika mengetahui jika bukan dirinya yang memanjat pohon kelapa tersebut.
“Siap kan Rafael? Tolong ambilkan kami empat buah kelapa itu saudaraku,” ucap Candra dengan penuh wibawa layaknya dialog khas yang terdapat pada film kolosal.
Rafael mencebik kesal melihat ketiga sahabatnya itu tertawa senang mengantarkannya pada hukumannya. Dengan langkah malasnya Rafael berjalan menuju pohon kelapa yang menjulang tinggi itu.
“Untung saja aku bukan Raka yang takut akan ketinggian. Aku adalah seorang Rafael yang tidak takut akan apa pun,” ucap Rafael dengan sombongnya ketika akan memanjat pohon kelapa tersebut.
Dengan gesitnya Rafael memanjat pohon tersebut hingga dia berada di bagian atas pohon kelapa itu. Dia berusaha sekuat tenaganya untuk mengambil buah kelapa itu langsung dari pohonnya. Sayangnya, ketika dia mendapatkan satu buah kelapa itu, kakinya terpeleset hingga membuatnya jatuh ke bawah.
__ADS_1
“Panas banget sih… Mana kue-kue sama nasinya masih banyak lagi. Hufffttt… Lebih baik aku berteduh dulu deh di sini,” ucap seorang gadis cantik sambil mengusap keringat yang menetes di pelipisnya dan bersandar pada pohon kelapa.
Bruuuk!
Buah kelapa yang berhasil dipetik oleh Rafael jatuh terlebih dahulu ke bawah.
Gadis cantik yang bersandar pada pohon kelapa itu menoleh ke arah jatuhnya buah kelapa. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat buah kelapa yang jatuh tidak jauh dati tempatnya berdiri saat ini.
Ingin dia mengambilnya untuk meredakan hausnya. Tapi dia takut jika ada orang yang memilikinya. Dia mendongak ke atas untuk melihat ada atau tidaknya pemilik buah kelapa tersebut.
Bruuuk!
Badan Rafael jatuh tepat di atas badan Ayana yang kala itu sedang mendongak ke atas melihat pemilik buah kelapa yang jatuh. Dan kini si pemilik buah kelapa yang jatuh itu sedang menindihnya.
Mata mereka berdua beradu pandang dalam posisi Rafael yang masih berada di atas tubuh gadis cantik tersebut. Entah apa yang mereka pikirkan hingga keduanya masih betah berada di posisi tersebut.
“Ayana?! Apa yang kalian berdua lakukan di siang bolong begini?”
Sontak saja Rafael dan gadis cantik yang bernama Ayana tersebut bangun dari posisinya saat ini. Mereka saling menatap dan salah tingkah karena teringat posisi mereka tadi ketika Rafael jatuh dari atas dan menindih tubuh Ayana yang berada di bawah pohon tadi.
“Kalian sedang berbuat mesum ya?” tanya orang tersebut yang ternyata adalah seorang warga sekitar pantai dan mengenal Ayana karena mereka dari desa yang sama dan sama-sama menjajakan barang dagangannya di pantai tersebut.
“Tidak disangka Ayaan si kembang desa, bisa berbuat mesum dengan pengunjung di pantai. Apa kamu dibayar mahal oleh laki-laki ini?” tanya laki-laki yang juga berada di sana pada kejadian itu.
“Tidak. Bukan seperti itu kejadiannya,” ucap Ayana dengan suaranya yang bergetar dan matanya yang berkaca-kaca karena ketakutan.
Kedua orang tersebut tertawa melihat pembelaan diri dari Ayana. Mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ayana sebagai pembelaan dirinya.
__ADS_1
Rafael diam saja, dia merasa bukan warga sekitar yang harus menjelaskan apa pun yang dilakukannya pada mereka. Bahkan dia merasa tidak bersalah, karena hanya sebuah kecelakaan kecil yang menjadikan orang salah sangka ketika melihatnya. Dia memasukkan kedua tangannya pada saku celananya sambil menatap tajam pada kedua orang tersebut.
“Sudah, kita bawa saja mereka berdua menghadap kepala desa agar diberlakukan sesuai adat desa kita,” sahut salah satu dari mereka yang terkenal sangat kritis dengan peraturan dan adat desa.
Ayana menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya mengatup di depan dada, memohon pada mereka sambil berkata,
“Jangan Pak, saya mohon… Kami tidak melakukan apa-apa. Dan kami bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”
“Jelaskan saja di hadapan kepala desa,” sahut salah satu orang yang ada di hadapan mereka sambil menarik tangan Ayana untuk mengikutinya.
“Tapi Pak kami-“
“Diam!” seru orang yang satunya menyela perkataan Ayana sambil menarik tangan Rafael.
Rafael memberontak. Dia tidak mau diperlakukan layaknya seorang tahanan yang berbuat salah. Sayangnya pemberontakan Rafael tidak membuahkan hasil. Kini dia digiring oleh beberapa warga yang membantu untuk membawanya ke balai desa yang tidak jauh dari pantai tersebut.
Matanya menyisir setiap jalanan yang dilewatinya. Dia mencari ketiga sahabatnya yang membuatnya menghadapi peristiwa tersebut seorang diri.
Sialan! Ke mana mereka bertiga? Mereka yang menyuruhku naik ke pohon kelapa itu untuk mengambil buahnya. Dan sekarang ketika aku sedang dalam kesulitan karena mengambil buah kelapa itu, mereka semua menghilang. Awas saja nanti kalau sudah ketemu, akan aku habisi mereka.
Rafael berkata dalam hatinya dengan penuh kekesalan karena digiring dengan embel-embel berbuat mesum bersama dengan gadis yang mereka sebut sebagai kembang desa di desa tersebut.
Semuanya semakin rumit karena warga desa tidak ada yang percaya pada mereka. Bahkan mereka sudah memutuskan hukuman apa yang akan diberikan untuk mereka berdua sesuai dengan peraturan adat dan peraturan desa tersebut.
Gila aja, masa’ iya aku harus nikahi gadis desa ini? Apa kata dunia? Apa kata Mama sama Papa? Apa kata Ruby? Rafael menggerutu dalam hatinya.
Ayana dan Rafael berusaha menjelaskan pada semua warga desa yang hadir. Tapi hasilnya nihil. Mereka tetap percaya dengan apa yang mereka lihat. Hingga akhirnya mereka dinikahkan di depan penghulu dan di depan kedua orang tua Ayana.
__ADS_1
Flashback end