Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 15 Malam bersamanya


__ADS_3

Rafael terkejut ketika Ayana memeluknya dengan erat dan mengatakan jika dia sedang takut saat ini.


"Aku takut Raf," ucap Ayana dengan suara yang bergetar sambil memeluk erat tubuh Rafael.


Dengan refleknya tangan Rafael membalas pelukan Ayana. Kini dia memeluk erat tubuh Ayana untuk menenangkannya, memberikan rasa aman dan agar dia merasa terlindungi.


"Kamu takut apa Ay?" tanya Rafael lirih sambil tangannya mengusap lembut punggung Ayana.


"Aku takut petir sama kilat," ucap Ayana lirih dan terdengar sangat ketakutan.


Tiba-tiba suara petir kembali terdengar. Sontak saja Ayana lebih mempererat pelukannya pada Rafael. Dia terlihat begitu takut sehingga bersembunyi dalam tubuh kekar Rafael.


"Tenang Ay, ada aku," ucap Rafael sambil mengusap lembut rambut Ayana.


Tiba-tiba listrik padam bersamaan dengan suara petir yang menyambar. Lampu di semua ruangan rumah itu pun padam.


"Kak, aku takut," ucap Ayana yang terdengar sangat ketakutan.


Dia lebih mempererat pelukannya pada tubuh Rafael. Ketakutannya itu bisa dirasakan oleh Rafael. Bahkan dia bisa mendengar rintihan ketakutan dari bibir Ayana meskipun sangat lirih diucapkannya.


"Bangun Ay, sebaiknya kamu tidur di ranjang. Kamu gak usah takut. Aku akan berada di sisimu," ucap Rafael sambil berusaha menarik tubuh Ayana untuk berdiri bersamanya.


"Aku gak mau tidur Rafa. Aku takut," rengek Ayana yang masih dalam posisi berpelukan dengan Rafael.


"Ini sudah sangat larut Ay. Sebaiknya kamu tidur sekarang. Aku akan menemanimu. Jangan takut ya," ucap Rafael dengan sangat lembut.


Akhirnya Ayana pun menurut. Dia luluh dengan sikap dan tutur kata Rafael yang lembut, berbeda dengan biasanya.


Perlahan Rafael membimbing Ayana untuk sampai ke tempat tidur. Diselimutinya tubuh Ayana yang sedang meringkuk ketakutan.


Rafael membaringkan badannya di sebelah Ayana. Diambilnya tubuh istrinya itu dan dibawanya dalam pelukannya.


Ayana tidak menolak, dia sedang ketakutan saat ini dan dia butuh pelukan Rafael untuk melindunginya.


Rafael suamiku, tidak salah jika kita berdua tidur seperti ini. Dan aku merasa nyaman dalam pelukannya, Ayana berkata dalam hatinya sambil memejamkan matanya.


Ayana pun lebih mempererat pelukannya, mencari tempat yang paling nyaman untuknya bersandar.


Baru kali ini aku tidur seperti ini dengan perempuan. Tapi rasanya nyaman juga. Dia istriku, gak ada yang salah kita tidur bersama, Rafael berkata dalam hatinya sambil mempererat pelukannya.

__ADS_1


Mereka berdua tidur bersama dengan saling berpelukan dalam kondisi tanpa pencahayaan disertai dengan suara petir dan hujan yang sangat deras.


Tanpa diketahui oleh Rafael, Ruby menghubungi ponselnya berkali-kali. Rafael meninggalkan ponselnya di kamarnya, sehingga dia tidak mengetahui panggilan telepon dari Ruby.


Ruby mengomel memaki Rafael yang tidak juga menerima panggilan telepon darinya.


Dia tidak suka jika diabaikan, terutama oleh lelaki. Selama ini dia selalu mendapatkan pujian dan selalu disukai kaum hawa. Bahkan dia menjadi rebutan untuk mereka.


Karena itulah Ruby tidak mengenal kata diabaikan dan kecewa. Dia selalu mendapatkan semua keinginannya dari semua orang, dengan cara apa pun itu.


"Sialan! Ke mana dia? Beraninya Rafael mengabaikan aku?" 


Tidak henti-hentinya Ruby mengumpat Rafael selama panggilannya tidak terjawab. 


Dia sangat marah karena diacuhkan begitu saja oleh Rafael yang berstatuskan sebagai pacarnya.


Di dalam kamar Ayana yang berukuran tidak sebesar kamar Rafael, mereka berdua masih diselimuti dengan kenyamanan mereka. Pelukan mereka membuat mereka tidur dengan nyenyak.


Terasa hangat, nyaman dan sangat menyenangkan. Itulah yang mereka rasakan saat ini. Hingga mereka terhanyut dalam keadaan dan tidak menyadari jika pagi sudah menyapa.


Tetesan air sisa hujan yang masih menetes dari dedaunan, membuat suasana pagi semakin mesra.


Perlahan mata mereka berdua terbuka. Mereka saling menatap dan lupa akan segalanya. Tatapan mata mereka seolah menyelami perasaan mereka masing-masing.


Suara alarm kembali menyapa mereka. Kini mereka tersadar jika mereka dalam keadaan tidur dengan saling memeluk.


Sontak saja mereka berdua saling melepas pelukannya. Mereka merasa canggung dan salah tingkah.


Rafael beranjak turun dari ranjang sambil berkata,


"Laptop kamu sudah selesai. Semalam aku ke sini untuk mengembalikannya padamu."


Dia salah tingkah dan tidak melihat ke arah Ayana ketika berbicara padanya. Entah mengapa dia juga merasa malu pada Ayana. Tidak seperti biasanya, Rafael si cowok tampan yang sempurna tanpa kenal rasa malu ketika bersama dengan lawan jenisnya.


"Terima kasih," ucap Ayana canggung.


Setelah mendengar ucapan terima kasih dari Ayana, Rafael segera keluar dari kamar Ayana tanpa melihat situasi terlebih dahulu.


Bik Darmi yang ada di ruang laundry, melihat dengan jelas Rafael keluar dari kamar Ayana.

__ADS_1


Apa Tuan Muda Rafael tidur di kamar Ayana? Apa mereka berdua tidur bersama? Bik Darmi berkata dalam hatinya sambil memperhatikan Rafael yang berjalan menuju kamarnya.


Semua orang yang melihat pasti akan berpikiran sama seperti Bik Darmi. Bagaimana tidak, Rafael keluar dari kamar Ayana dengan penampilan layaknya orang bangun tidur. Rambut, baju dan penampilannya saat keluar dari kamar Ayana sama persis dengan orang bangun tidur pada umumnya.


Bik Darmi merasa cemas dengan keadaan Ayana saat ini. Dia takut jika Rafael berbuat yang tidak-tidak pada Ayana. 


Dia takut jika Ayana tidak bisa menolak kemauan Rafael dan dia terpaksa melakukannya.


Semua pikiran buruk itu ada di dalam kepala Bik Darmi saat ini.


Segera Bik Darmi masuk ke dalam kamar Ayana untuk mengetahui keadaannya.


"Ayana, kamu baik-baik saja kan?" tanya Bik Darmi yang terlihat cemas ketika masuk ke dalam kamar Ayana.


Ayana yang sedang merapikan ranjangnya, seketika menoleh ke arah pintu, di mana Bik Darmi saat ini sedang berjalan dari arah pintu.


Ayana mengernyitkan dahinya. Dia merasa aneh dengan apa yang ditanyakan oleh Bik Darmi saat ini. Kemudian dia berkata,


"Ayana baik-baik saja Bik."


Bik Darmi menatapnya seolah tidak percaya. Dia tahu betul jika Ayana gadis yang baik dan tidak bisa menolak perintah majikannya. 


Berjalanlah Bik Darmi mendekatinya. Dia melihat Ayana dari atas hingga bawah. Memang dia tidak melihat hal yang aneh dari badan Ayana. Tapi dia tidak percaya begitu saja.


"Ayana, apa boleh Bibik bertanya?" tanya Bik Darmi dengan wajah seriusnya.


Ayana merasa aneh dengan situasi saat ini. Tapi dia tidak bisa mengabaikan Bik Darmi yang sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri.


"Boleh Bik. Silahkan," ucap Ayana sambil menarik tangan Bik Darmi untuk duduk di tempat tidur bersamanya.


"Ayana, sebenarnya apa hubunganmu dengan Tuan Muda Rafael?" tanya Bik Darmi sambil menatap serius mata Ayana.


"Tuan Muda Rafael?" celetuk Ayana sambil mengernyitkan dahinya.


"Emmm… maksud Bibik Mas Rafael. Apa sebenarnya hubungan kamu dengannya?" tanya Bik Darmi kembali untuk menutupi kegugupannya karena memanggil Tuan Muda pada Rafael.


Ayana bimbang antara memberitahukan yang sebenarnya pada Bik Darmi atau tidak. Dia tidak mau berbohong pada siapa pun. Dan dia juga tidak pernah berbohong, terutama pada orang yang lebih tua.


"Ayana, cerita saja pada Bibik. Jujurlah, Bibik tidak akan marah ataupun menyalahkanmu," ucap Bik Darmi ketika melihat kebimbangan di mata Ayana.

__ADS_1


__ADS_2