Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 20 Rencana awal


__ADS_3

Rafael tidak bisa berkutik lagi. Dia tidak mendapatkan kartunya kembali. Dua kartu sumber keuangannya itu seperti nafasnya jika bersama dengan Ruby. Tanpa kedua kartu itu dia akan dimaki oleh Ruby.


Dan kini, dia seperti tahanan yang sedang disandera oleh mamanya.


Di sinilah mereka sekarang berada. Rania mengajak Ayana dan Rafael makan bersama di sebuah restoran yang ada di dalam Mall tersebut.


Rafael menatap mamanya dengan tatapan memohon, sayangnya Rania berpura-pura untuk tidak melihatnya.


"Ma, Mama… balikin satu aja Ma. Ruby bisa marah jika aku tidak kembali ke toko tadi," ucap Rafael dengan tatapan memohon pada mamanya.


Rania memelototkan matanya pada Rafael sambil berkata,


"Tetap di sini atau Mama coret dari kartu keluarga."


Seketika bibir Rafael mengatup. Dia tidak bisa lagi berkata-kata. Dalam hati dia berkata,


Wah gawat kalau aku sampai dikeluarkan dari kartu keluarga. Bakalan gak dapat warisan dari Papa sama Mama dong. Mendingan nurut aja deh sama Mama. Ruby urusan belakangan. Yang penting gak dikeluarkan dari kartu keluarga.


Ayana bingung mendengar percakapan antara Rania dengan Rafael yang seolah membenarkan bahwa Rafael adalah anak kandung dari Rania dan Antonio.


Tapi Ayana segera menyingkirkan pikirannya itu. Dia mengingat perkataan Rafael yang mengatakan bahwa Rania dan Antonio tidak memiliki anak sehingga mereka menganggap Rafael sebagai anaknya.


Ayana menatap Rafael dengan penuh tanda tanya. Dalam hatinya dia berkata,


Mungkin Rafael sudah diangkat menjadi anak mereka, sehingga dia sudah dimasukkan ke dalam kartu keluarga mereka. Pantas saja jika kamar Rafael berada di lantai atas. Bagaimana jika mereka tau pernikahan kami? Apa mereka mau menerimanya? Oh iya, lalu di mana kedua orang tua kandung Rafael? Aku belum pernah mendengar ceritanya. Aku harus menanyakan padanya.


"Kamu tau kan kalau Mama tidak suka dengan Ruby? Kenapa kamu masih jalan dengan dia?" tanya Rania yang sedang marah pada Rafael.


"Dia kan pacar Rafael Ma," ucap Rafael lirih.


Sepertinya Rafael lupa jika dia hanya berakting sebagai sopir di depan Ayana. Sepertinya sekarang ini dia juga lupa jika Ayana sudah menjadi istrinya.


Deg!


Hati Ayana sangat sakit mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Dia tidak mengerti bagaimana perasaannya pada Rafael.


Dia hanya merasakan sakit ketika mendengar suaminya mengatakan bahwa dia mencintai perempuan lainnya.

__ADS_1


Bahkan hatinya sangat sakit ketika melihat suaminya bergandengan mesra dengan perempuan lain yang diakui sebagai pacarnya.


"Mama dan Papa tidak setuju kamu berpacaran dengan perempuan itu. Kamu harus cari istri yang tidak hanya cantik, hatinya juga harus baik. Dan yang terpenting dia tidak boros. Seperti Ayana," ucap Rania sambil mengusap lengan Ayana dan tersenyum manis padanya.


Ayana tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan oleh Rania. Kali ini perasaannya tidak bisa diungkapkannya. Dalam hati dia berkata,


Lebih baik aku fokus pada kuliahku agar cita-cita dan keinginanku bisa tercapai. Semangat Ayana, kamu memang istrinya, tapi kamu masih gadis. Tidak masalah jika kalian akan berpisah. Daripada kamu harus menahan sakit hati seperti ini untuk seterusnya.


Rafael membelalakkan matanya. Dia baru ingat jika Ayana adalah istrinya dan itu tidak diketahui oleh kedua orang tuanya.


Dia menatap kagum pada Ayana yang sangat cantik dan modis. Dalam hatinya berkata,


Ayana sangat cantik dan tidak membosankan. Sepertinya Mama sangat menyukainya. Apa aku harus memberitahu yang sebenarnya pada mereka? Tapi bagaimana dengan Ruby? 


Makanan sudah tersedia di meja mereka. Ayana merasa enggan makan satu meja dengan Rania. Dia malu dan merasa tidak pantas berada satu meja dengannya.


Rania memandang Ayana yang hanya melihat saja makanannya. Kemudian dia bertanya,


"Kenapa Ayana? Apa kamu tidak suka dengan makanannya?" 


"Tidak Bu, bukan itu. Saya hanya merasa tidak pantas makan satu meja dengan Ibu," jawab Ayana sambil tersenyum sungkan pada Rania.


"Kamu pantas duduk di sini dan makan satu meja dengan saya. Iya kan Rafael?" ucap Rania pada Ayana dan meminta dukungan dari Rafael.


Mendengar namanya disebut oleh mamanya, Rafael menoleh ke arah mamanya. Terlihat sekali jika dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh mamanya pada Ayana. Dia larut dalam pikirannya sendiri.


Melihat Rafael kebingungan, Rania bertanya kembali pada Rafael.


"Bukankah Ayana pantas menjadi bagian dari keluarga kita Rafael? Dia cantik, pintar dan baik hati. Benar kan Rafael?" tanya Rania dengan tatapan menyelidik pada Rafael.


"Iya Ma," jawab Rafael sambil tersenyum kaku.


Dia tidak mengingkari jika Ayana memang cantik, pintar dan baik hati seperti yang dikatakan oleh mamanya. Dia hanya bingung dengan keadaannya saat ini. 


Dia tidak tahu harus bagaimana mengatakan pernikahannya dengan Ayana pada mama dan papanya. Dia takut jika mereka berdua akan marah dan mengusirnya.


Di sisi lain, dia juga bingung karena sudah mempunyai Ruby sebagai pacarnya. Lantas bagaimana dengan Ayana? Rafael pun tidak mengetahui jawabannya.

__ADS_1


"Sudah, makanlah Ayana. Kamu tau kan jika saya tidak mau ada penolakan?" tanya Rania dengan tegas pada Ayana.


"Baik Bu," jawab Ayana dengan sopan.


Mereka pun memakan makanannya dengan tenang. Sesekali Rafael menatap ke arah Ayana. Tidak hanya itu saja, dia selalu melirik Ayana ketika sedang makan. 


Rania melihat semua itu. Dia tersenyum bahagia melihat putranya yang menurutnya tertarik pada Ayana.


Lihat saja, secara perlahan Mama akan membuatmu mengakuinya Rafael, Rania berkata dalam hatinya.


Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Rafael. Matanya terbelalak ketika melihat nama Ruby pada layar ponselnya.


"Siapa Rafael?" tanya Rania dengan tatapan menyelidik.


"Emmm… itu Ma," Rafael ragu mengatakannya pada mamanya.


"Ruby?" tanya Rania dengan sewotnya.


Rafael mengangguk dengan ragu-ragu. Seketika Ayana tersedak makanannya. Hal itu membuat Rania dan Rafael mengalihkan perhatiannya pada Ayana.


"Minum dulu Ay," ucap Rafael sambil memberikan segelas air putih miliknya pada Ayana.


Ayana mengambil gelas tersebut dan meminumnya. Sedangkan Rania, dia mengusap lembut punggung Ayana agar bisa mengurangi rasa sakit karena tersedak.


"Kamu baik-baik saja Ay?" tanya Rafael yang terlihat cemas pada Ayana.


Rania menahan senyumnya karena berkat Ayana yang tersedak makanan, Rafael tidak mengangkat telepon dari Ruby.


"Rafael, Pak Yanto sudah pulang ke rumah. Mama sama Ayana ikut di mobil kamu saja ya," ucap Rania setelah meneguk minumannya.


"Tapi Ma, Rafael bawa motor. Tidak mungkin kan jika kita bertiga naik motor?" tukas Rafael yang terlihat keberatan.


"Ya sudah, kalau begitu kamu sama Ayana saja. Biar Mama dijemput Papa. Kebetulan jam segini Papa dalam perjalanan pulang dari kantor," ucap Rania dengan tegas, seolah tidak ingin dibantah.


"Maaf Bu, tapi saya pakai rok," sahut Ayana ragu-ragu.


"Biar kamu ditemani Rafael membeli celana, setelah itu kalian pulang bersama," tutur Rania dengan tegas.

__ADS_1


Ayana dan Rafael saling memandang. Mereka berdua tidak bisa membantah perintah Rania. Yang bisa mereka lakukan hanya menuruti perintahnya.


__ADS_2