
Setelah Rafael masuk ke dalam kamarnya, dia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Dalam kamar mandi itu, dia masih saja terlintas saat berada di kamar Ayana.
Masih terasa dengan jelas bagaimana mereka berdua saling berpelukan. Bahkan jantungnya yang berdegup dengan kencangnya waktu itu masih bisa dirasakannya.
Di bawah guyuran air shower, Rafael ingin membersihkan pikirannya dari ingatannya semalam bersama dengan Ayana. Hingga detik ini pun dia tidak ingat akan adanya Ruby yang menjadi pacarnya.
“Apa yang kamu pikirkan Rafael?” tanya Rafael pada dirinya sendiri sambil menatap bayangan dirinya di cermin yang berada dalam kamar mandi.
Langkah kakinya sangat ringan keluar dari kamar mandi tersebut. Bahkan senyumnya selalu mengembang sedari tadi, sejak keluar dari kamar Ayana.
Diambilnya pakaiannya dari dalam lemarinya dan segera dipakainya. Dia kembali bercermin untuk memeriksa penampilannya.
Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. Masih dalam posisi menatap cermin yang ada di hadapannya, dia berkata,
“Ah iya benar, aku harus bisa mencegah Ayana agar tidak berangkat bersama dengan Satria.”
Dengan gerakan cepatnya dia menyambar tasnya dan ponselnya yang ada di atas meja belajarnya.
Dia bergegas menuju meja makan untuk mencegah Ayana yang akan berangkat bersama Satria.
"Pagi Ma, Pa," ucap Rafael dengan riangnya sambil mencium pipi mama dan papanya.
"Pagi."
"Pagi."
Antonio dan Rania menjawab bersamaan salam yang diberikan putranya pada mereka.
Duduklah Rafael di hadapan mereka. Seperti biasanya, dia meminum susu UHT coklat yang telah disediakan oleh Ayana di mejanya.
Mata Rafael mencari-cari keberadaan Ayana. Sayangnya istrinya itu tidak terlihat sama sekali.
Rafael menghela nafasnya lesu. Dia mengira jika Ayana sudah berangkat bersama dengan Satria.
"Kenapa Raf, kok lesu gitu?" tanya Rania pada Rafael.
Rafael menoleh ke arah mamanya dan tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,
"Tidak ada apa-apa Ma."
Rasa laparnya kini hilang sudah. Dia kembali meminum susu UHT yang tadi sudah diminumnya sambil memeriksa ponselnya.
__ADS_1
Matanya terbelalak ketika melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Ruby.
Oh iya, Ruby. Kenapa aku bisa lupa dengan dia ya? Pasti dia marah, Rafael berkata dalam hatinya.
Tiba-tiba piring di hadapannya melayang ketika Rafael sibuk membalas pesan dari Ruby semalam.
Rafael mengikuti arah piringnya yang sedang melayang. Ternyata piringnya diambil oleh Ayana. Istrinya itu sedang mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.
Tanpa berkata-kata, Ayana mengembalikan piring Rafael yang sudah berisi makanan tadi di hadapan Rafael.
Tentu saja hal itu membuat Rania serta Antonio terkejut. Bahkan mereka berdua terperangah melihat Ayana yang begitu cekatan mengambilkan makanan untuk Rafael.
Tangan Rania menyenggol-nyenggol tangan Antonio yang berada di atas meja. Mereka saling menatap seolah saling bicara melalui mata mereka.
Rafael tersenyum tipis mendapatkan perlakuan yang sama seperti sebelumnya. Bahkan tanpa sadar dia menatap Ayana sedari tadi ketika istrinya itu sedang mengambilkannya makanan.
"Ehemmm… Ayana ada kuliah hari ini?" tanya Rania pada Ayana yang sedang menuangkan minuman untuk Rania, Antonio dan Rafael.
Ayana menoleh ke arah Rania. Dengan senyum manisnya itu dia berkata,
"Belum Bu. Hari ini saya masih belum mulai kuliah."
"Baguslah, nanti ikut Ibu ya," ucap Rania sambil tersenyum manis pada Ayana.
"Mau ke mana Ma?" tanya Rafael yang terlihat sangat ingin tahu.
"Kepo. Diam aja kamu, ini urusan perempuan," jawab Rania sambil terkekeh.
Seketika raut wajah Rafael berubah menjadi cemberut. Dia kesal tidak diberi tahu oleh mamanya ke mana akan membawa Ayana pergi.
"Ayana mau ke mana? Sini aja makan sama kita," ucap Rania ketika melihat Ayana akan berjalan meninggalkan tempat itu.
"Maaf Bu, saya makan di dapur saja bersama dengan Bik Darmi," jawab Ayana sambil tersenyum manis.
Setelah itu dia berjalan menuju dapur untuk sarapan bersama Bik Darmi.
Lagi-lagi Rafael terpanah melihat senyuman manis yang diberikan oleh istrinya. Kedua lesung pipi yang dimiliki oleh Ayana itu menambah kesan manis ketika dia tersenyum. Dan itu menambah kesan tersendiri bagi Rafael.
Rania dan Antonio memperhatikan putra mereka yang tidak henti-hentinya menatap kagum pada Ayana.
Sayangnya sepertinya Rafael tidak menyadarinya. Dia hanya melakukan tanpa sadar ketika bersama dengan Ayana.
Ketika dia tersadar, dia mengatakan pada dirinya jika Ruby lah yang ada di hatinya, bukan Ayana yang sudah menjadi istri sahnya.
__ADS_1
"Makanannya enak ya Ma. Kok beda dengan biasanya?" tanya Antonio di sela kunyahan makannya.
"Iya, rasanya beda. Atau mungkin Bik Darmi memakai resep baru Pa," jawab Rania setelah menelan makanannya.
Rafael hanya diam mendengarkan percakapan kedua orang tuanya sambil memakan makanan yang ada di piringnya.
Ketika dia melihat makanannya, maka dia teringat akan Ayana yang sedang mengambilkan makanan tersebut.
Sayangnya bayangan Ayana menghilang ketika suara notifikasi pesan dari ponsel Rafael mengagetkannya.
Diletakkannya sendok dan garpunya itu di atas piringnya. Segera diambilnya ponsel yang ada di atas meja yang ada di sebelahnya.
Kini pikirannya kembali pada Ruby. Pacarnya itu memerintahkannya untuk menjemput di rumahnya.
"Ayana, Bik Darmi, ke sini sebentar," seru Rania dari tempatnya berada.
Ayana dan Bik Darmi pun segera menuju ke ruang makan menemui Rania yang telah memanggilnya.
"Maaf Nyonya, ada apa?" tanya Bik Darmi yang terlihat sedikit takut.
"Makanan ini Bibik yang masak atau beli Bik?" tanya Rania sambil menatap Bik Darmi yang berdiri di sebelah Ayana.
Ayana memegang tangan Bik Darmi. Dia terlihat ketakutan. Tapi, selama ini dia selalu bertanggung jawab dengan semua yang dikerjakannya. Dia tidak ingin Bik Darmi dimarahi karena masakannya.
Rafael melirik Ayana dengan ekor matanya. Dia merasa tidak tega melihat istrinya itu ketakutan.
"Saya Bu yang memasaknya. Apa ada yang salah dengan masakannya Bu?" tanya Ayana yang terlihat ketakutan.
"Maaf Nyonya, tadi saya sedang mengantar minuman untuk Nyonya. Karena lama, Ayana mengambil alih untuk memasaknya," sahut Bik Darmi yang bermaksud membela Ayana.
Rania tersenyum melihat Ayana dan Bik Darmi yang ketakutan hanya karena pertanyaan sepele darinya. Kemudian dia berkata,
"Pantas rasanya berbeda dengan yang kita makan biasanya. Dan masakan ini enak sekali. Pas sekali di lidah kita. Ternyata Ayana yang memasaknya. Cocok sekali dijadikan mantu kalau masakannya seenak ini."
Sontak saja Rafael tersedak mendengar ucapan dari mamanya.
Dengan segera Ayana mengambilkan segelas air putih yang ada di sebelah Rafael.
Rafael pun segera mengambil segelas air putih yang disodorkan oleh istrinya itu dan segera meminumnya.
Rania dan Antonio menahan senyumnya melihat reaksi Rafael atas ucapan mamanya.
"Rencana awal di mulai Pa," bisik Rania di telinga Antonio.
__ADS_1
Antonio hanya tersenyum mendengar apa yang dibisikkan oleh istrinya. Dia juga menyetujui dan mendukung semua rencana istrinya untuk membuat Rafael mengakui Ayana sebagai istrinya.