
Hari-hari telah berlalu. Kini, acara pernikahan Rafael dan Ayana akan segera digelar. Ayana sudah memakai wedding dress berwarna putih yang terlihat sangat cantik, anggun dan elegan. Sedangkan Rafael telah menggunakan setelan jas dengan model yang sangat menawan dan berwibawa, serta terlihat sangat pas dengan tubuh Rafael.
Semua teman Ayana dan Rafael turut hadir memenuhi undangan yang diberikan kedua mempelai pada mereka.
Acara itu juga dihadiri oleh semua saudara, kolega dan rekan bisnis keluarga Rafael.
Begitu pula dengan keluarga Ayana yang berasal dari desa. Kedua orang tua Ayana telah dipersiapkan kamar di hotel tersebut oleh kedua orang tua Rafael. Saudara Ayana yang berasal dari desa pun dipersiapkan kamar untuk menginap di hotel tersebut.
Mereka semua berharap agar resepsi pernikahan Rafael dan Ayana berjalan dengan baik dan lancar.
Kini, di ruangan ini terdapat Ayana dan Rafael yang sedang menunggu waktu untuk keluar ke tempat pesta. Di sana juga terdapat Rania dan Antonio yang selalu menemani kedua pengantin tersebut.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan tersebut dan meminta ijin untuk masuk ke dalam ruangan. Mereka pun mengijinkannya.
"Maaf Tuan, Nyonya, ada seorang wanita yang ingin masuk untuk bertemu pengantin."
"Siapa?" tanya Riana yang merasa heran.
"Wanita tersebut mengatakan jika dia adalah teman dari kedua mempelai," jawab karyawan hotel yang bertugas mengurusi acara pernikahan Ayana dan Rafael.
Rania mengerutkan dahinya. Dia merasa aneh karena jika memang teman Ayana dan Rafael, sudah pasti mereka akan menemui pada saat pesta berlangsung.
Rania menoleh ke arah Ayana dan Rafael seraya berkata,
"Kalian sedang menunggu seseorang?"
Rafael menggelengkan kepalanya dan Ayana pun juga sama. Dia menggelengkan kepalanya karena merasa tidak sedang menunggu seseorang.
Braaak!
"Rafael, kamu harus bertanggung jawab! Aku hamil! Aku mau kamu membatalkan pernikahan ini!"
Seorang wanita menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut.
Semua orang merasa kaget dan menatap geram pada wanita tersebut. Hanya Ayana yang terlihat syok mendengar perkataan wanita tersebut.
Karyawan hotel yang berada di ruangan tersebut segera keluar dari ruangan itu dan menutup ruangan tersebut.
"Apa maksudmu Ruby?! Aku tidak pernah tidur denganmu!" seru Rafael dengan sangat emosi.
Ruby membuka tasnya dan melemparkan sesuatu pada Rafael hingga mengenai tubuhnya.
Rafael memungut benda yang berukuran kecil itu dan melihat dua garis yang tertera pada test pack tersebut. Dia tersenyum sinis dan berkata,
"Aku yakin jika itu bukan anakku. Bahkan aku saja tidak pernah menyentuh tubuhmu. Dan kamu pasti ingat jika aku tidak pernah menciummu. Jadi, sudah bisa dipastikan jika ayah dari bayi yang sedang kamu kandung adalah pria yang menidurimu. Mungkin dia pria yang berlaku mesum denganmu di bioskop waktu itu dan kalian pasti melakukannya di hotel ini setelah dari bioskop waktu itu. Kamu pasti tidak akan melupakannya."
Ayana terperangah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia mengingatnya dan ingatannya sama persis dengan yang dikatakan oleh suaminya.
Rania dan Antonio pun mengingat hal itu. Mereka melihat kejujuran di mata putra mereka.
__ADS_1
Terlihat sekali Ruby yang terkejut mendengar perkataan dari Rafael. Dia tidak mengira jika Rafael mengetahui semuanya.
"Hei wanita matre! Apa kamu masih perlu bukti dan saksi? Asal kamu tau saja, pemilik hotel ini teman baik saya. Jika kamu memerlukan saksi dan bukti, saya akan memperlihatkannya padamu. Kebetulan pada saat kamu berada di hotel ini bersama priamu itu, kami sedang berada di hotel ini bersama dengan pemiliknya untuk membicarakan acara pernikahan ini. Dan setelah kami tau kamu menginap di sini, kami meminta semua rekaman dari semua CCTV di hotel ini," sahut Riana dengan penuh percaya diri.
Seketika Ruby berlutut di depan Ayana dan dengan mata yang berkaca-kaca itu dia berkata,
"Ayana, aku mohon lepaskan Rafael. Ijinkan dia menikahiku. Kamu pasti tidak tega dengan nasib anak yang ada dalam kandunganku?"
Hati Ayana sangat sakit, mendengar semua perkataan Ruby di hari bahagianya. Bahkan kini dia sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak keluar dan merusak make up nya yang sudah sangat sempurna.
Ayana menyingkirkan tangan Ruby yang memegang kedua tangannya. Kemudian dia berkata,
"Maaf, aku juga membutuhkan ayah untuk anakku."
Sontak saja semua pasang mata yang ada di ruangan tersebut mengarah padanya. Dengan tatapan mata Rafael yang penuh tanda tanya dan seolah tidak percaya itu, membuat Ayana mengatakan semuanya.
Ayana mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kemudian dia memberikan sebuah box kecil pada Rafael seraya berkata,
"Bukalah. Aku menyiapkan ini kemarin untuk hadiah pernikahan kita."
Rafael pun menerima box tersebut dan membukanya. Matanya berkaca-kaca ketika melihat benda tersebut.
"Sayang, apa benar ini milikmu?" tanya Rafael seraya memperlihatkan sebuah test pack dengan dua garis merah yang tertera di sana.
Rania dan Antonio terkejut dan tangan mereka saling berpegangan dengan senyum mereka yang sudah mengembang ketika melihat test pack yang diperlihatkan oleh Rafael.
Sontak saja Rafael memeluk erat istrinya dan mencium rambut serta keningnya seraya berkata,
"Terima kasih Sayang. Terima kasih Ay. Terima kasih istriku. Aku sangat bahagia."
Ruby tidak terima melihat semua adegan mesra penuh kebahagiaan di hadapannya secara langsung.
Ruby segera berdiri. Dan mengulurkan tangannya pada Ayana.
Rafael mengurai pelukannya. Dia memberikan kesempatan pada Ruby untuk mengucapkan selamat pada Ayana.
Namun, dengan gerakan cepatnya Ruby menyandera Ayana. Tangannya mengambil sebuah benda dari tasnya dan meletakkannya pada leher Ayana.
"Ruby! Apa yang kamu lakukan?! Dasar wanita sialan!" teriak Rafael dengan paniknya.
Riana sangat panik dan berpegangan tangan pada suaminya.
"Jika aku tidak bisa bahagia, maka kalian juga tidak bisa bahagia. Jika anakku tidak mempunyai ayah, maka anak kalian pun tidak boleh lahir di dunia ini," ucap Ruby dengan emosi yang meluap-luap.
Rafael mencoba mendekat, sayangnya Ruby semakin mengeratkan pisau kecil yang dibawanya itu pada leher Ayana.
Riana jatuh pingsan melihat menantunya diperlakukan seperti itu oleh Ruby. Dia mengira jika Ruby sudah menyayat kulit leher menantunya.
Suasana dalam ruangan tersebut bertambah panik. Antonio segera mengangkat istrinya dan merebahkannya pada sofa yang ada dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Jangan sentuh istriku, wanita sialan!" geram Rafael memperingatkan Ruby.
Ruby terkekeh melihat sikap Rafael yang menunjukkan cinta dan perhatiannya pada istrinya. Sehingga terlihat sekali jika Rafael tidak ingin kehilangan istrinya.
"Berlutut di hadapanku dan memohonlah padaku agar aku menikah denganmu," tukas Ruby dengan angkuhnya.
"Wanita gila! Tidak tau diuntung! Beraninya kamu memerintahkan putraku!" teriak Antonio dengan menunjuk ke arah Ruby.
Tanpa mereka sadari, Riana perlahan sadar. Dia mendengar apa yang dikatakan oleh Ruby. Merasa tidak ingin membuang waktu, Riana segera meminta pertolongan pada temannya yang merupakan pemilik hotel tersebut melalui sebuah pesan yang dikirimkan Rania padanya.
Mendengar permintaan Ruby pada Rafael membuat Ayana tidak terima. Dia menatap suaminya dan menggelengkan kepalanya pada suaminya seraya berkata,
"Tidak Raf, aku tidak mau kamu berlutut pada wanita mana pun. Ingat janjimu yang hanya bisa berlutut di hadapan Mama dan juga aku, istrimu."
Rafael mengingat semuanya. Dia bertambah panik dan tidak bisa berpikir dalam keadaan seperti saat ini.
Ayana menggerakkan kakinya dan menginjak dengan sekuat tenaga kaki Ruby menggunakan high heels sembilan sentimeter yang dipakainya saat ini.
Ruby merintih kesakitan. Dan dengan mudahnya Rafael melepaskan Ayana dari cengkraman Ruby.
"Tangkap dia Raf, dan ikat dia agar tidak membuat keributan," tutur Antonio yang sedang berusaha mengambil pisau dari tangan Ruby.
Akhirnya Ruby bisa dilumpuhkan. Pada saat yang tepat, petugas keamanan datang dan membawa Ruby bersama dengan mereka.
Sayangnya Ruby memberontak. Dia melakukan segala cara agar petugas keamanan itu tidak membawanya.
Dia mencoba berlari dari kejaran mereka, sayangnya mereka masih di wilayah hotel dan Ruby tidak bisa dengan leluasa pergi dari hotel tersebut.
Dia mencoba berlari untuk bersembunyi di tempat yang lebih aman. Sayangnya kaki Ruby tersandung kakinya sendiri sehingga dia terjatuh dengan sangat kerasnya di lantai tersebut hingga darah segar mengalir di kakinya.
Para petugas keamanan segera menolongnya dan membawanya ke rumah sakit.
Salah seorang petugas keamanan yang bertanggung jawab atas keamanan hotel tersebut menemui Rafael dan berkata,
"Jangan khawatirkan wanita itu Pak. Kami akan menjaga ketat wanita tersebut agar tidak bisa kembali menemui kalian. Untuk sekarang kami akan membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu, setelah itu kami akan membawanya ke kantor polisi untuk bisa segera diproses."
Rafael pun mengangguk setuju dan menyerahkan semuanya pada mereka.
Pesta pernikahan mereka pun segera di mulai. Acara mereka sangat mewah dan meriah. Ditambah lagi berita kehamilan Ayana yang membuat keluarga mereka sangat bahagia menyambut cucu mereka.
"Sayang, aku sangat berterima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kita meskipun dengan cara yang tidak biasa. Tapi Tuhan telah memberikan aku istri yang luar biasa. Aku sangat mencintaimu istriku. Ayana, aku harap cinta kita akan tetap abadi hingga kapan pun," ucap Rafael di hadapan semua tamu undangan.
Mata Ayana berkaca-kaca, dia sangat terharu dengan semua perlakuan dan perkataan suaminya. Dia berusaha keras agar bisa mengatakan sesuatu meskipun dia merasakan tenggorokannya tercekat dan lidahnya kelu.
"Rafael, aku sangat mencintaimu. Tadinya aku pikir tidak akan bahagia menikah denganmu, nyatanya aku salah. Aku sangat bahagia dengan pernikahan kita. Ternyata suamiku luar biasa," ucap Ayana dengan suara seraknya yang sedikit tercekat menahan tangisnya.
Semua tamu dan keluarga bertepuk tangan dengan meriah. Mereka semua berharap agar Ayana dan Rafael selalu bahagia dan saling mencintai.
...…………TAMAT……………...
__ADS_1