
“Bik, temani Ayana ke kamarnya Rafa ya,” ucap Ayana sambil memegang kedua tangan Bik Darmi.
Bik Darmi menatap heran pada Ayana yang terlihat enggan untuk pergi ke kamar Rafael. Bik Darmi hendak bertanya padanya, tapi Ayana lebih dulu menjelaskannya.
“Seorang perempuan masuk ke dalam kamar laki-laki, tidak enak jika dilihat Tuan sama Nyonya Bik. Takutnya mereka berpikiran macam-macam Bik,” ucap Ayana dengan raut wajah takut.
“Ya sudah, Bibik antarkan ya,” ucap Bik Darmi sambil tersenyum menenangkan.
Mereka berdua berjalan menuju lantai atas, di mana kamar Rafael berada. Ayana menghela nafasnya lega ketika tidak melihat Rania dan Antonio di ruang tengah. Untung saja kedua majikannya itu sudah masuk ke dalam kamar mereka. Jika tidak, Ayana pasti akan malu ketika mereka bertanya.
“Itu kamarnya yang pintunya sudah terbuka. Masuk saja,” tukas Bik Darmi sambil menunjuk kamar milik Rafael.
“Tapi Bik… Apa Bik Darmi tidak ikut masuk saja?” tanya Ayana yang terlihat ragu untuk masuk ke dalam kamar Rafael.
Bik Darmi hanya menggelengkan kepalanya. Setelah itu dia kembali ke kamarnya meninggalkan Ayana yang masih berdiri di depan pintu.
Ayana menghela nafasnya lemas. Dia dilema antara masuk ke dalam kamar Rafael atau kembali ke kamarnya.
Lagi pula dia kan suamiku. Tidak ada yang salah jika aku masuk ke dalam kamarnya, Ayana berkata dalam hatinya.
“Ay, masuk. Ngapain di depan pintu kayak gitu.”
Tiba-tiba suara Rafael mengagetkannya. Tangan Ayana ditarik masuk oleh Rafael ke dalam kamarnya. Dan pintu kamar itu segera ditutup oleh Rafael dan dikuncinya.
“Loh, kenapa pintunya dikunci?” tanya Ayana yang terlihat kebingungan dan ketakutan.
Rafael menyeringai, dia merasa ingin menjahili Ayana yang terlihat lucu menurutnya. Sayangnya dia teringat akan teman laki-laki Ayana dan juga Satria yang mendekati istrinya itu.
Hati Rafael merasa tidak rela jika Ayana yang sudah menjadi istrinya itu didekati oleh laki-laki lain. Mengingat hal itu, Rafael kini merasa ingin memberi pelajaran pada istrinya.
“Katanya kamu ada perlu?” tanya Rafael yang merasa tidak perlu menjawab pertanyaan dari Ayana.
“Aku mau tanya tentang ini. Apa kamu bisa jelaskan?” ucap Ayana sambil menunjukkan layar laptop yang sedang dibawanya.
__ADS_1
Rafael tersenyum dan menarik tangan Ayana agar duduk di sebelahnya. Ayana kehilangan keseimbangan, hingga dia terduduk di pangkuan Rafael.
Merasa jika dia duduk bukan di tempat yang seharusnya, dengan segera Ayana berdiri. Sayangnya, tangan kekar Rafael bisa menahan tubuh Ayana yang akan berdiri menjadi duduk kembali.
“Rafa, lepasin. Aku bisa duduk sendiri,” ucap Ayana sambil berusaha berdiri dari pangkuan Rafael.
Rafael tetap tidak mengijinkan Ayana berdiri. Dengan sekuat tenaganya dia menahan Ayana agar tetap duduk di pangkuannya.
“Duduk saja di sini. Aku akan menjelaskannya,” ucap Rafael sambil menempelkan tubuhnya pada tubuh Ayana agar bisa melihat layar laptop yang sedang dibawa oleh Ayana.
Ayana menyerah. Dia merasa percuma saja dia memberontak karena bagaimanapun dia memberontak, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Rafael.
“Ini sih gampang sekali. Sini, biar aku ajarkan,” ucap Rafael dengan serius.
Tiba-tiba saja mata Ayana tertuju pada ranjang Rafael. Dia melihat laptopnya dalam keadaan terbuka. Sayangnya dia tidak bisa melihat layarnya karena laptop itu dalam posisi membelakanginya.
“Rafa, itu laptopku kan? Apa sudah bisa digunakan?” tanya Ayana sambil menoleh ke belakang.
Wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Hingga nafas mereka saling bersahutan. Sejenak mata mereka saling bertatapan seolah mereka saling menyelami perasaan masing-masing.
Beberapa detik kemudian mereka tersadar. Ayana memalingkan wajahnya. Dia kembali menghadap ke arah depan.
Sedangkan Rafael, dia berdehem untuk menetralkan suaranya. Kemudian dia berkata,
“Masih aku coba perbaiki. Nanti kalau sudah bisa, akan aku kembalikan padamu.”
Setelah itu tubuh Ayana didudukkan di sebelahnya dan mereka duduk tanpa jarak hingga membuat jantung Ayana berdegup dengan kencangnya.
Rafael memberikan pengarahan pada Ayana dengan posisi yang membuat jantung mereka berdegup dengan kencangnya. Tapi anehnya mereka sangat nyaman dengan duduk berdekatan seperti itu.
Ayana gadis pintar yang sangat tanggap, sehingga hanya sebentar saja Rafael menjelaskannya, dia sudah sangat paham.
“Aku sudah paham, terima kasih. Ini laptopnya aku pakai dulu ya Raf. Tolong antar ke kamarku jika laptopnya sudah selesai,” ucap Ayana gugup dan salah tingkah.
__ADS_1
Setelah itu dia berjalan cepat keluar dari kamar Rafael. Dia merasa aneh dengan apa yang dirasakannya saat ini. Dia tidak pernah merasakan seperti yang dirasakannya saat bersama dengan Rafael.
Sama dengan Rafael, dia merasakan hal yang aneh yang belum pernah dirasakannya. Meskipun dia bersama dengan Ruby, dia tidak merasakan hal seperti yang dia rasakan saat ini.
Tiba-tiba dia teringat akan laptop milik Ayana. Dengan segera dia mengambil laptop tersebut dan melihat-lihat kembali pesan yang belum dibacanya.
Tiba-tiba dia melihat banyak pesan yang dikirimkan oleh Satria pada Ayana. Dadanya kembali bergemuruh melihat begitu banyaknya pesan yang dikirimkan oleh Satria.
“Kok belum dibaca sama Ayana ya?” ucap Rafael sambil melihat jam pada pesan tersebut.
Seketika senyumnya mengembang ketika melihat jam pesan yang terkirim pada pesan tersebut. Dia merasa senang karena pada saat Satria mengirim pesan tersebut, ternyata Ayana sedang bersamanya.
Namun, seketika senyumnya hilang setelah melihat pesan tersebut telah dibaca oleh Ayana. Dia pun membuka pesan tersebut dan membacanya.
Hatinya sangat kesal ketika membaca pesan Satria yang mengatakan akan menelepon Ayana. Dan yang membuatnya lebih kesal lagi adalah jawaban dari Ayana yang memperbolehkan Satria menghubunginya.
Dengan segera dia membawa laptop Ayana dan beranjak dari ranjangnya untuk menuju kamar Ayana. Tepat pada saat dia menuruni tangga, tiba-tiba saja terdengar suara petir yang menggelegar.
Namun, hal itu tidak menyurutkan niatan Rafael untuk mendatangi kamar Ayana. Bahkan suara petir dan kilat itu saling bersahutan disertai dengan hujan yang sangat deras.
Rafael mengacuhkan hujan dan kawan-kawannya. Tujuannya kali ini hanya kamar Ayana. Dia tidak ingin jika Ayana berbicara melalui telepon dengan Satria.
Tanpa mengetuk pintu kamar Ayana, Rafael segera masuk ke dalam kamar tersebut. Matanya menyusuri seisi ruangan kamar tersebut untuk mencari sosok gadis yang sedang meresahkan hatinya.
“Ay, kamu di mana? Ay… Ayana… di mana kamu?” tanya Rafael sambil berjalan masuk ke kamar tersebut.
Matanya masih sibuk mencari sosok Ayana yang sedari tadi tidak terlihat sewaktu dia membuka kamar itu.
Matanya terbelalak ketika melihat gadis yang dicarinya sedang duduk di pojok kamar dengan menekuk lututnya dan menutupi wajahnya dengan lututnya.
“Ay… kamu baik-baik saja?” tanya Rafael yang sudah berada di hadapan Ayana.
Ayana mendongakkan wajahnya dan seketika dia berhambur memeluk Rafael yang ada di hadapannya sambil berkata,
__ADS_1
“Aku takut.”