Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 16 Kejujuran Ayana


__ADS_3

"Emmm… Rafael itu sebenarnya suamiku Bik," ucap Ayana lirih dan terdengar ragu-ragu.


Seketika Bik Darmi membelalakkan matanya. Kemudian dia berkata,


"A-apa? Su-suami?"


Ayana menganggukkan kepalanya ragu-ragu dan terlihat takut. 


Bik Darmi menatap mata Ayana yang tidak menyiratkan kebohongan. Mata yang bersinar itu mengatakan kejujuran ketika mengatakannya.


Bik Darmi memegang kedua tangan Ayana dan menatap lembut mata gadis yang ada di hadapannya itu.


"Apa kamu tidak ingin bercerita pada Bibik?" tanya Bik Darmi dengan lembut pada Ayana.


Jujur saja Bik Darmi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ayana. Hanya saja dia tidak melihat kebohongan dari gadis tersebut.


Ayana gadis lugu dan polos itu selalu jujur padanya meskipun mereka baru saja bertemu.


Dan kini Bik Darmi ingin mengetahui yang sebenarnya. Dalam hati Bik Darmi berkata,


Apa Ayana dijebak sehingga mau menikah dengan Tuan Muda Rafael? Atau mungkin dia menjadi korban kebohongan Tuan Muda Rafael? Kenapa Tuan Muda Rafael menyembunyikan statusnya sebagai anak dari pemilik rumah ini dan mengaku menjadi sopir di rumah ini?


Ayana menghela nafasnya mendengar permintaan Bik Darmi yang menginginkan dirinya untuk jujur padanya.


Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan pada Bik Darmi semua yang terjadi. Awal dari pertemuan mereka yang membuat mereka harus dinikahkan saat itu juga. Serta alasan kenapa Ayana ikut ke rumah ini.


Bik Darmi menatap iba pada Ayana. Gadis di hadapannya itu ternyata benar-benar menjadi korban dinikahkan secara paksa dan korban kebohongan Rafael tentang statusnya.


Bik Darmi tidak bisa mengatakan status Rafael yang sebenarnya. Dia takut jika mengatakannya pada Ayana, Rafael akan marah padanya. Dan tentunya Bik Darmi tidak mau diusir dari keluarga yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat mengabdinya.


Tidak bisa dibiarkan. Kasihan Ayana. Dia gadis desa yang baik, lugu dan polos. Jangan sampai dia dibohongi oleh lelaki kota yang mau seenaknya membodohinya. Aku harus mengatakannya pada Nyonya Rania, Bik Darmi berkata dalam hatinya.


"Maaf Bik, kok Bibik tiba-tiba bertanya soal itu?" tanya Ayana ragu dan terlihat takut menyinggung Bik Darmi.


Bik Darmi menghela nafasnya. Sebenarnya dia tidak mau menanyakan apa yang dilihatnya pada Ayana. Tapi dia juga tidak bisa menutupinya. Dia ingin agar Ayana bisa jujur padanya setelah dia mengatakan apa yang dilihatnya.


"Sebenarnya barusan Bibik melihat Mas Rafael keluar dari kamar kamu dan penampilannya seperti orang baru bangun tidur. Apa kalian tidur bersama?" tanya Bik Darmi sambil menatap intens manik mata Ayana.

__ADS_1


Ayana memegang kedua tangan Bik Darmi dan menganggukkan kepalanya. Tapi dia tidak mengatakan apa saja yang mereka lakukan semalam.


Bik Darmi merasa iba pada Ayana. Dalam pikirannya, Ayana dan Rafael sudah melakukan hubungan suami istri.


Di luar kamar Ayana, ternyata ada Rania yang mendengarkan pertanyaan Bik Darmi tentang kejadian pagi ini. Dia sangat terkejut mendengar pertanyaan Bik Darmi pada Ayana.


Namun, dia tidak mendengar jawaban dari Ayana karena Ayana hanya menganggukkan kepalanya saja.


Setelah itu dia bergegas meninggalkan tempat itu karena Bik Darmi berpamitan pada Ayana untuk pergi ke dapur.


Tadinya Rania hanya ingin mencari Bik Darmi di kamarnya karena tidak menemukannya di dapur. Tapi, dia melihat kamar Ayana yang terbuka dan mendengar suara Bik Darmi yang sedang bertanya pada Ayana.


Kini Rania berada dalam kamarnya. Dia merasa terkejut dengan apa yang didengarnya. Tangannya memegang dadanya dan berkata dalam hatinya,


Apa yang terjadi dengan Rafael dan Ayana? Apa mereka… Ah, aku harus mencari tau dari Bik Darmi.


Bergegaslah dia menuju dapur untuk menemui Bik Darmi. Dilihatnya Bik Darmi sedang sibuk memasak di dapur dibantu oleh Ayana yang juga sedang menyiapkan bahan-bahannya.


"Bik, bisa buatkan saya minuman hangat? Nanti tolong bawakan ke ruang kerja ya Bik," ucap Rania pada Bik Darmi setelah berada di dapur.


"Baik Nyonya."


Rania pun segera menuju ruang kerja yang ada di sebelah kamarnya untuk menunggu kedatangan Bik Darmi.


Tok… tok… tok…


Pintu ruang kerja tersebut diketuk oleh Bik Darmi. 


"Masuk!" Seru Rania dari dalam ruangan tersebut.


Bik Darmi masuk ke dalam ruangan tersebut sambil membawa nampan yang berisi segelas minuman hangat.


"Bawa sini Bik," ucap Rania yang sedang duduk di sofa.


Bik Darmi pun meletakkan minuman tersebut di atas meja yang ada di hadapan Rania.


"Bik, duduk sebentar di sini, saya mau bicara," ucap Rania sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


"Saya di sini saja Nyonya," tukas Bik Darmi sambil duduk di lantai.


"Bik, saya mau tanya tentang Rafael dan Ayana. Apa ada yang Bibik tau tentang mereka?" tanya Rania dengan tatapan menyelidik.


Bik Darmi merasa bingung. Dia ingin sekali berbicara yang sebenarnya pada Rania, tapi dia juga takut akibatnya jika majikannya itu mengetahui yang sebenarnya.


Apa aku katakan saja ya sama Nyonya? Beliau mengatakan agar aku selalu mengatakan apa pun tentang Ayana dan Tuan Muda Rafael. Tapi… apa mungkin mereka akan mengusir Ayana? Bik Darmi berkata dalam hatinya sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya.


"Bik, ayo katakan. Saya tau jika Bik Darmi mengetahui sesuatu tentang mereka," ucap Rania ketika mengetahui kebimbangan hati Bik Darmi.


Akhirnya Bik Darmi menceritakan semua yang diceritakan oleh Ayana pagi tadi di kamarnya. Semua tentang hubungan Ayana dan Rafael, serta ketika pagi tadi Bik Darmi memergoki Rafael keluar dari kamar Ayana.


Awalnya Rania tampak syok mendengar cerita Bik Darmi tentang apa yang terjadi antara Rafael dengan Ayana. Tapi selanjutnya Rania tersenyum dan berkata,


"Terima kasih Bik sudah mau menceritakan pada saya. Dan saya harap Bik Darmi akan terus mengatakan yang sebenarnya pada saya tentang mereka nantinya."


"Emmm… Nyonya, Ayana tidak akan diusir kan? Dia gadis yang baik, lugu dan polos. Dia juga gadis yang pintar sehingga mendapatkan beasiswa di kampus Tuan Muda Rafael," ucap Bik Darmi yang terlihat cemas dan takut.


"Tidak Bik. Jika dia istri sah Rafael, tentu saja dia menantu saya. Tenang saja Bik, saya akan menangani Rafael dengan cara saya," tukas Rania sambil tersenyum menenangkan Bik Darmi.


"Terima kasih Nyonya. Saya kembali ke dapur dulu. Kasihan Ayana memasak sendirian," ucap Bik Darmi sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Setelah Bik Darmi keluar dari ruangan tersebut, Antonio masuk ke dalam ruangan itu untuk mencari istrinya.


"Ada apa Ma, tumben minum teh di sini?" tanya Antonio sambil duduk di sebelah istrinya.


Rania memandang suaminya. Dia ragu akan mengatakan semua tentang apa yang didengarnya dari Bik Darmi.


Namun, terlihat jelas keraguan dari wajah Rania. Dan suaminya itu melihat semuanya meskipun Rania tidak mengatakannya.


"Ma, ceritakan pada Papa. Jangan dirahasiakan sendiri, agar Papa bisa membantu Mama menyelesaikannya," tukas Antonio sambil mengusap lembut punggung suaminya.


Dengan ragu-ragu Rania bercerita pada suaminya. Dia menceritakan semua yang diceritakan Bik Darmi padanya.


Antonio diam dan mendengarkan semuanya dengan seksama. Kemudian dia berkata,


"Lalu, apa rencana Mama untuk mereka?"

__ADS_1


__ADS_2