
Rafael kesal melihat kedekatan antara Satria dengan Ayana. Bahkan dalam hatinya dia berkata,
Ayana itu istriku. Tidak ada yang boleh menyentuh dia kecuali aku, suaminya. Terlebih kamu Satria!
Namun, entah mengapa dia tidak bisa mengatakan hal itu. Kemarahannya hanya bisa dipendam saja olehnya.
"Ay, kamu mau ke mana? Bukannya Mama menyuruh kamu untuk pulang bersamaku?" tanya Rafael dengan wajah kesalnya.
Ayana dan Satria menoleh ke arah Rafael. Bibir Ayana sudah terbuka, dia akan mengatakan sesuatu, sayangnya Ruby lebih dulu mengatakan sesuatu.
"Sayang, kamu lupa ya sudah punya janji sama aku?" sahut Ruby seraya bergelayut manja pada lengan Rafael.
Ayana tersenyum sinis pada Rafael dan Ruby. Tanpa menjawab pertanyaan dari Rafael, Ayana dengan segera naik ke atas motor Satria dan berpegangan pada jaket Satria dengan eratnya.
Tangan Rafael hendak meraih tangan Ayana. Sayangnya, tangannya itu lebih dulu ditarik oleh Ruby sebelum mendarat di tangan Ayana.
Motor Satria melaju meninggalkan parkiran tersebut. Dan Rafael, dia hanya bisa merasa kesal dan marah karena tidak bisa menahan Ayana untuk tetap bersamanya.
"Sayang, ayo kita berangkat sekarang. Kita ke Mall yang biasanya aja yuk," ajak Ruby sambil menarik-narik tangan Rafael agar segera berangkat.
Rafael pun menaiki motornya. Setelah Ruby sudah naik di boncengannya, Rafael bergegas melajukan motornya dengan kecepatan tinggi berharap agar cepat sampai di tempat tujuannya.
Motor Rafael berhenti di depan sebuah rumah. Ruby melepas helmnya sambil berkata,
"Sayang, kok di depan rumahku sih? Kita kan mau ke Mall yang waktu itu. Aku mau beli tas yang waktu itu loh. Ayo buruan ke sana, biar gak kehabisan."
Rafael membuka kaca helmnya dan menoleh ke belakang. Kemudian dia berkata,
"Aku gak punya uang sebanyak itu. Semua kartuku belum dikembalikan sama Mama. Aku saja diperintahkan sama Mama untuk pulang pergi bersama dengan Ayana karena jika aku butuh uang, aku disuruh Mama pinjam uang Ayana. Itu pun hanya seratus ribu. Ini saja bensinku sudah menipis. Aku lupa belum meminjam uang ke Ayana tadi."
"Iiih… kamu kere ya sekarang? Udah ah, aku masuk rumah aja, panas banget," ucap Ruby seraya mengipas-kipaskan kedua tangannya pada wajahnya.
Tanpa berpamitan pada Rafael, Ruby segera masuk ke dalam rumahnya.
Rafael tersenyum kecut melihat reaksi Ruby yang seolah menghindar ketika Rafael mengatakan tentang bensinnya yang menipis.
__ADS_1
"Ruby… Ruby… hanya karena uang seratus ribu saja kamu sudah meninggalkan aku. Ternyata kamu takut jika aku meminjam atau meninta uang darimu. Lalu bagaimana dengan semua barang branded yang sudah aku berikan padamu? Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Mama. Kamu tipe perempuan seperti itu" ucap Rafael sambil tersenyum getir.
Seketika dia teringat akan Ayana yang sedang bersama dengan Satria. Dalam hati dia berkata,
Ke mana mereka? Apa dia mengantar Ayana pulang? Atau dia mengajak Ayana ke tempat lain terlebih dahulu? Apa yang aku lakukan tadi? Kenapa aku tidak langsung membawa Ayana pergi tadi? Bodohnya aku…
Dengan pertanyaan-pertanyaan bodohnya itu Rafael melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Dia berharap jika Ayana sudah ada di rumah saat ini.
Motor Rafael pun masuk ke dalam rumahnya, pas sekali dengan Satria yang keluar dari rumah tersebut.
Dengan tergesa-gesa Rafael turun dari motornya dan berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Ayana… Ay… kamu di mana?!" seru Rafael seiring langkahnya masuk ke dalam rumahnya.
"Ada apa Tuan Muda? Kenapa bisa lari-lari seperti itu?" tanya Bik Darmi yang sedang menghentikan pekerjaannya karena mendengar seruan dari Rafael.
"Ayana di mana Bik?" tanya Rafael dengan paniknya seraya matanya melihat ke segala arah mencari sosok perempuan yang berstatuskan istrinya.
"Baru saja masuk ke kamarnya Tuan," jawab Bik Darmi sambil melihat ke arah Rafael.
Ayana yang sedang berdiri di depan meja belajarnya, menoleh ke arah pintu. Dia mengernyitkan dahinya melihat Rafael.yang terlihat terengah-engah setelah berlari.
Tanpa mengatakan apa pun, Ayana kembali melakukan kegiatannya yaitu mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya.
Merasa diabaikan, Rafael berjalan cepat mendekati Ayana dan…
Greep!
Rafael memeluk tubuh Ayana dengan eratnya. Semakin lama, pelukannya semakin erat.
Ayana menolak pelukan Rafael. Dia masih merasa kesal dan sakit hati pada suaminya itu. Tangannya memberontak, menjauhkan tubuh Rafael darinya.
Semakin Ayana memberontak, semakin erat Rafael memeluknya. Hingga dia memukul sebisanya bagian tubuh dari Rafael.
"Lepaskan! Lepaskan! Aku bilang lepaskan!" seru Ayana agar Rafael melepaskannya.
__ADS_1
"Tidak akan. Ini hukumanmu karena pulang bersama dengan Satria," ucap Rafael yang masih memeluk erat istrinya.
Ayana berhenti memberontak. Dia tahu jika percuma saja memberontak pada Rafael yang tenaganya berkali-kali lipat darinya.
Kini Ayana hanya diam saja dalam pelukan Rafael. Bahkan tangannya berada di samping tubuhnya. Dia tidak membalas pelukan suaminya.
Merasa istrinya sudah tenang dan tidak memberontak lagi, Rafael mengurai sedikit pelukannya dan dia menatap lekat wajah cantik istrinya itu.
Tangannya bergerak lembut mengusap pipi istrinya serta menatap intens manik mata Ayana dan berkata,
"Kamu tidak bisa seenaknya dekat dengan laki-laki manapun. Kamu itu istriku. Ingat itu."
Ayana tersenyum sinis mendengar peringatan dari suaminya. Dia membalas tatap suaminya itu dan berkata,
"Istri? Lalu, istrimu itu aku atau si rubah betina itu?"
Seketika raut wajah Tristan berubah. Kini terlihat dari wajahnya yang tampak merasa bersalah.
"Maaf. Ruby memaksaku untuk bersamanya," ucap Rafael membela dirinya.
Ayana kembali tersenyum sinis mendengar apa yang dikatakan oleh Rafael saat ini. Kemudian dia berkata,
"Kamu bisa menolaknya jika memang kamu mau. Bagiku kamu lah yang tidak mau menolaknya, sehingga dia masih berada di dekatmu. Terlebih lagi sewaktu kamu memangku dia di dalam kelas. Sungguh pemandangan yang indah bukan? Kalian berdua hanya membuat pasangan lain iri. Apa kalian setiap hari seperti itu?"
"Tidak Ay. Aku tidak pernah melakukannya. Tadi saja aku tiba-tiba kaget ketika dia sudah ada di pangkuanku. Kamu harus percaya padaku Ay," ucap Rafael yang berusaha menjelaskannya.
Ayana kembali tersenyum sinis. Dia tidak mengira jika dirinya akan berada dalam situasi seperti ini.
"Jangan salahkan aku jika aku bersama Satria atau laki-laki lain. Karena kamu juga tidak menghargaiku," tukas Ayana dan bergerak untuk bisa lepas dari pelukan Rafael.
"Tapi Ay, aku ini suamimu. Jangan pernah kamu lakukan itu," ucap Rafael dengan tatapan memohon.
Ayana menghempaskan kedua tangan Rafael dan berkata,
"Pemilik tubuhku adalah aku. Jadi tolong jangan ikut campur dan membatasi ruang gerakku. Dan satu lagi, untuk kata istri bisa aku terima jika kamu benar-benar memperlakukanmu sebagai seorang istri."
__ADS_1