
"Ayana!"
Teriak Satria dari jauh dan berlari mendekati Ayana yang sedang berjalan bersama dengan Candra, Raka dan Farrel.
Mereka semua menoleh ke arah sumber suara. Ternyata mereka melihat Satria yang sedang berlari ke arah mereka sambil melambaikan tangannya pada Ayana.
Satria membungkukkan badannya untuk menata nafasnya agar tidak ngos-ngosan karena berlari ke arah mereka. Kemudian dia berdiri tegak di hadapan Ayana sambil berkata,
"Aku tadi menghubungimu Ayana. Bukannya aku sudah bilang akan menjemputmu di hari pertama kamu masuk kuliah?"
Dahi Ayana mengernyit mendengar perkataan dari Satria. Bola matanya berputar seolah mengingat-ingat kembali apa yang dikatakan oleh Satria. Kemudian dia berkata,
"Benarkah Satria? Aku tidak ingat jika kamu mengatakan itu padaku."
"Waktu itu saat… ah sudahlah… mungkin salahku mengatakannya lewat pesan waktu itu. Lain kali aku akan menghubungimu saja," ucap Satria sambil tersenyum menenangkan pada Ayana.
Ayana pun membalas senyum Satria. Raka, Candra dan Farrel merasakan adanya perasaan suka melalui tatapan mata Satria.
Rafael melihat Satria berlari dan memanggil Ayana. Hal itu membuatnya kembali kesal. Tatapan sinis dari mata Rafael menunjukkan kemarahannya melihat kedekatan Satria bersama dengan Ayana.
Ruby menyadari hal itu. Dia melihat Rafael dan mengikuti arah pandangnya. Dia mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Rafael saat ini.
Segera ditariknya tangan Rafael dan tangannya melingkar di lengan Rafael untuk bergelayut manja di sana, sambil berkata,
"Sayang… yuk kita masuk. Sebentar lagi kelas akan dimulai."
Rafael tidak merespon apa-apa ajakan dari Ruby. Bahkan pandangan matanya tidak berpindah ke lain arah. Dia tetap menatap pada Ayana yang sedang tersenyum menanggapi perkataan Satria.
Kedua tangan Satria mengepal. Hanya saja ketika dia akan melangkah maju ke arah Ayana dan teman-temannya, saat itu juga Ruby menarik tangannya untuk berjalan ke lain arah.
Kaki Rafael tidak bergerak seolah dia tidak ingin menjauh dari Ayana dan teman-temannya. Sayangnya pengaruh Ruby sangat kuat sehingga bisa membuat Rafael meninggalkan tempatnya saat ini dan berjalan ke arah yang diinginkan oleh Ruby.
__ADS_1
"Sayang… nanti kita jalan-jalan yuk. Kita makan siang bersama ya. Sudah lama kita tidak jalan bersama. Kemarin kamu meninggalkanku begitu saja. Aku gak mau dengar lagi alasan kamu menolak keinginanku," rengek Ruby sepanjang mereka melangkahkan kakinya.
Rafael hanya menganggukkan kepalanya saja ketika Ruby memaksanya menyetujui permintaannya. Tapi pikirannya tertuju pada Ayana yang sedang bersama empat laki-laki temannya itu.
Ternyata Ruby membawa Rafael menuju kelas mereka. Dia menggunakan segala cara untuk mengalihkan perhatian Rafael dari Ayana dan teman-temannya.
Sayup-sayup terdengar suara Ayana bersama dengan Satria, Candra, Farrel dan juga Raka dari arah koridor. Mereka berlima bercanda dan tertawa di sepanjang jalan.
Suara mereka tertangkap dengan jelas oleh indera pendengaran Rafael. Raut wajahnya seketika berubah memperlihatkan amarahnya. Kedua tangannya mengepal, serta rahangnya mengeras ketika mendengar suara mereka berlima yang semakin mendekati mereka.
Dengan segera Ruby berpindah tempat duduk untuk menghalangi Rafael agar tidak melihat mereka berlima yang akan berjalan melewati kelas tersebut.
Ruby duduk di pangkuan Rafael sehingga mengalihkan perhatian Rafael yang sedang melihat ke arah luar ruangan.
Sontak saja Rafael terkejut mendapati Ruby yang sudah duduk di atas pangkuannya. Dia juga bermanja-manja dan menggerakkan pantatnya sehingga membuat milik Rafael menjadi gelisah.
Untung saja belum ada yang memasuki ruangan kelas tersebut sehingga tidak ada yang melihat mereka berdua.
"Weh liat tuh si Ruby bikin si Rafael melek pagi-pagi gini," ucap Candra sambil menunjuk ke arah dalam kelas menggunakan dagunya.
Tawa dan canda teman-temannya terhenti. Mereka mengikuti arah pandang Candra. Mulut mereka seketika menganga melihat hal itu.
Entah mengapa hati Ayana merasa sangat sakit melihat Ruby yang duduk di pangkuan Rafael dengan kedua tangannya yang melingkar pada leher Rafael.
Dengan segera Ayana berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Matanya berkaca-kaca dan hatinya mencoba menguatkannya agar tidak menangis.
"Ayana!" seru Satria yang bermaksud untuk menghentikan Ayana.
Sontak saja Rafael menoleh ke arah pintu. Dan dia terkejut melihat teman-temanya yang tersenyum seolah menggoda dirinya.
Namun, yang membuat Rafael terkejut bukan pandangan teman-temannya padanya. Dia terkejut dengan suara Satria yang berseru memanggil nama Ayana.
__ADS_1
Rafael segera menurunkan tubuh Ruby dari atas pangkuannya. Dia tidak memikirkan apa pun kecuali Ayana.
Ruby menarik tangan Rafael yang sudah berdiri dari duduknya. Dia menghentikan Rafael yang akan beranjak keluar ruangan tersebut.
"Udah… terusin aja. Kita ke kelas dulu," ucap Raka sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
Begitu pula dengan Candra dan Farrel yang tersenyum pada Rafael. Sedangkan Satria sudah berlari kecil menyusul Ayana.
Entah mengapa Rafael resah. Dia takut jika Ayana melihatnya dan salah paham padanya.
Dia tidak menyalahkan Ruby yang berada di atas pangkuannya. Ruby sering sekali melakukan itu jika dia sedang merayu Rafael untuk membelikannya barang-barang mewah.
Memang cara itu berhasil membuat Rafael menuruti permintaannya. Tapi sayangnya Ruby tidak bisa membuat Rafael menginginkan dirinya.
Sering sekali Ruby mengajaknya melakukan hubungan badan layaknya yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Sayangnya Rafael tidak mau melakukannya.
Rafael masih bisa meneguhkan hatinya agar tidak melakukan hal itu bersama dengan perempuan sebelum menjadi istrinya. Pesan dari mamanya selalu tertanam di otaknya, sehingga Ruby selalu gagal mengajaknya melakukan hal itu.
Entah mengapa dia tidak bisa meneguhkan hati dan pikirannya ketika bersama dengan Ayana malam itu. Dia merasa jika tubuh dan hatinya menginginkan perempuan yang sudah menjadi istrinya karena pernikahan paksa yang dilakukan oleh mereka.
Semua rayuan dan ucapan Ruby padanya tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Ayana. Dia hanya mengangguk dan tersenyum pada Ruby yang memaksanya untuk menanggapi ucapannya.
Di tempat lain, tepatnya di dalam toilet wanita, Ayana sedang menangis. Dia duduk di atas toilet dan mengeluarkan air matanya tanpa bersuara.
Hatinya terasa sangat sakit tak tertahankan melihat suaminya yang baru saja bersikap manis padanya, kini memangku perempuan lain yang berstatuskan pacarnya.
Bahkan Ayana memukul-mukul dadanya untuk meredakan rasa sakit di dalam dadanya yang sangat menyiksanya.
Setelah beberapa saat dia mengusap dengan kasar air mata yang dengan lancangnya keluar secara terus menerus.
Kini dia memantapkan hatinya agar tidak kembali percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rafael padanya. Dalam hatinya dia berkata,
__ADS_1
Aku akan kembali pada niatku saat itu. Aku harus tangguh dan tidak boleh lemah. Aku harus bisa meraih impianku yang sudah ku perjuangkan selama ini dan melupakan perasaan ini dari Rafael.