
"Ayana, kita makan dulu yuk," ucap Satria sambil mengemudikan mobilnya.
"Tapi Kak, aku tidak bisa lama-lama. Aku harus bekerja," ucap Ayana ragu karena tidak enak menolak ajakan Satria.
"Sebentar saja kok. Nanti aku langsung antarkan kamu pulang. Aku janji," tukas Satria yang terdengar sangat berharap.
Ayana memandang Satria yang terlihat jujur dan baik. Dalam hati dia berkata,
Kak Satria sepertinya orang yang baik. Dia pasti tidak akan berbuat macam-macam padaku.
"Ya sudah deh Kak. Kita makan dulu. Tapi jangan lama-lama ya," ucap Ayana sambil tersenyum kaku.
Sebenarnya dia ingin cepat kembali pulang ke rumah dan segera membantu Bik Darmi agar rasa kesalnya pada Rafael bisa sedikit hilang. Tapi dia juga merasa tidak enak pada Satria yang sudah membantunya.
Kesal pada Rafael? Memang benar. Ayana sangat kesal padanya karena di tepat depan matanya, Rafael bersama dengan perempuan lainnya dan tidak mengakui Ayana sebagai istrinya.
Mobil Satria masuk ke dalam parkiran Mall terbesar di kota itu. Kebetulan sekali Mall tersebut dekat dengan kampus mereka, sehingga Satria memilih untuk mengajak Ayana makan di sana.
"Loh kok ke Mall sih Kak? Katanya tadi mau makan?" tanya Ayana ketika melihat mobil yang ditumpanginya masuk ke dalam Mall.
"Iya, kita makan di sini ya. Di dalam kan banyak restoran. Jadi tinggal pilih aja kita makan di mana," jawab Satria sambil tersenyum manis pada Ayana.
"Kenapa harus ke sini Kak? Kita kan bisa makan di warung saja," ucap Ayana yang terlihat keberatan makan di restoran.
Seketika Satria terkekeh mendengar perkataan perempuan yang sudah mengambil hatinya. Kemudian dia berkata,
"Ayana… Ayana… kamu ini aneh. Di mana-mana perempuan sangat senang jika makan di restoran. Kok kamu malah minta makan di warung?"
"Aku memang perempuan Kak. Tapi aku bukan mereka. Aku gadis desa yang di sini hanya menumpang di rumah orang karena bekerja di sana. Dan aku bisa kuliah di kampus itu karena aku mendapat beasiswa di sana. Jadi, aku harus berhemat karena jauh dari orang tuaku," ucap Ayana dengan rasa percaya dirinya.
Satria tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Ayana. Tanpa sadar tangannya mengusap lembut rambut panjang milik Ayana. Dalam hatinya dia berkata,
Ayana… Ayana… kamu perempuan yang beda. Aku rasa, aku benar-benar jatuh hati padamu.
Mendapat perlakuan seperti itu dari seorang laki-laki membuat hati Ayana menjadi nyaman.
Dia seorang anak tunggal yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakak. Kini dia merasakan perlakuan itu dari seorang laki-laki tampan yang baik, meskipun baru saja bertemu dengannya.
__ADS_1
Satria keluar dari mobilnya dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil Ayana.
"Silahkan Tuan Putri," ucap Satria sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk membantu Ayana turun dari mobil.
"Tidak usah seperti itu Kak," ucap Ayana sambil tersenyum malu dan terlihat semburat merah pada pipinya.
Satria terkekeh melihat Ayana yang semakin cantik dan menggemaskan ketika malu seperti itu.
Tanpa permisi, Satria menarik tangan Ayana dan menggandengnya untuk berjalan bersamanya masuk ke dalam Mall tersebut.
Ayana berusaha melepaskan tangannya, sayangnya tangan Satria begitu kuat menahan tangan Ayana agar tidak terlepas dari genggamamnya.
"Kita makan di sana ya?" tanya Satria sambil menunjuk salah satu restoran terkenal.
"Terserah Kakak saja," ucap Ayana tanpa melihat restoran yang ditunjuk oleh Satria.
Pandangan mata Ayana mengelilingi seisi Mall tersebut. Maklum saja, dia belum pernah masuk ke dalam Mall yang sebesar dan selengkap tempat itu.
Tiba-tiba langkah kaki Ayana terhenti ketika berada di depan restoran yang akan mereka masuki.
"Apa kita akan makan di restoran ini?" tanya Ayana ragu sambil menunjuk restoran tersebut.
Satria tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia kembali menarik tangan Ayana sambil berkata,
"Jangan khawatir, ini traktiran dariku. Anggap saja ini sebagai perkenalan dariku."
Ayana pun mengangguk setelah beberapa saat dia diam dan berpikir.
Duduklah mereka di meja paling pojok di restoran tersebut. Satria memesan beberapa menu makanan dengan tujuan Ayana bisa mencicipi semua makanan tersebut.
Setelah beberapa saat mereka menunggu, datanglah seorang waiter membawa semua pesanan mereka.
Mata Ayana terbelalak melihat semua makanan yang terhidang di meja tersebut. Kemudian dia berkata,
"Banyak sekali makanannya Kak," ucap Ayana sambil melihat beberapa menu makanan yang sudah dihidangkan di atas meja.
"Tidak apa-apa. Aku sengaja memesan banyak agar kamu bisa mencicipi semua makanan enak ini," tukas Satria sambil menunjuk semua makanan yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Mata Satria terbelalak ketika dia melihat Rafael berjalan masuk ke dalam restoran tersebut bersama dengan Ruby tanpa melihat ke arahnya.
Dengan segera Satria mencoba untuk tidak terlihat oleh Rafael. Dia tidak ingin jika acara makannya berdua dengan Ayana menjadi terganggu dengan kedatangan Rafael dan Ruby.
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Satria dengan menatap lembut pada manik mata Ayana.
"Bingung mau makan yang mana dulu," jawab Ayana sambil melihat satu persatu makanan yang ada di hadapannya.
Satria tersenyum mendengarnya. Kemudian dia mengambil sendok dan sedikit makanan dari salah satu menu yang ada di hadapannya.
"Hmmm… buka mulutnya," ucap Satria sambil meletakkan sendok yang berisi makanan tadi di depan mulut Ayana.
Ayana tersenyum dan membuka mulutnya agar makanan tersebut bisa masuk ke dalam mulutnya.
Tak disangka jika pada saat Satria menyuapkan makanan tersebut, Rafael melihat mereka.
Entah bagaimana mata Rafael bisa menemukan mereka. Tiba-tiba hatinya bergemuruh. Dia sangat kesal pada Ayana dan Satria yang bermesra-mesraan di hadapannya.
"Sayang, mau ke mana?" tanya Ruby sambil menghentikan Rafael yang akan berjalan tanpa mengajaknya.
Rafael pun berhenti. Kemudian dia melihat ke arah Ayana yang sedang disuapi oleh Satria dengan menu makanan yang berbeda.
Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Hal itulah yang memicu kekesalan dan kemarahan Rafael.
Cih! Katanya mau pulang, ternyata pacaran sama cowok yang baru dikenalnya. Perempuan apaan itu? Bahkan dia suap-suapan dengan cowok itu. Istri macam apa itu?
Rafael melampiaskan kekesalannya dengan mengumpat istrinya dalam hatinya.
Ruby mengikuti arah pandang Rafael. Kemudian dia menghela nafasnya karena melihat Ayana bersama dengan Satria.
Dia tidak suka jika sedang berduaan malah diganggu oleh orang lain.
"Ayo kita duduk Sayang. Dan jangan lagi mengurusi mereka lagi. Mereka sudah dewasa dan mereka sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk," ucap Ruby sambil menarik tangan suaminya agar mau duduk dengan tenang bersamanya.
Tidak ada alasan untuk menolak keinginan Ruby. Rafael pun duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Namun, matanya selalu mencuri pandang ke arah Ayana dan Satria. Sungguh dia tidak suka dengan kedekatan mereka berdua meskipun Satria adalah temannya.
__ADS_1