
Ayana lebih mendekat pada Rafael dan berbisik padanya,
"Itu siapanya si rubah betina?"
"Aku gak tau dan aku gak mau tau," balas Rafael berbisik di telinga Ayana.
Sebenarnya Ayana tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rafael, tapi dia mencoba percaya pada suaminya itu.
Dalam redupnya suasana dalam ruangan tersebut Ayana masih menatap lekat wajah suaminya dan berkata dalam hatinya,
Dari nada suaranya sepertinya dia marah, apa karena si rubah betina itu bersama dengan laki-laki lain ya? Atau dia marah karena aku menanyakan tentang Ruby padanya? Tapi, aku menangkap keseriusan dalam matanya. Apa aku harus mencoba percaya saja padanya untuk hubungan kita yang sudah serius ini?
Tiba-tiba terdengar suara desisan lirih di antara kerasnya suara film yang sedang diputar.
Indera pendengaran Ayana menangkap suara tersebut. Dalam hati dia berkata,
Suara apa ini, sepertinya suara ini tidak asing. Hampir sama seperti kemarin malam saat aku dan Rafael… Ah, tidak mungkin aku mendengar hal semacam itu di sini. Lalu, suara apa ini?
Ayana kembali memasang telinganya dan kembali mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Dia sangat heran dengan apa yang didengarnya saat ini karena film yang mereka tonton sekarang tidak sedang beradegan seperti itu.
Desisan lirih yang mampu tertangkap oleh indera pendengar Ayana pun semakin membuatnya penasaran. Tanpa sadar dia menoleh ke arah samping kirinya.
Matanya terbelalak dan tangannya mencengkeram tangan Rafael ketika melihat adegan yang tak terduga dari Ruby dan laki-laki yang duduk bersamanya.
Ruby dan laki-laki tersebut sedang berciuman dengan panasnya dan tangan laki-laki tersebut bergentayangan di area aset berharga milik Ruby.
Tidak heran jika Ruby dan laki-laki tersebut bisa leluasa melakukan hal itu, mereka berempat duduk di kursi paling belakang dan tidak ada orang lain di sana.
Penonton lainnya hanya berada di bagian depan dan tengah saja. Hanya Ayana dan Rafael saja yang berada di kursi paling belakang dan berada di pojok.
Rafael terkejut melihat kenekatan Ruby dan laki-laki yang sedang bersamanya itu. Tapi, sedetik kemudian dia tersenyum sinis melihat kelakuan Ruby yang sangat menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita.
Setelah mereka melihat adegan tersebut selama beberapa menit, Rafael segera mengarahkan kepala Ayana agar melihat ke arah layar bioskop.
"Jangan lihat mereka, pasti kamu akan malu sebagai wanita jika terus melihatnya. Lihat saja filmnya. Nanti malam kita praktek sendiri saja di rumah," bisik Rafael sambil terkekeh lirih di telinga Ayana.
Entah mengapa Ayana tidak marah pada Rafael. Wajahnya merona karena mendengar perkataan dari suaminya itu.
Sedikit saja Ayana melirik ke arah samping, di mana Ruby berada. Dia tercengang karena kini tangan laki-laki tersebut sudah berpindah tempat.
__ADS_1
Tangan laki-laki itu kini sedang menyibak rok mini yang digunakan oleh Ruby dan bergentayangan di dalam sana.
Terlihat jelas jika Ruby sedang menahan sesuatu saat ini. Dia menggigit bibir bawahnya dan sedikit mendesis saat ini.
Sepertinya mereka berdua terbawa suasana hingga bibir mereka berdua kembali berciuman. Dan tentu saja ciuman mereka sangat panas.
Ayana mengatur nafasnya melihat adegan nyata yang ditontonnya dari Ruby saat ini. Kedua tangannya mengipas-ngipasi wajahnya seraya berkata dalam hatinya,
Kenapa aku jadi panas seperti ini?
Sekitar lima menit, film itu pun berakhir. Ruby dan laki-laki itu menghentikan apa yang sedang mereka lakukan ketika lampu ruangan tersebut menyala.
Dengan segera laki-laki tersebut menarik tangan Ruby dan mengajaknya berjalan keluar ruangan tersebut dengan tergesa-gesa.
Ayana dan Rafael saling menatap heran setelah melihat Ruby dan laki-laki tersebut tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu.
Mereka saling menggelengkan kepalanya seolah tahu apa yang ditanyakan oleh mata mereka.
Rafael memegang tangan Ayana dan menariknya seraya berkata,
"Ayo kita keluar Ay."
"Ay, bagaimana jika kita makan terlebih dahulu?" tanya Rafael sambil berjalan melingkarkan tangannya pada pinggang Ayana.
"Makan di mana Raf? Eh, tapi… apa Mama dan Papa tidak menunggu kita untuk makan bersama di rumah?" tanya Ayana yang terlihat ragu.
"Ya nanti kita makan lagi saja di rumah. Bagaimana? Ayolah Ay, kita berdua belum pernah makan bersama," ucap Rafael memohon pada istrinya.
Ayana menghela nafasnya mendengar suaminya yang lagi-lagi bersikap tidak biasa padanya. Kemudian dia berkata,
"Ya sudah, aku nurut saja."
Rafael tersenyum senang dan lebih mengeratkan pegangan tangannya pada pinggang istrinya.
Tiba-tiba ponsel Rafael yang ada di saku celananya bergetar. Segeralah dia mengambil ponsel tersebut dari dalam saku celananya.
"Mama?" celetuk Rafael ketika melihat nama si penelpon yang tertera pada layar ponselnya.
__ADS_1
Ayana menatap heran pada Rafael dan berkata,
"Ada apa Raf?"
"Sebentar, aku angkat dulu ya. Mama yang telepon," jawab Rafael sambil memperlihatkan ponselnya pada Ayana.
Ayana menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia menyetujui perkataan Rafael. Mereka menghentikan langkahnya dan Rafael menerima telepon dari mamanya.
Setelah beberapa saat Rafael berbicara dengan mamanya melalui telepon, kini Rafael kembali melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya seraya berkata,
"Ay, kita pergi ke hotel sekarang."
Seketika Ayana menghentikan langkahnya dan matanya terbelalak mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya.
"Ho-hotel?" celetuk Ayana dengan gugup dan seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Rafael mengernyitkan dahinya melihat ekspresi istrinya, tapi sedetik kemudian dia terkekeh dan berkata,
"Pasti kamu memikirkan hal yang tidak-tidak. Tenang saja, Mama dan Papa sedang menunggu kita di hotel. Mereka ingin kita datang untuk mengetahui persiapan resepsi pernikahan kita."
"A-apa? Resepsi pernikahan? Kapan? Kenapa di hotel? Kenapa tidak di rumah saja? Sayang biayanya Raf. Aku juga tidak keberatan jika kita tidak mengadakan resepsi pernikahan. Aku bisa terima kok. Aku baik-baik saja," ucap Ayana dengan cepatnya seolah tidak memberi kesempatan Rafael untuk menjawab pertanyaannya.
Rafael kembali terkekeh mendengar semua yang diucapkan oleh istrinya. Dia mencubit gemas hidung istrinya dan semakin mengeratkan tubuh istrinya padanya.
"Sudah, tenang saja. Semua itu Mama yang mengatur. Kita hanya datang dan duduk. Tidak perlu ikut serta mengatur persiapannya," tutur Rafael.
Rafael pun melajukan mobilnya menuju hotel tempat Mama dan Papanya menunggu. Hotel itu tidak jauh dari Mall tempat mereka saat ini berada.
"Rafael, Ayana, perkenalkan ini teman Mama, pemilik hotel ini," ucap Rania memperkenalkan Rafael dan Ayana pada temannya.
Mereka saling berjabat tangan dan saling menyebutkan namanya. Setelah itu mereka membicarakan tentang resepsi pernikahan Rafael dan Ayana yang akan diadakan di hotel tersebut.
"Memangnya, kapan Ma acara resepsi pernikahannya?" tanya Rafael pada mamanya.
"Sekitar satu setengah bulan lagi. Kalian harus menyiapkan kesehatan kalian. Jangan sampai kalian sakit pada saat resepsi pernikahan kalian berlangsung," jawab Rania disertai peringatan untuk anak dan menantunya.
Tiba-tiba mata Ayana terbelalak melihat seorang perempuan bersama dengan seorang laki-laki keluar dari lift dalam hotel tersebut.
Ayana melihat jam yang melingkar di tangan kirinya dan berbisik di telinga Rafael yang duduk di sebelahnya,
__ADS_1
"Raf, kenapa mereka ada di sini? Baru saja mereka keluar dari lift. Padahal sudah jam segini. Apa setelah dari bioskop tadi mereka langsung ke sini?"