Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 24 Malam gelap penuh kenangan


__ADS_3

Ayana terbelalak melihat benda yang sedang dipegangnya yang disebut lingerie oleh Rania.


"Apa saya harus memakai ini Bu?" tanya Ayana yang terlihat ragu dan enggan memakainya.


Rania tersenyum manis pada Ayana dan berkata,


"Pakailah segera. Setelah itu tunjukkan padaku. Ibu akan menunggumu di sini."


"Ha-haruskah Bu?" tanya Ayana kembali dengan ragu-ragu.


Rania menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk pertanyaan yang diajukan Ayana padanya.


"Sekarang Bu?" tanya ayana yang terlihat keberatan untuk memakainya.


"Iya Ayana. Ayo cepat pakai dan jangan lagi bertanya. Ibu tidak sabar melihatmu memakai itu," jawab Rania dengan sangat antusias, seolah dia tidak sabar melihat Ayana memakainya.


Ayana terlihat enggan bergerak dari tempatnya saat ini. Dia merasa sangat keberatan memakai lingerie yang ada di tangannya saat ini.


Namun, dia tidak bisa menolaknya. Perintah Rania wajib dijalankan olehnya tanpa boleh ada bantahan.


Dengan langkah beratnya Ayana masuk ke dalam kamar mandi. Dia melepaskan satu persatu kain yang sedang dipakainya.


Ayana menghela nafasnya ketika melihat tubuhnya yang sudah memakai lingerie dengan hiasan renda memperlihatkan sebagian tubuhnya.


"Apa aku harus keluar dengan menggunakan ini? Aku malu jika sebagian tubuhku dilihat orang lain. Tapi, jika aku tidak segera keluar dengan memakai lingerie ini, pasti Bu Rania akan marah padaku," ucap Ayana lirih.


Setelah Ayana masuk ke dalam kamar mandi, Rania dengan perlahan keluar kamar Ayana. Dia membuka pintu kamar Ayana dengan sangat hati-hati sekali.


Ceklek!


Tanpa permisi dan tanpa mengetuk pintu, Rania membuka pintu kamar Rafael yang ada di sebelah kamar Ayana.


Rafael yang sedang berada di atas ranjangnya dengan memangku laptopnya segera menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara pintu kamarnya terbuka.


"Mama? Ada apa Ma?" tanya Rafael yang terlihat heran melihat ke arah mamanya.


Rania segera berjalan masuk mendekati Rafael dan menarik tangan Rafael sambil berkata,


"Cepat kamu berikan ini pada Ayana. Dia sedang ada di kamarnya sekarang."


Rania memberikan paper bag yang dibawanya dari kamar Ayana tadi pada Rafael dan menyuruhnya untuk memberikannya pada Ayana.

__ADS_1


"Apa ini Ma?" tanya Rafael sambil menerima paper bag tersebut dari tangan mamanya.


"Make up. Cepat berikan pada Ayana," jawab Rani dengan cepat dan terburu-buru.


"Kenapa bukan Mama saja sih? Kenapa harus Rafa?" tanya Rafael yang terlihat heran dengan sikap mamanya.


Rania mendorong-dorong tubuh Rafael agar segera keluar dari kamarnya sambil berkata,


"Mama udah ditunggu Papamu. Tadi Ayana sedang mandi. Mama tidak bisa menunggunya."


"Ya taruh aja Ma. Kenapa harus ditungguin?" tanya Rafael sambil berjalan terpaksa menuju pintu kamarnya karena tubuhnya didorong oleh mamanya.


"Jangan. Bilang ini dari Mama dan Ayana harus belajar memakainya," jawab Rania yang masih dalam posisi mendorong tubuh Rafael untuk keluar dari kamarnya.


Rafael sudah tidak bisa mengelak lagi. Kini dia sudah berada di luar kamarnya. Bahkan Mamanya itu menunggunya untuk masuk ke dalam kamar Ayana.


"Sudah, masuk saja. Ayana lagi di kamar mandi," ucap Rania sambil menggerakkan tangannya untuk menyuruh Rafael masuk ke dalam kamar Ayana.


Setelah berpikir, akhirnya Ayana keluar dari dalam kamar mandi. Dengan menggigit bibir bawahnya, perlahan dia berjalan keluar dari kamar mandi.


Ayana terpaku ketika melihat Rafael yang baru saja masuk ke dalam kamarnya bersamaan dengan dirinya keluar dari kamar mandi.


Mata Rafael terbelalak melihat Ayana yang memakai lingerie warna merah dan terlihat sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bercahaya.


Rafael terpesona dengan Ayana yang ada di hadapannya saat ini. Apalagi dengan penampilannya yang sangat menggoda, sehingga membuat Rafael menatap lapar padanya.


Ayana yang kaget melihat keberadaan Rafael di dalam kamarnya, membuatnya lupa jika dia sedang memakai lingerie saat ini.


Bahkan wajah kaget Ayana bisa terlihat jelas oleh Rafael yang juga kaget pada awal melihat Ayana keluar dari kamar mandi.


Namun, kekagetan Rafael berubah menjadi terpesona melihat penampilan istrinya itu.


Tanpa sadar Rafael berjalan mendekati Ayana. Dan dia terpaku melihat dari jarak yang sangat dekat dengan istrinya itu.


"I-ini dari Mama," ucap Rafael sambil memberikan paper bag yang dibawanya pada Ayana.


"Apa itu?" tanya Ayana yang masih belum sadar akan penampilannya saat ini.


"Make up," jawab Rafael singkat yang masih terpanah menatap Ayana seperti orang yang terhipnotis.


"Untuk apa?" tanya Ayana heran.

__ADS_1


Tiba-tiba lampu di kamar tersebut mati. Ayana yang takut akan kegelapan, seketika memeluk erat tubuh Rafael.


Rafael kaget merasakan tubuh Ayana yang memeluknya dengan sangat erat seolah dia tidak mau terpisah dari suaminya.


Ternyata, Rania diam-diam masuk ke dalam kamar Ayana ketika pintu kamar tersebut belum sempat ditutup oleh Rafael.


Dia sengaja mematikan lampu kamar Ayana karena teringat akan cerita Bik Darmi yang mengatakan jika Ayana takut akan kegelapan, petir dan juga kilat sehingga Rafael menemaninya tidur pada malam itu.


Untung saja saklar lampu kamarnya ada di dekat pintu, Rania berkata dalam hatinya sambil menutup pelan pintu kamar Ayana.


Dia tertawa tanpa bersuara melihat rencananya berhasil saat ini. Tanpa menunda waktu, Rania segera mengunci pintu kamar Ayana menggunakan kunci yang sedari tadi dibawanya di saku bajunya.


Setelah itu dia berjalan dengan perasaan bahagianya menuju kamarnya. Senyumnya tidak hilang meskipun sudah berada dalam kamarnya.


"Pasti rencana Mama lancar," ucap Antonio ketika melihat istrinya masuk ke dalam kamarnya.


"Tau dari mana Papa?" tanya Rania yang masih tersenyum senang sambil berjalan mendekati suaminya.


Antonio terkekeh dan merangkul tubuh istrinya yang sedang duduk di sampingnya sambil berkata,


"Sudah terlihat dengan jelas di wajah Mama."


"Kita tunggu saja kelanjutannya Pa. Mama yakin Rafael akan tergila-gila pada Ayana. Dan Mama sangat yakin jika dia akan meninggalkan Ruby tanpa kita suruh," tukas Rania dengan sangat yakin.


Di dalam kamar Ayana, Rafael tidak bisa bergerak karena pelukan Ayana yang sangat erat pada tubuhnya.


Seketika tubuh Rafael bereaksi merasakan bagian tubuh Ayana yang sangat berharga menempel dengan lekatnya pada dada Rafael.


Bahkan milik Rafael pun menegang merasakan aset berharga Ayana yang kenyal dan empuk itu terasa jelas di dadanya.


Ayana sudah tidak ingat lagi dengan apa yang dipakainya saat ini. Dia sekarang sedang ketakutan dan dia hanya mencari perlindungan saat ini.


"Raf, aku takut," ucap Ayana lirih dengan suara yang bergetar.


Mendengar suara Ayana yang menyayat hatinya, Rafael memeluk erat istrinya itu dan mencoba menenangkannya.


"Jangan takut, ada aku di sini," ucap Rafael seraya mengusap lembut punggung Ayana.


Ayana memang tidak merasakan kedinginan karena Rania tidak menyalakan AC di ruangan kamar Ayana. Rania sudah merancang rencananya sedemikian rupa agar Rafael dan Ayana bisa lebih dekat lagi dan tentunya sesuai dengan harapan Rania yang menginginkan Rafael mengakui status hubungan mereka berdua yang sebenarnya di hadapan Rania dan Antonio.


Perlahan Rafael bergerak menuju ranjang dengan posisi masih berpelukan dengan Ayana dan berkata,

__ADS_1


"Ayo Ay kita duduk di tempat tidur seperti waktu itu."


"Duduk apa tidur Raf? Yang waktu itu kan kita tidur," ucap Ayana dengan lugunya dalam pelukan Rafael.


__ADS_2